Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 11 Kejamnya pria itu|
❤️Happy Reading❤️
"Sudah mau pulang?"
Ellen langsung membalikkan tubuhnya dan melihat suaminya yang sudah berdiri dengan menyenderkan tubuhnya dipintu dengan kedua tangan melipat kehadapan dadanya. "Iya, ini sedang merapihkan beberapa berkas untuk dibawa pulang sebagian."
Arkan mengangguk, "aku tunggu didepan ya." Ellen mengangguk, "iya."
Sesampai dibawah Ellen bisa melihat suaminya itu sudah berdiri bersandar kepada mobilnya yang terparkir tepat didepan lobby. Ellen menghentikan langkahnya dan menatap wajah samping Arkan yang sangat sangat tampan, Arkan menolehkan wajahnya lalu menatap wajah manis Ellen dengan senyumannya, "sedang apa disana sayang?" tanya Arkan membangunkan Ellen yang terpana kepadanya.
Ellen menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan lagi, "tidak ada apa apa." Arkan membukakan pintu untuk istrinya saat Ellen menunduk untuk masuk, pria itu berbisik. "Aku tau aku tampan dan wajah ini milikmu sepenuhnya sayang." Cup.
Dikecupnya Ellen saat wanita itu sudah sepenuhnya terduduk manis didalam mobilnya namun wanita itu mematung dan lama kelamaan pipinya berwarna merah. Arkan tertawa kecil lalu memutar untuk masuk kedalam mobil.
"Pakai seatbeltnya sayang."
Ellen menurut namun masih terdiam karena kecupan yang diberikan oleh arkan, "kok kamu diam saja?"
"Aku malu."
Arkan tertawa, "kenapa malu sama suami sendiri?" lalu tangan kiri Arkan terangkat untuk mengelus kepala wanitanya dengan pelan, lalu ia teringat perkataan dari pria itu. "Jaga istrimu baik baik, jika kau tidak bisa melakukannya biar aku yang menjaganya." kata pria itu setelah mengatakan hal itu tidak tau dirinya langsung pergi begitu saja meninggalkan Arkan yang sudha mengepalkan kedua tangannya.
Arkan mengingatnya itu langsung mencengkram dengan kuat tangan kanannya yang memegang pengemudi dengan rahang yang sudah keras, Ellen menyadari perubahan sikap suaminya pun langsung menggenggam jari jemari suaminya dengan pelan.
Arkan sadar dari lamunan saat merasakan tangan kirinya digenggam erat, "kamu kenapa sayang?" tanya Arkan, Ellen terdiam, "harusnya yang nanya itu aku, kamu kenapa? Sampai kemudi dipegang erat gitu."
"Ah gak, gak papa. Cuma ada kerjaan yang sedikit aku ingat membuatku kesal." bohongnya untuk pertama kalinya kepada Ellen. Ellen mengangguk, lalu menyenderkan kepalanya dibahu suaminya kemudian tangan yang menggenggamkan jemari suaminya berpindah memeluk lengan bisep suaminya.
Saat ini Arkan sedang berada diruang kerjanya sedangkan Ellen, sang istri sudah tidur terlelap setelah ia memeluknya dengan elusan kecil dikepala wanita itu. Arkan membuka jendela yang membuat udara malam masuk kedalam ruangannya, untung saja dimeja kerjanya tidak ada tumpukkan kertas, jika ada kemungkinan sudah pada terbang.
Arkan menatap langit malam yang diterangi oleh bulan, ia mengingat pertemuan pertamanya dengan seorang pria asing yang ia cari tau bahwa pria itu pendiri usaha terkenal diseluruh dunia, dan ia juga terkenal menjadi dingin dan kejam dalam bisnisnya.
Arkan memang sering diberi julukan dingin dan kejam oleh beberapa rekannya namun sebenarnya dia tidak kejam melainkan ditegas dalam pekerjaannya. Sedangkan pria itu memang benar benar kejam karena sudah menenggelamkan sebuah perusahaan yang dikabarkan korupsi atau menggelapkan dana milik perusahaannya dan langsung dibuat gulung tikar oleh pria itu.
