NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Sari illfill. Mulai terbongkar...

Slamet dan Wati akhirnya tiba juga. John mendekat dengan wajah yang terlihat senang menyambut kedatangan mereka.

"Akhirnya kalian datang juga, kami sudah lama menunggu kedatangan kalian."

John datang mendekat dan menyambut kedatangan Slamet dan Wati.

Sari pun turut mendekat juga, mengikuti John dari belakang.

Wati tiba dengan tersenyum kecil, namun matanya sedikit terlihat sibuk memperhatikan area sekitar rumah makan tempat mereka berada, Dia sedang mencari-cari kehadiran seseorang yang tidak dijumpainya, yaitu Jo.

Wati sedikit merasa was-was, tidak tenang, dan juga memendam perasaan bingung namun disimpannya saja di dalam hatinya.

Slamet dengan sikap dan tingkah-lakunya yang cengengesan. Berkata,

"Maaf kami sudah datang telat sekali, sehingga kalian menjadi lama menunggu kedatangan kami." Slamet mencoba meminta maaf.

"Ya sudah tidak apa-apa. Kalian pasti sibuk juga tentunya, bisa datang saja kami sudah cukup senang. " John mencoba menenangkan suasana yang canggung itu.

Slamet merasa tenang, dengan raut wajah yang masih saja terlihat cengengesan. Berkata lagi,

"Terima kasih ya, sudah sangat pengertian. Lain kali Aku tidak akan menguranginya. Tidak akan terlambat lagi. Janji."

Sari merasakan perkataan Slamet hanyalah berbasa-basi saja dan tidak penting. Sari juga merasa kebingungan sebab seseorang yang dia harapkan untuk hadir di tempat ini, tidak terlihat juga batang hidungnya.

"Mari duduk disini, kami sudah memesan makanan dan minuman kami." Sari akhirnya bersuara juga. Walaupun di dalam hati dia sudah merasa bosan sekali. Mereka sudah menunggu lama sekali.

"Iya terima kasih."

Wati yang sedari-tadi hanya melirik kekanan dan kiri untuk mencari keberadaan Jo pun menjawab seadanya. Wati sudah sedikit merasa malu, takut ketahuan kalo dirinya hanya fokus mencari keberadaan dari Jo.

Wati memang selama ini kurang mengenal John, sehingga Dia tidak mengetahui kalau nama lelaki yang ada di depannya adalah John yang kalau ditelaah sangat mungkin dipanggil dengan sebutan Jo.

"Yaa.. Kita kemeja itu, kalian ternyata sudah memesan makanan kalian. Ya sudah, Kami juga akan memesan makanan dan minuman juga dong." Slamet dengan semangat dan cepat memanggil pelayan, dalam hati dia berkata

"Lumayan bisa makan gratis dibayarin." Slamet berkata didalam hatinya.

"Mumpung disini makan gratisan, dapet cewek, hari sial sudah berlalu. Sekarang saatnya aku beruntung , hahaha..." Slamet sedikit tenggelam didalam hatinya.

Wati yang sedari-tadi tidak melihat keberadaan Jo, merasa semakin bingung,

"Apaan sih, mengapa Jo tidak kelihatan juga dari tadi, di mana dia ya?" Wati berbicara di dalam hatinya, Dia mulai merasa curiga dengan perkataan dari Slamet selama ini.

John yang memperhatikan gerak-gerik Wati yang seolah-olah mencari-cari sesuatu, sebab bola matanya tidak pernah tenang. John pun mencoba memberikan perhatian kepada Wati dengan menawarkan makanan dan minuman.

"Kamu nggak pesan, Kamu mau minum atau makan apa? Biar Aku pesankan." John mencoba menghilangkan kecanggungan dari Wati.

John menduga Wati masih sedikit canggung saja, karena hari ini adalah pertemuan pertama mereka. Di dalam hatinya, John ingin Wati bersikap biasa, tidak perlu canggung kepadanya,

"Wajar saja Dia yang canggung." Kata John di dalam hati.

"Tidak usah, Aku masih merasa kenyang!"

Sahut Wati sambil mengambil gelas yang ada di atas meja dan menuangkan air putih kedalamannya. (air putih biasa berada di di setiap meja rumah makan dan gratis diminum oleh setiap pelanggan).

Wati menghabiskan satu gelas air putih penuh langsung sekali teguk. Wati sudah merasa sangat haus sekali, dikarenakan mereka harus berjalan terburu-buru tadi.

"Kenapa minum air putih, kan bisa pesan jus, teh manis, kopi, su su atau minuman lainnya?" John mencoba memberi perhatian dan masukan kepada Wati.

