NovelToon NovelToon
MY COOL HUSBAND

MY COOL HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:11.2M
Nilai: 5
Nama Author: Dina Melya

Zanna Kemal lebih memilih tinggal seorang diri setelah ayahnya meninggal dunia dari pada tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, hidup dengan sederhana menjadi seorang perawat di rumah sakit swasta di kota Praha. Anna begitu ia disapa suatu hari terpilih menjadi perawat untuk merawat anak sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja yang bernama Kerem Abraham, ia sudah terbaring koma selama dua belas tahun akibat kecelakaan yang dialaminya.

Setelah beberapa bulan merawat Kerem, pria itu pun akhirnya sadar dari komanya, tapi sejak Kerem sadar mereka tidak pernah bertemu lagi.

Bagaimana kisah pertemuan mereka kembali sehingga keduanya terikat dalam sebuah pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesialan Anna

Anna duduk sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran tempat tidurnya sambil menyuapi makanannya, Elif yang menungguinya memperhatikan wajah Anna yang masih pucat, hampir satu jam ia tidak sadarkan diri membuatnya sangat kwatir.

“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan mati sekarang,” ucapnya masih mencoba bercanda melihat Elif yang begitu serius menatapnya.

“Kau ini masih bisanya bicara seperti itu, pada hal aku sangat mengawatirkanmu,” ucapnya berdecak kesal.

“Aku baik-baik saja Elif, “ tegasnya lagi meyakinkan sahabatnya itu.

“Iya, aku percaya,” sahutnya pelan sambil menarik napas panjang.

“Eh…aku penasaran kenapa kamu bisa satu lift dengan tuan direktur,” tanyannya menatap Anna yang sedang mengunyah makananya.

“Aku masuk lift tanpa melihat sekelilingku karena sibuk dengan ponselku, jika tau dia akan masuk lift yang sama denganku mana mau aku ikut bersamanya.”

“Aku selalu saja ditimpah sial bila bertemu dengannya,” Anna berdecak kesal.

“Maksudmu,” Tanya Elif mengernyitkan keningnya tak paham apa maksud Anna.

Anna menceritkan semuanya kepada Elif membuat mata biru Elif membulat sempurna mendengara penuturan Anna.

“Mana mungkin kalian bisa sampai tiga kali bertemu kebetulan seperti itu, aku saja satu kali pun tidak pernah,” ujarnya menatap lekat netra hitam Anna.

“Aku tidak mau bertemu dengannya lagi karena dia membawa sial dalam hidup….

Anna tak melanjutkan perkataannya saat melihat siapa yang sedang berdiri didepan pintu, ia menelan ludahnya matanya yang bulat semakin melebar, melihat Anna terdiam mematung membuat Elif memalingkan wajahnya mengikuti arah tatapan Anna. Ia segera bangkit dari duduknya dan menundukan sedikit kepalanya saat

melihat Kerem kehadiran disana, ia melirik sekilas pada Anna lalu melangkah pergi

meninggalkan mereka berdua.

“Kenapa tidak kau lanjutkan,” tanyannya menatap Anna tajam. Anna hanya diam tak berani membalasnya.

“Aku malah berpikir sebaliknya kau yang membawa sialuntukku.” Kerem berkata berjalan mendekat ke tempat tidur Anna.

“Enak saja anda bicaranya malah menuduh saya, jika tuan tak ikut masuk pasti liftnya

tidak akan rusak,” balas Anna ketus.

“Siapa yang menabrakku saat itu, Haaa….”

“Jika waktu itu aku tidak menolongmu mungkin sekarang kau sudah tidak menjadi penghuni dunia ini lagi,” balas Kerem tak kalah sinis.

“Seharusnya kau berterima kasih padaku, sudah dua kali kau berutang nyawa padaku, dan suatu saat aku akan menagihnya padamu,” ucapnya tersenyum mengangkat satu sudut bibirnya.

“Kalau tau seperti itu lebih baik kau tidak usah menolongku, biarkan saja aku mati, ” dengusnya sambil mengepalkan tangannya menahan rasa kesal dan marah, Anna seakan tidak peduli dengan siapa dirinya bertengkar

sekarang.

“Sudah terlambat Nona kau sudah terlanjur berutang padaku."

Selesai bicara ia pun berbalik meninggalkan Anna dengan senyum tipis dibibirnya, Kerem merasa sangat puas karena berhasil memojokkan wanita itu yang seenaknya menuduhnya pembawa sial.

“Pria menyebalkan….”makinya setelah Kerem tak lagi disana, jika dia bukan pemilik rumah sakit ini , ingin rasanya ia menyumpal mulutnya yang pedas itu.

******

Satu minggu kemudian,

Sejak kejadian satu minggu yang lalu di lift Anna tak mau lagi disuruh untuk mengantarkan apa pun ke lantai  tujuh karena ia tidak ingin bertemu dengan Kerem, mereka masih sempat bertemu beberapa kali di lobi tapi ia langsung menghindar tak mau dekat-dekat dengannya.

Sore yang cerah saat Anna mengintip dari balik jendela kamarnya,  ia baru saja terbangun setelah menyambung tidurnya kembali selesai sholat zuhur, matanya yang sangat mengantuk setelah dapat giliran shift malam.

“Sudah lama sekali aku tidak joging, baiklah aku sholat ashar dulu setelah ini kita joging.”ia telihat begitu semangat.

Anna pun beranjak ke kamar mandi untuk berwuduk dan setelah itu ia pun sholat ashar, selesai sholat Anna pun mengganti pakaiannya dengan pakaian olah raga, setelah itu ia pun berangkat. Anna sengaja mencari jalan yang tidak terlalu ramai, ia berencana joging taman yang ada di pinggir kota yang tidak terlalu jauh dari tempatnya, dan suasana yang sepi dan asik untuk jogging dan bersantai.

