Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Nisa memarkirkan mobilnya di depan apotek, ia harus tahu obat apa yang dikonsumsi Viko. “Selamat malam, ada yang bisa dibantu?” tanya Apoteker itu dengan ramah.
“Saya mau beli vitamin C sama minyak angin, Mbak." Apoteker itu langsung memberikan apa yang Nisa beli.
"Berapa?" tanya Nisa.
"Dua puluh lima ribu," jawab Apoteker. Nisa mengambil uang lima puluh ribu dari dompetnya lalu memberikan pada Apoteker.
"Maaf Mbak, boleh saya minta tolong cek obat ini untuk penyakit apa?” Apoteker itu menerima obat yang Nisa sodorkan. Nisa melihat dahi Apoteker itu mengernyit sambil meneliti obat itu, lalu ia menatap Nisa dengan khawatir. “Obat ini untuk pasien yang sakit lemah jantung Mbak, biasanya diberikan ketika penyakit itu sudah mulai sedikit parah.”
“Hah? L__lemah jantung?” Nisa merasa poros bumi seperti berbalik dan kepalanya langsung berdenyut hebat ketika mendengar ucapan Apoteker itu. Ternyata benar, Viko sakit. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
“Ini obat punya siapa, Mbak?”
“Hm, itu obat teman saya. Terima kasih infonya Mbak, kembaliannya ambil saja."
🌸🌸🌸
Nisa berjalan seperti tidak memijak bumi. Mengetahui kenyataan bahwa Viko sakit, membuat hatinya seperti tercabik-cabik pisau tajam. Berjalan dari parkiran ke apartemennya seperti berkilo-kilo meter jauhnya. Nisa jongkok dan bersandar pada sebuah tiang beton menatap obat Viko di tangannya. “Kenapa kamu sakit? Kenapa kamu membuatku tidak tega untuk meninggalkan kamu? Kenapa kamu membuatku untuk tidak lagi membenci kamu? Viko, aku ingin tetap membencimu, tapi kenapa malah begini?" Nisa membenamkan wajahnya dalam-dalam ke atas kedua lututnya. Menangis.
Seno baru saja keluar dari mobilnya, lantas dari kejauhan dia melihat Nisa yang sedang jongkok di dekat tiang beton. “Kenapa lagi tuh anak?” Seno berjalan cepat menghampiri Nisa. “Heh!” Seru Seno setelah ada di depan Nisa. Gadis itu tersentak lalu mengangkat kepala dan mengusap air matanya.
“Elo rupanya,” kata Nisa.
“Lo ngapain mewek di sini? Malu-maluin aja. Ayo pulang!” sahut Seno sambil mengulurkan tangan.
Perlahan Nisa meraih tangan Seno lalu pulang sama-sama. Entah mengapa setiap Nisa memegang tangan Seno semuanya terasa baik.
🌸🌸🌸
Seno manatap mata Nisa yang sembab. Seno diam menunggu Nisa untuk cerita kenapa ia sampai menangis seperti orang bodoh di parkiran apartemen.
“Sen, Viko sakit. Gue harus gimana sekarang?” ujar Nisa dengan suara parau. Seno tersentak, tapi ia berusaha untuk tetap tenang menunggu Nisa mengungkapkan semua yang mengganjal di dadanya.
“Gue bingung. Jujur aja gue belum bisa sepenuhnya memaafkan Viko, tapi ... kalau kenyataannya seperti ini, membuat gue gak bisa membencinya lagi. Kenapa gue harus mengetahui kenyataan ini saat di kantor sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pameran? Pikiran gue kacau banget sekarang.”
Seno menangkap sorot mata Nisa yang menyedihkan. Selama mengenalnya, Seno baru melihat sisi Nisa yang seperti ini.
'Nih cewek benar-benar sedang rapuh banget," batinnya.
Seno menghela napas panjang, menunduk sambil menggigit bibir lantas melirik arlojinya. “Ayo ikut gue,” ujar Seno lalu bangkit.
“Kemana?”
“Udah ikut aja, gue rasa lo butuh tempat selain kantor dan apartemen, biar lo bisa berpikir.”
Seno dan Nisa ke parkiran lagi lalu pergi dengan mobil Seno. Selang satu jam mereka sampai di tempat tujuan.
“Ancol?” sahut Nisa antara geli dan senang.
“Gue rasa lo butuh sentuhan alam biar pikiran lo jernih. Ya, mungkin pantai ancol tidak seindah pantai sanur, nanti kalau kita ada waktu kapan-kapan bisa ke sanur.”
Nisa tersenyum senang. “Lo emang paling bisa. Thanks ya, Sen, lo udah ajak gue ke sini.” Sekarang Seno merasa lega melihat gadis itu kembali tersenyum.
Mereka duduk di sebuah bangku kayu sambil menikmati angin pantai di malam hari ditemani lampu taman berwarna jingga.
