Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas di Dalam
Dengan langkah gontai dan muka ditekuk, Sephia berjalan membelah kerumunan kantin yang super ramai. Tangan kanannya meremas kotak cokelat pemberian Kak Saga erat-erat, berusaha mengabaikan tatapan sinis dari beberapa gerombolan cewek yang dilewatinya.
"Pia! Sini!" Hana melambaikan tangannya heboh dari meja pojok dekat tukang siomay.
Sephia langsung mengempaskan dirinya di kursi kosong di depan Hana, lalu menaruh kotak cokelat itu ke meja dengan helaan napas berat.
Hana yang awalnya lagi asyik mengunyah batagor langsung tersedak. Matanya melotot menatap kotak dengan tulisan kanji Jepang tersebut. "Loh? Kok lo bawa ginian? Nyolong di mana lo, Pia?"
"Bukan nyolong, Hanaaa," rengek Sephia, langsung menelungkupkan wajahnya di atas meja. "Ini dari Kak Saga. Dia udah balik dari Jepang hari ini."
"DEMI APA?!" Hana hampir melompat dari kursinya, untung tangannya cepat membekap mulutnya sendiri. "Kak Saga pangeran seberang rumah lo itu? Gila, akhirnya balik juga! Terus, terus, kok muka lo malah kayak abis ditolak cintanya gini?"
Sephia menegakkan badannya lagi, lalu melirik ke kanan dan kiri dengan gelisah. "Lo gak denger apa sepanjang jalan tadi cewek-cewek pada ngomongin gue? Mereka bilang gue kegatelan. Kemarin baru dideketin anak baru, sekarang langsung mepet Kak Saga lagi. Sumpah ya, gue risih banget, Han. Padahal kan emang gue udah kenal Kak Saga dari orok!"
Hana mengunyah batagornya pelan, ekspresi wajahnya berubah prihatin tapi juga ada bumbu jahilnya. "Ya resiko, Sahabatku. Lo bayangin aja, di sekolah ini lo gak punya musuh karena lo bener-bener invisible alias biasa aja. Eh, tiba-tiba dalam dua hari, lo langsung dilingkari dua cowok spek pangeran anime. Ya jelas pawang-pawang halu di sekolah ini pada kepanasan!"
Sephia cuma bisa mendengus pasrah. Belum sempat dia mencicipi siomay yang dipesan Hana, bel tanda masuk kelas sudah berbunyi nyaring. Sesi curhat mereka terpaksa dipotong.
Begitu kembali ke kelas 11-B, atmosfernya mendadak terasa beda. Begitu Sephia duduk di bangkunya, dia bisa merasakan hawa dingin yang menusuk dari arah belakang.
Alan sudah duduk manis di tempatnya. Bedanya, kali ini cowok itu gak mainan ponsel atau baca buku. Pandangan matanya lurus menatap ke depan, tepat ke arah belakang kepala Sephia. Tatapannya tajam, dingin, dan intens banget, sampai-sampai bulu kuduk Sephia merinding.
Sepanjang pelajaran sosiologi berlangsung, Sephia bener-bener berasa lagi duduk di atas bara api. Dia gak berani nengok ke belakang sama sekali.
Sementara itu, di barisan belakang, Alan bener-bener gak fokus sama apa yang ditulis guru di papan tulis. Matanya cuma tertuju pada cewek berkuncir kuda di depannya.
Bisa-bisanya dia ketawa selebar itu sama cowok lain, suara hati Alan mulai bergejolak, dipenuhi rasa kesal yang gak bisa dia jelasin sendiri.
Alan mengepalkan tangannya di bawah meja. Mengingat kejadian di koridor tadi bener-bener bikin mood-nya hancur berantakan. Sama gue aja mukanya selalu kayak ngajak berantem, ketus, atau panik gak jelas. Tapi tadi? Di depan cowok kelas 12 itu, dia senyum manis banget sampai matanya ilang. Pake acara pegang-pegang kepala segala lagi. Emang tuh cowok siapa sih?
Alan mendengus pelan, matanya beralih ke laci meja Sephia, di mana ujung kotak cokelat Jepang tadi sedikit mengintip keluar. Rasa panas di dadanya makin menjadi-jadi.
Gue yang beliin bubur anget tadi pagi aja gak dapet senyuman kayak gitu. Cuma modal cokelat dari luar negeri doang bangganya setengah mati, batin Alan sinis, merutuki dirinya sendiri yang mendadak jadi kelewat kekanak-kanakan karena cemburu. Awas aja ntar pas pulang sekolah. Gak bakal gue biarin dia kabur ke cowok itu.
Kringgg!
Bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya berbunyi. Murid-murid langsung grasak-grusuk merapikan barang. Sephia menarik napas dalam-dalam, bersiap-siap untuk skenario terburuk. Begitu dia menyampirkan tasnya dan berbalik, langkahnya langsung terhenti.
Alan sudah berdiri tepat di samping mejanya, menatapnya dengan pandangan yang mengunci pergerakan Sephia.
"Pulang," ucap Alan pendek, nadanya gak menerima bantahan sama sekali.
Sephia mengerjap, refleks memeluk tas ranselnya di dada seolah benda itu bisa jadi tameng dari tatapan intens Alan. "I-iya tahu, ini juga mau pulang. Gak usah hobi nodong gitu bisa gak sih?"
Alan gak membalas gerutuannya. Cowok itu malah melirik sekilas ke arah laci meja Sephia yang masih menyimpan kotak cokelat dari Sagara. Tanpa diduga, Alan mengulurkan tangannya, meraih kotak cokelat premium itu, lalu dengan santai memasukkannya ke dalam tas ranselnya sendiri.
Mata Sephia langsung melotot sempurna. "Heh! Kok malah lo ambil sih?! Itu kan punya gue!"
Alan menaikkan resleting tasnya dengan ekspresi lempeng tanpa dosa. "Gue sita. Anggap aja ini jaminan biar lo gak kepikiran buat kabur nemuin cowok itu di gerbang sekolah."
"Alan, lo bener-bener ya—"
"Gak usah banyak protes, Pia," potong Alan cepat. Dia memutar tubuhnya, lalu berjalan duluan menuju pintu kelas sambil menoleh sekilas ke belakang. "Buruan jalan di samping gue, atau tas lo gak bakal balik selamanya."
Sephia menghentakkan kakinya kesal, mukanya sudah merah padam antara gemas dan salah tingkah dengan sikap posesif dadakan cowok itu. Akhirnya, dengan langkah grasak-grusuk, Sephia terpaksa mengekor di belakang Alan, sama sekali gak menyadari kalau di luar gerbang sekolah, Sagara sudah menunggu dan siap membuat sore mereka jadi jauh lebih rumit.