Retno punya semua yang diinginkan oleh gadis seusianya, kedua orang tua sempurna, harta dan kehormatan. Hidupnya sangat bahagia dan disiplin, ayah bilang disiplin membedakan manusia dengan binatang. Sejak kelas dua sekolah dasar saat bangun tidur Retno tidak boleh keluar dari kamarnya sebelum membereskan tempat tidurnya, kelas tiga ayah memeriksa kerapihan tempat tidurnya.
"Kerapihan tempat tidur akan mengubah duniamu dan menentukan siapa dirimu" pesan ayah selalu.
Saat kedua orang tuanya meninggal Retno tak tahu apa yang harus dilakukan sampai dirinya bertemu dengan Keanu Hartono
"Retno....maukah kau ikut denganku.?" Keanu menghembuskan nafas panjang, antara yakin dan tidak dengan ucapannya namun kata ajakan itu sudah meluncur dari bibirnya.
Retno menatap wajah didepannya, tak ada senyum disana kecuali sepasang mata yang menatapnya serius. Retno menimbang kesungguhan dalam tatapan itu, Retno hanya bertemu Keanu beberapa kali itupun tanpa komunikasi karena biasanya ia datang menemui ayah. Retno hanya tersenyum dan mengangguk jika bertemu sebagai tanda penghormatan pada tamu ayahnya. Sekarang laki-kaki ini mengajaknya tinggal dirumahnya.
Keanu Hartono adalah seorang CEO NSP Bank yang terpaksa turun lapangan untuk mengatasi Kredit Macet seorang pengusaha daerah yang telah meninggal dunia bernama Bintoro Aldi ayah Retno. Keanu tahu betul apa yang terjadi dengan keluarga tersebut termasuk menyaksikan bagaimana ekonomi keluarga tersebut pelan-pelan hancur. Keanu juga menjadi saksi gadis yang dulunya ceria itu pelan-pelan kehilangan senyumnya. Gadis ABG yang membuat dunianya jungkir balik!
Bagaimana nasib membawa Retno dan adiknya, ikuti kisah ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part-12 Zermatt
Zermatt adalah desa kecil di atas Pegunungan Alpen yang berdekatan dengan Italia, tempat favorit mereka ber-ski saat musim dingin. Zermatt is a special place! Desa ini terletak di kaki Gunung Matterhoorn yang terkenal di kalangan turis untuk olahraga ski. Tempatnya sangat bersih dan hampir tidak ada polusi. Bagaimana tidak, di desa ini penduduknya tidak boleh mempunyai mobil pribadi, kecuali para pemilik toko. Mobil yang ada pun berukuran kecil bermesin elektrik karena semua tempat sebetulnya bisa diakses dengan berjalan kaki ataupun sepeda. Sejak Keanu pergi ke Swiss Retno selalu membayangkan tentang negara ini, gambaran Pegunungan Alpen yang diselimuti salju dan areal pertanian berumput hijau serta sapi-sapinya yang memiliki lonceng dileher membuat pagi di Swiss begitu alami. Hari ini Swiss bukan lagi imajinasi tapi telah menjadi kenyataan, kadang Retno masih mencubit kulitnya sendiri ingin membuktikan ia ada didunia nyata bukan sedang bermimpi!
Retno melihat Keanu bermain ski, tubuhnya meluncur dari ketinggian pegunungan Alpen seperti bayangan yang melesat diantara salju yang bertabur seperti gerimis. Olah raga ski sudah dijalani Keanu sejak kecil, olah raga mahal hanya untuk orang-orang berkantong tebal.
Retno dan Keanu makan malam berdua, Aldi sudah tidur dari sore mungkin kecapean setelah seharian melakukan petualangan, berlatih bermain ski di di Gornergrat, area ski yang menjadi satu dengan stasiun sekaligus mengunjungi kompleks hotel di puncak Gornergrat. Di Zermatt ada 4 area yang didedikasikan untuk ski, Sunnegga, Gornergrat, Klein Matterhorn, dan Schwarzsee. Bagi yang belum pernah mendengar Zermatt, pasti akan kenal cokelat Toblerone. Gambar yang ada di kemasan cokelat sebetulnya adalah Gunung Matterhoorn sementara gambar beruang di sampingnya adalah coat of army Bern, kota dimana produk tersebut berasal. Retno sebetulnya juga capek tapi ketika Keanu mengajaknya makan malam ia tak bisa menolak. Retno sudah lupa bagaimana caranya menolak sementars isi hatinya yang lain selalu ingin bersama Keanu.
