Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terhina
Anggi tiba di kelasnya. Ia diantarkan oleh bu Rima yang tadi ia jumpai di perjalanan ke kelasnya.
Bu Rina masuk dan menyapa murid muris kelas V B kemudian memperkenalkan Anggi sebagai guru baru mereka.
Melihat Anggi, anak anak itu saling berbisik memuji kecantikan dan keanggunan Anggi. Setelah memperkenalkan Anggi, bu Rina meninggalkan kelas itu. Sekarang tinggal Anggi dan murid murid barunya
"Assalamualaikum anak anak".
"Waalaikumsalam Bu..!"
"Bagi yang beragama lain Ibu ucapkan selamat pagi."
"Di kelas ini kebetulan muslim semua bu." jawab salah satu siswa.
"Oh ya?..Siapa namamu?"
" Perkenalkan Bu guru ...nama saya Mauli Faldi..tapi Bu Guru bisa memanggil saya Faldi. Saya ketua kelas di sini Bu. Jadi kalau ada apa apa Ibu bisa meminta tolong kepada saya." jawab Faldi ramah dan tegas
Anggi tersenyum..anak yang hebat. Sudah nampak jiwa kepemimpinannya dan tanggung jawabnya. ia juga sangat percaya diri. Ia pasti dari keluarga yang harmonis, piki Anggi.
"Oh ya,nama ibu siapa?" Faldi balik bertanya.
Anggi jadi ingat ia belum memperkenalkan diri secara lengkap.
"Nama ibu Pelangi tapi biasa dipanggil Anggi. Jadi kalian bisa memanggil saya Bu Anggi."
"Nama panjangnya siapa Bu?" tanya salah satu siswi.
" Pelangi Titian Nirwana. Kalau kamu siapa cantik?" Anggi bertanya.
"Dea bu..Amira Dea." jawab siswi itu malu karena dipuji cantik. Kejadian berikutnya Anggi meminta satu persatu muridnya memperkenalkan diri. Ia selalu menanggapi perkenalan siswa siswinya dengan komentar yang menyenangkan sehingga murid muridnya merasa senang. Hingga mata Anggi menatap bangku yang kosong.
"Apa hari ini ada yang absen?" tanya Anggi sambil melihat ke arah bangku itu.
"Itu tempat duduk Bintang,Bu. Tadi ia berkelahi jadi dibawa ke ruang kepala sekolah." jawab Faldi
mm jadi Bintang adalah anak didikku sekarang. Anggi tersenyum.
🌸🌸🌸🌸🌸skip🌸🌸🌸🌸🌸
Jam istirahat, Anggi ke ruang kepala sekolah. Dia ingin melihat Bintang.
"Saya tidak terima, anak saya dibuat babak belur begini." suara seorang wanita dari dalam ruang kepala sekolah. Anggi langsung berhenti. Ia membatalkan niatnya mengetuk pintu.
" Maafkan cucu saya, kami akan bertanggung jawab." suara yang lain.
Oma..ya itu suara oma.Jadi yang ditelepon Bu Eta tadi pagi adalah Oma dan ibu dari anak yang dipukul Bintang. kata Anggi dalam hati.
Mendengar Oma ada di dalam Anggi memberanikan diri mengetuk pintu.
tok tok tok
"Masuk!"
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab mereka yang di dalam ruangan berbarengan.
"Bu Anggi,ada apa ya?" tanya Bu Eta.
"Maaf Bu Eta.Apa saya bisa ikut serta dalam penyelesaian masalah ini? Karena saya wali kelasnya Bintang." jawab Anggi agak gugup.
"Tentu saja Bu Anggi." jawab Bu Eta.
Aku juga ingin tahu lebih banyak kemampuanmu untuk menyelesaikan masalah ini karena yang kita hadapi bukan orang yang gampang. Batin Bu Eta.
"Baguslah..ada wali kelasnya juga. Bagaimana Anda mengawasi murid Anda? Kenapa ia bisa memukuli anak saya?" wanita itu memberondong Anggi dengan pertanyaan.
