"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12. pegunungan suara dan lagu yang hilang
Keesokan paginya, kami berangkat meninggalkan Hutan Kenangan — nama baru yang diberikan untuk tempat yang tadinya disebut Hutan Kosong. Para Siluet mengantar kami sampai ke batas hutan, melambai-lambai dengan wujud abu-abu mereka yang anggun.
“Jika kalian membutuhkan sesuatu, atau ingin mencari cerita yang terlupakan, datanglah ke sini,” kata pemimpin mereka dengan suara lembut. “Kami akan selalu menunggu.”
Zarek masih memegang sisa kue dari bekal buatan Sari, lalu memberikan beberapa potong terakhir kepada para Siluet yang tampak penasaran dengan rasanya. “Simpan saja. Nanti jika ada teman yang datang lagi, boleh dicoba bersama!”
Perjalanan selanjutnya menuju ke timur. Berdasarkan peta yang dimiliki Valgus, di sana terdapat Pegunungan Suara wilayah yang kabarnya selalu dipenuhi berbagai bunyi: angin yang bersiul, air terjun yang bergemuruh, hingga nyanyian yang terdengar dari balik celah-celah batu.
Semakin kami mendekati pegunungan, udara terasa semakin sejuk dan agak tipis. Suara-suara mulai terdengar samar dari kejauhan. Awalnya hanya seperti bisikan angin, lama-kelamaan berubah menjadi paduan suara yang indah namun terasa menyedihkan.
“Mengapa lagunya terasa seperti sedang menangis?” gumam Liora sambil mengerutkan kening. Ia berjalan berdampingan dengan Leon, tangan mereka masih saling bergenggam erat.
Valgus mengangguk setuju. “Dahulu tempat ini memang terkenal dengan lagu-lagu terindah di seluruh dunia. Namun sekitar sepuluh tahun yang lalu — sebelum kau memberikan kebebasan kepada seluruh makhluk — suara-suara itu perlahan menghilang, digantikan oleh kesedihan yang mendalam.”
“Mungkin karena aku juga lupa menuliskan kelanjutan ceritanya,” kata Leon dengan nada menyesal. “Aku hanya menulis: Di timur terdapat pegunungan yang penuh dengan lagu, tempat tinggal para Penyanyi Batu yang menyanyikan kisah dunia. Hanya itu saja. Aku tidak menuliskan apa yang terjadi selanjutnya.”
Tak lama kemudian, kami tiba di kaki pegunungan. Di sana berdiri sebuah gerbang besar yang terbuat dari batu granit, diukir dengan gambar-gambar makhluk yang sedang bernyanyi. Namun ukiran-ukiran itu tampak kusam, dan tidak ada satu pun suara yang keluar dari balik gerbang tersebut.
Zarek melangkah maju dan mencoba mendorong gerbang itu, namun gerbang itu tidak bergerak sedikit pun. “Sangat keras! Seolah ada sihir yang menahannya!”
Liora melangkah mendekat dan meletakkan telapak tangannya di permukaan batu. “Aku bisa merasakan energi di sini. Ada kekuatan yang menahan gerbang ini, namun bukan kekuatan jahat. Lebih terasa seperti… kesedihan yang terlalu dalam, sehingga membuat mereka menutup diri dari dunia luar.”
Tiba-tiba, suara yang berat dan bergetar terdengar dari balik gerbang:
“Siapakah yang berani mengganggu ketenangan kami? Dunia di luar sudah lupa dengan lagu-lagu kami, maka biarlah kami pun melupakan dunia itu.”
“Kami datang bukan untuk mengganggu!” seru Leon dengan suara lantang namun lembut. “Kami datang untuk mendengar! Kami datang untuk memahami mengapa lagu-lagu yang dulunya indah itu kini berubah menjadi kesedihan!”
Terdapat keheningan sesaat, sebelum suara itu terdengar lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut:
“Apakah kalian benar-benar ingin mendengar? Atau hanya datang untuk melihat keanehan, seperti yang dilakukan orang-orang lain sebelum kalian?”
“Kami benar-benar ingin mendengar,” jawab Liora dengan suara yang menenangkan. “Dan kami bersedia membantu jika ada hal yang bisa kami perbaiki.”
Tiba-tiba, gerbang batu itu bergetar perlahan, lalu terbuka sedikit demi sedikit, menampakkan pemandangan yang membuat kami tertegun.
Di balik gerbang terbentang sebuah lembah yang indah, dengan pepohonan yang rimbun dan bunga-bunga berwarna-warni. Namun yang paling menarik perhatian adalah makhluk-makhluk yang tinggal di sana: mereka memiliki tubuh yang terbuat dari batu halus, dengan mata yang berkilau seperti kristal. Merekalah para Penyanyi Batu. Namun raut wajah mereka tampak sedih, dan tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara.
