Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Seseorang terbaring lemah di atas ranjang.
Sebagian besar kulitnya telah menghitam dan membusuk, tetapi dadanya masih naik turun pelan. Ia masih bernapas.
Inilah bagian paling mengerikan dari racun Basilyx.
Korban tetap hidup meski tubuhnya perlahan membusuk sedikit demi sedikit.
"Alhena," panggil Arina sambil berjalan mendekati ranjang. "Menurutmu, di mana mereka menyembunyikan racun itu hingga tidak seorang pun menyadari bahwa ini sebenarnya racun?"
Alhena terdiam sejenak, mencoba memikirkan jawabannya.
Semakin dekat mereka ke ranjang, aroma busuk yang menyengat semakin kuat memenuhi ruangan.
Di salah satu sisi ruangan terdapat sebuah jendela kecil yang menghadap langsung ke pusat kota.
Dari sana tampak sebuah kincir angin raksasa yang berdiri kokoh. Penduduk Asterra menyebutnya Kincir Penjaga, salah satu simbol kota yang sudah berdiri selama puluhan tahun.
Baling-balingnya terus berputar tanpa henti, mengikuti embusan angin yang melintasi seluruh penjuru kota.
"Mungkin... melalui udara, Nona," jawab Alhena pelan. Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada kincir angin itu.
Arina ikut mengalihkan pandangannya. Tatapannya terpaku pada baling-baling yang terus berputar. Sesaat kemudian, bola matanya sedikit membesar.
Ia teringat sesuatu.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Asterra, ia sempat menghirup udara dalam-dalam. Saat itu ia mencium aroma amis… Abu yang sangat samar… Dan bau busuk yang tidak seharusnya ada.
Tatapan Arina perlahan berubah tajam.
"Maksudmu..." gumamnya pelan, "...racun itu disebarkan melalui kincir angin?"
Alhena terkejut mendengar dugaan itu.
Arina terus menatap kincir angin tersebut tanpa berkedip. Kini semuanya mulai masuk akal.
Jika seseorang meletakkan serbuk Basilyx di bagian atas kincir, setiap putaran baling-baling akan menyebarkan racun itu ke seluruh penjuru kota sedikit demi sedikit. Penyebarannya akan berlangsung lambat, nyaris tak terlihat, sehingga semua orang mengira mereka sedang menghadapi wabah biasa.
"Jadi begitu..." bisik Arina. "Selama ini mereka menggunakan angin sebagai pembawa racun.”
Arina mulai memeriksa pasien terakhir.
Kondisinya jauh lebih mengerikan daripada dua pasien sebelumnya.
Sebagian besar organ dalamnya telah mengalami kerusakan. Menurut catatan yang pernah dibaca Arina, korban Basilyx baru akan meninggal ketika racun itu berhasil menghancurkan seluruh organ vitalnya.
Itulah mengapa Basilyx dikenal sebagai salah satu racun paling kejam.
Korbannya dipaksa tetap hidup sembari merasakan tubuhnya membusuk sedikit demi sedikit.
"Berapa lama lagi dia bisa bertahan, Lady?" tanya Edmund dengan suara pelan.
Arina menarik kembali tangannya.
"Racun ini hampir menghancurkan seluruh organ tubuhnya. Paling lama... satu hari lagi." Ia menatap pria yang terbaring di hadapannya dengan sorot mata prihatin. "Ini benar-benar penyiksaan. Rasa sakit yang ia alami pasti tak terbayangkan."
Arina terdiam sejenak sebelum melanjutkan,
"Bahkan jika Astralis Alba berhasil ditemukan dan diberikan sekarang, itu belum cukup untuk menyelamatkannya. Kita masih membutuhkan obat lain untuk memulihkan organ-organ dalamnya yang telah rusak."
Edmund menelan ludah.
Tubuhnya sedikit gemetar.
Siapa yang tega melakukan penyiksaan sekejam ini terhadap rakyat yang sama sekali tidak bersalah?
...\=\=\=...
Malam itu, setelah berganti pakaian di tendanya, Arina berjalan menuju sudut lapangan tempat seluruh pemimpin pasukan akan berkumpul untuk membahas langkah selanjutnya.
Sepanjang perjalanan, sesekali ia menoleh ke arah Bukit Astrion. Ia berharap Saiph segera kembali membawa Astralis Alba.
Namun, ketika tiba di tempat pertemuan, langkahnya mendadak terhenti.
Tatapan birunya menyipit.
Seseorang yang seharusnya masih berada di perbatasan kini duduk di sana.
Orion.
Pria itu juga sedang menatapnya.
