NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: GABISA BEBAS KARENANYA!

Keesokan harinya, sebuah keajaiban dunia terjadi: Raka Pradipta bangun pagi dan berangkat disiplin untuk pertama kalinya. Kejadian langka ini sukses membuat ibunya melotot kaget, bahkan hampir menjatuhkan gayung air kesayangannya.

​Setibanya di kelas 10A yang masih sepi, Raka langsung merebahkan tubuhnya di kursi keramatnya.

​"Wow... baru gue doang yang dateng," gumam Raka menatap sekeliling. "Terlalu awal kali ya?"

​Tak berselang lama, Dimas melangkah masuk. Melihat Raka sudah duduk manis di pojokan, Dimas mendadak mempercepat langkah kakinya dengan raut wajah tak percaya.

​"Wehh! Tumben banget, Rak! Lu kesambet apa berangkat sepagi ini? Ada planning tersembunyi kah?"

​Raka menyandarkan punggungnya. "Hmm... gak sih. Cuma mau nyoba perubahan aja."

​"Hmm... hmm... gitu," sahut Dimas manggut-manggut sok paham. "Terus kalau gitu, nanti di klub mau gimana, Rak? Soalnya kemarin kan udah ketahuan sama Alya tuh."

​Raka menyeringai tipis. "Hmm... kita main diam-diam aja. Jangan sampai ketahuan lagi."

​Ctek!

​Dimas menjentikkan jarinya, matanya berbinar-binar. "Nah! Itu dia! Ide lu bagus juga, Rak!" Dimas memajukan badannya. "Terus, apa rencananya?"

​"Sini gue bisikin..."

​Raka merapatkan bibirnya ke telinga Dimas, membisikkan taktik 'penyelundupan mabar' mereka dengan sangat rahasia.

​"Wah... jadi gitu? Oke, paham!" seru Dimas bersemangat.

​Satu per satu murid mulai berdatangan mengisi kelas. Namun, alih-alih memakai ponsel, Raka dan Dimas malah asyik lempar-lemparan remasan kertas antar meja untuk saling membalas pesan rahasia.

​Muak melihat tingkah absurd dua cowok di dekatnya, Alya akhirnya mengepalkan tangan dan mengeluarkan suara tegasnya yang menggelegar.

​"Kalian! Bisa diam gak?!"

​Seketika seisi kelas terperanjat kaget mendengarnya. Kesadaran Alya mendadak pulih begitu melihat puluhan pasang mata menatapnya. Ia dengan cepat menetralkan ekspresi dan memelankan volume suaranya.

​"Kalian ini... kenapa malah lempar-lemparan kertas sih? Kan ada HP..." tegur Alya dengan tatapan dingin.

​Raka menopang dagunya santai. "Oh iya ya? Tapi gapapa lah, daripada bosen."

​"Bener kata Raka!" timpal Dimas tanpa dosa.

​Alya menghela napas berat, menepuk jidatnya sendiri. "Haaah... terserah kalian berdua lah."

​Tak lama kemudian, guru jam pertama melangkah masuk ke dalam kelas, memulai pelajaran hari itu.

Suasana kelas hari itu berlangsung cukup riuh dengan sesi tanya jawab. Guru di depan papan tulis sibuk melempar soal-soal latihan, meminta murid untuk maju menjawab. Namun, mayoritas siswi kelas 10A yang mendominasi barisan depan yang aktif menyelesaikan soal-soal tersebut.

​Seiring berjalannya waktu, bel pergantian jam pelajaran pun mengalun.

​Pelajaran jam kedua diisi oleh mata pelajaran Prakarya. Tugas hari itu cukup unik: para murid diminta untuk mencari dan meneliti sejarah serta asal-usul makanan harian yang sering mereka konsumsi sehari-hari.

​Begitu bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring, Dimas langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah cepat menuju meja Raka. Tanpa memberi aba-aba, Dimas mendadak menepuk keras bahu Raka dari belakang.

​"WOI!"

​BRUK!

​Saking kagetnya, Raka yang sedang bersandar santai sampai terjungkal dari kursinya dan mendarat mulus di lantai.

​"WOI! Jangan ngagetin lah, anjrit!" omel Raka sambil meringis, memegangi pinggulnya. "Bantuin berdiri nih, gara-gara lu!"

​Dimas berusaha menahan tawa sampai mukanya memerah. "Iya, iya... pfft! Maaf, Rak!"