Setelah kurang lebih satu jam berlari ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah di bangku taman, menyandarkan tubuhnya disana menyapu keringatnya yang mengalir di keningnya dengan punggung tangannya, ia menelan ludahnya merasakan tenggorakannya sangat kering karena kehausan. Karena   tubuhnya yang masih sangat lelah ia memilih beristirahat sejenak sebelum membeli air mineral di mini market yang ada di sekitar taman.

Setelah cukup mengistirahatkan tubuhnya ia pun mencari mini market terdekat  dan tak butuh lama ia pun menemukannya, setelah membayar satu botol air mineral ia meneguk minumanya hingga menyisahkan setengahnya saja, ia pun keluar dari mini market baru ia keluar dari sana ponselnya berdering, Anna pun segera mengambil ponselnya yang ia simpan disaku hoodienya, barus saja ia akan mengangkat ponselnya entah dari mana datangnya seseorang merampas ponselnya dengan sangat cepat.

“Pencuri,” teriak Anna keras, ia pun berlari mengejar pencuri itu sambil terus berteriak, tapi sialnya  disekitarnya yang sepi sehingga tidak ada yang mendengarkan  teriakannya. Anna terus mengejarnya tidak peduli pencuri itu sudah jauh darinya.

Anna berkacak pinggang sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena kelelahan, ia tidak melihat kemana perginya mencuri itu, ia berteriak kesal sambil menghentakkan kakinya ponsel satu-satunya yang ia miliki telah raib.

“Sial,” teriaknya menendang batu yang cukup besar di depannya sehingga membuatnya terpekik menahan sakit di kakinya.

Prang....!

Anna  sangat terkejut mendengar suara seperti kaca pecah, ia berhenti mengusap kakinya yang masih sakit , ia pun bangkit berjalan sedikit terpincang menahan sakit pada kakinya, jantungnya berdegup kencang menuju asal suara tadi ia menerka-nerka apakah batu yang ia tendang tadi melesat ke tempat yang tidak semestinya.

Baru saja berjalan beberapa langkah ia melihat sebuah mobil yang terparkir di pinggir di jalan dengan kondisi  kaca depannya retak. Anna menelan ludahnya lalu  mengedarkan pandangannya sekelilingnya, melihat tempat itu sepi dan ia yakin tidak ada yang melihat aksinya tadi, Anna mengerjapkan matanya beberapa kali seperti mengenal mobil yang rusak itu. Wajahnya semakin pucat dan dengan cepat memutar tubuhnya berlari secepat mungkin dari sana rasa lelahnya menguap begitu saja karena rasa takut dalam

dirinya.

Sampai di rumah jantung Anna masih berpacu dengan sangat cepat, ia membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lemas diatas sofa.

“Kenapa hari ini aku sial sekali,” teriaknya

menghentak-hentakkan  kakinya mengutuk

kesialannya.

“Sudah ponselku di curi dan kenapa kaki ini kegatalan pakai menendang batu segala.” Ia memukul kakinya tapi setelahnya ia meringis menahn sakit, ia pun membuka kaos kakinya dan melihat  punggung kakinya membiru. Sungguh kasihan sekali nasip Anna sudah jatuh tertimpah tangga lagi.

“Apakah itu benar mobilnya tapi yang punya mobil seperti itu kan bukan dia saja, tapi jika itu memang mobilnya kenapa bisa kebetulan seperti itu.

"Aduuh Anna sial sekali hidupmu ini” lirih Anna meremas jari tangannya merasa cemas dan ketakutan.

“ Tapi tadi disana sangat sepi dan tidak ada yang melihatku jadi tidak ada yang tau kalau aku sudah merusak kaca mobil itu.”

“Ya Allah selamatkanlah hambamu ini…”

Anna menyandarkan tubuhnya yang lemas di sandaran sofa dengan wajah terlihat sangat menyedihkan sekali, ia memukul-mukulkan kedua tanganya ke sisi sofa melepaskan rasa kesalnya.

.

.

.

.

Bersambung

Selamat membaca semoga readers menyukainya.

Jangan lupa tinggal kan jejak dengan memberi like ya🙏🙏

1
Lyana
Oalah jadi emaknya si Anna ini jalang bin pelacur toh
tinuet'z
sangat bagus
Atze Atze
begoooo Banget si kerem...tau Monika itu orang jahat... masih saja percaya kata kata wanita itu...
Atze Atze
biar modar saja itu..si goblok kerem..
Atze Atze
aku heran Thor...masa orang tua karem.. tidak mengenal Anna yang pernah merawat anaknya...
Atze Atze
bunuh saja tu si Elif...
Atze Atze
bunuh saja...si anjing Elif. Ana..
ana jangan pernah percaya sama temen dekat...
Atze Atze
begoooo si Anna.... mending tidak usah punya teman.. kalau gue..
rahayu
ceritanya gantung
dadah mahmudah
kapan lanjutan nya ka.
Boby
kapan dilanjutkan Thor
dadah mahmudah
lanjut ka...jangan lama"...
Aqilla adzkia
kpn lanjut Thor yuk aj trsin crritanya
Quinza Azalea
bagus
Quinza Azalea
lanjut thor
Eli kurnaeli Eliii
gemezz deh
Rina Maya
ceritanya menarik n seru
Endah Lestary
sepertinya keyboardnya bermasalah ini mah...H nya mengganggu melulu
Syafa_Natasya H.1502000
Luar biasa
pipi gemoy
next Thor 🙏🏼☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!