"Iya Ti, ini warung baru disini, yang punya adalah orang pindahan dari kota besar, jadi makanannya enak-enak. Aku saja sudah memesan banyak, ada sate, ayam goreng, ayam panggang, karedok, jus tiga rasa. Semua makanan ini belum pernah Ku makan, dan memang belum ada yang menjualnya di kampung ini. Pasti enak deh. Apa lagi kita dibayarin sama John. Udah pesan aja yang lain."

Slamat mencoba memberi penjelasan panjang kepada Wati, agar Wati memesan makanan juga seperti dirinya.

"Maaf, aku nggak lapar. Tadi aku sudah makan di rumah. Perutku masih terasa kenyang, belum selera." Jawab Wati yang dibuat untuk menolak permintaan Slamet.

"Tetapi Kamu kan haus juga. Kamu bisa pesan jus atau minuman lainnya saja." John mencoba memperlihatkan bahwa dirinya perhatian kepada Wati.

"Lihat tuh John saja sudah meminta kamu untuk memesan minuman" Slamet mencoba menyambung kalimat John dan mendukung perkataan John.

"Maaf, aku terbiasa minum air putih. Kalau jus aku minum pagi atau malam hari saja." Wati mencoba menjelaskan mengapa Dia tidak mau memesan minuman.

Tujuan utama Wati datang ketempat ini adalah menemui Jo alias Harjo, bukan untuk makan atau minum. Hatinya jadi sedikit kurang senang, karena merasa curiga telah dibohongi oleh Slamet.

"Oh begitu ya, Ti. Kamu terbiasa minum jus buah di malam hari dan pagi hari saja. Bagus itu, Aku pernah baca kalau meminum jus buah secara rutin sangat baik untuk kesehatan." Sari merasa kagum akan kebiasaan Wati dan menambahi kalimat Wati.

"Iya, karena itu, harus lebih banyak minum air putih." Wati memberi penjelasan agar Sari tidak merasa curiga kepadanya yang saat ini sedikit merasa geram kepada Slamet pria penipu ini.

"Tepat sekali, Aku juga baca, kalau banyak minum jus buah harus dibarengi dengan banyak meminum air putih juga. Supaya ginjal tetap sehat." Sari membenarkan dan menambahkan lagi apa yang dijelaskan oleh Wati.

"Ah, tidak perlu itu, kalau yang diminum itu jus, Aku rasa tidak perlu harus banyak minum air putih. Aku kan guru olahraga dan kesehatan, tentunya aku yang lebih tahu. Itu bidang ku, kalian kan cuma membaca saja."

Slamet dengan angkuh memotong pembicaraan Wati dan Sari. Dia mencoba menunjukkan bahwa dia lebih paham mengenai kesehatan.

Slamet tidak tahu "The Pride of Emak-Emak. " Jangan sampai dibantah dan dipotong pembicaraannya.

"Benar jus baik untuk tubuh, tetapi air putih jauh lebih penting bahkan wajib diminum 8 gelas per hari. Aku juga mendengarnya pada saat penyuluhan kesehatan Puskesmas bulan lalu, jadi Aku tahu ini, bukan hanya dari membaca saja. Dokter dan pembicara atau ahli kesehatan yang datang dari kota juga telah menjelaskannya kepada kami semua peserta pertemuan itu." Sari merasa Slamet sedikit kurang ajar, sok tahu dan telah mengganggu kemerdekaan para wanita.

"Oh iya, Kau  ikut juga kan, dalam pertemuan itu?" Sari menjelaskan panjang lebar, dan Dia juga mengingat Wati juga turut serta dalam pertemuan itu.

Slamet yang terpojok, juga jadi teringat sesuatu,

"Sia lan, Aku lupa, kalau akulah yang tidak mau menghadiri pertemuan yang sangat tidak penting banget itu." Slamet bergumam.

Slamet-lah yang seharusnya menghadiri pertemuan itu, sebab Slamet adalah Guru Olahraga. Saat itu Slamet tidak mau menghadirinya, sehingga Wati yang menjadi pengganti dirinya untuk menghadiri pertemuan itu.

Slamet mencoba mengganti topik pembicaraan, Dia merasa malu karena kalau ketahuan tidak mau menghadiri pertemuan itu.

" E..em..., mari makan," katanya buru-buru.

Padahal pada saat ini John dan Sari, sudah menyelesaikan makannya. Kalau saja tidak harus menunggu kedatangan Slamet dan Wati, John bersama Sari pasti sudah pulang.

John memalingkan wajahnya dan tersenyum, ingin sekali tertawa namun ditahannya.

