NovelToon NovelToon
Lebih Berwarna

Lebih Berwarna

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Ketos / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:158.6k
Nilai: 5
Nama Author: atps0426

Rana Anandita, seorang gadis remaja yang baru saja duduk dibangku kelas 2 SMA. Disinilah Rana mulai mengenal yang namanya jatuh cinta. Bertemu seseorang yang membuatnya malu tanpa sebab. Rana tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan pemuda yang bernama Zevan, akan mengubah beberapa hal dalam hidupnya.

Bukan hanya tentang perubahan, namun sebuah kebenaran dibalik orang-orang terdekat Rana. Rana mulai menyadari, tidak semua orang yang bersikap baik padanya selalu memiliki niat baik juga.

Dengan adanya Zevan, Rana mulai menghabiskan banyak waktu dengannya, meninggalkan sahabat kecilnya Dean. Rana yang selalu bersama Dean kemanapun kini posisi Dean tergantikan oleh Zevan.

Zevan menunjukkan banyak cinta kepada Rana. Menjadikan pasangan ini layaknya bucin dimata teman-teman mereka. Namun Rana sangat beruntung, mendapatkan pemuda sebaik Zevan, pemuda yang mungkin tidak akan pernah kalian temui didunia kalian.


Selamat Membaca !!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LB - 13

Keesokan harinya, mereka sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Hari yang cukup ringan karena masih belum ada pekerjaan rumah. Dan materi yang disampaikan pun masih pembahasan dasar yang cukup ringan untuk diterima oleh otak para siswa.

Pak Dipto memasuki kelas, ia melihat setiap anak didiknya dengan seksama. Setelah dirasa semuanya hadir, beliau memulai menjelaskan pelajaran matematika favorit semua murid.

"Oh iya, sekarang saya akan ubah tempat duduk kalian." ujar Pak Dipto setelah menyelesaikan pembelajaran hari itu. Segera ia memasangkan setiap murid dan lokasi tempat duduk yang sudah beliau catat dalam buku jurnalnya. Tentu saja semua murid nampak keberatan dengan keputusan tersebut, namun Pak Dipto tidak memiliki penawaran dan sudah mutlak. Setelah selesai memasangkan, beliau pergi untuk memulai pelajaran dikelas lain.

Rana menatap teman sebangkunya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, "Kenapa harus loe sih?" Gumam Rana dengan kesal. Pemuda dihadapannya hanya menghardikkan bahu tidak tau. Latu kemudian menimpali, ia berkata setidaknya mereka berempat masih duduk tidak berjauhan. Rana duduk di bangku belakang paling pojok. Dihadapannya ada Latu, dibaris samping Latu adalah Mia, dan dibaris belakang Mia tepatnya dibaris samping Rana adalah Ovi.

Niat Pak Dipto sangatlah bagus, beliau ingin setiap muridnya memiliki semangat yang sama dengan lingkungan belajar mereka. Menempatkan murid yang lebih pandai dengan yang kurang agar bisa saling membantu dalam pembelajaran. Tapi para murid belum menyadari maksud mulia dari Pak Dipto, dan yang mereka lakukan saat ini hanyalah mengeluh.

Kriiingg....

Jam istirahat pertama berbunyi, sebagian besar murid berlari menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar.

Rana, Latu, Mia dan Ovi juga memutuskan untuk membeli beberapa jajanan dikantin. Ketika mereka baru saja masuk area kantin, seseorang menghentikan langkah mereka dengan sebuah pertanyaan, "Ran, loe punya nyokap baru ya? Ups, selingkuhan Papa loe maksudnya. Hahahaha"

Gadis itu menoleh keasal suara, baru saja ia akan menjawab namun seseorang membungkam mulut siswi itu dengan perkataannya. "Kenapa emangnya? Loe juga mau punya nyokap lagi? Sirik aja loe jadi orang." ujar Bara dengan nada centilnya.

Sontak hal itu membuat beberapa murid tertawa melihat tingkah Bara. "Yuk cabs ciwi-ciwi" ajak Bara seraya merangkul pundak Rana. Gadis itu hanya menggeleng geli melihat tingkah Bara yang centil.