Dan banyak yang mengabari bahwa keluarga dari perusahaan gulung tikar itu tidak memiliki tempat tinggal lagi dan lebih memilih tidur dipinggir jalan atau dikolong jembatan. "Benar benar kejam."
Flashback ON
"Ada keperluan apa tuan Fahri Pratama keruangan saya?" tanya Arkan sembari berjalan dan duduk disofanya, lalu mempersilahkan pria itu duduk. "Ruanganmu sangat bagus dan nyaman, apa istrimu sudah kemari?"
Arkan yang mendengarkan kata istri keluar dari mulut pria itu mulai mendinginkan otaknya, "apa urusan anda dengan istri saya ya?"
"Tidak ada urusan apapun, hanya saja saya khawatir bahwa ada seseorang yang mengaku dirinya istri anda dan istri asli anda malah dibuang begitu saja oleh karyawan anda sendiri."
"Itu tidak akan terjadi," ujarnya dengan menekankan kalimatnya sedangkan pria itu hanya tersenyum sinis, "tidak ada yang tau, jika itu terjadi aku akan merebutnya darimu."
Arkan mengeraskan rahangnya."Kau tidak akan bisa melakukan itu, tuan Fahri." Pria itu mengacuhkannya dan melirik bingkai foto yang terdapat foto pernikahan Arkan dengan Ellen, "cantik sekali istri anda. Rasanya ingin memilikinya."
"Berani sekali anda!" teriak Arkan yang hanya dibalas tawa oleh pria itu, lalu berdiri dengan merapihkan jaz yang ia kenakan. "Jaga istrimu baik baik, jika kau tidak bisa melakukannya biar aku yang menjaganya." ujarnya lalu menunduk dan melangkah santai keluar dari ruang kerja Arkan dengan senyuman tipis.
Arkan didalam ruangan langsung melempar gelas yang sudah tidak ada isinya kearah pintu dan bertepatan dengan Ranz yang masuk kedalam ruangan langsung segera menyingkir dan terkejut melihat tuannya sedang kesal.
"Ada apa tuan?"
"Carikan data tentang pria itu." Ranz menunduk, "baik tuan." ujarnya lalu ia segera pergi dari ruangan itu dan menyuruh beberapa office boy untuk membersihkan pecahan cangkir.
Arkan menatap pemandangan luar dan kedua tangannya masih mengepal dengan kuat, "berani sekali pria itu, aku tak akan membiarkannya untuk mencuri yang sudah menjadi milikku selamanya." Lalu Arkan bertekat untuk secepat mungkin membawa istrinya kekantor miliknya agar tidak ada wanita murahan yang mengaku diri menjadi istrinya.
Flashback Off.
Arkan yang masih sibuk dengan pikirannya tidak menyadari bahwa ada yang melangkah masuk pelan keruangannya, dengan sekali gerakkan ia merasakan pelukkan dipinggangnya. Jemari kecil mengerat kuat dipinggangnya Arkan tersenyum lalu mengelus jemari kecil itu, "kenapa bangun sayang?"
"Aku tidak bisa tidur melihat kasur samping kosong."
"Maafkan aku yang masih harus bekerja dan sekarang baru selesai." ujarnya lalu Arkan membalikkan tubuhnya dan menangkupkan pipi kiri wanita itu lalu wajahnya ia turunkan secara perlahan, dikecupnya dengan lembut bibir itu dan menekankan tengkuk leher istrinya untuk mendekat kearah wajahnya.
Ellenpun melakukan balasan dari permainan bibir suaminya, tangan yang tadi berada dipinggang suaminya beralih ke leher Arkan memperdalam ciumannya dan malam itu mereka melakukan hubungan yang sangat panas dan intim disaksikan bulan yang menyinari langit gelap.
Disudut lain kota Jakarta, seorang pria melemparkan berkas berkasnya didepan bawahannya. Ada seorang pria paruh baya yang sudah duduk sujud dilantai didepan meja kerjanya, "kau sedang bercanda denganku?"