Seorang Penyanyi Batu yang berukuran lebih besar dan tampak lebih tua berjalan mendekat. Jenggotnya terbentuk dari lumut yang tumbuh di batu, dan matanya berwarna abu-abu yang tampak kusam.
“Namaku Guntur, pemimpin Pegunungan Suara,” katanya dengan suara yang berat dan lambat. “Dahulu, kami adalah penjaga lagu-lagu dunia. Kami menyanyikan kisah kelahiran, pertumbuhan, kebahagiaan, hingga kesedihan. Setiap peristiwa memiliki lagunya sendiri. Namun suatu hari, suara-suara itu perlahan menghilang. Orang-orang di luar tidak lagi mau mendengar. Mereka berkata bahwa lagu-lagu kami terlalu kuno, terlalu lambat, dan tidak berguna untuk kehidupan yang semakin sibuk. Dan ketika tidak ada lagi yang mau mendengar… lagu-lagu itu perlahan mati.”
Leon merasa hatinya terasa perih. Ia memahami perasaan mereka. Sama seperti para Siluet yang merasa tidak berharga karena tidak memiliki cerita, para Penyanyi Batu pun merasa kehilangan tujuan hidupnya karena tidak ada lagi yang mau mendengar.
“Jadi lagu-lagu itu tidak hilang selamanya?” tanya Leon. “Mereka hanya berhenti dinyanyikan karena tidak ada lagi pendengarnya?”
Guntur mengangguk pelan. “Benar. Lagu-lagu itu masih tersimpan di dalam hati kami, namun terasa sangat berat dan menyakitkan untuk dinyanyikan. Seolah membawa beban yang semakin lama semakin memberatkan.”
Liora melangkah maju dan tersenyum lembut kepada Guntur serta makhluk-makhluk lain di sekitarnya. “Kami mau mendengar. Kami semua mau mendengar. Apapun lagunya, apapun ceritanya — kami akan mendengarkannya dengan sepenuh hati.”
Zarek juga melangkah maju dan menepuk dadanya dengan keras. “Benar! Aku juga suka bernyanyi! Meski kata orang suaraku lebih keras daripada angin badai, tapi aku tetap mau mendengarkan lagu-lagu kalian!”
Valgus hanya mengangguk setuju, matanya yang biasanya tajam kini tampak lembut. “Aku juga ingin mendengar. Sudah sangat lama aku tidak mendengar lagu yang tulus, bukan lagu yang dibuat-buat hanya untuk menyenangkan orang lain.”
Guntur menatap kami satu per satu, seolah mencari ketulusan di mata kami. Namun ketika ia melihat bahwa kami tidak berbohong, matanya yang tadinya abu-abu mulai berkilau seperti batu yang terkena sinar matahari.
“Baiklah,” katanya perlahan. “Kalau begitu… dengarkanlah.”
Ia menarik napas panjang, lalu mulai mengeluarkan suara. Awalnya hanya dengungan rendah yang bergetar di udara, lalu perlahan berubah menjadi nada yang indah dan mendalam. Lagu itu bercerita tentang masa-masa indah, tentang bagaimana dunia ini terbentuk, serta tentang kebahagiaan yang pernah ada. Namun di tengah alunan lagu itu, nada-nada sedih mulai muncul — menceritakan tentang kesepian, tentang dilupakan, dan tentang rasa tidak berharga.
Satu per satu, Penyanyi Batu lainnya mulai bergabung dan menyanyikan bagiannya masing-masing. Suara mereka menyatu menjadi satu paduan suara yang indah, meski terasa menyedihkan. Liora terlihat meneteskan air mata, terharu mendengar kisah yang tersimpan dalam alunan lagu tersebut. Leon pun merasa hatinya terasa penuh, tersentuh mengetahui apa yang telah mereka rasakan selama ini.
Ketika lagu itu selesai, keheningan menyelimuti seluruh lembah. Guntur menundukkan kepalanya, seolah menunggu penilaian dari kami.
“Itu… itu adalah lagu terindah yang pernah aku dengar,” kata Leon dengan suara yang sedikit bergetar. “Terima kasih telah mau membagikannya kepada kami.”
“Kau benar,” tambah Liora sambil menyeka air matanya. “Lagu itu indah karena dipenuhi perasaan. Bukan hanya enak didengar, namun juga mampu menyentuh hati. Namun… mengapa kalian hanya menyanyikan kesedihan? Bukankah masih banyak hal baik yang bisa dinyanyikan?”
Guntur mengangkat kepalanya dan tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. “Kami sudah lupa bagaimana cara menyanyikan hal-hal yang menggembirakan. Seolah-olah setelah dilupakan, hanya kesedihan yang tersisa di dalam hati kami.”
