Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Laras datang dengan wajah pucat.
Ia membawa ponsel yang terus bergetar. Danu mengirim pesan panjang, bergantian antara mengancam dan memohon. Kadang ia bilang masih sayang. Kadang ia berkata Laras akan menyesal kalau melapor. Kadang ia mengirim foto lama mereka berdua dan menulis kalimat yang membuat tangan Laras gemetar.
"Aku tidak tahu dia punya foto itu," kata Laras lirih.
Kirana duduk di sampingnya. "Foto biasa?"
"Ada beberapa yang... pribadi. Tidak parah, tapi kalau dipotong dan diberi narasi buruk, aku bisa hancur di kantor."
Kirana mengerti.
Di Jakarta, nama perempuan bisa rusak hanya dari potongan gambar dan kalimat jahat. Orang tidak peduli konteks. Mereka hanya ingin bahan untuk menghakimi.
Raka berdiri dekat pintu, membaca pesan Danu di layar yang diberikan Laras.
"Ini sudah pemerasan."
Laras menatapnya. "Bisa dilaporkan?"
"Bisa."
Kirana mengangguk. "Tapi kita perlu bukti rapi. Jangan hapus apa pun."
"Aku takut, Ki."
"Takut tidak apa-apa. Tapi jangan sendirian."
Raka mengambil ponselnya. "Saya punya kenalan pengacara."
Kirana langsung menoleh.
"Kamu punya kenalan pengacara?"
"Bima punya."
"Tentu saja."
Laras yang sedang menangis pun menatap mereka bingung. "Bima itu siapa sebenarnya?"
Kirana menjawab cepat, "Temannya."
Raka menambahkan, "Yang banyak fungsi."
Kirana hampir melempar sendal.
Mereka akhirnya sepakat tidak langsung mendatangi Danu. Raka mengirim pesan pada Bima, meminta kontak pengacara yang bisa memberi arahan cepat soal ancaman penyebaran foto dan utang. Dalam lima belas menit, seorang pengacara perempuan bernama Maya menelepon.
Kirana menyalakan speaker.
Maya menjelaskan dengan bahasa jelas. Simpan bukti. Jangan terpancing bertemu sendirian. Kirim somasi sederhana. Jika Danu mengancam menyebarkan konten pribadi, itu bisa masuk ranah hukum. Untuk utang, bukti transfer dan chat bisa dipakai sebagai dasar laporan atau gugatan sederhana.
Laras menangis lagi, kali ini karena lega.
"Terima kasih, Mbak."
"Jangan takut karena ancaman laki-laki pengecut," kata Maya. "Tapi jangan gegabah. Semua harus tercatat."
Setelah telepon selesai, Raka mengetik sesuatu.
Kirana menyipitkan mata. "Kamu mengirim apa?"
"Alamat email Maya."
"Kepada siapa?"
"Laras."
"Oh."
Raka menatapnya. "Kamu kira saya mengirim orang untuk mematahkan kaki Danu?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Matamu sudah."
Laras melihat mereka bergantian lagi. "Kalian benar-benar seperti pasangan."
"Bukan," kata Kirana.
"Belum," kata Raka.
Kirana menendang kakinya pelan.
Laras tertawa untuk pertama kali malam itu.
Besok paginya, Danu menerima pesan somasi dari Maya. Sore harinya, ia mentransfer sepuluh juta sebagai cicilan pertama dan mengirim pesan marah pada Laras. Laras tidak membalas. Kirana bangga, tetapi juga tahu masalah belum selesai.
Masalahnya sendiri menunggu di hotel.
Saat Kirana tiba di dapur, HR memanggilnya. Ada laporan anonim bahwa ia membawa bahan pribadi tanpa izin dan mencampurkan "ramuan tidak jelas" ke makanan tamu.
Kirana duduk di ruang HR bersama Pak Dimas, Chef Arman, Bowo, dan seorang staf HR.
Bowo memasang wajah prihatin.