​Raka menatapnya tajam sambil bangkit merapikan seragamnya. "Gak usah ketawa lu!"

​"Iya, maaf-maaf," kekeh Dimas menyengir. "Hmp, btw ada apa nih, Mas?"

​Dimas memajukan badannya, berbisik pelan. "Gak mau ke klub? Mabar kita!"

​Raka menghela napas panjang. "Haaah... nanti dulu deh, Mas."

​"Loh, kenapa?"

​"Lu kan tahu si Alya pasti ngikutin kita lagi kayak kemarin," ujar Raka menunjuk ke arah pintu.

​Dimas cemberut. "Terus? Masa mau makan ke kantin aja? Bosan dong!"

​Raka memutar otak, matanya mendadak berbinar mendapat ide gila. "Hmm... kita masuk lewat jendela belakang aja, Mas!"

​Dimas berkedip bingung. "Lah? Jendelanya kan dikunci dari dalam, masuknya gimana, kocak?"

​"Cari bantuan dari anak kelas sebelah lah! Minta tolong bukain dari dalam!"

​Dimas menepuk jidatnya. "Ohh... iya juga ya!"

​Tanpa membuang waktu, mereka berdua merayap keluar kelas dan menghampiri dua orang teman dari kelas sebelah yang kebetulan sedang berada di dekat koridor belakang. Setelah diimingi imbalan traktiran, kedua teman kelas sebelah itu setuju membantu, meski sempat mewanti-wanti agar Raka dan Dimas menanggung sendiri risikonya jika sampai ketahuan guru.

​Dimas dan Raka tentu tidak masalah dengan hal itu. Misi penyusupan pun dimulai!

​Beberapa menit kemudian, Raka dan Dimas sudah berjongkok di luar jendela ruangan klub. Raka mengetuk-ngetuk kaca jendela pelan memberi kode rahasia.

​Klek! Klek!

​"Woi, bukain!" bisik Raka setengah berteriak.

​"Sip, siap!" sahut teman kelas sebelah dari dalam, menggeser slot kunci dan membuka jendela lebar-lebar.

​Hup!

​Raka dan Dimas berhasil memanjat masuk ke dalam ruangan klub dengan selamat. Setelah berhasil masuk, Dimas melakukan selebrasi tos heboh dengan teman kelas sebelah yang membantunya tadi.

​"Sesuai janji, nanti gue traktir lu pada di kantin!" seru Dimas bersemangat.

​"Mantap! Kita pegang janji lu ya!" sahut mereka sambil tertawa lalu keluar meninggalkan ruangan.

​Dimas membalikkan badan, menatap Raka dengan bangga. "Wah... kita berhasil, Rak!"

​"Iya, misi penyusupan sukses," sahut Raka tertawa kecil.

​"Main FF yuk, Rak!"

​"Gas!"

​Tanpa buang waktu, kedua anak manusia itu langsung mendudukkan diri di lantai, membuka aplikasi Free Fire di ponsel masing-masing. Begitu Raka menginjakkan kaki di lobby, Dimas segera mengirim undangan yang langsung diterima cepat oleh Raka.

​Namun, begitu pesawat meluncur di atas peta, Raka tanpa ragu mengarahkan indikator parasutnya tepat menuju area teramai (hot drop) di dalam folder map.

​Melihat itu, Dimas seketika ketar-ketir panik.

​"Loh, loh! Kenapa malah turun di tempat rame gini, Rak?! Ngendok aja lah di pojokan!" jerit Dimas.

​Raka menoleh dengan senyum tipis. "Ya suka-suka gue lah! Gue kan leader-nya!"

​"Haduh... hanya karena lu leader, jangan bikin kita mampus di awal game juga lah!" omel Dimas menatap layarnya tegang.

​Sementara Raka dan Dimas sedang keasyikan mabar di dalam markas, Alya masih berada di dalam kelas 10A bersama Aira.

​Aira yang memperhatikan gerak-gerik Alya sejak pagi akhirnya memberanikan diri bertanya. "Al... kenapa lu belakangan ini agak berubah sih?"

​Alya menoleh pelan, memiringkan kepalanya. "Emm... aneh ya?"

​Aira menggeleng cepat. "Gak sih, cuma kaget aja. Tapi sejujurnya... itu perubahan yang bagus kok!"

​Alya menyunggingkan senyum tipis. "Hehe... gitu ya?"

​"Iya," sahut Aira mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. "Btw... Raka sama Dimas ke mana ya? Kok hilang?"

