NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1.Warisan rumah di ujung hutan.

Debu halus beterbangan mengikuti putaran roda bus tua yang melaju pelan membelah jalan tanah beralaskan kerikil. Dari balik kaca jendela yang sedikit bergetar, pemandangan kota yang padat, penuh gedung tinggi dan suara bising kendaraan perlahan berganti menjadi hamparan sawah yang menghijau, dikelilingi bukit-bukit yang diselimuti pepohonan rimbun. Udara yang tadinya terasa panas dan berbau asap kendaraan kini berubah sejuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang segar menyapa setiap kali jendela terbuka sedikit. Bus itu terus melaju menjauh dari keramaian, menembus jalan yang semakin sempit dan berkelok, hingga akhirnya sebuah papan kayu bertuliskan DESA SUKA MAKMUR mulai terlihat samar di kejauhan, tertanam di pinggir jalan besar yang kini berubah menjadi jalan setapak yang lebih tenang.

Suara pengumuman sopir terdengar memecah keheningan kabin yang mulai sepi, “Tujuan akhir, Desa Suka Makmur! Penumpang yang hendak turun harap bersiap.”

Gadis yang duduk di bangku paling belakang perlahan mengangkat kepalanya. Ia adalah Raisa. Wajahnya yang cantik tampak sedikit lelah setelah menempuh perjalanan berjam-jam dari kota tempat ia tinggal selama ini. Kulitnya putih bersih, kontras dengan pakaian sederhana yang ia kenakan, rambut hitam panjangnya terurai rapi sebatas bahu, namun ada sorot mata yang memancarkan keteguhan di balik kelelahan itu. Dengan perlahan ia merapikan tas kanvas besar yang kini tergantung kokoh di pundaknya—satu-satunya barang berharga yang tersisa bersamanya, berisi pakaian dan beberapa dokumen penting. Ia berdiri tegak, menyeimbangkan langkahnya saat bus itu akhirnya berhenti sepenuhnya, mengeluarkan suara desis halus dari rem yang menahan beban berat kendaraan itu.

Begitu pintu terbuka, Raisa melangkah turun menyentuh tanah desa untuk pertama kalinya. Angin sepoi-sepoi langsung menyambutnya, mengibaskan sedikit ujung rambutnya. Ia menatap sekeliling seperti jalanan desa yang tenang, rumah-rumah penduduk yang berdiri berjarak satu sama lain dengan halaman yang dipenuhi tanaman bunga dan pohon buah, serta suara kicauan burung yang saling bersahutan dari kejauhan. Tempat ini terasa begitu damai, jauh berbeda dari hiruk-pikuk kota yang selama ini menjadi tempatnya bernapas, namun di tempat itulah ia selalu merasa seperti orang asing—bahkan sering disebut sebagai “monster” oleh orang-orang di sekitarnya, karena luka yang ia alami entah bagaimana selalu sembuh dengan sangat cepat, seolah tak pernah ada rasa sakit yang bisa menembus kulitnya, dan seolah kematian pun enggan menyentuhnya. Hal itu membuatnya dikucilkan, membuatnya tak memiliki tempat yang benar-benar bisa ia sebut sebagai rumah.

Raisa menghela napas panjang, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat rapi. Kertas itu berisi alamat yang ditulis tangan dengan tinta hitam yang masih terlihat jelas—alamat rumah warisan dari kakeknya, Raden Margono, yang baru saja diketahui keberadaannya beberapa hari lalu melalui surat dari pengacara yang ditunjuk almarhum kakeknya. Sebelumnya, Raisa sama sekali tak tahu bahwa ayahnya masih memiliki orang tua yang tinggal jauh di desa ini karena selama ini orang tuanya tak pernah banyak bercerita tentang masa lalu mereka, hingga saat mereka pergi meninggalkannya secara tiba-tiba beberapa tahun silam, jejak keluarga lain pun seolah ikut hilang tertelan waktu.

“Rumah Keluarga Raden Margono...” gumamnya pelan, menatap tulisan itu sambil memastikan kembali arah yang harus ditempuh. Ia melangkah perlahan menyusuri jalan utama desa, sepatunya menapak lembut di atas tanah yang padat. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari siapa saja yang mungkin bisa ia tanyakan arah, namun warga desa tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Beberapa ibu sedang mengangkat jemuran di halaman rumahnya, anak-anak berlari riang mengejar satu sama lain di pinggir jalan, sementara para pria tampak bersiap berangkat menuju sawah dengan membawa alat pertanian di pundak mereka.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjalan mendekat dari arah seberang, cangkul kayu yang gagahnya terlihat sudah lama digunakan tersampir kokoh di bahu kanannya, topi caping lebar menaungi sebagian wajahnya yang tampak penuh keramahan namun juga menyimpan kebijaksanaan. Raisa segera berjalan mendekat, menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan.

