Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12
"Dek, nanti pulang nya agak cepat ya dek." kata Ali sambil mengingatkan adik nya untuk cepat pulang, agar dia bisa memakai sepatu nya, untuk berangkat ke sekolah.
"Iya kak, aku akan segera menyelesaikan tugas dari Bu guru, dan akan segera pulang!"
Ali tersenyum tipis melihat semangat adik nya itu, hari ini ayah nya akan datang ke sekolah. Dan memenuhi panggilan kepala sekolah. Dia berharap pihak sekolah akan memberikan keadilan untuk nya.
memar luka di wajah nya sudah mulai kering, tapi tetap saja bekas nya masih ada. Ini akan menjadi sebuah bukti bahwa kekerasan yang dilakukan Raka bisa membawa anak laki laki sombong itu diberikan pelajaran yang setimpal.
"Kok belum berangkat. Nanti kesiangan nduk." kata ratna yang heran melihat putri nya masih di depan
"Iya Bu, Dinda mau berangkat ke Sekolah ini."
Ratna tak memperhatikan sepatu anak nya yang saat ini tampak longgar. Tapi untung saja Dinda sudah menyumpal sepatu nya dengan kain. Jadinya dia tak akan kesulitan dalam berjalan.
"Yo wes, hati hati ya. belajar dengan rajin ya nduk."
"Sudah berangkat sana." ucap Ali dengan tersenyum tipis melihat adik nya pergi ke sekolah. Mereka memang tak pernah diberikan uang saku oleh Ratna. Sebab dewa dan Dinda tau, bahwa ibu dan ayah nya tak memiliki uang. Jadi lebih baik uang nya di belikan beras agar bisa makan nasi lagi. Sebab sudah beberapa hari ini, keluarga Ali selalu memakan singkong rebus saja.
Siang nya pun tiba, Ali telah bersiap berangkat ke sekolah dengan sendal jepit nya. Dia juga melirik ke arah jam dan terlihat adik nya belum ada tanda tanda keluar kelas.
tak lama kemudian, dinda langsung berlari ke arah kakak nya dengan nafas tersengal sengal. Dia berlari sekuat tenaga agar kakak nya tidak terlambat.
"Ini kak sepatu nya."
"Yaudah kakak masuk dulu ya dek, kamu pulang nya hati hati."
"Iya kak."
Ali langsung masuk ke kelas nya, sebab beberapa menit lagi pelajaran akan segera di mulai.
Dewa datang dengan baju terbaik nya. Walaupun baju itu sudah usang, tapi itu merupakan baju terbaik yang dia miliki. Tatapan kepala desa di ruangan itu tampak meremehkan nya. begitu juga Bu Romlah yah langsung menatap sinis dan begitu angkuh ke arah dewa.
Hari ini dia datang untuk memenuhi undangan kepala sekolah. meminta keadilan atas perbuatan anak kepala desa itu, yang telah melukai Ali.
"Baik, sebelumnya kalian pasti sudah tau, bahwa kalian di panggil ke ruangan ini. Raka dan juga Ali bertengkar semalam. Raka dan teman teman nya, memukul Ali di ruangan kelas kosong yang ada di belakang. Untung saja Ali langsung melapor kepada Bu Lusi wali kelas nya. Dan kemudian Bu Lusi langsung berbicara dengan saya."
"Pak, Raka pasti tak mungkin memukul putra nya dewa pak. Anak saya itu tak mungkin berbuat kasar." ucap Bu Romlah yang langsung mengelak perbuatan Raka.
"Sudah ada buktinya Bu kades, ada teman nya Ali yang melihat. Dan kebetulan sekali kita memanggil anak nya untuk menjelaskan disini.
Tak lama Ali datang bersama Denis, begitu juga dengan Raka dan teman teman nya.
"Silahkan nak Denis, jelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi. Jangan ada yang ditutupi.'
"Saya saat itu ingin masuk ke kelas pak, tapi saya melihat Ali di tarik oleh Raka. Dia langsung mengejek Ali dengan kata kata yang tidak pantas. Tak hanya itu, Ali langsung di pukul di tempat, dan langsung di kroyok oleh teman teman nya Raka, untuk di pukuli. bahkan Ali tak membalas sedikit pun perbuatan Raka pak, dan langsung melapor kepada Bu Lusi."
"Bohong pak, saya ga mungkin lakuin itu!" teriak Raka dengan nada tinggi."
"Tuh dengar pak, anak saya tak mungkin memukul nya!"
"Iya pak, saya tau Raka seperti apa. Ali pasti berbohong dan menuduh nya melakukan hal tersebut." ucap pak kades yang menatap Ali dengan tajam.
Dewa akhirnya buka suara, dia juga langsung menyampaikan pendapatnya. Dia juga tau ali tak mungkin berbohong. Dia tau seperti apa Ali.
"Anak saya juga tak mungkin berbohong pak. Saya tau, Ali seperti apa. Tolong berikan keadilan untuk putra saya pak."