Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Rendra hanya bisa menghela nafasnya menandakan jika dia sedang kesal saat ini. Bagaimana tidak kesal, jika Alice terus saja mengatakan jika dirinya ingin melihat Neil.
"Ma-mau apa?" tanya Alice gugup saat Rendra mendekatkan wajahnya.
Membuat jantung Alice berdebar tak karuan. Dia kembali mengingat saat-saat kebersamaan mereka dulu.
"Kenapa? Kau takut?" tanya Rendra membuat Alice mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Aku tidak takut. Hanya saja-"
"Kenapa? Dulu kau suka sekali di dekatku. Duduk di pangkuan ku, dan-"
"Sttt...itu dulu!" potong Alice yang tidak suka ketika Rendra membicarakan tentang masa lalu mereka yang, ya membuatnya banyak merasakan perasaan yang sulit di jelaskan.
"Kalau begitu ayo lakukan lagi!" Alice mantap tidak percaya pada laki-laki ini.
Sikap menyebalkannya sudah kembali lagi? Tidak Alice! Kau tidak boleh lemah.
Tapi bagaimanapun dia tidak bisa menolak pesona laki-laki dewasa ini. Apalagi setelah pernyataan cinta yang tidak romantis itu. Ah, rasanya dia ingin bersembunyi saja jika begini.
"Kenapa wajah mu memerah?" tanya Rendra melihat wajah Alice yang bersemu merah begitu.
Senyum liciknya muncul seketika, membuat Alice mulai waspada, dan benar saja dugaannya.
Cup...
Sebuah kecupan singkat berhasil mendarat di bibirnya, dan yang kedua langsung ciuman lembut.
Awalnya Alice hampir terbuai, sampai dimana dia sadar jika mereka sedang di rumah sakit saat ini.
"Kenapa?" tanya Rendra lagi.
"Kamu bau!" ucapnya alasan, tapi itu berhasil membuat Rendra merasa tidak percaya diri.
Bau katanya? Apa dia memang bau?
"Tunggu, aku mandi dulu!" ucapnya pergi meninggalkan Alice di tempat tidur.
Sedangkan dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rasanya Rendra ingin mengumpat kamar mandi rumah sakit yang kecil ini. Bahkan shower di atas itu menghantam kepalanya.
"Astaga, aku benar-benar ingin membakar rumah sakit ini!" umpatnya kesal dengan kamar mandi ruangan Alice.
Setalah itu dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk saja. Hal itu langsung membuat Alice merasa malu. Wajahnya merah padam. Pemandangan ini, adalah pemandangan yang dulu sering dia lihat. Bahkan melihat Rendra berjalan ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun dia sering melihatnya.
Tapi sekarang, rasanya sangat asing.
"Jangan mengalihkan pandangan ku jika ingin melihatnya. Aku tau jika kau selalu suka melihat ku saat meninggalkan pakaian." ucap Rendra membuat Alice semakin salah tingkah di buatnya.
"Mana mungkin!" ucapnya pada Rendra.
"Sudah cepat bersiap, kita akan melihat Neil." Rendra bersiap, dan memakai pakaiannya begitu saja di depan Alice.
Benar dugaannya, laki-laki itu menanggalkan handuknya begitu saja tanpa rasa malu. Walau ruangan ini sudah di kunci, tapi tetap saja suster atau dokter bisa melihatnya nanti.
"Dasar orang tua tidak tau malu!" gumam Alice yang masih bisa di dengar oleh laki-laki itu.
Dia selesai berpakaian, dan menghampiri Alice disana.
"Is, jangan dekat-dekat gak!" usirnya pada Rendra yang tidak ingin pergi.
"Coba lihat baik-baik dengan mata mu yang besar ini. Apakah aku benar sudah setua itu?" tanya Rendra yang sengaja melakukan hal ini padanya.
"Ah, gak tau!" umpatnya pergi meninggalkan Rendra.
Alice berjalan ke ruangan Neil, karena operasinya berjalan dengan lancar, dan sebentar lagi putra mereka akan sadar katanya.
Jadi dia berharap bisa melihat Neil, secepat mungkin.
"Sabar, aku yakin Neil akan segera sadar. Dia anak yang hebat. Karena sebelum ini aku sudah bertemu dengannya."
"Hah?" tanya Alice menatap tidak percaya padanya.
"Kapan?" tanya Alice lagi.
"Di rumah wanita tua yang menjaganya. Aku bahkan sering bermain dengannya beberapa kali. Andai aku tau saat itu dia anakku, mungkin-"
"Dokter?" panggil Alice melihat dokter yang baru keluar dari ruangan putranya.
"Pasien sudah sadar, tapi tolong hindarkan dari pikiran berat. Karena pasien masih membutuhkan waktu untuk semua ini." ucap dokter membuat keduanya langsung mengangguk setuju, dan melihat Neil bersamaan.
***