Hidup sebagai single parent tidaklah mudah, banyak tantangan dan ujian di dalamnya. Namun, semua itu harus dilalui Riana Aisyah Humairah, yang membesarkan anak seorang anak diri, Kaila Humairah, sepenih jiwa raga untuk kebahagiaannya.
Riana adalah korban kekerasan rumah tangga dan keegoisan sang suami, Arsyid. Hingga ia tidak peduli lagi akan cinta seolah kata itu hilang dalam kamus hidupnya.
Riana pun memutuskan membawa sang buah hati ke Negara Ginseng, Korea Selatan. Di sana ia berhasil menjadi seorang arsitek dan bertemu CEO muda sekaligus pelukis ternama, Kim YeonJin.
Kim YeonJin hadir di antara banyak perbedaan, salah satunya kepercayaan. Ia yang juga menjadi korban broken home memahami kepelikkan dan kesusahan Riana, sampai rasa kagum itu hadir.
Mampukah kisah mereka berkembang ke hal lebih baik di balik perbedaan melingkupi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 13
...Kedatangan seseorang membuka jembatan baru dan pengharapan....
.......
Tanggal merah di kalender menjadi hari paling membahagiakan. Waktu senggang yang bisa dimanfaatkan untuk berlibur bersama orang terkasih. Namun, rencana orang lain tidak berlaku baginya. Riana hanya bisa berdiam diri di apartemen bersama sang anak. Menonton televisi tidak ada kegiatan lain dilakukan. Itulah yang diinginkannya.
Sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia menghabiskan hari dengan bekerja. Mungkin hari libur seakan menghilang dalam kamus hidup. Bersyukur, masa-masa itu sudah terlewat dengan perjuangan yang tidak mudah.
Banyak air mata sudah mengering di pipi menjadi saksi bisu. Jam menunjukan pukul setengah sepuluh. Ia tengah tiduran melihat Kaila fokus pada tontonan membuatnya tersenyum. Ia tidak percaya sudah membesarkan sang anak seorang diri.
“Mamah, apa kita tidak mempunyai kegiatan lain, selain menonton televisi? Inikan hari libur, Mah,” keluh Kaila tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
Bola mata Riana bergulir memandangi langit-langit. Bibirnya terkatup mencerna pertanyaan sang anak.
“Sepertinya tidak Sayang. Mamah ingin tidur saja seharian," jawabnya singkat.
“Mamah ini pemalas sekali. Lebih baik Kaila pergi main sendiri saja.” Gadis kecil itu terlihat gusar dan pergi ke kamar. Riana bangkit lalu duduk memandangi pintu yang tertutup.
“Baiklah-baiklah Mamah akan menemani kamu main di luar. Ayo siap-siap,” lanjut Riana.
Kaila kembali menyembulkan kepala lalu tersenyum lebar dan menerjang ibunya erat.
Beberapa menit kemudian mereka pun pergi meninggalkan apartemen dan tengah melangkah beriringan. Raut senang terpampang nyata di wajah mungil Kaila.
Baru saja ibu dan anak itu keluar gedung, tatapan mereka mengarah pada seorang pria yang keluar dari mobil mewahnya. Mata bulan Kaila semakin melebar seraya tersenyum senang.
“Appa!” teriaknya kuat, lalu melepaskan pautan tangan dari Riana lalu berlari cepat pada pria itu.
Sang ibu terkejut sekaligus heran dan berjalan mendekat melihat Kaila yang begitu senang berada dalam gendongannya.
"Kim.. YeonJin-ssi? Kenapa Anda ada di sini? Apa Anda ada keperluan?” tanya Riana heran mendapati sang atasan ada di lingkungan apartemennya.
YeonJin, si maniak kanvas itu melebarkan senyum manis. “Aku datang ke sini ingin mengajak Kaila jalan-jalan. Kamu maukan, Sayang?” Dengan semangat Kaila mengangguk setuju.