"Saya sebenarnya tidak mau memperpanjang," katanya, "tapi keselamatan tamu nomor satu. Kirana sering membawa kotak bumbu sendiri. Kita tidak tahu isinya."
Kirana menatapnya. "Bapak tahu isinya rempah kering. Saya pernah tunjukkan pada Chef."
Chef Arman mengangguk. "Saya sudah periksa."
Bowo cepat berkata, "Tapi prosedur hotel tetap harus jelas. Jangan sampai nanti tamu sakit, hotel kena masalah."
Staf HR bertanya, "Kirana, apakah kamu memasukkan bahan yang tidak tercatat ke menu tasting?"
"Tidak. Semua bahan dicatat di proposal dan diperiksa Chef Arman."
"Kotak pribadi?"
"Itu campuran rempah untuk percobaan awal. Setelah masuk tasting, saya pakai bahan hotel."
Bowo menghela napas seolah kecewa. "Anak muda kadang terlalu percaya diri."
Kirana menoleh. "Pak Bowo, kalau Bapak punya bukti saya membahayakan tamu, keluarkan. Kalau tidak, jangan memakai kata keselamatan untuk menutupi rasa iri."
Ruangan hening.
Wajah Bowo memerah.
"Kamu menuduh saya iri?"
"Saya menyebut kemungkinan."
Chef Arman menaruh map di meja. "Saya punya catatan bahan tasting. Semua sesuai. Dan saya punya laporan bahwa loker Kirana dirusak kemarin."
Staf HR menatap Kirana. "Kenapa tidak lapor?"
"Saya belum punya bukti."
Chef Arman berkata, "CCTV area loker ada. Saya sudah minta security cek."
Bowo terlihat sangat cepat berkedip.
Kirana baru tahu Chef Arman bergerak diam-diam.
Pintu terbuka. Seorang petugas keamanan masuk membawa flashdisk dan laporan singkat.
Rekaman diputar di laptop HR.
Terlihat seorang staf dapur bernama Jefri membuka loker Kirana dengan kunci cadangan, menuangkan air sabun ke seragamnya, lalu menyelipkan kertas.
Jefri adalah orang yang sering mengikuti Bowo.
Staf HR menatap Bowo. "Apa Anda tahu ini?"
Bowo langsung menggeleng. "Tidak. Saya tidak ada hubungan."
Kirana menatap layar, lalu menatap Bowo. "Tentu. Semua orang di sekitar Bapak selalu bergerak sendiri."
Chef Arman berkata dingin, "Panggil Jefri."
Jefri awalnya membantah. Namun setelah rekaman ditunjukkan, ia mengaku disuruh "memberi pelajaran", meski tidak berani menyebut nama Bowo secara langsung. Bowo tetap menyangkal, tetapi HR memberi peringatan keras dan memindahkan Jefri sementara dari dapur utama.
Bowo tidak jatuh hari itu.
Tapi pegangannya mulai licin.
Kirana keluar dari ruang HR dengan napas panjang. Chef Arman berjalan di sampingnya.
"Kamu sengaja menunggu?"
"Saya ingin tahu siapa yang bergerak."
"Kamu berani."
"Saya lelah jadi sasaran."
Chef Arman mengangguk. "Jangan lelah bekerja bagus. Musuhmu akan capek sendiri."
Kalimat itu Kirana simpan.
Sore harinya, Pak Dimas meminta Kirana mengantar sample menu wellness ke ruang meeting kecil karena Bima datang mendadak. Kirana membawa tray berisi minuman kunyit asam sparkling dan sup rempah dalam porsi kecil.
Di ruang meeting, Bima duduk bersama dua orang. Raka tidak ada.
Namun di meja, Kirana melihat ponsel yang sangat mirip milik Raka.
Ia menaruh tray.
"Silakan, Pak."
Bima melihat arah pandangnya sekilas, lalu mengambil ponsel itu dengan tenang. "Ponsel kantor."
Kirana mengangguk pelan.
Terlalu pelan.
Bima sadar ia tidak percaya.
