kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memulai hal baru
Matahari baru saja mengintip malu-malu di ufuk timur, menyisakan embun pagi yang menempel di daun-daun jendela rumah Seraphina.
Namun bagi gadis itu, pagi ini tak sehangat biasanya. Di ruang tengah, kardus-kardus berjejer rapi, sebagian sudah tertutup lakban, menyimpan potongan-potongan masa lalu yang ingin mereka tinggalkan.
Seraphina berdiri di sudut ruangan, jemarinya menyentuh bingkai foto yang terakhir kali ia ambil, foto dirinya bersama Ayah, tersenyum lebar di hari kelulusan SMA.
Matanya berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena kesedihan yang meremukkan, melainkan karena keteguhan yang perlahan tumbuh di dada.
Pintu ruang tengah terbuka pelan. Ayahnya, pak Herman masuk sambil membawa dua kotak lagi.
Pria paruh baya itu menatap putri tunggalnya dengan penuh kasih sayang, namun di balik tatapan itu tersembunyi rasa bersalah yang mendalam, rasa bersalah karena membiarkan putrinya menikah terlalu muda, membiarkan perjodohan itu terjadi, dan membiarkannya masuk kedalam kehidupan laki-laki yang bahkan tak pernah menghargai keberadaannya.
"Sudah siap, Nak?" suaranya lembut, namun terdengar mantap.
Seraphina mengangguk pelan, meletakkan foto itu ke dalam kotak paling atas. "Siap, Yah."
Pak Herman melangkah mendekat, meletakkan tangan di bahu putrinya. "Kau yakin? Ini berarti jauh dari semua yang biasa kau kenal. Kota baru, tempat baru... tak ada satu pun kenangan tentang mereka di sana."
"Itulah tujuannya, Yah." Seraphina tersenyum tipis, namun matanya berbinar tegas. "Aku tidak ingin setiap hari melihat jalanan, taman, gedung yang selalu mengingatkanku pada Dikta, pada keluarga Ibrahim, pada dua tahun yang kulewati sebagai bayang-bayang. Aku ingin hidupku kembali menjadi milikku sendiri. Aku ingin melanjutkan studiku, membangun mimpiku yang sempat tertunda. Dan untuk itu... aku harus pergi dari sini."
Ayahnya menghela napas panjang, lalu mengusap puncak kepala putrinya. "Ayah mengerti. Seharusnya sejak lama Ayah membawamu pergi. Membiarkanmu bertahan di sini sendirian, di tengah pandangan miring dan bisik-bisik yang menyakitkan... itu adalah kesalahan terbesar Ayah."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Yah. Aku juga memilih bertahan, karena aku percaya cinta bisa mengubah segalanya. Ternyata... cintaku tak bisa merebut hatinya dari hati perempuan lain yang lebih dulu mengenalnya." Seraphina menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali. "Tapi sekarang aku tahu. Kebahagiaanku tak boleh bergantung pada orang lain. Aku akan bangkit, untuk diriku sendiri, dan untuk Ayah."
Keputusan itu mereka ambil semalam, di meja makan yang sepi. Setelah berita tentang putusnya hubungan Dikta dan Delara akibat sebuah kebohongan yang di kabari oleh Adel, mantan adik iparnya.
Seraphina justru semakin yakin tak ingin menjadi bagian dari drama itu, apalagi menjadi orang yang ditunggu-tunggu untuk kembali. Penyesalan Dikta adalah urusan Dikta.
Seraphina punya jalan sendiri yang harus ditempuh.
Mereka memilih kota yang berjarak ratusan kilometer dari Jakarta Selatan. Sebuah kota kecil yang tenang, dikelilingi perbukitan hijau, jauh dari hiruk-pikuk bisnis dan lingkaran pergaulan keluarga Ibrahim.
Di sana tak ada yang mengenal nama Seraphina Anastasya, tak ada yang tahu ia pernah menjadi istri Dikta Rey Ibrahim, tak ada yang akan menatapnya dengan rasa iba atau rasa ingin tahu yang menyakitkan.
Di sana, ia hanyalah Seraphina, gadis yang ingin menyelesaikan kuliahnya, merajut mimpinya, dan hidup tenang.
Matahari semakin naik, menyinari ruangan yang hampir kosong. Seraphina melangkah ke jendela, menatap rumah-rumah di sepanjang jalan yang selama ini menjadi saksi suka dan dukanya.
"Selamat tinggal, Dikta. Selamat tinggal, masa lalu"
"Kita berangkat, Yah," ucapnya berbalik, senyumnya kini lebih tulus, lebih ringan.
Ayahnya tersenyum bangga.
Bersamaan dengan itu, pintu tertutup untuk terakhir kalinya di belakang mereka.
Bukan sebagai tanda berakhirnya kisah, melainkan sebagai gerbang menuju babak baru yang penuh harapan.
Musik mengalun dari headset yang sedang di pakai oleh Sera.
Lagu yang sering dia putar beberapa hari ini memiliki syair yang begitu mengena dalam kisah hidupnya saat ini.
...Selepas denganmu...
...Aku belajar memaafkan...
...Bukan untukmu semata...
...Tapi untuk diriku yang terlalu berharap...
...Selepas denganmu...
...Aku berjalan lebih pelan...
...Menata ulang mimpi-mimpi...
...Yang sempat runtuh bersamaan dengan kepergianmu...
...Jika suatu hari kita berpapasan...
...Di jalan yang tak lagi sama...
...Aku tersenyum...
...Bukan karena masih ada rasa...
...Tapi karena kini aku telah bisa...
...Melihatmu sebagai bagian dari masa...
...Yang mengajarkanku untuk pulang...
...Kepada diriku sendiri...
...Selepas denganmu...
...Aku akhirnya pulang...
...Kepada diriku sendiri...
...Kepada damai yang lama ku cari...
... Selepas Denganmu — Arrafif...
Sera tersenyum tipis, seolah lirik itu terdengar sedang menyindir dirinya.
Mobil melaju membelah jalanan kota yang perlahan menjauh. Seraphina menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang berubah, dari gedung-gedung tinggi menjadi hamparan hijau yang membentang luas. Angin sejuk menyapa wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan itu, ia menarik napas panjang, merasakan udara yang bersih, bebas, dan penuh harapan.
Ia tak tahu apa yang menanti di tempat baru. Namun ia tahu satu hal, ia tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang siapa pun. Ia berjalan di atas jalannya sendiri, menuju cakrawala yang cerah, ditemani orang yang paling menyayanginya tanpa syarat, ayahnya.
Dan di sanalah, di tanah yang baru, Seraphina berjanji pada dirinya sendiri, Aku akan hidup. Bukan untuk membuktikan pada siapa pun, tapi untuk memenuhi janji pada diriku sendiri yang dulu sempat kutinggalkan.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