​Alya diam sejenak, menatap ke arah pintu kelas. "Mereka pasti di klub lagi..." batin Alya menebak mantap.

​Melihat Alya yang mendadak melamun, Aira menyenggol nafasnya. "Kenapa diam, Al?"

​"Hah? Oh, enggak... aku mau ke kantin nih, kamu mau ikut?" tawar Alya menetralkan raut wajahnya.

​"Ikut!"

​Mereka berdua berjalan keluar kelas menyusuri koridor. Namun, baru berjalan beberapa langkah menuju arah kantin, Alya mendadak menghentikan langkah kakinya tepat di persimpangan koridor atas.

​Aira ikut berhenti, menatap sepupunya bingung. "Loh, kenapa berhenti, Al?"

​"Hmm... bentar, tunggu di situ sebentar ya. Aku ada urusan sebentar," ujar Alya.

​"Ohh, oke..." sahut Aira mengangguk-angguk.

​Alya langsung memutar arah, meninggalkan Aira di koridor dan melangkah cepat menuju ke markas klub.

​Melihat tingkah Alya yang mencurigakan dan terburu-buru itu, naluri kepo Aira mendadak bergejolak. Dengan langkah pelan tanpa suara, Aira pun menguntit Alya dari belakang!

Sementara itu, di dalam ruangan markas klub...

​Raka mengacak-acak rambutnya frustrasi, menatap layar ponselnya dengan raut wajah jengkel. Karakter mereka baru saja kalah untuk ketiga kalinya berturut-turut.

​"Aduh! Kalah terus kan kita nih gara-gara lu knock mulu, Mas!" omel Raka menunjuk muka Dimas.

​Dimas mengembungkan pipinya tak terima. "Ya lagian lu nuruninnya di tempat rame melulu! Mana bisa gue nahan gempuran satu squad pas baru mendarat?!"

​Kedua anak manusia itu begitu terlarut dalam perdebatan konyol game Free Fire hingga sama sekali tidak menyadari keberadaan sesosok mata yang sedang mengintai tajam dari balik pintu klub. Melalui celah kecil pintu yang sedikit terbuka, Alya berdiri mengamati tingkah mereka yang makin menjadi-jadi. Raka dan Dimas bukannya menjalankan kegiatan klub yang berfaedah, melainkan malah asyik memanjakan diri dengan fasilitas gratisan.

​Alya menarik napas panjang, mendorong pintu hingga terbuka lebar, lalu melangkah masuk dengan mengaktifkan mode pemimpin super tegasnya.

​"Raka! Dimas! Kenapa kalian malah main-main di sini?!" teriak Alya dengan suara lantang.

​Namun, meskipun volume suaranya sudah dinaikkan beberapa desibel, panggilan itu sama sekali tidak menembus pendengaran Raka dan Dimas yang konsentrasinya sudah terdistraksi total oleh suara tembakan di dalam game.

​Kesabaran Alya mencapai batasnya. Gemas melihat keabaikan mereka, tangan Alya refleks menyambar sebuah buku tua berdebu dari atas meja di dekatnya, lalu melesatkannya lurus ke arah mereka berdua.

​DASS!

​Buku tebal itu mendarat tepat di punggung Raka.

​"Auw! Apaan sih ini?!" ringis Raka memegangi punggungnya yang panas.

​Dimas yang jemarinya masih sibuk menari di atas layar ponsel menyahut santai tanpa menoleh. "Kenapa, Rak?"

​"Ini... ada yang nimpuk gue pakai buku berdebu," gumam Raka sambil memungut buku tersebut.

​Namun, begitu Raka mengangkat kepalanya untuk mencari pelaku pelemparan, tubuhnya seketika membeku. Keringat dingin langsung mengucur deras di pelipisnya saat mendapati sosok Alya sudah berdiri menjulang tepat di hadapannya dengan kedua tangan bersedekap dan pandangan membunuh.

​Raka merayap pelan mendekati Dimas, menyenggol siku sahabatnya sambil berbisik dengan nada panik setengah mati.

​"Sssht... Mas! Kabur, Mas!"

​"Hah? Kabur ke mana?" tanya Dimas bingung, pandangannya masih tertuju pada ponsel.

​"Kabur! Ada Alya!"

​"Alya?" Dimas tertawa kecil. "Bukannya dia tadi lagi di kantin sama Aira?"

​"Bodo amat! Lu lihat ke depan sekarang, bego!" bisik Raka menepuk paha Dimas.