“Permisi, Pak,” sapa Raisa lembut, suaranya terdengar halus namun jelas terdengar di telinga pria itu. “Maaf mengganggu waktunya. Saya ingin bertanya arah... apakah Bapak tahu di mana letak rumah Keluarga Raden Margono?”

Pria itu menghentikan langkahnya seketika, menatap Raisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa heran, takjub, dan sesuatu yang lain yang tak bisa ditangkap Raisa dengan mudah. Matanya sedikit membelalak, lalu ia mengangguk pelan seolah menyadari sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu.

“Jadi... kamu adalah cucu Raden Margono?” tanyanya pelan, suaranya terdengar berat namun penuh rasa hormat.

Raisa mengangguk mantap meski sedikit ragu. “Benar, Pak. Nama saya Raisa. Kakek saya Raden Margono, dan saya sedang mencari rumah nya.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah jalan yang makin menjauh dari pusat desa, menuju ke arah pinggiran yang berhadapan langsung dengan deretan hutan lebat yang tampak hijau pekat. “Ikuti jalan ini terus ke depan, Nak. Lurus saja tak perlu berbelok ke mana pun. Semakin jauh kamu berjalan, semakin dekat kamu dengan batas hutan. Rumah kakekmu berdiri kokoh di sana, sendirian di tengah halaman yang sangat luas, tak jauh dari garis pohon-pohon besar itu. Kamu tak akan sulit menemukannya, karena tak ada bangunan lain yang berdiri di sekitar sana.”

“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Raisa tulus, lalu kembali melangkah menuju arah yang ditunjukkan.

Belum sampai jarak sepuluh langkah kakinya menjauh, samar-samar suara bisikan mulai terdengar dari belakangnya, tepat saat pria itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju sawah. Raisa memperlambat langkahnya, menyadari bahwa suara itu ditujukan untuknya.

“Lihatlah... benar-benar dia. Gadis itu pasti pengganti Tuan Raden Margono,” bisik suara pria itu kepada warga lain yang baru saja lewat di dekatnya.

“Mungkin saja,” sahut suara orang lain yang terdengar samar. “Sudah genap setahun sejak Tuan Raden pergi meninggalkan dunia ini. Sejak saat itu, suasana di sana makin mencekam dan menyeramkan dari sebelumnya. Warga desa pun enggan mendekat, takut mengganggu ketenangan yang ada di dalamnya.”

“Namun sungguh beruntunglah gadis ini akhirnya datang,” ucap yang pertama lagi, nadanya seolah lega. “Aku yakin Tuan Arya pasti akan merasa tenang dan tidak menganggu kita lagi.”

“Tapi... apakah gadis ini mampu melakukannya seperti kakeknya dulu?” tanya suara lain dengan nada penuh keraguan. “Tugas itu tak mudah, penuh hal yang tak bisa dipahami akal manusia biasa. Bagaimana jika dia justru tak kuat bertahan?”

Bisikan itu perlahan menghilang seiring langkah mereka yang menjauh, namun kata-kata itu masih bergema jelas di telinga Raisa. Langkahnya sempat terhenti sejenak, keraguan mulai merayap masuk ke dalam hatinya. Apa maksud dari semua perkataan itu? Siapakah Tuan Arya yang mereka sebut-sebut? Dan mengapa rumah itu dianggap begitu menyeramkan, seolah ada sesuatu yang tak kasat mata yang menjaganya?

Namun bayangan kehidupan di kota kembali melintas di benaknya. Betapa beratnya ia bertahan hidup di sana, bagaimana tatapan sinis dan perkataan menyakitkan terus menghujani hari-harinya, bagaimana ia sering dikucilkan hanya karena tubuhnya yang tak biasa—yang tak bisa terluka parah dan seolah tak mengenal kematian. Tak ada lagi tempat yang bisa ia tuju, tak ada kerabat lain yang bersedia menampungnya. Jika ia kembali, ia hanya akan menjadi tunawisma yang mengembara tanpa tujuan. Rumah itu, sekalipun dikatakan angker atau menyeramkan, adalah satu-satunya tempat yang tersisa baginya untuk mendarat, satu-satunya jejak keluarga yang masih ia miliki di dunia ini.

“Apapun yang terjadi, aku tak punya pilihan lain selain melangkah maju,” gumamnya dalam hati, meneguhkan tekad yang sempat goyah. Ia meremas erat kertas alamat di tangannya, lalu kembali melangkah dengan langkah yang lebih mantap.

