Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Kata-kata Emil, terdengar seperti sebuah kata-kata motivasi bagi mereka. Emil mulai menjelaskan semuanya dengan pelan. Sehingga Cindy, maupun pak Andi, memahami dengan perlahan-lahan. Semua orang pasti punya kemampuan yang tersembunyi.
Dian agak menjauh. Dengan laptopnya, ia sibuk mencari bagaimana informasi mengenai adiknya.Orang tua angkatnya, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Setidaknya aku sudah tahu, dimana dia berada."
Dian memegang kepalanya yang sedikit sakit.
"Kenapa harus menikah dulu, baru mendapatkan informasi nya. Apa aku harus ikuti mereka? Setidaknya bebas dari mereka, itu lebih baik."
Sekarang beban pikiran nya kian menumpuk. Dian kembali ke ruangan, dimana Emil, Cindy dan pak Andi berada. Mereka begitu sibuk dan penuh konsentrasi. Emil juga tidak kalah seriusnya mengajari mereka.
"Sepertinya, mereka akan menjadi pelukis berbakat."
"Sepertinya, Emil memang sedang mencari murid, agar bisa meneruskan karyanya. Cindy si, sudah pasti. Tapi pak Andi,.... dia bahkan lebih tua dari Emil."
Cindy berbalik dan memperhatikan Dian, dia begitu sibuk dengan urusannya sendiri. Wajahnya terlihat lelah.
Apa sebaik-baiknya besok, aku ke sini sendiri saja? Kasihan mbak Dian, demi aku, dia harus ikut kakak ke kantor.
Melihat Cindy yang bengong, Emil menegurnya.
"Ada apa Cindy?" Emil berjalan mendekat. Ia memegang dahi Cindy, memeriksa keadaannya.
Cindy spontan kaget. Wajahnya memerah. Wajah Emil sangat dekat dengan nya.
"Apa kamu kurang enak badan? Wajahmu begitu memerah. Kamu juga terlihat banyak pikiran."
"Cindy baik... baik-baik saja." Cindy berusaha mengendalikan dirinya. Mungkin karena Emil begitu tampan, dan tiba-tiba mendekat padanya. Hatinya langsung berdebar-debar.
"Tanganku." Cindy berhenti sejenak, sebelum melanjutkan kata-kata nya, untuk memberikan alasan yang tepat.
"Tanganku kram. Mungkin baru pertama kali memegang kuas, jadi sedikit sakit. Tapi Cindy merasa sudah lebih baik sekarang."
"Benarkah." Emil meraih tangan Cindy. Ia memijitnya perlahan. Tangan Cindy begitu kecil dan mungil.
"Jika sakit bilang, jangan terlalu memaksakan diri. Kita masih punya banyak waktu kok."
Cindy malah lebih deg-degan. Kini ia menundukkan wajahnya, berharap tidak ada yang tahu.
Dari jauh Dian melihat mereka berdua. Ia sangat tahu sikap dan tingkah yang ditunjukkan Cindy. Dia terlihat menyukai Emil. Dian melihat ke arah pak Andi, pengawal Cindy, pria tua itu sibuk dengan lukisan di hadapannya, dia begitu serius sehingga tidak melihat mereka.
Emil menghentikan pijitannya.
"Baiklah, karena sudah jam 4 lewat. Untuk hari ini, kita istirahat dulu. Besok kita lanjut lagi."
Emil berjalan mendekati Dian.
"Apa kau akan pulang bersama mereka?"
"Iya, aku akan mengantar mereka dulu. Tapi nanti aku balik."
"Aku akan menunggu mu."
Dian, Cindy dan pak Andi berjalan keluar, setelah pamit pada Emil.
"Pak, bisakah Cindy bersama saya sebentar. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan nya."
Cindy terlihat bingung, tapi ia juga merasa senang.
Pak Andi merasa tidak perlu waspada, karena nona Dian tidak akan menyakiti Cindy.
"Baik nona, saya akan mengawal kalian dari belakang."
Cindy naik bersama Dian. Dian mulai menjalankan mobilnya. Pak Andi mengikuti dari belakang mereka, seperti yang dikatakan.
"Cindy, ada yang ingin mbak Dian tanyakan padamu."
"Apa mbak?"
"Apa kamu menyukai Emil?"
"Apa? Bagaimana mungkin mbak. Mas Emil sangatlah tua. Umurnya jauh diatas ku. Dan aku tidak sampai memikirkan hal seperti itu, aku masih sekolah juga."