“Kalau begitu, mari kita ciptakan lagu baru bersama-sama,” kata Leon dengan semangat. Ia membuka buku catatannya, namun kali ini ia tidak menulis dengan tinta — melainkan menyampaikannya dengan kata-kata yang diucapkan dengan lantang.
“Kita nyanyikan tentang kebebasan yang baru saja diberikan kepada dunia ini! Tentang bagaimana setiap orang mulai memiliki keinginannya sendiri, bagaimana mereka berusaha memperbaiki hidup mereka! Tentang persahabatan, tentang cinta, dan tentang harapan untuk masa depan!”
Ia menoleh ke arah Liora dan tersenyum. “Maukah kau membantu kami?”
Liora mengangguk, lalu mulai menyanyikan nada yang lembut dan ceria sangat berbeda dari lagu yang baru saja kami dengarkan. Zarek ikut bergabung dengan suaranya yang keras namun antusias, diikuti oleh Valgus yang mengeluarkan suara rendah yang menambah kedalaman alunan lagu tersebut.
Satu per satu, para Penyanyi Batu mulai ikut bernyanyi. Awalnya mereka tampak ragu-ragu, namun lama-kelamaan mereka mulai terbiasa dengan nada yang ceria dan penuh harapan. Mata mereka yang tadinya kusam mulai berkilau kembali, dan senyum perlahan muncul di wajah-wajah batu mereka.
Lagu itu berkumandang di seluruh lembah dan bergema hingga ke puncak gunung. Angin yang tadinya berhembus pelan mulai bergerak mengikuti irama, air terjun pun mengalir mengikuti nada, bahkan burung-burung yang terbang di langit mulai ikut berkicau mengikuti alunan lagu tersebut.
Ketika lagu itu selesai, Guntur tampak sangat terharu. Air mata yang terbuat dari kristal mengalir di pipinya yang terbuat dari batu.
“Terima kasih,” katanya dengan suara yang terdengar lebih ceria dari sebelumnya. “Selama ini kami mengira kami harus terus menyanyikan lagu-lagu lama selamanya. Kami lupa bahwa lagu bisa terus berkembang dan berubah, sama seperti kehidupan itu sendiri.”
“Benar,” kata Leon. “Lagu tidak akan pernah mati selama masih ada orang yang mau mendengar, dan selama masih ada orang yang mau menyanyikannya. Mulai sekarang, kalian tidak hanya menyanyikan masa lalu, namun juga masa kini dan masa depan.”
Kami tinggal di lembah itu selama beberapa hari, mempelajari lagu-lagu lama dan menciptakan lagu-lagu baru bersama para Penyanyi Batu. Berita tentang kebangkitan lagu-lagu Pegunungan Suara perlahan menyebar, dan orang-orang dari berbagai daerah mulai datang untuk mendengar, ada yang ingin belajar, ada pula yang hanya ingin menikmati keindahan alunan suara tersebut.
Pada suatu malam, ketika hampir semua orang sudah beristirahat, Leon dan Liora duduk di atas sebuah batu besar sambil mendengarkan alunan lagu yang dinyanyikan dengan lembut oleh para Penyanyi Batu.
“Kau tahu,” kata Liora sambil bersandar di bahu Leon. “Setiap tempat yang kita kunjungi, setiap makhluk yang kita temui mereka semuanya memiliki cerita sendiri. Dan ternyata, yang paling mereka butuhkan hanyalah didengar dan dihargai.”
Leon mengangguk dan merangkul bahu Liora dengan lembut. “Benar. Dan aku merasa bersyukur bisa berjalan bersamamu serta melihat semua ini. Meskipun aku tidak berasal dari dunia ini, rasanya seolah aku sudah menjadi bagian dari tempat ini.”
“Kau memang bagian dari sini,” jawab Liora dengan lembut. “Karena kaulah yang memberikan mereka kesempatan untuk hidup dengan makna. Dan bagiku… kaulah bagian terpenting dari dunia ini.”
Di kejauhan, Zarek terlihat sedang berlatih bernyanyi dengan suara yang sangat keras, membuat beberapa Penyanyi Batu menutup telinga mereka meskipun tetap tersenyum. Valgus duduk agak terpisah, namun sesekali ikut menyanyikan nada rendah dengan lembut.
Perjalanan kami masih sangat panjang. Masih terdapat wilayah di utara yang belum dikunjungi wilayah yang bahkan Valgus sendiri tidak mengetahui apa isinya. Namun dengan kebersamaan dan keberanian yang kami miliki, kami siap menghadapi apapun yang menanti di sana.
Dan alunan lagu yang indah terus berkumandang, menjadi tanda bahwa kehidupan di dunia ini terus berjalan, penuh dengan harapan dan keindahan.