Perjalanan itu ternyata jauh lebih panjang dari yang ia kira. Matahari yang tadinya masih tinggi di langit perlahan mulai merunduk ke arah barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang melukis langit dengan begitu indah, namun juga membawa hawa dingin yang mulai menyusup ke balik pakaiannya. Jalan setapak yang ia lalui perlahan tak lagi dilewati orang, rumput liar mulai tumbuh menyelimuti sebagian permukaan tanah, pepohonan di sisi jalan semakin rapat dan rimbun, menutupi sebagian cahaya matahari yang hendak turun. Suara burung yang tadi terdengar riang kini berkurang, digantikan oleh suara gesekan daun yang bergesekan ditiup angin, serta suara samar aliran air sungai yang entah mengalir di mana.

Raisa tak berhenti sedikitpun, meski kakinya mulai terasa lelah menahan beban tas yang cukup berat. Ia terus berjalan, membiarkan pikirannya mengembara memikirkan hal-hal yang mungkin ia temui nanti, namun berusaha menyingkirkan rasa takut yang mulai muncul. Ia mengeluarkan sebilah kunci unik dari saku jaketnya—kunci yang permukaannya diukir dengan motif tanaman dan pola misterius yang tak pernah ia lihat sebelumnya, diberikan pengacara kakeknya bersama surat penyerahan warisan. “Kunci ini sudah menjadi milikmu sekarang,” begitu pesan pengacara itu saat menyerahkannya. “Gunakanlah dengan hati-hati, dan hiduplah di sana dengan tenang.”

Hingga akhirnya, di ujung jalan yang hampir menyatu dengan batas hutan, Raisa melihatnya. Sebuah pagar besi tinggi menjulang, terbuat dari besi tempa yang kokoh namun sudah mulai berkarat dimakan waktu, menutupi pandangan ke dalam halaman yang sangat luas. Di balik pagar itu, halaman yang luas tampak hampir tak terurus—rumput liar tumbuh tinggi, pepohonan besar yang rindang namun sebagian dahannya kering dan gundul berdiri menyebar di berbagai sudut, menciptakan bayangan panjang yang terlihat mencekam di bawah cahaya matahari sore yang makin redup. Dan tepat di tengah-tengah halaman itu, berdiri sebuah bangunan rumah dua lantai yang tampak sangat megah dan mewah, dibangun dengan gaya arsitektur zaman dulu yang anggun namun kini tampak sunyi sepi, seolah tak ada kehidupan yang menghuninya selama bertahun-tahun. Dindingnya berwarna putih gading yang mulai memudar, jendela-jendelanya berukuran besar dengan bingkai kayu yang kokoh, dan atapnya yang menjulang tinggi tampak gagah meski dimakan usia.

Raisa mendekat perlahan, jantungnya berdegup kencang tak menentu. Udara di sekitar sini terasa berbeda—lebih dingin, lebih hening, dan ada getaran halus yang tak bisa dijelaskan kata-kata, seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik pepohonan atau dari balik jendela-jendela rumah itu. Ia berdiri tepat di hadapan pintu pagar yang besar itu, lalu menatapnya lekat-lekat. Tangannya gemetar sedikit saat ia menyisipkan kunci unik yang ia pegang ke dalam lubang kunci yang tersembunyi di balik ukiran pagar.

Terdengar suara klik halus, lalu pintu pagar yang berat itu perlahan terbuka sendiri seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata, menampakkan jalan masuk menuju halaman rumah itu lebih jelas lagi. Angin berhembus kencang sesaat, mengibaskan dedaunan kering yang berserakan di tanah, menciptakan suara berderit yang panjang. Raisa melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya meninggalkan jejak di atas tanah yang tertutup dedaunan kering. Ia menatap bangunan megah itu yang kini berdiri tepat di hadapannya, menatapnya seolah menantang apakah ia cukup berani untuk melangkah lebih jauh lagi.

“Apakah benar ini rumah yang dimaksud?” tanyanya pelan, suaranya bergetar tak sadar, seolah berbicara kepada udara kosong di hadapannya. Wajahnya yang tadi masih tampak tenang kini berubah pucat pasi, darahnya seolah membeku sejenak saat merasakan suasana yang begitu asing dan mencekam menyelimuti dirinya seketika. Namun di balik rasa takut itu, ada juga rasa penasaran yang menggelegak—siapakah sebenarnya Arya yang dibicarakan warga desa? Dan rahasia apa yang tersimpan di dalam rumah mewah ini, yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya?​

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!