"Yang namanya di kampus, pasti banyak dong, mahasiswi-mahasiswi yang cantik, kan gampang tinggal pilih. Tapi kenapa kamu masih jomlo juga sampai kamu jamuran?
Jeff langsung menoleh, menatap Kayla dengan sorot mata tajam.
"Kamu pikir mencari istri itu mudah? Semudah mencari cabai dalam tumis kangkung? Enggak La?"
"Lagian siapa juga yang mau sama kamu. Galak. Palingan cuma aku doang" celetuk Kayla yang lagi-lagi membuat Jeff semakin geram.
"Aku juga kepaksa nikah sama kamu, siapa juga yang mau sama kamu. Janda dua kali dan gagal nikah tiga kali."
***
Jeff merasa apes. Sebab, ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan Kayla yang sudah berkali-kali gagal berumah tangga. Bukan hanya itu saja, wanita itu juga galak dan sangat jutek.
Tapi, apa sebenarnya yang menyebabkan Kayla gagal berumah tangga berulang kali? Dan trauma apa yang pernah menjadi ketakutannya bila berdekatan dengan laki-laki?
Temukan jawabannya di sini~
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar tentang Daffa
Acara pengajian baru saja berlangsung. Semua keluarga ramai-ramai menikmati hidangan yang tersedia. Bahkan ada juga sebagian yang sudah kembali ke rumah masing-masing, yaitu pasangan Rocky dan Aufa beserta anak-anaknya. Rocky bilang, dia ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Apa boleh di kata. Sekarang tinggal keluarga ember bocor yang tersisa.
Kayla dan Jeff sedang bersama Nayla dan Narendra berada di halaman depan. Sedang bermain buble yang mereka buat sendiri memakai sabun. Yang penting anteng, mencegah mereka membuat kerusuhan di dalam ruangan.
“Baba mau pipis ...,” pinta Fauzan kepada Daddy Vano. Panggilan khusus dari anak-anak kepadanya dan juga Farida adalah Nana & Baba. Sedangkan kepada Fitri dan Rey adalah Granny&Grandpa.
Vano menatap sekeliling sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sudah sedikit beruban. Dari banyaknya orang-orang di sana, Fauzan malah minta pipis dengannya. Giliran yang gini-gini aja, mintanya sama dia nggak sama Farida atau yang lain.
“Baba! Ojan mau pipis!” serunya lagi karena Baba-nya tak kunjung merespon. Bocah berusia empat tahun itu menarik tangan Vano menuju ke kamar mandi.
“Baba ngga pipis juga kaya akuh?” tanya-nya setelah memasukkan lagi pistol ke dalam tempatnya.
“Nggak, Baba udah pipis,” jawab Vano singkat. Ia membantu anak itu merapikan pants Fauzan yang masih terlihat berantakan.
“Kalau gitu, pipis lagi dong, Ba. Kayak Ozan! Ayo dong!” sambil menarik-narik tangan Baba-nya.
Kecil-kecil tukang paksa, orang nggak kebelet, gimana mau keluar dasar bocil ....bocillll....
“Ojan kan mau lihat sama ngga kaya punya Ojan.”
“Ehhh!” Vano langsung melotot mendengarnya. Ya jelas beda-lah! Batinnya memekik.
Jajaaammm anakmu ini, tingkahnya paling aneh sejagad raya. Ini siapa yang ngajarin begini sih?
**
Acara makan-makan mungkin terdengar begitu heboh. Siapa lagi kalau bukan dari ketiga anak itu. Bayangkan, ini baru tiga. Belum lagi yang masih di dalam perut, yang sebentar lagi juga akan lahir. Ikut menggetarkan rumah ini.
"Aku minta ituh!" ucap Nayla.
"Aku juga-aku juga!" sahut Narendra tak mau ketinggalan. Dan di susul lagi oleh Fauzan yang juga minta dengan menu yang sama seperti kakak-kakaknya.
"Iya, sebentar, sebentar. Antri ya, antri," ucap Fitri kapada anak-anak. Di bantu oleh Misha dan Farida.
Sementara di ruang tamu ada Jeff dan James sedang menikmati secangkir kopi.
“Abis ini masih mau nambah anak lagi kamu James?” tanya Jeff.
“Kayaknya udah cukup deh, udah nggak mau lagi Misha-nya.”
"Jadi kalau Misha-nya masih mau, kamu masih juga mau nambah?"
"Niatnya sih iya, hehehehe." James tertawa lebar. Untuk Misha nggak dengar, coba kalau wanita itu mendengarkan obrolannya, habislah dia.
“Daffa nggak datang?” tanya Jeff. Daffa adalah sepupu Kayla. Kakak Misha yang menikah dengan Amel, pasangan Jimmy dan Mutiara.
James menggeleng, “Mereka lagi liburan ke luar Negeri ....”
“Oh ....”
Obrolan masih berlanjut ke mana-mana dan semakin bertambah personil laki-laki yang malah membuat suasana semakin gila.
Ber-kebalikanya dengan James, Daffa sampai saat ini belum mempunyai momongan yang entah di sebabkan oleh karena apa. Padahal sudah terhitung tujuh tahun usia pernikahan mereka.
Setiap kali mendengar Misha hamil lagi, Amel akan sangat down. James dan Misha saja sudah akan mempunyai empat orang anak, sedangkan dia, satu pun belum mempunyainya.
Dan mereka pasti akan sedikit menjauh, membatasi diri seperti sekarang ini. Bukan karena tidak suka, tapi lebih tepatnya, ingin menjaga perasaan Amel yang tiap kali sedih karena ada saja yang membanding-bandingkan mereka dengan sepupunya itu. Entah dari keluarga atau teman-temannya.
“Kasihan Daffa yaa, setiap kali keluarga kita lagi rame begini, dia sama Amel pasti nggak ada,” ucap Farida kepada Fitri.
“Sudah beberapa taun belakangan, mereka memang kayak membatasi diri dari orang-orang sekitar. Daffa yang tadinya ceria, banyak tertawa, selenge’an, sekarang jadi pendiam.” ucap Fitri dengan suara yang terdengar sedih. “Sedih Da, sebagai orang tuanya, aku pingin liat lagi Daffa yang seperti dulu.”
“Semoga Allah mengembalikan lagi Daffa seperti dulu ya Kak,” mereka berdua berpelukan saling menguatkan. “Aku juga ingin anak-anak kita bahagia. Walau pun ujian yang mereka lalui mungkin sangat terasa berat.”
“Kita harus membesarkan hati mereka, bahwa kebahagiaan berumah tangga tidak selalu di ukur dengan kehadiran seorang anak. Walaupun, harapan terbesar kita mereka bisa memilikinya,” sambil merenggangkan pelukan, lalu keduanya saling menatap, lalu berpelukan lagi. Di susul oleh Misha dan Kayla yang akhirnya juga memeluk mereka dari samping.
“Ikuuuuttt!” ucap Reyhan mendekati mereka.
“Engggaaaaaakkkk!” jawa ke-empat wanita itu bersamaan.
“Yaaahhh ....” betapa kakek-kakek keren itu sangat kecewa.
**
“Obatnya jangan lupa di minum,” titah Jeff.
“Iya.”
Mereka sudah sampai di rumah beberapa menit yang lalu. Saat ini, mereka sedang berada di ruang tengah. Jika Kayla menonton acara di salah satu chanel televisi, sedangkan Jeff sedang menyiapkan materi untuk besok.
“Itu aja yang diutak-atik,” keluh Kayla di sampingnya. "Nggak meledak apa itu otaknya?"
“Nyiapin materi buat besok, kalau nggak di kerjain sendiri, memangnya mau nyuruh siapa.” Jawab Jeff dengan fokus mata yang tetap menghadap ke layar gepeng itu.
“Kenapa kamu milih jadi Dosen? Apa sukanya?”
Diam-diam, selama ini Kayla penasaran dengan pekerjaan Jeff. Yang otaknya hanya di isi dengan perkuliahan.
“Setiap orang mungkin punya jawaban yang berbeda-beda. Tapi menurutku, pekerjaan ini punya waktu yang lebih fleksibel daripada pekerjaan yang lain.”
“Lainnya?” tanya Kayla lagi.
“Apa kamu begitu penasaran?” Jeff menjawab pertanyaan Kayla dengan pertanyaan. Heran. Kenapa dia terus saja bertanya, “kamu hanya memecah konsentrasiku.”
“Tinggal jawab aja, apa susahnya!”
Rupanya perempuan itu benar-benar memaksa.
“Lebih dihormati, bisa banyak membantu orang-orang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah bagi mereka. Bisa bertemu banyak murid dari berbagai kalangan, dan ... susah dipecat.”
“Yang namanya di kampus, pasti banyak dong, mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik, tinggal pilih. Tapi kenapa kamu masih jomlo juga sampai kamu jamuran?”
Jeff langsung menoleh, menatap Kayla dengan sorot mata tajam.
“Kamu pikir mencari istri itu mudah? semudah mencari cabai dalam tumis kangkung? Enggak La.”
“Lagian kamu juga begitu. Siapa sih yang mau sama kamu Dosen galak, palingan cuma aku doang,” Celetuk Kayla. Yang lagi-lagi membuat Jeff semakin geram.
“Aku juga kepaksa nikah sama kamu, siapa juga yang mau sama kamu, janda dua kali, gagal nikah tiga kali."
"Masih mending juga aku masih segel, belum pernah unboxing.”
Duaarrrr!!
“Jeeeeeeeeeffff!” teriak Kayla sangat lebar. Selebar daun pisang.
Kayla terkena serangan balik. Yang kedengarannya malah berkali-kali lipat lebih sadis daripada ejekannya.
“Makanya jangan mulai duluan.”
***
To be continued.
pertanyaan simple kenapa kalian tidak tanya pada diri kalian apakah kalian juga mengerti pada suami kalian, apakah kalian juga pengertian terhadap suami kalian
kenapa wanita dicap wanita egois ya ini
saat menuntut pengertian dia sendiri tidak mau mengerti keadaan suaminya
*jeff , hanya jeff berjuang untuk rumah tangganya, jeff sabar dengan segala kelakuan Kayla, jeff berkali memaafkan Kayla, jeff bersikap bodoh mempertahankan rumah tangganya, sampai jeff melawan ibunya untuk mempertahankan Kayla, jeff sabar menanti dan membujuk maaf dari Kayla,
*Kayla, pembangkang, melawan semua perintah suami, berkali2. melakukan kesalahan, yang gatal karena keras kepalanya yang menyebabkan nyawa janin keguguran, saat suami marah bukannya memujuk dan berjuang dan bersabar mendapatkan maaf suami, ini dia pergi dari rumah dan minta cerai (ini kesalahan fatal lagi) dia egois merasa dirinya yang tersakiti karena suami tidak mudah memaafkannya, nyatanya dia juga tidak mudah memaafkan suaminya,
sebutkan satu saja yang membuat jeff merasa beruntung dapat Kayla, kalau bagi aku tidak ada sama sekali
maaf aku bukan bilang novel tidak bagus, kalau mau jujur aku akui novelmu sangat bagus, dari sisi karya, ide cerita, penulisan dan jalan cerita yang mudah dimengerti dan moment penting juga dapat tapi hanya keadilan terhadap pemeran utama wanita dan pemeran utama pria yang kurang, karena author masih kurang adil terhadap pemeran utama pria
*coba kalau konflik awalnya istri yang salah buat istri yang menyesal, berjuang dapat maaf, berjuang meluluhkan hati suaminya, jangan kalian buat isu pengalihan yang istri buat salah kalian buat suami juga buat salah yang ujung suami yang meresa bersalah dan minta maaf dan berjuang
*coba kalian berani buat novel istri yang membuat salah istri juga yang menyelesaikan masalah itu tampa di beri pengalihan isu
*kayak konflik ini jelas2 Kayla yang salah, dia tidak menghargai suaminya, berbuat sesuka hatinya, tidak mau mendengar perintah suami, membangkang yang ujung mereka kehilangan janin yang jelas2 akibat kelalaian Kayla, memang ini musibah tapi kenyataannya kayla yang membuat musibah ini karena keegoisannya, tapi apa yang terjadi kalian tutupi kesalahan Kayla ini dengan membuat jeff juga buat salah yang ujung2 jeff yang dibuat bersalah, menyesal, dan berjuang
*aku secara pribadi akan salut ama author kalau author bisa berbesar hati buat Kayla yang berjuang mendapatkan maaf dan kesempatan dari suami sampai masalah ini selesai, buat Kayla jadi wanita tangguh yang berbuat salah dan berani menyelesaikan masalahnya tampa membuat pengalihan isu suami yang salah