"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Saat Hati Mulai Berkhianat
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua.
Setelah percakapan singkat di kamar Alea, tidak ada lagi kalimat yang terucap.
Adrian akhirnya keluar dari kamar itu dengan langkah pelan.
Sementara Alea tetap duduk di atas ranjangnya, memandangi pintu yang telah tertutup kembali.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Dan yang lebih menjengkelkan, ia tahu persis penyebabnya.
Bukan karena misteri Aurora.
Bukan karena ancaman yang masih menggantung.
Bukan karena Julian.
Melainkan karena Clarissa.
Karena fakta bahwa Adrian masih pergi menemuinya.
Karena fakta bahwa wanita itu masih memiliki tempat khusus dalam hidup Adrian.
Dan Alea membenci dirinya sendiri karena peduli.
Sangat membenci.
Di sisi lain penthouse, Adrian juga tidak berada dalam kondisi yang lebih baik.
Ia berdiri di balkon luar.
Angin malam menerpa wajahnya.
Namun pikirannya tetap panas.
Percakapan dengan Clarissa.
Tatapan Alea.
Kecemburuan yang jelas-jelas terlihat di mata wanita itu.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Dan semakin dipikirkan, semakin sulit dipahami.
Selama bertahun-tahun hidupnya selalu sederhana.
Setidaknya dalam urusan perasaan.
Ia mengenal Clarissa.
Menyayanginya.
Menjaganya.
Hubungan mereka tidak sempurna, tetapi stabil.
Nyaman.
Tidak rumit.
Lalu Alea datang.
Dan dalam hitungan bulan, seluruh hidup Adrian berubah menjadi kekacauan yang tidak bisa dijelaskan.
Wanita itu selalu berhasil memancing emosinya.
Membuatnya kesal.
Membuatnya tertawa.
Membuatnya khawatir.
Membuatnya ingin melindungi.
Dan yang paling mengganggu...
Membuatnya ingin selalu berada di dekatnya.
Adrian mengusap wajahnya kasar.
"Aku benar-benar kehilangan akal."
gumamnya.
Keesokan paginya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, suasana sarapan terasa sangat canggung.
Biasanya mereka akan berdebat.
Atau saling menyindir.
Namun pagi ini...
Mereka justru terlalu diam.
Alea sibuk memotong roti panggang.
Adrian sibuk mengaduk kopinya.
Tidak ada yang berani memulai percakapan.
Karena keduanya sadar bahwa ada sesuatu yang berubah semalam.
Dan perubahan itu membuat mereka gugup.
Sangat gugup.
Sampai akhirnya suara ponsel Alea memecah keheningan.
Nama Julian muncul di layar.
Alea langsung mengernyit.
Julian sudah berkali-kali mencoba menghubunginya sejak kemarin.
Dan entah kenapa itu membuat Adrian langsung memperhatikan.
"Kau tidak mengangkatnya?"
tanya Adrian santai.
"Aku tidak ingin."
jawab Alea singkat.
Satu kalimat sederhana.
Namun entah kenapa membuat Adrian merasa sedikit lega.
Perasaan itu muncul begitu saja.
Tanpa izin.
Tanpa alasan logis.
Dan ia mulai membencinya.
Menjelang siang.
Alea berada di kantor Corisand Group.
Sementara Adrian kembali ke kantor pusat Hutama Industries.
Meski terpisah lokasi, pikiran keduanya tetap mengarah pada orang yang sama.
Bahkan saat rapat berlangsung.
Bahkan saat puluhan laporan bisnis memenuhi meja mereka.
Fokus mereka berulang kali buyar.
Di tengah rapat direksi Hutama Industries, Adrian bahkan beberapa kali kehilangan alur pembicaraan.
Hal yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Pak Adrian?"
Suara seorang direktur membuatnya kembali sadar.
"Maaf?"
"Kami menunggu keputusan Anda."
Seluruh peserta rapat menatapnya.
Adrian menghela napas.
Lalu menjawab sekenanya.
Namun setelah rapat selesai, ia langsung menyadari ada yang tidak beres.
Ia sedang memikirkan Alea.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
"Ini tidak sehat."
gumamnya.
Sementara itu.
Di kantor Corisand Group.
Alea juga mengalami hal yang sama.
Saat sedang memeriksa laporan media digital, pikirannya justru melayang ke Adrian.
Apakah pria itu sudah makan?
Apakah ia sedang sibuk?
Apakah ia masih memikirkan Clarissa?
Begitu pertanyaan terakhir muncul...
Alea langsung menutup laptopnya keras-keras.
Beberapa staf di ruangan itu bahkan terkejut.
"Apa yang kulakukan?"
bisiknya frustrasi.
Ia, Alea Corisand.