"Kamu tidak usah berbohong. Dari caramu menatap nya saja, mbak sudah tahu."
"Apakah aku begitu kentara?"
Cindy akhirnya mengakui. Tapi perasaannya ini masih abu-abu.
"Aku juga tidak yakin. Tapi bisakah mbak Dian mengganti kata suka, dengan mengagumi. Soalnya ini kedua kali aku bertemu dengan mas Emil. Aku tidak mau langsung menyimpulkan sesuatu, apalagi mengenai perasaan ku. Dan ini juga pertama kali aku keluar, dan melihat pria jentle seperti mas Emil."
"Kau tahu, justru cinta pada pandangan pertama selalu ada. Tapi mbak mohon padamu, untuk tidak begitu terlihat, apalagi sampai diketahui kakakmu. Hilangkan perasaan itu, jika bisa. Mbak takutnya, sampai terdengar kakakmu, dia akan marah, karena tidak menjaga dan melindungi mu dengan baik."
Cindy memahami maksud Dian. Dia juga tahu, kakaknya akan marah, jika sampai hal itu terjadi. Dan mungkin orang lain yang tidak tahu apapun mengenai perasaannya akan menjadi korban.
"Maaf mbak. Aku akan berusaha menghilangkan perasaan ini. Aku janji."
"Maaf ya, mbak tidak bermaksud mengurusi perasaan mu, atau siapapun yang kamu suka. Hanya saja, kamu masih muda. Masih depanmu masih panjang. Gadis belia seperti mu, masih belum jatuh ke dalam perasaan cinta kepada seseorang. Tunggu sampai kamu kuliah, itu adalah hakmu. Untuk berpacaran, atau mungkin menjalin hubungan yang lebih serius."
"Aku akan mengingat pesanmu."
Lama juga mereka mengobrol, dimana Dian akhirnya menjelaskan bagaimana kisah percintaan sewaktu muda, dan jalan yang kini dia ambil, itu bertujuan sebagai referensi hidupnya, agar Cindy setidaknya belajar sedikit.
Mereka tiba di rumah Cindy dengan aman.
"Makasih kak, untuk hari ini. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada kakak. Hanya saja, malah membahas tentang diriku dan masalah percintaan yang pernah kakak hadapi."
"Ah, maaf. Katakan saja. Aku akan mendengarkan."
"Besok, aku akan pergi sendiri. Kakak tidak perlu menemani. Aku tidak ingin kakak lelah karena ku. Aku akan bilang pada kak Joshua, agar tidak meminta mu bekerja di kantor lagi."
"Apa, itu tidak perlu. Kakak baik-baik saja."
"Aku tahu kok. Jadi, mbak bisa melanjutkan keseharian mu, tanpa diganggu siapapun. Lagian kakakku terlalu berlebihan. Ya sudah kak, sampai jumpa. Hati-hati di jalan." Cindy berlari masuk, ia takut Dian tidak mempedulikan kata-kata nya lagi.
"Anak ini." Dian tersenyum senang. Akhirnya dia bebas, tanpa melihat muka Joshua lagi.
Dian mengambil handphone nya dengan hati-hati, sambil fokus menyetir.
"Emil, aku akan ke situ. Segeralah bersiap, kita akan keluar."
Dian menelpon Emil, saat terhubung dan di angkat, ia memberitahu nya.
"Baiklah, aku akan menunggu." Terdengar jawaban dari seberang telepon. Setelah itu telepon mati.
Dian tidak tahu, tapi bahagianya tidak bisa ia lukiskan.
Kini, ia tidak perlu memikirkan harus berhadapan dengan pria jahanam itu lagi.
Dian menjemput Emil, lalu mereka pergi makan berdua. Dian merasa senang, jadi dia ingin mentraktir Emil. Mereka makan di restoran yang lumayan terkenal baru-baru ini. Kebetulan Dian juga sangat penasaran, jadi dia harus mencobanya. Ternyata tempat itu lumayan ramai. Sepertinya mereka juga penasaran dengan tempat baru itu. Yah, tentu saja. Restoran dan hidangan baru, pastilah sangat rekomendasi untuk setiap orang.
Mereka memilih bangku yang paling lumayan sepi di sekitarnya. Mungkin hanya diisi beberapa orang. Antrian depan, paling banyak orang meminta untuk dibungkus kan. Dan juga paling banyak orang yang ingin duduk di teras depan.