Antares Bagaskara atau yang akrab dipanggil Ares adalah seorang pria tampan dan kaya, yang baru saja bercerai dengan istrinya. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Arkanio Bagaskara.
Antares atau yang akrab dipanggil Ares harus diperhadapkan dengan perceraian karena perselingkuhan istrinya. Disisi lain ia bertemu dengan Anita yang merupakan babysitter dari anaknya. Percikan asmara pun muncul diantara keduanya? Namun, semua itu tidaklah mudah. Lantas bagaimana seorang duda beranak satu memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kristikitt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - Ares Or Wira? (2)
Hidup gue benar-benar berubah 180 derajat. Pada awalnya semuanya baik-baik ajah, namun tiba-tiba semuanya berubah drastis. Kak Wira dan Kak Ares makin gencar menjalankan aksi mereka buat dapetin gue. Jujur saja, hal itu membuat gue merasa risih.
"Udah deh gak usah aneh-aneh. Hari ini apa lagi?" Tanya gue kesel sama Kak Ares. Kemarin Kak Ares sengaja bangun pagi cuman buat bikinin gue sarapan. Gue jadi bingung, yang majikan itu dia apa gue sih? Alhasil gue menolak mentah-mentah buat makan sarapan yang udah dia bikinin.
Kali ini gue bangun pagi, eh si bapak udah bangun juga. Mana cengir-cengir lagi tuh orang. "Apalagi hari ini?" Tanya gue. Dia cuman senyum doang.
"Peace..." Ujarnya sambil membentuk V dengan kedua jarinya.
"Udah gih, mandi ajah deh sono." Usir gue.
"Duhh perhatiannya calon istri akuh." What? Gue speechless pas Kak Ares ngomong gituh. Lebih tepatnya di kata -istri aku-. "Aku belum milih loh." Gue mengingatkan.
"Iya belum milih, tapi pipinya kok merah sih." Buset! Gue malu banget nih. Udah ah gak usah diladenin, entar malah makin menjadi. Bodo amat lah!
"Cie cie yang lagi malu." Gak gue ladenin ajah si bapak makin menjadi-jadi.
"Yaudahh.. aku mandi dulu yah.." Ujar Kak Ares. "Nita. Liat aku dulu dong." Pintanya. Sebelumnya gue emang gak mau lihat Kak Ares karena gue masih malu. Tetapi setelah dia meminta demikian, gue pun berbalik. "Bye bye."
Papanya Arka kayak anak kecil. Dia membentuk jarinya seperti love dan mengarahkannya ke gue. Aduh! Gue lemah nih sama cowo yang cute-cute macam duda satu anak ini. Eh apaan sih? Gue gak boleh lemah! Gue harus setrong! Gue gak mau jadi bahan rebutan buat mereka. Udah ah, jadi puyeng deh kepala gue.
...***...
Hidup gue gak tenang, kalau tadi digangguin Kak Ares, kali ini giliran Kak Wira. Sebelum ke kantornya, ia selalu mampir kesini. Alasannya sih mau ketemu Arka, padahal bukan itu, melainkan ketemu gue. Bisa gue duga pasti ada sesuatu nih.
"Aku bawain ini buat kamu." Tuh kan, benar tebakan gue.
"Apaan nih Kak?" Tanya gue penasaran.
"Sarapan. Nyokap aku yang buatin." Kaget dong gue. Padahal gue kan belum Pernah ketemu nyokapnya, eh udah dibuatin bekal ajah. Gue kan jadi gak enak. "Dimakan yah." Sambung Kak Wira lagi. Gue cuman diam ajah, gak tahu mau ngerespons apa.
"Terus ini buat juga buat kamu." Kak Wira memberikan sebuah bungkusan kecil.
"Apaan nih Kak?" Tanya gue lagi.
"Nanti ajah baru kamu buka." Bukannya menjawab Kak Wira malah meminta gue buat membuka hadiah tersebut jika dia sudah pergi. Padahal kan gue penasaran.
"Kamu gemesin banget sih." Ujar kak Wooseok tiba-tiba.
Kak Wooseok ngomongnya sambil ngeliatin gue gemes gituh. Aduhh.. selain lemah sama cowo yang cute, gue juga lemah sama cowo cool tapi manis ginih. Hedeh, jadi makin bimbang deh hati gue.
...***...
Setelah mengantar Arka ke sekolah, gue pun pulang bersama dengan Pak Tino, supir Kak Ares. Untungnya hari ini Kak Ares lagi ada meeting penting sehingga dia gak bisa ngantar Arka, jadi kali ini gue bisa bebas dari godaan mautnya.
Oh iya, bungkusan kecil pemberian Kak Wira masih ada di kantonh celana gue. Gue jadi penasaran sama isinya. Kira-kira apa yah?
Dengan hati-hati gue membuka bungkusan itu. Ternyata isinya berupa gantungan kunci. Menariknya gantungan kunci itu berbentuk bunga peony, bunga yang pernah diberikan Kak Wira tempo hari. Bunga peony bunga arti yang bagus. "Selain itu bunga ini juga melambangkan kehormatan dan kepribadian berkelas. Artinya, aku menghormati kamu dan menjadikan kamu sebagai pribadi yang berkelas dimata aku." Kata-kata kak Wira tiba-tiba terngiang dalam benak gue.
Kak Wira bukan sekadar menyatakan perasaannya ke gue, tetapi Kak Wira ingin menjadikan gue sebagai satu-satunya wanita yang pantas berada disisinya. Kak Wira juga sangat menghormati gue, dan gue suka itu. Kak Wira romantis dengan caranya yang begitu sederhana.
Pada umumnya, kebanyakan pria akan menyatakan perasaanya kepada wanita idamannya dengan menggunakan bunga mawar, tapi Kak Wira justru berbeda. Ia menggunakan bunga peony. Hanya sedikit orang yang tahu makna bunga tersebut. Dan hanya sedikit wanita pula yang mendapatkan bunga tersebut dari seorang pria, gue salah satunya. Gue merasa beruntung.
Gue memandang lama gantungan kunci itu. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, gue dapat menemukan makna dibalik gantungan kunci ini. Kak Wira ingin mengunci hatinya bersama dengan gue. Dia gak mau berbagi, terlebih lagi jika harus menyerah pada sahabatnya. Gue bisa merasakan hal itu. Ketulusan Kak Wira benar-benar tersalurkan dengan baik.
Ting!
Handphone gue berdenting. Ada chat whatsapp yang masuk dari Kak Ares.
-Kak Ares
Bundanya Arka...
^^^-Anita^^^
^^^Kenapa kak?^^^
-Kak Ares
Rindu...
^^^-Anita^^^
^^^Lgi sibuk! Dilarang mengganggu!^^^
Kak Ares kenapa sih? Ngechat gue cuman buat bilang rindu. Padahal kita kan hampir setiap hari ketemu. Ada-ada ajah! Heran deh gue. Udah tua juga kelakuannya kayak ABG baru kenal cinta. Gemesin sih emang tapi kan gue gak mau baper.. hehehehe.
Pokoknya gue gak bisa memilih diantara mereka. Gue takut pilihan gue nantinya akan mengecewakan salah satu diantara mereka. Gue gak mau merusak persahabatan mereka.
Yaoloh! Gue harus gimana nih?!