“Baiklah kita masuk ke mobil.” Tanpa mendengar jawaban Riana, YeonJin membawa Kaila masuk ke dalam kendaraan pribadinya.
“Mamah ayo cepat masuk.” Suara nyaring gadis kecil membangunkan. Buru-buru Riana pun mengikuti suruhannya.
Jalanan lumayan padat hari ini. Namun, tidak menyurutkan semangat YeonJin untuk mengajak mereka jalan-jalan.
Sedari tadi Riana terus diam memperhatikan Kaila yang tersenyum lebar melihat pemandangan yang terlewat. Tanpa ia sadari sudut bibirnya terangkat merasakan kebahagiaan sang anak.
Diam-diam YeonJin menoleh melihat ke arah mereka. Sesenang itukah Kaila? Pikirnya. Ia pun turut merasakan kegembiraan.
Dengan diiringi keheningan, mobil itu tiba di taman bermain.
Seoul Land, tempat tujuan YeonJin membawa ibu dan anak itu pergi bersama. Banyak pasangan yang juga membawa anak mereka untuk menikmati liburan di sana.
Melihat itu Riana terdiam di samping kendaraan roda empat milik YeonJin, sedangkan Kaila sudah antusias berlarian kecil mendekati salah satu wahana permainan.
“Mamah ayo cepat kita main. Kenapa malah bengong?” Ia pun kembali mendekati sang ibu dan menarik tangan Riana.
“Eh? A- eung,” gugupnya.
YeonJin tersenyum lagi seraya mendampingi. Jika dilihat-lihat mereka seperti sepasang pengantin yang baru memiliki seorang putri.
Setiap mata yang memandang merasa iri dengan keakraban mereka, layaknya keluarga harmonis yang sedang menghabiskan waktu bersama. Namun, pada kenyataannya mereka hanya sebatas atasan dan bawahan.
Gelak tawa terdengar nyaring tat kala mereka bermain bersama menaiki salah satu wahana. Senyum kedua wanita yang terpaut usia jauh itu membuat perasaan YeonJin tiba-tiba menghangat. Ia tidak pernah melihat Riana seceria ini.
Wanita gila kerja itu memperlihatkan sisi lainnya. Ditambah dengan rona merah di pipi bulatnya membuat seorang Kim YeonJin sedikit terpesona.
"Eh tunggu! Apa yang aku pikirkan. Ish," ujarnya membatin.
Setelah melewati satu persatu wahana permainan, Riana memutuskan untuk beristirahat seorang diri di bangku kayu di bawah pohon rindang. Tempat itu berhadapan langsung dengan penangkaran kelinci.
Di sana Kaila dan YeonJin sedang bermain-main dengan beberapa kelinci, terlihat sangat antusias.
“Apa seperti itu ekspresi Kaila kalau bertemu dengan Mas Arsyid? Ya Allah aku ibu yang jahat tidak pernah menceritakannya pada Kaila,” gumam Riana. Gadis kecil itu gembira dengan harinya ini dan merasakan mempunyai seorang ayah.
“Paman, terima kasih sudah mengajak Kaila dan Mamah bermain,” ucap Kaila senang.
“Appa, panggil Paman Appa. Karena mulai sekarang aku adalah ayahmu.” YeonJin merangkul Kaila hangat dan memberikan senyum manis memperlihatkan lesung pipi di wajah tampannya.
Kaila mendongak haru, “Terima kasih... Appa.”
“Apa selama ini Eomma tidak pernah menceritakan siapa Appa, Kaila?” tanya YeonJin lagi. Gadis itu menggeleng singkat lalu menunduk.
“Eum... mungkin Eomma punya alasan sendiri. Baiklah, Kaila main dulu di sini Appa mau ke sana dulu," tutur YeonJin dan hanya mendapatkan anggukan dari Kaila mempersilakannya pergi.
Riana yang tengah sibuk bermain ponsel terkejut saat seseorang menyodorkan minuman dingin. Ia mendongak melihat pria itu berjalan ke samping dan duduk begitu saja. Ia pun kembali menatap ke depan menyaksikan sang anak.
“Terima kasih minumannya,” kata Riana, “Bismillah.” Ia meneguknya pelan membasahi tenggorokan yang kering. YeonJin pun mengikuti tatapannya.
“Aku senang bisa bertemu dengan Kaila. Dia gadis yang sangat baik dan juga mandiri, meskipun usianya masih terbilang sangat muda, tetapi Kaila anak penurut," ujar YeonJin berpendapat.
“Terima kasih. Aku juga bahagia bisa memilikinya di hidupku," balas Riana terharu.
Hening kembali menerjang. Mereka merasakan hembusan angin menyapa pelan. Daun-daun kering dari atas pohon berjatuhan menjadi background kebersamaan.
“Aku tidak pernah melihat senyum Kaila seperti itu. Dia terlihat bahagia sekali," kata Riana lagu memecah keheningan.
YeonJin menoleh padanya melihat sorot kesedihan di sana.
“Aku tidak bermaksud ikut campur, tetapi... kenapa kamu menyembunyikan keberadaan ayah kandungnya?” tanya YeonJin tidak bisa menahan rasa penasaran.
Riana diam sejenak, lalu menjawab, “kita tidak berada pada level harus menceritakan masalah pribadi. Maaf YeonJin-ssi saya tidak bisa menceritakannya.” Mimik wajah wanita itu berubah. YeonJin sedikit terkejut dan benar juga apa yang dikatakannya.
“Ah, iya kamu memang benar.” Entah kenapa ada sedikit rasa nyeri menyapa ke dalam hati.
Ia terus memandangi wajah damai terbalut hijab di sampingnya ini. Berkali-kali semilir angin menyapu menemani kebersamaan. YeonJin tahu hidupnya sedikit berubah setelah kedatangan Riana.
Kenangan yang ia coba untuk dihilangkan kembali mencuat. Sama seperti kehidupan Riana, YeonJin seolah melihat bayangan sang ibu dalam dirinya. Masa terkelam yang pernah ia lewati, hingga waktu menjadikannya besar seperti sekarang.
“Sepertinya waktu azan sudah tiba. Kalau begitu aku beribadah dulu." Riana beranjak dari sana. "Kaila, sayang ayo kita salat.” Ia pun mengajak sang buah hati dan kemudian bersama pergi dari sana.
Sosok ibu dan putri kecilnya itu terus menjadi objek utama. YeonJin masih tidak mengerti kenapa ia merasa nyaman berada di sekitar mereka.
“Riana seperti Eomma dan Kaila wujud diriku, di masa lalu, tetapi.... ada yang berbeda dalam diri Riana. Ia terlihat tenang dalam menghadapi kehidupannya. Aku tidak mengerti dan ingin mencari tahu.”
Siang ini bersama gugurnya daun kering yang terakhir menjadi saksi bisu tekad yang terlihat dalam kilatan mata seorang Kim YeonJin.
Keren kamu Thor...
Karyamu sungguh luar biasa...
Semoga sukses selalu untuk author...
Sama2 bandot tua bau tanah nan serakah menyebalkan..
narasi2nya bener2 nyesek...
Rasa mau ngulek jntungnya
Bener2 ngehempas mental anak kecil, ga ad hati😡😡😡
Walau fiksi...Mak merinding bacanya ..
Terharu..
Walau sekedar membaca narasi..
Luar biasa authornya
Pandai ngacak2 perasaan reader
Ga usah ditutupi
Agar BS sama2 menghadapi si tua bangka itu
Mbo ya eliiiing kamu tuuuh...
Hhhh tak sentil jantungmu Syiiiid
Geram rasanya..
Dr bab awal sj, ni air mata rasanya ngalir tanpa diminta
Rasanya sakit banget Thor..