"Bu Kirana, menu ini akan diuji untuk tamu spa akhir pekan. Kami butuh daftar bahan final."
"Sudah saya siapkan, Pak."
Ia menyerahkan kertas.
Bima membaca cepat. "Rapi."
"Terima kasih."
Salah satu orang meeting bertanya, "Kamu yang menciptakan menu ini?"
"Mengembangkan, Pak. Dari resep tradisional yang disesuaikan."
"Usiamu berapa?"
"Dua puluh tiga."
Pria itu tampak terkejut. "Masih muda."
Bima berkata datar, "Kemampuan tidak selalu menunggu usia."
Kirana menunduk sopan. "Saya permisi."
Saat keluar, ia hampir bertabrakan dengan seorang pria yang baru datang. Jasnya mahal, sepatunya mengilap, dan wajahnya tampak familier dari majalah bisnis.
Pria itu melihat Kirana sebentar, lalu tersenyum.
"Kamu Kirana?"
"Iya, Pak."
"Saya Surya. Kita bertemu di rumah Pak Hendra."
"Oh. Selamat sore, Pak."
Surya melirik ruang meeting. "Kamu dekat dengan Raka?"
Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba.
Kirana menjawab hati-hati. "Kami tinggal bersama."
Surya tersenyum tipis. "Dia laki-laki yang sulit ditebak."
"Bapak mengenalnya?"
Surya berhenti.
Bima muncul dari pintu ruang meeting. "Pak Surya, direksi sudah menunggu."
Surya menatap Bima, lalu kembali ke Kirana.
"Mungkin nanti kita bicara lagi."
Ia masuk.
Kirana berdiri beberapa detik di lorong.
Bima menatapnya. "Ada yang bisa saya bantu?"
Kirana hampir bertanya. Siapa Raka? Kenapa semua orang seperti mengenalnya tapi pura-pura tidak?
Namun ia menahan diri.
"Tidak, Pak."
Malamnya, Kirana pulang lebih cepat dari Raka. Ia duduk menunggu di kontrakan sambil menatap ponsel. Ketika pintu terbuka, Raka masuk dengan wajah sedikit lelah.
"Kamu dari mana?"
"Kerja."
"Dengan Bima?"
"Iya."
"Pak Surya mengenalmu."
Raka berhenti.
Kirana berdiri. "Aku bertemu dia di hotel. Dia bilang kamu laki-laki yang sulit ditebak."
"Itu benar."
"Aku tidak sedang memuji."
Raka melepas jaket. "Aku tahu."
"Sampai kapan aku harus menerima jawaban setengah?"
Raka menatapnya. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat lelah yang sebenarnya di wajahnya.
"Sedikit lagi."
"Raka..."
"Aku janji. Saat waktunya aman, aku akan memberitahumu semuanya."
"Aman untuk siapa?"
"Untukmu."
Kirana ingin marah. Tapi kata "untukmu" keluar terlalu pelan, terlalu serius.
Ia memalingkan wajah.
"Aku benci menunggu."
"Saya tahu."
"Dan aku benci kalau orang lain tahu hidupku lebih banyak daripada aku sendiri."
"Saya juga tahu."
Raka melangkah mendekat, tapi berhenti sebelum terlalu dekat.
"Beri saya waktu sampai urusan gelang itu jelas."
Kirana menatapnya kembali.
"Kalau ternyata gelang itu milikku?"
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Raka terdiam.
Kirana sendiri terkejut mendengarnya.
"Maksudku... Bu Ratna terlihat aneh saat gelang itu dibahas. Aku hanya..."
Raka menatapnya dengan intensitas yang membuat dadanya berdebar.
"Kalau ternyata gelang itu milikmu," katanya pelan, "maka semuanya berubah."
"Apa yang berubah?"
Raka tidak menjawab.
Di luar, hujan mulai turun. Air menimpa atap seng tetangga dengan suara rapat.
Kirana tiba-tiba merasa kontrakan kecil itu menyimpan terlalu banyak rahasia untuk ukurannya.