Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Kades Yang Baik Hati
Sore hari, karena tak tahu harus buat apa di rumah besar itu, Sinta memutuskan untuk jalan-jalan sore.
Ia mengenakan celana olahraga selutut, sepatu kets dan kaos Jersey.
"Nyonya, mau kemana?" tanya Yanti yang sedang menyiram bunga.
"Aku mau jalan-jalan sebentar." kata Sinta lalu segera meninggalkan halaman rumah.
Jalan dari rumah Mahendra menurun karena rumah itu memang letaknya di perbukitan. Ada hamparan kebun teh di samping kanan dan kiri. Ada juga beberapa rumah penduduk.
"Selamat sore, nyonya." sapa seorang ibu yang nampak sedang mengangkat jemuran.
"Selamat sore."
Ibu itu menatap suaminya. "Istri kedua pak kades ini memang berbeda ya? Semoga saja yang satu ini bisa memberikan keturunan bagi pak kades."
"Iya, Bu. Istri tertua pak kades mungkin ada masalah pada kandungannya. Katanya sih dia mantan pramugari. Memang cantik. Tapi apakah dulu sudah terlanjur bergaul bebas?"
"Tidak tahu juga. Yang ini lebih muda dan nampaknya mau bergaul dengan para penduduk desa."
Sinta terus melangkah. Ia kini melewati jembatan. Ada aliran sungai yang airnya sangat jernih. Dia melihat beberapa anak sedang mandi di sungai.
"Ibu kades.....!" panggil mereka membuat Sinta langsung tersenyum.
Ya Allah, aku ini dipanggil ibu kades di usiaku yang ke-21. Tak pernah ada di bayanganku menjadi ibu kepala desa. Sebuah status yang tak mungkin bertahan lama karena aku juga harus berpisah dari Abang.
Sinta terus berbicara pada dirinya sendiri dan ia tiba lapangan desa. Nampak beberapa anak sedang bermain sepak bola.
Sisa-sisa perayaan semalam nampaknya sudah dibersihkan.
"Bu kades.....!"
Sinta menatap beberapa gadis remaja yang sedang duduk di sebuah pohon dekat lapangan.
"Hallo....!" sapa Sinta.
"Bu kades mau ke mana?" tanya seorang gadis yang berkepang dua.
"Jalan-jalan saja. Kalian ngapain di sini?" tanya Sinta sambil memperhatikan keempat gadis itu. Ada seorang gadis, yang menggunakan hijab, nampak tertunduk. Sinta dapat melihat matanya yang sembab.
"Kami.......!" yang berambut kepang dua menatap ketiga temannya.
"Kami santai saja, Bu. Sambil menunggu Maghrib baru pulang." jawab gadis yang berambut sebahu.
"Nama kalian siapa?" tanya Sinta.
"Saya Ayu." kata gadis berkepang dua. "Yang berambut pendek ini namanya Wina, yang berhijab ini namanya Sitti dan yang berambut ikal ini namanya Lala."
"Senang bertemu dengan kalian semua." Sinta menjabat tangan gadis-gadis remaja itu. "Sitti, kamu baik-baik saja kan?"
"Iya, Bu " jawab Sitti tanpa mau menatap ke arah Sinta.
"Kalau ada masalah, aku bisa membantu kalian. Jangan panggil Bu kades ya? Panggil saja kakak." kata Sinta membuat keempat gadis remaja itu tersenyum.
"Terima kasih Bu kades, eh kakak." kata Ayu.
"Kalian kelas berapa?" tanya Sinta lalu duduk diantara mereka. Ia sebenarnya masih penasaran dengan Sitti yang terlihat begitu ketakutan.
"Aku dan Ayu kelas satu SMA kalau Lala dan Sitti kelas 2 SMA." kali ini Wina yang menjawab.
"Kalian sekolahnya di kecamatan ya?" tanya Sinta lagi.
"Iya, kak."
"Berarti tinggal di tempat kost?"
"Nggak, kak. Kami biasanya langsung pulang. Setiap pagi kami diantar dengan mobil yang disiapkan oleh pak kades. Kalau pulang sekolah memang sendiri-sendiri karena jam pulang sekolahnya nggak sama. Kalau pulang biasanya menumpang motor atau mobil yang mau menuju ke desa ini. Terkadang juga jalan kaki."
"Kalian harus hati-hati. Jangan berjalan sendiri. Banyak orang jahat. Apalagi kalian gadis-gadis yang cantik." kata Sinta membuat Sitti tiba-tiba menangis.
"Sitti, ada apa?" tanya Sinta lembut.
Sitti menggeleng namun tangisnya semakin dalam.
"Ceritakan saja, Sitti. Siapa tahu kakak ini bisa membantu." kata Ayu.
Sinta memegang kedua tangan Sitti. Gadis berhijab itu nampak pucat. Dia takut tapi juga sangat tertekan dengan apa yang dialaminya.
"Sitti, jangan takut menceritakan apa yang terjadi."
"Dia mengancam saya, kak. Saya takut."
"Jangan takut. Aku akan membantumu."
"Dia....dia...memperkosa saya, kak. Saya...saya hanya menumpang di motornya. Tapi dia membawa saya ke dalam kebun jagung yang gelap."
