Siti terpaksa menggantikan saudari kembarnya, Lila, untuk menikahi putra sulung keluarga mafia Hartono di Indonesia, Aris yang buta. Beredar rumor bahwa tuan muda ini buta, penyendiri, berhati dingin, dan sulit didekati, tidak lain adalah “orang asing” dalam keluarga. Namun dibandingkan dengan mantan pacarnya yang brengsek, Andy—yang membawa kabur uang pengobatan ayahnya dan ingin memanfaatkan dirinya demi koneksi—Siti merasa pernikahan ini tidak seburuk itu.
Awalnya ia mengira menikah hanya sekadar formalitas dan sandiwara belaka. Siapa sangka setelah tinggal di vila, ia bukan hanya harus menghadapi sikap dingin Aris dan tekanan sang Kakek yang terus-menerus mendesak ingin punya cucu, tetapi juga harus membereskan kekacauan adiknya yang menghamili anak orang di luar nikah serta bersembunyi dari mantan pacar yang terus mencarinya.
Siti pun memutuskan bekerja di Grup Hartono demi mandiri. Dengan kemampuan memasaknya, ia meluluhkan hati sang tuan muda yang dingin, dan lewat suaranya, ia menyentuh sisi lembut Aris. Barulah ia menyadari—bos buta ini sama sekali bukan orang lemah! Pendengarannya tajam, pikirannya cerdas, jaringan relasinya luas, dan kekuatannya luar biasa. Bahkan perebutan hak waris keluarga pun dapat ia kendalikan dengan mudah!
Namun kebohongan tentang pengantin pengganti tak mungkin selamanya tersembunyi. Rahasia keluarga mafia pun mulai terkuak. Setelah hatinya diluluhkan oleh Siti, akankah Aris membiarkan orang lain menyakiti gadis yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Siti berjalan cepat menyusuri koridor Rumah Sakit Umum Jakarta. Tangannya menekuk tas, mata menatap lantai yang dingin, tapi pikirannya sibuk. Ia baru saja meninggalkan ayahnya, yang kini sudah lebih stabil, tetapi tetap harus dijaga agar tidak marah atau lelah. Langkahnya berhenti sejenak ketika melihat sosok yang tidak diinginkan berdiri di ujung lorong.
Andi. Mantan pacar yang selama ini menimbulkan rasa sakit di hati Siti. Dia membawa tas tangan kecil, tetapi aroma parfum mahalnya memenuhi udara sekitar. Di tangannya, ada keranjang berisi buah-buahan dan beberapa botol suplemen. Matanya berbinar, senyum yang tampak ramah namun licik terbentuk di bibirnya.
Siti menahan napas. Ia tahu Andi datang dengan tujuan, dan tidak mungkin sekadar memberi perhatian pada ayahnya. Ia mempercepat langkah, berusaha menghindari konfrontasi, tetapi Andi sudah melihatnya.
“Andi…” suara Siti terdengar datar, menahan rasa marah yang sudah memuncak.
Andi tersenyum, melangkah mendekat. “Siti… aku hanya ingin memastikan ayahmu baik-baik saja. Ini buah dan suplemen untuknya. Aku tahu baru saja operasi, jadi aku pikir… mungkin aku bisa membantu.”
Siti menelan ludah, menatap Andi dengan mata yang tajam. “Aku bisa mengurus ayahku sendiri. Tidak perlu bantuanmu.”
Andi mencondongkan badan, seolah ingin menekankan kejujurannya. “Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Kita kan cuma bertengkar, bukan putus? Ayahmu akan senang jika kita kembali rukun.”
Siti menatap ayahnya yang kini duduk di kursi roda beberapa meter dari pintu, tersenyum hangat pada Andi tanpa mengetahui niatnya yang sebenarnya. Dadanya berdebar, mengetahui bahwa ayahnya mudah terpengaruh oleh penampilan ramah Andi.
“Ayah… jangan dengar dia,” Siti mendesis, suaranya rendah. Ia menahan diri agar tidak menimbulkan kecurigaan di depan ayah. Riko berdiri di sampingnya, wajahnya merah dan tangan terkepal, menahan amarah.
Andi tersenyum manis, lalu menyerahkan keranjang itu ke tangan ayah Siti. “Ayah, aku hanya ingin Siti dan aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu khawatir.”
Budi tersenyum, matanya bersinar. “Ah, anakku, aku senang kalian masih saling peduli. Baguslah kalau begitu. Aku ingin kalian segera menikah, agar aku tenang.”
Siti merasakan darahnya mendidih. Ia menatap Andi dengan mata penuh kemarahan, tetapi tidak bisa bicara apa-apa. Jika ia membantah di depan ayah, khawatir ayah akan marah dan kondisi jantungnya terganggu.
Riko menepuk pundak Siti perlahan, memberikan kode. Mereka harus menahan diri. Siti menelan ludah, memaksa wajahnya tetap tenang, meski amarah membara di dalam hati.
Setelah beberapa saat, Andi berpamitan dengan senyum yang tetap ramah. “Aku akan pergi sekarang. Tunggu saja, kita bisa bicara nanti.”
Begitu Andi pergi, Siti berlari mengejarnya di lorong. Ia menabrak beberapa perawat dan pengunjung yang melintas, tapi tidak peduli. “Andi! Jangan salah paham! Aku tidak mau mengembalikan hubungan ini!” teriaknya sambil mengejar.
Andi menoleh, senyum licik di bibirnya tidak hilang. Ia menahan tas kecilnya dengan satu tangan, langkahnya mantap. “Siti… dengar aku dulu. Aku bisa mengatur segalanya agar ayahmu aman. Jika kita benar-benar putus, ayahmu yang baru operasi jantung akan terkena dampaknya. Apakah kau mau bertaruh?”
Siti berhenti, napasnya terengah. Matanya menatap lurus ke Andi. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu Andi tidak main-main. Ayahnya masih rapuh. Jika ia keras kepala, risiko bagi ayahnya bisa besar.
“Andi… jangan memaksa aku,” kata Siti, suaranya serak, tapi tegas.
Andi mendekat, matanya tajam. “Aku tidak memaksa, Siti. Aku hanya memberitahumu kenyataan. Kita harus berpura-pura, cukup enam bulan saja. Selama enam bulan, kau akan bersamaku di depan ayahmu. Setelah ayahmu sepenuhnya pulih, kau bebas. Tapi selama itu… kau harus menurutiku.”
Siti menelan ludah. Empat kata terakhir itu menempel di telinganya seperti peringatan. Ia tahu Andi tidak main-main, dan selama enam bulan ini, ia harus menjaga penampilan agar ayahnya tidak khawatir. Hatinya sakit, tapi pikirannya harus jernih.
“Baik,” kata Siti akhirnya, suaranya datar. “Enam bulan. Aku hanya berpura-pura. Tidak ada lebih dari itu.”
Andi tersenyum, puas. Ia menepuk bahu Siti sebentar, lalu melangkah pergi. Ia tahu kesempatan ini bisa menjadi langkah strategis bagi dirinya. Grup Hartono adalah perusahaan besar, dan dengan Siti sebagai istri di depan keluarga, posisinya bisa naik.
Siti berdiri di lorong, menahan napas panjang. Tangannya gemetar, hatinya panas, tapi ia tahu keputusan ini tepat. Ayahnya harus pulih dengan aman, dan ia tidak bisa membiarkan Andi merusak itu.
Setelah beberapa menit, Siti berjalan kembali ke kamar ayahnya. Riko mengikuti di belakang, wajahnya tetap tegang. Mereka berdua tahu, enam bulan ke depan akan menjadi ujian tersulit. Tidak hanya menghadapi Andi, tetapi juga menjaga ayah tetap aman, menjaga rahasia, dan menghadapi tekanan yang mungkin datang dari semua arah.
Siti duduk di samping ayahnya, menatap wajah Budi yang tersenyum lemah. “Ayah… semuanya baik-baik saja sekarang. Aku akan mengurus semuanya,” katanya, menahan gemetar di tangannya.
Ayahnya mengangguk, matanya bersinar, tidak tahu betapa sulit yang sebenarnya sedang dihadapi Siti. “Aku senang melihatmu tenang, Nak. Ayah percaya padamu.”
Siti tersenyum tipis, menahan air mata yang hampir keluar. Ia tahu, sementara Andi melihat ini sebagai peluang untuk dirinya sendiri, Siti harus tetap waspada. Setiap langkah harus diperhitungkan.
Riko berdiri di samping, menepuk bahu Siti sekali lagi. “Kita harus kuat, Kak. Jangan biarkan Andi merusak semuanya.”
Siti mengangguk, menatap ayahnya sekali lagi, lalu berdiri. Ia tahu sekarang, peran yang harus dijalani adalah berpura-pura, menjaga rahasia, dan melindungi ayah. Selama enam bulan ini, ia harus menjadi pemain yang cerdas, tidak mudah terprovokasi, dan selalu waspada terhadap Andi yang licik.
Setelah berpamitan, Siti keluar dari rumah sakit. Napasnya berat, langkahnya cepat, tetapi pikirannya jernih. Ia tahu, setiap detik dari enam bulan ke depan akan menentukan tidak hanya keselamatan ayahnya, tetapi juga masa depannya sendiri. Ia menatap jalan, mengambil napas panjang, dan melangkah menuju bus kota untuk kembali ke vila.
Perjalanan pulang berlangsung hening. Siti duduk di kursi dekat jendela, matanya menatap jalan yang terus bergerak. Di pikirannya, ia menyusun strategi: bagaimana berpura-pura ramah kepada Andi, bagaimana menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan, dan bagaimana tetap melindungi ayah dari gangguan.
Rio menunggu di vila saat Siti tiba. Ia menatap Siti, mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi, tetapi tidak bertanya. Ia hanya mengantarkan Siti masuk, memastikan semuanya aman. Siti menutup pintu vila, menarik napas panjang, dan duduk di kursi ruang tamu.
Ia tahu enam bulan ke depan akan menjadi ujian tersulit dalam hidupnya. Namun satu hal jelas: Siti siap menghadapi semua tekanan, menjaga rahasia, melindungi ayah, dan memastikan bahwa Andi tidak bisa memanfaatkan situasi untuk keuntungannya sendiri.
Hari itu berakhir dengan Siti menatap langit malam dari jendela vila. Ia menahan napas panjang, matanya menatap jauh, menyadari bahwa hidupnya kini penuh perhitungan, tipu daya, dan tanggung jawab besar. Enam bulan ke depan akan menentukan segalanya.