"Maaf Nyonya Wijaya..Bu Anggi ini baru di sekolah kita. Hari ini ia baru masuk kerja. Saat kejadian pertengkaran itu,Bu Anggi sedang menghadap saya di kantor." jelas Bu Eta.
"Ya sudah, saya tidak mau tahu, pokoknya saya meminta pertanggungjawaban!" Nyonya Wijaya berkata dengan keras.
"Saya hafal sifat cucu saya. Ia tidak akan memukul anak sembarangan tanpa sebab. Cucu saya memang sikapnya dingin, tapi ia bukan anak yang nakal."
" Siapa yang bisa menjamin kalau dia tidak nakal. Ibunya saja meninggalkannya mungkin karena tidak tahan akan kenakalannya."
"Cukup. Jangan pernah Anda berkata demikian. Kepergian ibunya tidak ada hubungan dengan cucu saya ini." Oma menjawab dengan suara keras. Setelah bicara nampak nafas Oma tersengal dan memegang dada kirinya. Melihat itu Anggi segera mendekati Oma.
"Oma tidak apa apa?" tanya Anggi khawatir.
"Aku baik baik saja" jawab Oma sambil mengangkat tangannya.
Bintang melihat Oma dengan mata berkaca kaca. Nampak sekali ia khawatir dan menyesali perbuatannya.
"Bintang..sayang..boleh Bu Anggi tahu kenapa Bintang memukulnya?" Anggi bertanya dengan lembut sambil menunjuk anak yang duduk di depannya.
Bintang menatap anak di depannya penuh amarah. Ia tidak menjawab pertanyaan Anggi.
"Tuh kan, bisa dilihat kan. Ditanya gurunya saja tidak menjawab. Bukankah jelas dia anak yang tidak tahu sopan santun. Ya begitulah anak dari keluarga broken home. Nggak jelas sikap dan karakternya." kata Nyonya Wijaya sinis.
Telinga Anggi memerah mendengar hinaan ini karena ia juga dari keluarga broken home.
"Maaf Nyonya Wijaya yang terhormat. Jaga bicara nyonya. Tidak semua anak dari keluarga broken home memiliki kepribadian dan perangai yang buruk. Kenapa Anda malah menghina dan menyudutkannya. Apa anda pikir mudah menjalani hidup tanpa orang tua yang lengkap? Apa anda pikir kami mau hidup seperti itu? Kalau boleh memilih..kami juga ingin keluarga yang utuh. Kasih sayang yang utuh. Tapi kami bisa apa? Ada yang lebih kuasa akan nasib dan hidup kami daripada kami sendiri. Tapi kalau saya jadi anak dan disuruh memilih. Saya lebih memilih tidak punya ibu jika harus punya ibu tapi memiliki watak dan perilaku semacam anda." Anggi sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Bu Anggi....jaga kata kata Anda!" tegur Bu Eta. Namun dalam hati Bu Eta tersenyum juga.Karena Bu Eta juga tidak suka pada Nyonya Wijaya yang arogan dan suka seenaknya pada guru guru di sekolah ini.
" Kau..berani bicara begitu padaku. Kau tidak tahu siapa aku ha? Tidak tahukah kau..akulah yang menggajimu, jadi jangan macam macam denganku!"
"Maaf..mungkin Anda donatur sekolah ini. Tapi donatur disini bukan cuma Anda. Dan saya yakin ada donatur lain yang lebih berjasa pada sekolah ini tapi tidak sesombong Anda."
"Kau..!" Nyonya Wijaya menunjuk muka Anggi.
Anggi mengangkat kepalanya menatap tajam Nyonya Wijaya.
" Masalah ini belum selesai. Tunggu saja. Ayo Nino pulang sama mama." Nyonya Wijaya berlalu sambil menarik paksa anaknya keluar dari ruang kepala sekolah.
Bintang menatap Anggi. Ia kagun. Selama ini tidak ada guru yang secara terang terangan membelanya segigih Anggi. Tiba tiba ia merasakan kehangatan dalam hatinya. Rasa hangat karena sikap Anggi.
mngkin Amelia anak temannya mama senja