"Tangannya harus gitu ya" gumam Zevan pada dirinya sendiri. Pernyataan Zevan itu membuatnya lagi-lagi menjadi bahan candaan oleh teman-temannya.

Rana dan Bara memang terlihat cukup akrab. Mereka sudah saling mengenal sejak SMP, dan sudah beberapa kali mereka menjadi teman sekelas. Dulu beberapa murid juga sering salah paham dengan hubungan keduanya, walaupun kedekatan Rana dan Bara tidak sedekat Rana dengan Dean.

"Hei bocil, bocah cilok" panggil Lufias ketika ia melihat Rana berdiri didepan penjual cilok. Rana yang sudah mengenal jelas suara siapa itu, ia tidak menoleh dan mengabaikannya. Berbeda dengan Bara yang menyahuti panggilan tersebut, "Eh Saiful, ngapain loe kesini kayak punya duit aja."

"Sialan loe Bar, biar keren panggil gue Lufias napa, loe mah gak bisa diajak kerjasama." rengek Lufias pada Bara. Bara hanya terkekeh geli mendapati Lufias yang bermanja dengan mengayun-ayunkan lengan Bara. Beberapa murid yang melihat pun juga tidak sanggup menahan tawa melihat hal yang tidak bisa mereka jelaskan dengan itu.

Ting Ting Tong ...

Pengumuman, panggilan untuk semua murid yang mengikuti ekskul jurnalis, harap berkumpul diruang melukis.. Sekali lagi, panggilan untuk semua murid yang mengikuti ekskul jurnalis, harap berkumpul diruang melukis.. Terimakasih

"Bocil, makan mulu loe, buruan pergi" ucap Lufias menghentikan Rana yang masih ingin melanjutkan makan cilok. "Iye Saipul..Hahaha" jawab Rana lalu bergegas meninggalkan kantin dengan cilok ditangannya. Lufias hanya memaki kepergian gadis itu dengan kesal.

Rana memasuki ruang melukis, sudah ada beberapa murid yang berkumpul. Terlihat Sofyan dan beberapa temannya sedang berunding seraya menunggu kedatangan semua anggota. "Makan mulu loe, sini minta" ucap Sofyan lalu mengambil bungkusan cilok yang ada ditangan Rana. Rana hendak mengambil kembali ciloknya, namun teman Sofyan sudah mulai membuka pertemuan tersebut. Gadis itu hanya bisa bergumam kesal.

Setelah teman Sofyan memberikan salam pembuka, Sofyan mulai menjelaskan maksud dan tujuan dikumpulkannya para anggota ekskul jurnalis. Tujuannya adalah untuk membentuk tim dan dibagi berdasarkan beberapa tugas, agar setiap murid SMA Garuda bisa mengetahui berita terbaru yang terjadi disekolah mereka. Sofyan mulai menyebutkan nama-nama kelompok beserta tugas yang harus mereka lakukan.

"Rana dan Zevan, kalian akan mengurus website jurnalis SMA Garuda, untuk tugas lebih lanjut gue kasih tau secara personal." mendengar ucapan Sofyan, Rana terkejut bukan main. Pasalnya, ia tidak menyadari jika Zevan juga mengikuti ekskul jurnalis. Gadis itu celingak-celinguk mencari seseorang, hingga ia menoleh kearah samping kanannya. Yups, Zevan berdiri disampingnya, sedang memandangnya. Rana merasa terkejut dan malu karena hal tersebut. Ia pun hanya bisa menunduk malu dan memaki dirinya sendiri.

Setelah semua pengumuman, pembagian tim dan tugas diberikan. Para murid diperkenankan untuk meninggalkan ruangan melukis. "Ran, sebentar lagi loe bakal jadi penerus gue. Gantiin gue jadi ketua ekskul jurnalis." canda Sofyan yang langsung mendapat penolakan keras dari Rana. Rana menyukai ekskul jurnalis, namun ia tidak ingin terlibat terlalu dalam, karena ia juga memiliki banyak kegiatan lain.

