Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Selesai dengan sarapan mereka pun segera bersiap untuk mengantar Zafana pulang. Sampainya didepan rumah Zafana dibuat terkejut dengan keberadaan Bagas dan Clara yang sedang duduk mengobrol diteras rumah.
"Zafa, kamu dari mana aja semalaman?"tanya Clara saat Zafana sudah berdiri dihadapannya.
Oliver mengikuti dari belakang dengan kedua anaknya menunggu didalam mobil.
"Zafa semalem---"
"Selamat pagi om, tante..maaf semalam Zafana menginap dirumah saya, semalam kakak Zafana lembur di kantor dan teman Zafana sedang tidak bisa dihubungi, jadi saya memberikan Zafana waktu untuk menginap dirumah saya semalam"ucap Oliver.
Damian menatap tajam kearah Oliver, "kamu siapanya anak saya?"
"Saya d---"
"Dosen Zafana di kampus! D-dan Zafa juga gak berduaan kok di rumah pak Oliver, Zafa bareng anak-anaknya pak Al juga dirumahnya"sela Zafana.
"Anak?"Clara bertanya.
'Ish Zafa bodoh!"-batin Zafana.
"I-iya...oh iya, pak Oliver kan harus ke kampus sekarang, kan? Yaudah bapak mending pergi sekarang"ucap Zafana sambil berbalik menghadap Oliver yang berdiri dibelakangnya sejak tadi.
Oliver mengangkat sebelah alisnya membuat Zafana memiringkan kepalanya sedikit untuk memberi kode pada Oliver agar segera pergi.
"Ah iya! Saya harus ke kampus, kalau gitu saya permisi dulu om, tante"ucap Oliver lalu berbalik menuju mobilnya.
Zafana menyengir pada Clara dan Damian yang sedang menatapnya penuh intimidasi.
"Anakmu nih pa"ucap Clara
"Mama....cantik banget sih hari ini" Zafana memuji.
"Gak usah puji-puji mama! Masuk dan tunggu mama diruang tamu!"ucap Clara.
"Pa, papa kok pulang gak ngasih kabar ke Zafa sih? Bawa oleh-oleh gak?"tanya Zafana, Damian hanya menghela lalu berjalan masuk mengikuti Clara.
Zafana menghela lalu berjalan masuk kedalam rumah. Oliver yang melihat itu hanya tersenyum tipis lalu segera melajukan mobilnya menjauh dari sana. Ia berniat untuk menitipkan Enzi dan Aileen pada Rina hari ini, jadi Oliver membawanya cukup pagi.
"Papa, apa ini rumah kakak mama?"tanya Aileen dan Oliver hanya menjawabnya dengan deheman singkat.
Melihat itu Enzi menghela, ia kira papanya sudah menghangat. Ternyata masih tetap dingin seperti biasa.
"APA?! Jadi anak dia manggil kamu mama?"tanya Clara saat mendengar semua yang dikatakan oleh Zafana.
"Kakak mama!"koreksi Zafana
"Sama aja!"jawab Clara cepat.
"Beda ma.."gumam Zafana.
Bagas yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suara, "papa mau ketemu sama dia, bilang pada papa kalau dia meminta kamu"ucapnya.
Zafana membulatkan matanya, "pa gak gitu konsepnya ih! Zafana sama dia gak ada apa-apa kok, kenapa jadi harus bilang ke papa"
"Oh, jadi kamu maunya main dibelakang mama sama papa gitu? Tanpa mama sama papa tahu kamu dekat sama siapa?"tanya Clara.
"Ma please, kalian salah paham sama pak Oliver "ucap Zafana.
"Salah paham gimana? Tentu saja mama sama papa benar paham"ucap Damian.
"Ah papa! Gak gitu konsepnya ih, ah udah lah Zafa ke kamar aja" Zafana menyerah dengan kedua orang tuanya.
Mereka terlalu banyak bertanya tentang Oliver, padahal bukan seperti itu hubungan yang Zafana dan Oliver jalani. Zafana menatap wajah kedua orang tuanya lalu bangkit, ia benar-benar berjalan masuk kedalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.
"Aarrgghhh kenapa harus gini siihh? "Zafana mengeram dibalik bantalnya.
"Na, mama setuju kok"ucap Clara setelah mengetuk pintu kamar Zafana.
"MAMA STOP! "Zafana sudah tidak kuat!
Baru satu kali ia diantar oleh Oliver mama papanya sudah ribut mempertanyakan ini dan itu mengenai Oliver. Apalagi saat Oliver terus terang dengan keberadaan Enzi dan Aileen sebagai anaknya. Semakin membara lah hati Clara.