Direktur muda paling ditakuti di dunia media.
Kini malah sibuk memikirkan kehidupan pribadi suami kontraknya.
Sungguh memalukan.
Sore harinya.
Sesuatu yang tidak mereka duga terjadi.
Ketika Alea hendak meninggalkan kantornya, seorang resepsionis datang menghampiri.
"Wakil Direktur."
"Ada tamu yang ingin menemui Anda."
"Siapa?"
Resepsionis itu terlihat ragu.
"Clarissa."
Alea membeku.
Nama itu langsung membuat suasana hatinya berubah.
"Apa?"
"Dia menunggu di bawah."
Alea menghela napas panjang.
Jujur saja.
Ia tidak ingin bertemu.
Namun rasa penasarannya jauh lebih besar.
Akhirnya ia turun ke lobi.
Dan di sana...
Clarissa sedang berdiri sendirian.
Mengenakan gaun krem sederhana.
Wajahnya tampak lelah.
Namun tetap cantik.
Saat melihat Alea datang, Clarissa langsung tersenyum.
"Terima kasih sudah mau menemuiku."
Alea menyilangkan tangan.
"Ada perlu apa?"
Clarissa tampak gugup.
Untuk beberapa saat ia hanya diam.
Lalu akhirnya berkata pelan.
"Aku ingin meminta maaf."
Kalimat itu membuat Alea terkejut.
"Maaf?"
Clarissa mengangguk.
"Aku tahu kehadiranku membuat segalanya rumit."
"Aku juga tahu aku masih sulit melepaskan Adrian."
Tatapan Clarissa perlahan menurun.
"Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa pernikahan kalian hanya kontrak."
"Tapi semakin lama aku melihat kalian..."
Ia tersenyum pahit.
"...semakin sulit bagiku untuk percaya."
Alea tidak mengatakan apa-apa.
Clarissa melanjutkan.
"Kalian terlihat saling peduli."
"Kalian mungkin belum menyadarinya."
"Tapi orang lain bisa melihatnya."
Jantung Alea berdetak keras.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
Clarissa tertawa kecil.
"Itu lucu."
"Aku datang untuk mengatakan hal yang sama kepada Adrian beberapa hari lalu."
"Dan dia juga menyangkal semuanya."
Wanita itu menatap Alea.
Lembut.
Tulus.
Tanpa kebencian.
"Alea..."
"Aku tidak tahu bagaimana kisah kalian akan berakhir."
"Tapi satu hal yang aku tahu."
"Kalian berdua sudah berubah."
Kalimat itu menghantam Alea jauh lebih keras daripada yang seharusnya.
Malamnya.
Ketika Alea pulang ke The Obsidian, pikirannya masih kacau.
Percakapan dengan Clarissa terus terngiang.
Sampai akhirnya ia membuka pintu penthouse.
Dan menemukan Adrian sedang memasak.
Alea berhenti di tempat.
"Kau sedang apa?"
Adrian menoleh.
"Memasak."
"Aku bisa melihat itu."
"Aku sedang mencoba membuat makan malam."
Alea menatap dapur.
Lalu menatap Adrian.
Kemudian kembali menatap dapur.
"Kenapa?"
Adrian terlihat sedikit canggung.
Sangat jarang melihat Adrian canggung.
"Aku hanya berpikir..."
Ia berdeham.
"...akhir-akhir ini kita terlalu sibuk."
"Aku ingin makan malam yang normal."
Alea tidak tahu kenapa.
Namun dadanya mendadak terasa hangat.
Sangat hangat.
Dan itu membuatnya takut.
Karena semakin lama...
Semakin sulit baginya membedakan mana perasaan yang lahir karena kebersamaan.
Dan mana yang benar-benar cinta.
Malam itu mereka makan bersama.
Tanpa pertengkaran.
Tanpa sindiran.
Tanpa misteri.
Hanya dua orang yang menikmati makan malam sederhana.
Dan justru kesederhanaan itulah yang terasa berbahaya.
Karena di tengah obrolan ringan.
Di tengah tawa kecil yang sesekali muncul.
Di tengah kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Sesuatu sedang berubah di antara mereka.
Sesuatu yang selama ini mereka hindari.
Sesuatu yang tidak tercantum dalam kontrak.
Tidak tertulis dalam surat wasiat.
Dan tidak pernah masuk dalam rencana siapa pun.
Perasaan.
Sementara jauh di dalam hati Adrian...
Sebuah pertanyaan mulai muncul untuk pertama kalinya.
Jika suatu hari kontrak ini berakhir...
Apakah ia benar-benar bisa membiarkan Alea pergi?
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Adrian tidak memiliki jawaban.
Karena hatinya sendiri mulai berkhianat pada logika yang selama ini ia percayai.