"Siapa?"
"Pak Agus!"
"Siapa dia?"
"Kepala dusun 1."
Sinta ingat dengan Agus. Kemarin lelaki itu datang menyapanya.
"Kakak dia melakukan ini padamu?"
"2 hari yang lalu."
"Ini tak boleh dibiarkan. Ayo kita lapor polisi!"
"Kakak, aku takut. Pak Agus mengatakan jika ada yang tahu maka dia akan menyangkalnya. Katanya tak ada lagi laki-laki yang mau denganku. Dia memberikan saya uang 200 ribu untuk tutup mulut." Sitti menggeleng sambil terus menangis.
"Di dunia ini ada lelaki yang bisa menerima kita apa adanya. Janda yang beranak 3 pun masih bisa mendapatkan seorang lelaki baik. Bahkan ada yang menikah dengan cowok." Sinta berlutut di depan Sitti. "Sitti sayang, jangan biarkan rasa malu mengalahkan harga dirimu. Keadilan harus ditegakkan. Si Agus itu tidak boleh lolos dan melakukan hal yang sama pada gadis lain."
Sitti langsung memeluk Sinta dengan tangis yang semakin dalam. "Bagaimana mungkin tak ada saksi, kak."
Sinta melepaskan pelukannya. Ia segera berdiri dan menelepon pacar Natari yang adalah dokter ahli forensik. Setelah berbicara dengan dokter Aldi, Sinta menatap Sitti. "Apakah kamu masih menyimpan pakaian yang digunakan saat Agus melakukan itu padamu?"
"Iya, kak. Aku menyimpannya di dalam kantong plastik di rumahku. Ada bercak merah di baju dalamku. Aku takut ibu ku melihatnya."
"Ayo kita ke rumah kamu, Sitti. Tapi kalian harus janji tak akan menceritakan ini kepada siapapun sampai polisi menangkap Agus. Mengerti?"
Para gadis itu mengangguk.
Mereka pun menuju ke rumah Sitti. Ayah Sitti ternyata mandor yang bertanggungjawab di perkebunan teh milik Mahendra. Awalnya orang tua Sitti marah, ayahnya bahkan mengambil golok untuk mencari dan membunuh Agus.
"Paman, apa gunanya Agus mati sekarang? Dia akan bebas dari hukuman. Kita harus menghukumnya dengan cara yang tepat. Besok pagi, aku akan jemput paman dan bibi bersama Sitti untuk pergi ke kota. Temanku akan menolong kita."
Setelah berhasil meyakinkan orang tua Sitti, Sinta pun pulang ke rumah. Hari sudah malam saat Sinta tiba di mansion itu.
"Nyonya dari mana, saja? Tadi tuan mencari. Tuan sudah ada di rumah sejak jam 5 sore." kata mbo Sarmi. Wajahnya terlihat khawatir.
"Di mana Mahendra?"
"Ada di kamarnya, nyonya."
Sinta bergegas ke kamar Mahendra. Walaupun mbo Sarmi sudah melarangnya namun Sinta tak peduli. Ia mengetuk pintu kamar Mahendra.
Agak lama baru akhirnya pintu kamar di buka. Nampak Mahendra baru selesai mandi. Ada handuk putih yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya pun terlihat basah.
Mahendra menatap dandanan Sinta. "Dari mana saja kamu?"
"Aku tadi jalan-jalan. Abang, bolehkah kita bicara?"
"Masuklah. Aku berpakaian dulu."Mahendra melebarkan daun pintu lalu segera ke dalam walk in closet untuk mengambil pakaian. Lelaki itu keluar sudah menggunakan pakaian rapi.
"Abang mau keluar?"
"Ya. Aku pekerjaan dengan pak Agus."
"Kepala dusun satu itu? Apakah orangnya baik?"
"Pak Agus orangnya baik. Dia sangat dihormati di desa ini bahkan dia salah satu aparat desa yang kerjanya paling baik."
"Tidak semua orang baik terlihat dari penampilan luarnya saja." kata Sinta pelan namun Mahendra mendengar nya.
"Maksud kamu apa?"
"Eh, tidak. Aku..
"Aku mau tanya, apakah besok aku boleh ke kota?"
"Ada urusan apa?"
"Eh, ada urusan di kampus. Rencananya aku mau lanjut S2. Boleh kan?"
"Terserah kamu. Nanti kalau mau pergi minta sopir untuk mengantarmu. Aku sudah transfer uang bulanan mu. Tugas kamu adalah belanja bagi keperluan rumah ini karena Gizel tak ada. Aku pergi dulu."
Sinta menarik napas lega. Biarlah untuk sementara ia tak menceritakan hal ini pada Mahendra. Suaminya itu nampak sangat percaya pada Agus.
Dulu, Sinta nyaris mengalami hal yang sama seperti Sitti. Untungnya saat itu Sinta berhasil melarikan diri. Makanya dia sangat benci jika mendengar kasus seperti ini.
Setidaknya, Mahendra sudah menginjakkan dia pergi ke kota.
Sinta membuka aplikasi mobile bank di ponselnya. Ia terkejut melihat jumlah yang Mahendra kirimkan padanya. 50 juta.
Sinta berjanji akan menegakkan keadilan bagi Sitti
************
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