“Sekarang lo boleh berpikir sesuka hati, menangis sesuka hati, atau teriak sesuka hati. Anything …,” tutur Seno. Nisa menghela napas panjang sambil menengadah melihat langit gelap tanpa bintang-bintang. Sebenarnya Nisa ingin menangis atau teriak, tapi sekarang tidak ingin lagi karena Seno ada di sampingnya, karena Nisa telah menggenggam tangannya, karenanya semuanya menjadi terasa baik. Tidak ada lagi hal yang dibutuhkannya selain sahabatnya yang satu ini ada di saat seperti ini.
“Sen, setelah gue pikir-pikir, setelah apa yang terjadi beberapa hari ini dan apa yang gue rasain, sekarang gue bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya gue tidak benar-benar membenci Viko, sebenarnya gue membenci apa yang sudah terjadi pada gue, Viko, dan Gita. Gue sebenarnya merindukan Viko, dan masih mencintainya hingga sekarang. Lalu sekarang gue mendapati kabar bahwa Viko sakit jantung, gue merasa frustasi kenapa ini bisa terjadi di saat gue ketemu lagi sama dia dan menyadari perasaan apa yang sebenarnya gue rasain.”
Seno menelan ludah getir. Akhirnya Ia mendengar juga pengakuan dari mulut Nisa langsung bahwa sebenarnya Nisa masih mencintai laki-laki itu. Seno berusaha terlihat wajar di depan Nisa, ia tidak boleh menunjukan bahwa sebenarnya sekarang sedang patah hati. Seno menarik napas sambil memejamkan matanya sejenak, agar suaranya tidak bergetar saat bersuara.
“Lalu sekarang rencana lo apa?”
“Gue mau kembali sama Viko, gue mau ngedampingi dia melawan penyakitnya. Apa rencana gue benar?”
Seno menoleh pada Nisa, lalu ia berusaha menerbitkan senyumnya. “Rencana lo bener, Nis. Lo harus kembali sama Viko dan dampingi dia. I will always support you. Gue cuma pengen liat lo seneng.” Nisa mengembangkan senyumnya lantas ia menggenggam tangan Seno di sampingnya.
“Makasih ya. Lo temen gue yang paling juara.”
Seno juga tersenyum tapi dengan hati yang sesak.
🌸🌸🌸
SINGAPORE __ Oktober 2008
Tatapan Seno tidak lepas dari gadis yang tadi siang menolongnya di bandara. Gadis itu tidak pernah terlihat tersenyum, walaupun begitu ia masih terlihat cantik. Setidaknya itulah kesan pertama Seno melihat Nisa.
“Maaf kalau tempatnya terlalu kecil. Kamu boleh tidur di sini malam ini sampai orang tua kamu datang besok,” kata Nisa sambil membuka pintu tempat tinggalnya selama di Singapore. "Ayo masuk."
“Tidak apa-apa, kok. Terima kasih ya, kamu sudah menolong saya,” sahut Seno sambil masuk.
“Iya sama-sama. Ngomong-ngomong pakailah ini buat tidur. Dan satu lagi, kamu tidak boleh melewati batas ini, oke!” Nisa melempar selimut lalu menunjukan seutas tali yang ia pasang di lantai untuk batas mereka berdua.
“Tenang aja, saya gak akan macam-macam, kok. Kalau saya macam-macam kamu boleh teriak sekencang-kencangnya,” ucap Seno. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam bersama, Seno baru melihat gadis itu tersenyum. Dan untuk pertama kalinya juga Seno melihat senyuman seorang perempuan semanis itu.
"Ngomong-ngomong kamu sendirian aja ke sini?" tanya Seno.
"Iya. Sebelumnya aku sudah ke sini sama orang tuaku buat urus-urus administrasi dan mencari tempat tinggal. Jadi aku sudah tau jalan sedikit-sedikit. Tapi nanti orang tuaku akan ke sini kok, sekarang mereka sedang sibuk."
Seno ngangguk-ngangguk. "Emangnya orang tuamu sibuk apa?"
"Sibuk kerja. Kami punya home industri di bidang makanan, sama usaha di bidang pertanian."
"Wah, hebat ya, orang tua kamu. Ngomong-ngomong dari tadi kita ngobrol aku belum tahu nama kamu, dan kamu asli orang mana." Nisa mengerjap, benar juga, pikirnya.
"Namaku Danisa dari Sukabumi."
"Senopati dari Jakarta. Senang berkenalan sama kamu," sahut Seno sambil mengulurkan tangan. Dengan gugup Nisa menjabat tangan Seno. Tanpa Nisa tahu tangan itu yang akan membuatnya hangat di masa depan.
Sejak saat itu sampai sekarang mereka jadi dekat. Dan__Seno baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah tertarik pada Nisa dari pertama mereka bertemu, sebelas tahun yang lalu.
🌸🌸🌸
sumpah
lanjutt thorr