NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Galeri Wajah-Wajah Mati

Tiga hari berlalu sejak insiden di perpustakaan, dan Kastil Blackiron seolah kembali menarik diri ke dalam cangkang kebisuan yang tebal.

Elara kini menghuni Kamar Biru. Sebuah peningkatan nasib yang drastis dibandingkan Menara Barat yang membeku.

Di sini, dinding-dindingnya dilapisi sutra biru damask yang mewah, perapian batu pualam selalu menyala dengan kayu arang terbaik yang tidak menimbulkan asap, dan tempat tidurnya memiliki kasur bulu angsa yang begitu empuk hingga rasanya seperti tidur di atas awan.

Namun, kenyamanan fisik itu tidak mampu mengusir rasa gelisah yang merayap di bawah kulitnya.

Elara duduk di dekat jendela kamarnya yang tinggi, menatap keluar ke arah halaman latihan yang kosong. Salju turun lagi hari ini, bukan badai yang mengamuk, melainkan butiran-butiran halus yang jatuh perlahan dan sunyi, menimbun dunia dalam selimut putih yang mematikan.

Ia memutar pergelangan tangan kanannya. Lebam ungu bekas cengkeraman Kaelen sudah mulai memudar menjadi warna kekuningan yang samar.

Salep hijau tanpa label itu bekerja dengan keajaiban yang nyaris magis. Rasa nyerinya hilang, tetapi bekas itu tetap menjadi pengingat visual yang konstan: di sini, kasih sayang dan kekerasan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Kaelen menghilang. Sejak malam itu, suaminya tidak terlihat di kastil utama. Silas mengatakan sang Duke sibuk mengurus masalah perbatasan di benteng utara yang berjarak dua jam berkuda. Elara tahu itu hanya sebagian dari kebenaran.

Sisanya adalah penghindaran. Kaelen melarikan diri dari kecanggungannya sendiri, dari rasa malu karena telah menunjukkan kelemahannya di depan istrinya.

"Baiklah," gumam Elara pada kaca jendela yang dingin. "Jika kau tidak mau bicara padaku, aku yang akan mencari tahu sendiri."

Elara bangkit dari kursinya. Ia mengenakan gaun rumah berbahan wol tebal berwarna hijau lumut, warnanya kontras dengan pucatnya kulitnya. Ia menyampirkan selendang rajut di bahunya dan melangkah keluar kamar.

Tujuannya hari ini bukan dapur. Ia sudah memenangkan pertempuran roti di sana, dan ia cukup bijak untuk tidak memprovokasi Martha lagi sebelum ia memiliki sekutu yang kuat. Tujuannya hari ini adalah lantai tiga Sayap Utara.

Menurut denah kastil yang sempat ia intip di buku sejarah perpustakaan kemarin, lantai itu adalah tempat Galeri Leluhur. Jika Kaelen tidak mau menceritakan siapa dirinya, mungkin wajah-wajah masa lalu keluarganya bisa memberikan jawaban.

Koridor menuju Sayap Utara jauh lebih sepi dan dingin dibandingkan bagian lain kastil. Debu di sini lebih tebal, menumpuk di sudut-sudut lantai batu dan di atas bingkai jendela, menandakan bahwa para pelayan jarang menjamah area ini. Udara berbau apek, campuran dari kertas tua, cat minyak yang mengering, dan kenangan yang ditinggalkan.

Elara melangkah pelan. Suara gesekan gaunnya terdengar nyaring di keheningan yang menekan itu.

Ia sampai di sebuah pintu ganda yang tinggi. Tidak terkunci. Elara mendorongnya, dan pintu itu mengayun terbuka dengan erangan engsel yang panjang dan menyedihkan.

Di dalamnya, membentang sebuah lorong panjang dengan langit-langit melengkung yang tinggi. Cahaya masuk dari jendela-jendela kaca patri di satu sisi, melemparkan pola warna-warni yang suram ke lantai kayu gelap. Di dinding seberangnya, tergantung puluhan lukisan potret berukuran besar.