Sofyan memang senang menggoda Rana, setelah puas menggoda Rana ia pun segera pergi bersama pengurus ekskul jurnalis lainnya. Diruangan melukis, hanya ada Rana, Zevan dan dua anggota ekskul melukis yang sedang menyelesaikan lukisan mereka. Zevan mulai tertarik melihat setiap lukisan yang dipajang disana. Ia memperhatikan setiap detail lukisan yang sebenarnya tidak ia mengerti, karena pada dasarnya Zevan tidak memiliki minat dalam melukis.

Zevan tidak mengajak Rana berbincang, ia haanya fokus melihat semua lukisan. Dan Rana, ia malah mengikuti setiap langkah Zevan. "Loe juga ikut ekskul melukis kan Ran?" Tanya Zevan yang tiba-tiba sungguh mengejutkan Rana. Gadis itu mengiyakan sambil terbata-bata karena terkejut.

"Kak Rana ngelukisnya jago loh Kak. Sudah menang beberapa kali" sahut salah satu siswa yang berada diruangan itu. Rana membalas jika ia tidak sehebat itu, dan ia masih harus banyak belajar lagi. Zevan lalu masuk keruangan dimana semua lukisan yang memenangkan lomba dipajang disana. Ia dengan perlahan memandangi setiap lukisan dan membaca beberapa tulisan yang tertera dibawah lukisan tersebut. Tulisan mengenai lukisan yang dipajang, seperti pelukisnya, tema, lomba yang diikuti dan kemenangan yang diperoleh.

Rana yang awalnya sibuk berbincang dengan adik kelasnya, tiba-tiba teringat sesuatu dan segera menyusul Zevan. Namun ia terlambat, Zevan sudah berdiri disana, didepan lukisannya. Lukisan terbaik Rana yang baru saja memenangkan sebuah perlombaan besar. Jantung Rana berdebar kencang, kakinya seakan melemas, dengan lirih ia memanggil nama Zevan.

"Ini gue?" Pertanyaan Zevan itu membuat Rana kehilangan sedikit keseimbangan dan harus memegang dinding disampingnya.

1
Dwi Sulistyaningsih
ihh aneh banget pasti rasanya🤣
Dwi Sulistyaningsih
🤣
Dwi Sulistyaningsih
puitis si sekali iqbal
Dwi Sulistyaningsih
Waduh bukan prank 'kan, pak guru. kok gitu sih😞
Dwi Sulistyaningsih
wah, ati2 bar
Dwi Sulistyaningsih
banyak bener yang suka ma lo Ran, sabi lah bagi satu buat gue🤣
saygoodbye: Wkwkwkw boleh lah ya hahaha...
Mampir juga nih di ceritaku yang judulnya "Metamorphosis Cinta". Nama pemeran utamanya hampir sama tapi alurnya berbeda. Rana mengejar cinta Dean/Smile//Smile//Smile//Chuckle/
total 1 replies
Dwi Sulistyaningsih
Kok gue nyesek ya
Dwi Sulistyaningsih
wah, apa nih🤔
Dwi Sulistyaningsih
Sa ae lu van🤣
Dwi Sulistyaningsih
ekhem🙃
Dwi Sulistyaningsih
Awas entar nyaman trus jadi belok, Bara. 🤣
Dwi Sulistyaningsih
Aduh Zevan cembokur🤣
Dwi Sulistyaningsih
Gue Aamiin kan Ran🤣
Dwi Sulistyaningsih
Dim sim itu apa?
Dwi Sulistyaningsih
Eh buset, Rana yang ditanya gue yang ngeblush
Dwi Sulistyaningsih
kok, bisa.
Dwi Sulistyaningsih
Jangan-jangan cowo yang ditangga
Dwi Sulistyaningsih
hm 🙃
Dwi Sulistyaningsih
baru baca bab 1 asik banget ceritanya
anikksuriani🌼
terlalu uwuu belum siap klok smpek sini pliss smpek kuliah trus nikah🙏🙏🙏😭😭💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!