Manik hazelnya yang tajam mengamati Arina dari ujung kepala hingga kaki. Sebelah alisnya terangkat tipis, seolah baru menyadari bahwa penampilan Arina di luar manor sangat berbeda dengan wanita yang dikenalnya selama ini.
"Orion...?" gumam Arina pelan.
Ia kemudian mengambil tempat duduk di samping Putri Vega, tetapi pandangannya masih tertuju pada pria itu.
Orion tetap setampan biasanya.
Hanya saja, wajahnya tampak lebih lelah. Sebuah goresan tipis membentang di pipi kanannya, menjadi bukti bahwa ia baru saja kembali dari medan perang.
Melihat kebingungan Arina, Panglima Darius segera menjelaskan.
"Jenderal Orion kembali ke Regulus siang tadi. Yang Mulia Raja kemudian secara resmi menyerahkan komando operasi di Asterra kepadanya. Mulai saat ini saya hanya bertindak sebagai wakil, sedangkan seluruh pasukan berada di bawah komando Jenderal Orion."
Jadi... masalah di perbatasan sudah selesai? batin Arina.
"Kau kelihatannya tidak senang melihatku datang," ujar Orion dengan nada datar, meski terselip sedikit rasa kesal.
"Aku tidak pernah mengatakan begitu." Jawaban Arina sama tenangnya seperti biasa. Ia sekarang benar-benar heran mengapa Orion selalu tampak kesal setiap kali berbicara dengannya.
"Bagus." Orion mengangguk singkat sebelum mengubah nada suaranya menjadi lebih tegas. "Kalau begitu, kita mulai pertemuannya."
Tatapannya beralih kepada Arina. "Laporkan hasil pemeriksaanmu."
Arina berdiri. Ia meletakkan beberapa lembar catatan di atas meja, lalu mulai menjelaskan.
"Hampir seluruh warga Asterra telah terpapar racun Basilyx. Jika Saiph berhasil membawa Astralis Alba, pasien yang baru terinfeksi dan mereka yang baru memasuki fase kritis masih memiliki peluang besar untuk diselamatkan."
Ia menunjuk beberapa catatan yang baru saja ditulisnya.
"Namun, pasien yang sudah berada di ambang kematian memiliki kemungkinan hidup yang jauh lebih kecil. Selain menetralisir racun, kita juga harus memperbaiki organ-organ dalam mereka yang telah rusak."
Semua orang memperhatikan catatan Arina dengan saksama.
Orion ikut melihatnya sejenak, lalu mengangkat pandangan.
"Apakah seluruh kesimpulan ini benar-benar akurat?" tanyanya. "Atau kau hanya sedang membuat dugaan?" Nada bicaranya terdengar tajam, seolah sengaja menguji keyakinan Arina.
Arina balas menatapnya tanpa gentar. "Aku tidak mungkin mempermainkan nyawa banyak orang, Jenderal Orion."
Ia sengaja menekankan dua kata terakhir.
Tidak ada yang menyela mereka. Semua orang dapat merasakan ketegangan yang perlahan muncul di antara pasangan suami istri itu.
"Lanjutkan."
Arina mengangguk pelan. "Saya memiliki dugaan mengenai cara racun ini disebarkan."
Ia berbalik dan mengarahkan pandangannya ke arah kincir angin raksasa yang baling-balingnya masih terus berputar di tengah kota. "Saya menduga mereka menggunakan kincir angin itu sebagai media penyebaran racun."
Serentak, semua orang mengikuti arah pandang Arina.
Tatapan mereka tertuju pada Kincir Penjaga yang berdiri kokoh di kejauhan. Sesaat kemudian, ekspresi beberapa orang berubah. Kebingungan yang sejak siang menyelimuti mereka perlahan mulai sirna.
"Kalau begitu..." gumam Putri Vega lirih.
Edmund mengangguk pelan.
"Saya rasa dugaan Anda benar, Lady." Edmund menatap kincir angin itu dengan wajah pucat. "Setiap hari baling-balingnya terus berputar tanpa henti. Jika seseorang menaruh serbuk racun di bagian atasnya, angin akan menyebarkannya ke seluruh penjuru kota sedikit demi sedikit."
"Itulah sebabnya para korban terus bertambah secara bertahap," sambung Arina. "Semua orang mengira itu wabah yang menular, padahal mereka sebenarnya terus-menerus menghirup racun yang sama."
Untuk sesaat semua orang terdiam.
Tak seorang pun menyangka bahwa lambang kebanggaan Kota Asterra justru telah dijadikan alat untuk meracuni penduduknya sendiri.
...***...
...Like, komen dan vote ...