"Sudah, Kamu makan aja dulu. Lihat sendiri piring Kami saja sudah kosong sedari-tadi." Jawab Sari yang sudah merasa tidak simpati terhadap Slamet.

Sari merasa kalau Slamet adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, Slamet Guru olahraga, tetapi tidak mau menghadiri pertemuan yang berhubungan dengan kesehatan. Bahkan Slamet, lebih memilih berada di warung bersama John, kakaknya.

Sari mengetahui hal tersebut, karena ketika pulang dari pertemuan itu Sari tanpa sengaja sempat melihat Slamet dan John berada di warung Widuri.

Dia juga menanyakan kakaknya waktu itu tentang kesehatan Slamet, pada saat John pulang ke rumah.

"Kakak sudah berapa lama berada di warung Widuri bersama Slamet?" Tanya Sari saat John kembali ke rumahnya.

"Sudah lama sih, sekitar jam 12 siang, sebab Kakak sudah berjanji dengan Slamet untuk mendatangi warung Widuri." Jawab John, menjelaskan.

"Kenapa Dik? Ada apa ya?" Tanya John khawatir.

"Tidak apa-apa Kak. hanya saja Slamet seharusnya menghadiri pertemuan yang diadakan dinas kesehatan di balai Kampung hari ini, namun Slamet digantikan guru wali kelas yang bidangnya tidak berkaitan dengan materi yang dijelaskan oleh pembicara tadi." Sari menjelaskan mengapa dirinya bertanya.

"Oh, benarkah? Sedari-tadi kami berdua hanya duduk-duduk saja. Tidak ada pembicaraan yang penting bahkan Kakak seharusnya makan dirumah, jadi harus makan disana." John juga kurang merasa suka dengan kegiatannya hari ini.

"Kakak yang traktir lagi ya? Hahaha..." Sari bertanya sambil tertawa sebab sudah mengetahui jawabannya.

"Ya, biasalah. Hahaha..." Ikut tertawa karena Sari adiknya tertawa.

Sari menanyakan John, karena Sari berkenalan dengan Wati yang menjadi utusan pengganti dari sekolah tempat Slamet dan Wati bekerja.

Saat ngobrol dengan Wati, Sari tahu bahwa Wati hanyalah pengganti dari Slamet yang tidak bisa hadir karena dalam keadaan sakit.

Hari saat itu, Sari dan Wati menjadi akrab, sedangkan terhadap Slamet, hal ini membuat Sari merasa, tidak suka.***

Apalagi saat ini, Slamet yang sudah datang terlambat, malahan masih mau memanfaatkan kakaknya John, untuk membayari setiap pesanan yang di makan Slamet.

Sari juga merasa, Slamet bukan orang yang cerdas. Slamet bukan tipe orang yang disukai Sari.

Sari merasa Slamet angkuh, mau menang sendiri, merasa paling tepat dan benar, walaupun salah.

Slamet menikmati makanannya, dengan sangat terburu-buru, sehingga menimbulkan suara yang khas, seperti ternak yang lagi mengunyah makanannya.

Cara makan Slamet saat ini juga sangat jorok, nasinya berhamburan di atas meja, tetapi Slamet tidak memperdulikannya, bahkan di wajahnya kelihatan beberapa butir nasi.

Saat selesai makan pun, Slamet sering menjilat jari-jari tangannya, hal ini menjijikan bagi Sari, sedangkan Wati dan John sudah terbiasa dengan hal tersebut.

John dan Sari harya saling berpandangan saja, sedangkan Wati merasa sudah tidak tahan lagi di bohong oleh Slamet. Wati sudah merasa yakin bahwa Jo atau Harjo tidak akan pernah datang hari ini. Wati sudah merasa gelisah sekali, karena tertipu dan merasa bosan di tempat itu.

"Oh, ya. Mengapa Jo tidak datang juga? Ini sudah pukul setengah enam sore." Tanya Wati tiba-tiba.

John dan Sari, terkejut mendengarkan pertanyaan dari Wati, mereka saling berpandangan. Raut wajah mereka berdua berubah menjadi raut wajah yang kebingungan.

"Ini loh John lelaki yang ada di hadapan mu!"

Jawab Slamet buru-buru, Dia berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud oleh Wati.

"Iya perkenalkan nama Saya John."

John mengulurkan tangan, ke arah Wati dengan maksud berjabat tangan, saling memperkenalkan diri.

"Apa, Jo yang saya maksud, bukan yang ini, kok yang ini?"

Wati mengalah napas panjang.

"Sudah saya jelaskan, saya mau bertemu dengan Jo lelaki yang saya temui waktu, pertemuan penyuluhan pertanian waktu itu" Wati mencoba mengingatkan Slamet.***

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!