​Dimas akhirnya mengalihkan pandangan dari ponselnya. Begitu matanya menangkap aura hitam nan mengerikan yang memancar dari tubuh Alya, Dimas terkesiap. Wajahnya seketika pucat pasi.

​Dikuasai rasa takut yang luar biasa, Dimas melompat bangkit, melesat kencang menuju arah jendela tempat mereka menyelundup tadi untuk melarikan diri.

​"Gue duluan, Rak!" jerit Dimas.

​Namun, Alya bergerak lebih cepat. Sebelum Dimas sempat menyentuh slot kunci jendela, Alya kembali menyambar buku berdebu kedua dan melemparkannya dengan akurasi tingkat tinggi bak seorang sniper.

​BTAK!

​Buku itu menghantam bagian belakang kepala Dimas dengan sangat presisi.

​"Aduh... bintangnya banyak..." gumam Dimas sempoyongan. Matanya mendadak berputar, dan tubuhnya ambruk pingsan di atas lantai markas.

​Melihat nasib tragis sahabatnya yang terkapar tak berdaya hanya dalam satu lemparan, Raka menelan ludah kasar. Sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, ia mundur perlahan-lahan menempel ke dinding.

​"Ra-Raka!" panggil Alya dengan suara dingin menusuk tulang.

​"I-iya!" sahut Raka refleks menegakkan tubuhnya bak prajurit siap baris.

​Alya melangkah mendekat, matanya menatap Raka tajam. "Kenapa kalian cuma senang-senang di sini?! Bukannya melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh sebuah klub?!"

​Raka berusaha menetralkan rasa gugupnya, terkekeh canggung. "Hahaha... emangnya gak boleh? Lagian kan ini aturan gue, dan ini juga ruangan kita..."

​Alya menghela napas berat, raut wajahnya berubah menjadi sangat cemas. "Haaah... bukannya nanti klub kalian bakal dicabut dan direbut kembali sama pihak sekolah kalau kalian leha-leha kayak gini?"

​Raka terdiam sejenak, menatap Alya yang tampak sangat mengkhawatirkan keberadaan klub ini. Raka mengusap belakang kepalanya, melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya.

​"Hmm... kalau gue pikir-pikir, kenapa lu khawatir banget sih sama klub kita, Al?"

​Alya tersentak, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar.

​"Gue sama Dimas sebenarnya tahu kok kalau terlalu banyak senang-senang itu ujung-ujungnya bisa berakhir buruk," lanjut Raka dengan nada yang lebih tenang. "Tapi kita milih buat senang-senang dulu sekarang. Lagian, mikirin hal buruk sebelum waktunya itu cuma bikin overthinking gak berguna."

​"Ehh... itu..." Alya mendadak kehilangan kata-kata, wajahnya sedikit merona karena terpojok oleh ucapan jujur Raka.

​Belum sempat Alya melanjutkan kalimatnya untuk membela diri, pintu klub mendadak didobrak pelan dari luar. Aira melangkah masuk dengan senyuman jahil yang mengembang lebar di wajahnya, merusak momen serius yang baru saja terbangun.

​"Wah, wah, wah! Kayaknya lagi ada pertunjukan seru nih di dalam!" seru Aira bertepuk tangan heboh.

​Raka dan Alya menoleh serempak ke arah pintu. Raka langsung mengelus dadanya sambil mendesah pasrah.

​"Haaah... si perusuh ini lagi..." batin Raka meratapi nasibnya yang hari itu benar-benar tidak bisa menikmati kebebasan sedikit pun.

Kedatangan Aira yang tiba-tiba secara resmi mengakhiri perdebatan di antara mereka, sekaligus menandai akhir dari era "kebebasan tanpa aturan" bagi Raka dan Dimas di markas klub. Dengan Alya yang kini mengambil alih kendali penuh dan menetapkan aturan-aturan ketat demi mempertahankan keberadaan klub dari ancaman sekolah, Raka akhirnya harus merelakan mimpi indahnya untuk berleha-leha.

​Di balik kesadaran Dimas yang baru saja pulih sambil memegangi benjolan di kepalanya, Raka menyadari bahwa mulai hari ini, hidupnya di sekolah tidak akan pernah sama lagi. Di bawah bayang-bayang ketegasan Alya dan kejahilan Aira, kebebasan Raka telah terenggut sepenuhnya—namun di saat yang sama, petualangan mereka yang sesungguhnya di Klub Penyelamat Masa Muda baru saja dimulai.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!