Inilah sejarah House Draxos.

Elara berjalan menyusuri galeri itu, matanya menelusuri wajah-wajah yang terlukis di kanvas.

Mereka semua memiliki kemiripan yang mencolok. Rambut hitam pekat seperti bulu gagak. Mata abu-abu yang tajam. Garis rahang yang keras.

Dari Duke pertama yang mendirikan benteng ini tiga ratus tahun lalu, hingga kakek Kaelen yang tampak memegang kepala beruang buruan. Wajah-wajah itu tidak menyiratkan kebahagiaan. Mereka menyiratkan kekuatan, kekuasaan, dan dominasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang tersenyum.

Elara berhenti di depan sebuah lukisan besar di ujung lorong. Plakat kuningan di bawahnya bertuliskan: Duke Garrick Draxos & Duchess Helena.

Itu orang tua Kaelen.

Garrick tampak seperti versi tua dari Kaelen, namun matanya lebih kejam, lebih kosong. Sementara Helena, ibunya... Elara terpaku menatap wanita itu. Dia cantik, dengan rambut hitam yang disanggul elegan dan gaun biru tua yang mewah.

Tapi matanya—mata itu melihat ke kejauhan dengan kesedihan yang begitu dalam hingga membuat dada Elara sesak hanya dengan melihatnya. Itu adalah mata seorang wanita yang jiwanya telah layu lama sebelum tubuhnya mati.

Apakah nasib itu yang menunggunya? Menjadi hiasan dinding cantik dengan mata mati?

Elara menggeser pandangannya ke lukisan di sebelahnya. Lukisan itu lebih kecil, diletakkan agak tersembunyi di sudut yang remang-remang.

Jantung Elara berhenti berdetak sesaat.

Itu adalah lukisan Kaelen.

Tapi bukan Kaelen yang ia kenal. Dalam lukisan itu, Kaelen masih remaja, mungkin berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Ia mengenakan seragam kadet kerajaan yang rapi. Wajahnya masih memiliki sisa-sisa kelembutan masa muda yang belum dikikis habis oleh perang. Rambutnya lebih rapi. Dan yang paling mengejutkan Elara adalah matanya.

Mata abu-abu itu hidup. Ada binar di sana. Ada harapan. Ada... kehangatan.

Dan dia tersenyum. Senyum kecil, miring, seolah dia sedang menahan tawa atas lelucon rahasia yang dibisikkan pelukisnya.

Elara tanpa sadar mengangkat tangannya, jemarinya hampir menyentuh kanvas itu, ingin memastikan apakah senyum itu nyata. Pria di dalam lukisan ini terlihat seperti seseorang yang bisa mencintai dan dicintai. Seseorang yang memiliki mimpi selain membunuh musuh di perbatasan.

"Itu dilukis seminggu sebelum beliau berangkat ke Akademi Militer Ibu Kota."

Suara itu muncul tiba-tiba dari belakangnya, membuat Elara tersentak kaget. Ia berputar cepat, jantungnya melompat.

Silas berdiri di sana, beberapa langkah di belakangnya. Pria tua itu memegang kain lap debu dan seember air. Ia muncul tanpa suara seperti hantu kastil yang setia. Wajahnya tenang, namun matanya tertuju pada lukisan Kaelen muda itu dengan tatapan yang penuh kerinduan dan kesedihan.

Elara menurunkan tangannya, mencoba menenangkan napasnya. "Kau mengejutkanku, Silas."

"Maafkan saya, Nyonya," Silas membungkuk sedikit. "Saya biasa membersihkan galeri ini setiap hari Kamis. Saya tidak menyangka akan menemukan orang lain di sini. Biasanya... tidak ada yang datang ke sini."

Elara kembali menatap lukisan itu. "Dia terlihat berbeda," gumamnya. "Dia terlihat... bahagia."

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!