NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Di Mulut Gua Akar Dunia

Saat cahaya matahari pertama kali menyentuh puncak Gunung Karang, memancarkan sinar keemasan yang menerangi seluruh lereng, Cepot dan Dawala sudah terjaga. Mereka mengumpulkan sisa bekal, memeriksa kembali peralatan dan pusaka yang dibawa, serta memastikan tidak ada yang tertinggal. Udara pagi ini terasa dingin namun sangat segar, seolah alam sendiri sedang menyiapkan diri menyambut momen penting.

“Sudah siap, Da?” tanya Cepot sambil mengikatkan Golek Pancasona lebih erat di pinggangnya.

Dawala mengangguk mantap, memutar-mutar galah bambunya sebentar untuk merasakan keseimbangannya. “Siap, Kang! Badan sudah segar, hati sudah tenang. Tinggal melangkah saja ke tempat tujuan.”

Mereka pun mulai mendaki lereng yang semakin curam. Tanah di sini berbatu-batu dan tertutup lumut licin, sehingga mereka harus berjalan hati-hati sambil berpegangan pada akar pohon atau dinding batu. Semakin naik, suara angin terdengar semakin keras, dan suhu udara makin menurun hingga membuat napas terlihat seperti asap tipis.

Setelah mendaki selama hampir dua jam, mereka tiba di sebuah celah besar di antara dua dinding batu raksasa. Di sanalah letak mulut gua yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman merambat dan akar pohon yang melilit rapat. Dari dalam gua keluar hawa dingin yang menusuk tulang, disertai suara gemuruh samar yang terdengar seperti detak jantung raksasa.

“Ini pasti dia, Gua Akar Dunia,” gumam Cepot sambil melangkah mendekat. “Rasanya berbeda sekali dengan tempat lain. Seolah gua ini adalah jantung dari seluruh gunung ini.”

Dawala menatap mulut gua yang gelap gulita itu dengan hati-hati. “Gelap sekali di dalamnya, Kang. Tidak terlihat apa-apa selain kegelapan. Bagaimana kita bisa masuk?”

Cepot teringat pesan Mbah Jati dan mengeluarkan lembaran daun bertanda rahasia yang diberikan kepadanya. Begitu daun itu diangkat ke depan mulut gua, tanda-tanda di atasnya mulai menyala berwarna keemasan, memancarkan cahaya yang perlahan menyentuh akar dan batu yang menutupi jalan masuk.

Terdengar suara gemeretak perlahan, dan akar-akar yang melilit itu mulai bergerak mundur seperti memiliki nyawa sendiri, membuka celah yang cukup lebar untuk dilalui. Saat jalan terbuka sepenuhnya, cahaya keemasan dari daun itu juga menerangi lorong pertama di dalam gua, menunjukkan jalan yang aman untuk dilalui.

“Lihat, bekerja juga petunjuk itu,” kata Cepot sambil tersenyum lega. “Tapi ingat, cahaya ini hanya membantu kita melihat jalan. Di dalam sana nanti pasti ada tantangan lain. Tetaplah berjalan berdampingan, jangan sampai terpisah walau hanya sesaat.”

Mereka melangkah masuk perlahan. Begitu melewati mulut gua, suasananya langsung berubah menjadi hening total, bahkan suara angin dari luar pun tidak lagi terdengar. Hanya ada cahaya redup yang memancar dari daun penuntun itu, menerangi lorong yang dindingnya terbuat dari batu berkilauan seperti kristal.

Setelah berjalan cukup jauh, lorong itu melebar menjadi sebuah ruangan besar yang sangat luas. Di tengah ruangan itu, terlihat sebuah tumpukan batu besar yang memancarkan cahaya merah gelap, berdenyut perlahan seolah bernapas. Dari tumpukan batu itu keluar kabut hitam yang perlahan menyebar memenuhi ruangan, dan terasa hawa kebencian yang sangat kuat menyelimuti seluruh tempat.

“Ini dia sumbernya,” bisik Dawala, suaranya sedikit bergetar merasakan hawa yang tidak menyenangkan itu. “Kekuatan yang tersisa dari Ki Burak terpusat di sana.”

Belum sempat mereka melangkah lebih dekat, kabut hitam itu berputar cepat membentuk sosok raksasa tanpa wujud yang jelas, hanya diselimuti asap tebal dengan dua titik cahaya merah menyala sebagai matanya. Suara yang dalam, parau, dan bergema memenuhi seluruh ruangan gua.