Pria itu adalah Fahri Pratama, yang terkenal sangat dingin dan kejam didunia pembisnisan. Ia juga bisa membuat seseorang mati dalam sekejap hanya karena tatapan tajamnya dan senyum sinisnya. Pria paruh baya yang sedang bersujud itu merasakan hawa yang sangat mencekam dan itu membuat dirinya berkeringat dan merinding.
Pria itu berjalan mendekat kearah pria paruh itu lalu duduk didepannya dengan hawa dingin yang ia bawa, "aku tanya sekali lagi, apa kau sedang bercanda denganku?"
"Tidak tuan."
"Lalu mengapa data itu berbeda dengan apa yang kuinginkan?!" bentaknya dengan membuat manusia yang didepannya itu gemetar, "kau tau apa yang kau lakukan saat ini? Tidak? Biar aku beritahu, apa yang kau lakukan." ujarnya lalu memberi kode mata kepada bawahannya.
Bawahannya menunduk lalu keluar setelah itu masuk saat beberapa menit kemudian namun tangannya menarik sesuatu dan ternyata ia menarik dua orang perempuan yang pakaiannya sudah sangat lecek. Pria paruh baya itu menoleh kebelakang dan mendapati istrinya dan putrinya sedang menangis meminta ampunan, ia pun langsung memohon ampun kepada Fahri dengan tangannya yang meraih kaki pria itu.
"Tolong, ampuni istri dan putriku. Aku akan menerima hukuman darimu tuan. Kumohon.."
"Sudah tidak gunanya untuk memohon kepadaku pria tua,"
"Kumohon tuan, mereka tidak salah. Bunuh saya, bunuh saya dan biarkan mereka hidup, ya?" tanyanya dengan nada putus asa namun itu tidak merubah pria kejam itu menjadi pria baik. "Jika aku membunuhmu, aku tidak yakin hidupku akan baik baik saja. Aku akan membiarkan kalian hidup, tapi istri dan anakmu akan kujual ketempat Sam dan kau akan kubuang ketempat Max di NY dan tanggung jawabmu selesai."
"Ayahh.. Hiks.. ayah.."
Pria tua itu syok, saat mendengar kata bahwa istri dan anaknya akan dijual ketempat bordil milik tuan Sam yang terkenal psikopatnya di NY, sedangkan dirinya akan dibuang ketempat tuan Max yang memiliki tempat sangat menyeramkan.
"Tu-tuan tolong saya saja, jangan, jangan bawa anak dan istri saya kumohon." ucapnya dengan putus asa, Fahri mengangkat dagunya dan kedua perempuan itu langsung ditarik keluar dengan kasar dan mereka langsung berseru berisik membuat Fahri mengambil pistol yang ia selalu taruh dipinggir celanannya lalu menembakkannya kebelakang pria tua itu dan seketika sunyi.
Darr!
Fahri tertawa keras, "kalian sangat berisik. Begini lebih baik, segera bawa dia ketempat Max jangan samapi ia kabur."
"Baik tuan."
"Tuan! Tuan tolong ampuni saya tuan!" pekik pria tua itu dan fahri hanya bisa bernafas lega. Lalu menatap tangan kanannya, "apa kau sudah dapat data yang ku inginkan?"
"Sudah tuan."
"Mari kita lihat, kemarikan." ujarnya dengan meminta sebuah kertas yang selalu dipegang oleh tangan kananya, Dean. Dean melihat tuannya yang tersenyum licik melihat data diri dalam sebuah keluarga lagi, Dean juga tau bahwa masa kecil tuannya sangat kelam dan membuat tuannya dendam kepada orang yang berada dimasa lalunya itu.
"Akhirnya ketemu juga mereka, senang ya mereka pergi jalan jalan bersama keluarga kecilnya setelah membunuh keluargaku." ujarnya dengan nada senang namun dingin.
"Pergilah." ujarnya kepada bawahannya yang masih berada diruangannya.
❤️Bersambung..❤️
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan