Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Perayaan Terakhir
Kejutan yang didapatkan Tya tidak hanya di pagi hari. Di malam hari saat berangkat menuju restoran bertiga bersama Ibu Suri—karena waktu tadi pagi berangkat ke kantor lebih siang, Diaz menjanjikan mengajak makan malam spesial, Tya mendapat kejutan akan kehadiran keluarganya dari Bekasi. Nesha yang paling melengking suaranya menyambut di privat room.
"Happy birthday, Tante Joko. Ups, salah. Tante Tya bestie nya Joko." Nesha cekikikan.
Tya tergelak. Punya keponakan memang karakternya hampir sama sebelas dua belas dengannya. Jelas saja, dulu sehari-hari selalu belajar dan bermain dengannya bahkan tidur pun sering di kamarnya. Ia memeluk Nesha dengan gemas. Barulah beralih berpelukan dengan Bisma dan Susan.
"Tante Tya, ini kado dari aku, ini dari Joko."
Tya menoleh saat fokus menyaksikan Diaz dan Ibu Suri berbincang dengan Bisma dan Susan. Matanya berbinar menerima uluran dua kado dengan warna dan ukuran berbeda.
"Hebat ya Joko bisa ngasih kado sama Tante Tya. Joko beli sendiri atau gimana, Nesha?" Bibir Ibu Suri menahan tawa geli.
"Kan dibantu Bunda check out nya. Dibungkusnya juga sama Bunda." Nesha menggelayutkan tangan di lengan sang ayah lalu menggelantung dengan riang.
"Ini nih mentornya, Bu." Susan menunjuk Tya yang cengengesan. "Tiap ada yang ulang tahun di rumah, Joko wajib ngasih kado. Ya tetep aja yang bayarin yang punya ayam." Kali ini ia mengerling ke arah Bisma.
Tawa riang pun pecah di ruangan yang hanya berisikan lima orang itu. Selanjutnya, semua orang duduk mengelilingi meja panjang. Mulai membaca daftar menu.
Dua orang waiter datang mengantarkan hidangan pembuka. Lalu keluar sambil membawa catatan menu yang dipesan.
"Kak, jam berapa dari Bekasi?" Tya melayangkan rasa penasarannya. Pertemuan dengan keluarga kecil kakaknya malam ini di luar ekspektasi. Karena tadi melihat status Whatsapp Bisma yang merekam kegiatan Susan dan dua orang tetangga sedang packing snack sebanyak 200 kotak. Mereka sedang sibuk.
"Jam lima. Dijemput sama staf Cafe Geranium. Yang nyuruhnya tentu saja Diaz. Diaz udah telepon dari siang mula."
Tya menoleh ke sebelah kiri. Menatap Diaz yang juga balas menatap sambil tersenyum manis. Caranya menatap lah yang terutama membuat dadanya lumer, hatinya luluh menerima cinta yang ditawarkan wayang pasangannya itu.
Nanti aja deh berterima kasihnya di rumah. Karena dia mah nggak mau cuma ucapan.
Jika Tya kemudian anteng bersama Nesha membuka kado, Diaz dan Ibu Suri juga asyik berbincang dengan Bisma dan Susan dengan tema pembahasan tentang bisnis cake and bakery yg semakin diseriuskan oleh pasangan suami istri itu.
"Kak, kalau perlu tambahan modal jangan pinjam ke bank. Bilang saja sama aku atau bilang ke Tya."
"Makasih sebelumnya, Diaz. Untuk saat ini masih bisa dihandle apalagi kemarin Ibu ngasih, langsung dibeliin meja kursi buat yang jajan ingin sambil nongkrong. Sama bisa nyetok bahan baku," sahut Bisma yang kemudian dibenarkan oleh Susan.
Tya kembali bergabung duduk di kursinya usai menyenangkan Nesha yang ingin kadonya dibuka di depan matanya. Sang keponakan tampak girang setelah mendapat ucapan terima kasih dan pelukan serta titip salam pada Joko.
"Aku sama Tya udah ada rencana mau ke Bekasi cuma waktunya belum pasti. Bicara di sini aja deh mumpung ketemu Kak Bisma."
Tya melihat wajah sang kakak yang menatap Diaz dengan raut penasaran. Ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan sang suami secara sudah dibahas saat pillow talk.
***
Malam belum lah larut, tetapi suasana hati pemuda yang berada di dalam cafe dan duduk di dekat jendela tengah hanyut oleh nostalgia. Seluruh konsentrasi dipusatkan pada gambar yang tampil di benak bak layar bioskop.
Ia menonton adegan dua insan yang tengah berbahagia duduk berhadapan dengan sajian dua gelas minuman di meja. Yang satu hot cappucino, satu lagi hot matcha. Percakapan ringan dan riang mengalir tanpa beban, penuh sukacita. Kemudian datang waiter mengantarkan pesanan. Hingga sang perempuan tercengang karena waiter menyajikan red velvet mini dengan angka 21.
"Atas nama Kak Rizky?"
Pemuda yang tengah larut dalam nostalgia itu mengerjap. Mendongak ke arah yang bertanya yang merupakan pelayan cafe. "Iya, mbak."
Segelas hot cappucino, segelas hot matcha dan red velvet mini disajikan waiter dengan gerak gesit. Rizky mengucapkan terima kasih dengan nada datar dan tanpa senyum. Menu yang sama seperti terakhir perayaan sebelum dirinya bertolak ke Turki, tetapi beda cafe. Ia menatap sajian di meja dengan pandangan nanar.
Rizky mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah topper akrilik warna gold bertuliskan angka 23. Lalu ditusukkan ke tengah red velvet mini. jika dulu dititipkan ke pelayan cafe agar dipasangkan langsung, sekarang ia pasang sendiri.
Aku tahu ini salah. Tapi izinkan aku merayakan ulang tahunmu untuk yang terakhir kali. Happy birthday, Cantya Lova. The best partner in my life.
Rizky mengembuskan napas panjang. Memejamkan mata sambil menunduk untuk beberapa detik lamanya. Begitu mendongak, dirinya menggelengkan kepala.
No. Koreksi. Happy birthday, Cantya Lova. The best friend in my life.
Rasa sedikit pahit kopi berpadu rasa susu dan manis less sugar terasa nikmat di lidah namun berubah rasa menjadi getir begitu melewati tenggorokan. Yang salah bukan racikan barista, tetapi cara menikmatinya yang main hati. Di mana hati sedang terluka oleh cinta yang kandas.
Cafe yang disinggahi berada di Jakarta Selatan. Satu kota dengan tempat tinggal Tya yang berada di kawasan perumahan elit. Ia telah mengetahui profil Ardiaz Kavian. Eksekutif muda yang bergerak di bisnis tambang emas dan perdagangan umum. Sungguh, kekayaan yang dimilikinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suaminya Tya itu.
Rizky melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Tak terasa 40 menit lagi waktunya berangkat ke bandara. Kopinya kembali disesap. Rasanya masih sama. Getir. Salahnya menikmati kopi dengan menyertakan kenangan yang tak mungkin terulang kembali.
Segala rencana dan jadwal satu persatu selesai dilalui. Ziarah ke makam orang tua dan adik, bertemu Tya, reuni SMP, temu kangen dengan teman dekat masa SMA, dan baru saja selesai meeting dengan tiga orang penting yang siap menggagas usaha di bidang edukasi berbasis online. Hanya satu yang tidak bisa direalisasikan yaitu merayakan pergantian tahun dengan Tya. Maka dari itu, Rizky memutuskan kembali ke Turki lebih cepat.
"Mbak, bisa minta tolong ini dibungkus?" Rizky sudah berada di depan kasir yang sedang kosong. Telapak tangannya dijadikan nampan, tersimpan red velvet mini dengan topper akrilik angka 23.
"Oh bisa, Kak. Tapi topper nya nggak apa-apa dicabut dulu? Karena nggak akan muat di dusnya."
"Tidak masalah."
Rizky mengulurkan tangannya. Namun, belum sampai tangan petugas kasir menyentuh red velvet, seseorang menubruk bahu kanannya hingga kue itu terlempar ke meja kasir kemudian jatuh di lantai dekat kakinya. Kue cantik itu tak lagi hancur tak berbentuk lagi.
"Maaf-maaf, Mas. Saya nggak liat ke depan, lagi balas chat. Saya akan ganti kuenya, Mas. Sekali lagi maaf ya." Perempuan yang menabrak Rizky itu menunjukkan ekspresi bersalah dan sorot mata penuh penyesalan.
"Nggak usah. Kamu urus aja ini." Rizky menunjuk lantai yang kotor oleh red velvet yang berantakan. "Kasih tip OB nya!"
Dengan perasaan gondok, Rizky berlalu pergi menuju arah pintu keluar. Niat mau membawa kue itu ke bandara sebagai teman perjalanan, ambyar sudah. Teringat akan ucap temannya tadi siang saat meeting. Katanya, hari sial tidak ada dalam kalender.
Sehat selalu 🤲🏻
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