“Jadi kalian yang mengganggu rencanaku… mengusir pengawalku, melumpuhkan kekuatanku, dan sekarang datang ke sini ingin menghancurkan sisaku? Bodoh sekali anak muda! Kalian pikir bisa menghentikan apa yang sudah berakar dalam waktu yang sangat lama?”

Cepot tetap berdiri tegak, tidak mundur selangkah pun. Ia menatap sosok itu dengan pandangan tenang namun tegas. “Kami bukan datang untuk mencari musuh, tapi kami datang untuk mengembalikan keseimbangan yang kau rusak. Kekuatanmu hanya didasari rasa benci dan ingin menguasai, itulah sebabnya dia tidak akan pernah bertahan selamanya.”

Sosok itu tertawa keras, suaranya menggema sampai membuat dinding gua bergetar. “Kata-kata manis! Kalian hanya mengandalkan pusaka warisan dan nasihat orang tua. Tanpa itu, kalian hanyalah dua orang biasa yang mudah ketakutan dan lari terbirit-birit!”

Dawala yang sudah mulai berani menyahut dari samping. “Kami memang orang biasa, tapi kami memiliki hati yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kau hanya makhluk yang terjebak dalam kegelapan karena tidak mau melihat kebenaran sendiri!”

Mendengar ucapan itu, sosok raksasa itu marah besar. Ia mengayunkan tangan besar yang terbentuk dari kabut hitam, melancarkan serangan berupa angin kencang yang disertai hawa panas menyengat. Cepot dan Dawala segera melompat menghindar, lalu bersiap melawan.

“Dawala, kau jaga bagian kiri dan kanan agar tidak ada serangan yang menyelinap! Aku akan gunakan Golek Pancasona untuk menembus pertahanan kabutnya!” teriak Cepot sambil mengangkat pusaka itu tinggi-tinggi.

Begitu Golek Pancasona diangkat, cahaya putih keemasan kembali memancar terang, bahkan lebih terang dari sebelumnya karena berada di dekat sumber kekuatan itu. Cahaya itu menahan serangan angin panas dan mulai mendorong kabut hitam itu mundur perlahan.

Namun kekuatan Ki Burak ternyata belum sepenuhnya lemah. Ia memusatkan seluruh sisa tenaganya, membuat cahaya merah di tumpukan batu itu semakin terang dan kuat mendorong balik cahaya suci. Kedua kekuatan itu bertabrakan, menciptakan gelombang hawa yang membuat mereka berdua terhuyung-huyung.

“Kang! Kekuatannya masih besar sekali!” teriak Dawala sambil memutar galah bambunya menangkis potongan kabut yang mencoba menyerang dari samping. “Cahayanya mulai terdesak mundur!”

Cepot mengertakkan gigi, mengerahkan seluruh keyakinan dan kekuatan hatinya. Ia teringat pesan Mbah Jati: kekuatan pusaka itu datang dari hati yang bersih dan niat yang tulus, bukan dari tenaga fisik semata.

“Dengarkan aku, Dawala! Jangan hanya mengandalkan tenaga tangan, tapi gunakanlah kekuatan hati kita juga! Ingat apa yang kita perjuangkan—kedamaian desa, keselamatan warga, dan masa depan yang aman!” seru Cepot dengan suara lantang.

Ia lalu berteriak dengan segenap jiwa: “Wahai kekuatan kebenaran yang bersemayam dalam pusaka ini! Tunjukkanlah jalan yang lurus! Hancurkanlah ikatan kegelapan yang menyakiti makhluk hidup dan merusak alam!”

Seketika itu juga, cahaya yang keluar dari Golek Pancasona berubah menjadi lebih besar dan menyala lebih terang, hingga menerangi seluruh ruangan gua dan menembus setiap celah kabut hitam. Gelombang cahaya itu menyapu seluruh ruangan, mendesak kekuatan merah gelap itu hingga tertekan kembali ke dalam tumpukan batu asalnya.

Sosok raksasa itu berteriak kesakitan, suaranya berubah menjadi jeritan panjang saat cahaya itu mulai membakar inti kekuatannya. “Tidak mungkin… ini tidak boleh terjadi… aku tidak akan kalah…”

Namun perlawanannya semakin melemah. Cahaya terus masuk dan memisahkan ikatan kebencian yang menjadi sumber kekuatannya, menjadikannya tenaga yang kembali ke alam tanpa membawa bahaya lagi.

Cepot dan Dawala hanya bisa berdiri memegang satu sama lain, menyaksikan proses itu dengan hati berdebar-debar—bukan karena takut, tapi karena haru melihat perjuangan mereka akhirnya sampai pada titik ini.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!