"Besok malam kalian sudah pulang ke Indonesia..." Keanu menghembuskan nafas panjang.
"Ya Kakak" Retno bingung harus menjawab apa.
"Aku akan kehilangan kalian.."
"Kakak harus sering undang teman-teman Kakak ke Penthouse supaya tidak sepi."
"Itu beda Retno" Keanu malah tersenyum kecil.
"Kenapa Kak, ada yang lucu?" Retno takut salah bicara.
"Tidak, kepolosanmu membuat orang yang bersamamu merasa menjadi orang yang beruntung didunia ini."
"Aku malu, harusnya bisa lebih dewasa...."
"Tidak Retno, jadilah dirimu sendiri. Kamu sudah dewasa untuk hal lain..."
Setelah itu keduanya diam, tak tahu harus mengatakan apa. Retno hanya memainkan ujung kuku jarinya, gugup. Didepan Keanu ia hanya seperti Cinderela dihadapan seorang pangeran meski selama ini Keanu memperlakukannya dengan baik. Untuk setara dengan Keanu mungkin Retno harus menunggu waktu 5 sd 10 tahun lagi. Lulus kuliah, bekerja dan menjadi orang yang sukses sama seperti Keanu agar jarak diantara keduanya tidak terlalu jauh tapi mungkin akan menghabiskan usaha seumur hidup untuk menyamainya.
"Apa yang kamu pikirkan Retno?" Keanu menatapnya.
"Memikirkan Kakak....ups...." Retno reflek menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Apa...?" Keanu menahan senyumnya, ia mencari cara supaya Retno tidak malu.
"Maaf...Kakak...aku..mmm.." Retno kebingungan.
"Aku senang ternyata ada yang memikirkanku" Keanu menatap penuh arti.
"Kakak...maksudku.." hati Retno tambah kacau, sebaiknya dia diam saja semakin bicara semakin menunjukkan kegugupannya.
"Tidak apa-apa Retno. Sudah, gak usah dipikirkan. Bagaimana menurutmu Andre...?" Keanu mengalihkan topik agar Retno tidak gugup.
"Baik."
"Bagaimana dengan teman-temannya?"
"Teman-temannya juga baik kecuali Sean, kata Andre dia berubah banyak selama dua tahun tak bertemu."
"Bagaimana jika tahun depan kamu dan Aldi sekolah di Swiss..?"
"Tidak Kak, kasihan Nenek."
"Kasihan pada Nenek apa karena takut padaku..?" Keanu menggodanya.
"Dua-duanya" Retno tak punya jawaban lain.
"Apa menurutmu aku mahluk yang menakutkan?"
"Tidak, aku hanya bercanda. Aku tahu Kakak akan selalu menjagaku..."
Keanu memperlakukannya dengan baik. Dia begitu tampan, bersih dan sukses. Laki-laki idaman wanita, kelembutan dan ketegasan ada padanya. Seorang peminpin handal perusahaannya, laki-laki yang sukses namun Retno hanya seorang gadis kelas tiga SMA rasanya tak pantas untuk membangun rasa bersamanya.
"Terima kasih sudah mempercayaiku" Keanu mempermainkan garpu dipiringnya, hatinya galau antara memenangkan hasrat atau mengendalikannya. Retno begitu muda, polos dan ada dalam genggamannya.
Keanu menghembuskan nafas panjang, dadanya terasa sesak oleh hasrat yang hampir tak mampu dikendalikan lagi.
"Tidak, aku tidak boleh menyentuhnya. Dia tidak seperti Moniqa, Bella atau yang lainnya. Retno adalah gadis dalam perlindunganku, aku harus menjaganya sampai saat itu tiba, saat dia rela menyerahkan dirinya dalam sebuah pernikahan sakral. Tapi sampai kapan...? Masih lima tahun lagi, apakah aku sanggup menunggunya hingga dewasa? Atau sekarang saja kulamar terus kunikahi setelah ia lulus SMA. Mungkin Retno mau, aku bisa melihat pendar dimatanya sama dengan yang kumiliki tapi itu tak adil untuknya. Retno masih terlalu muda, belum genap 20 tahun aku tak mau merenggut masa remajanya, biarlah Retno menikmati apa yang seharusnya dia dapatkan" Laki-laki tidak akan melanggar janjinya sendiri, Keanu sibuk berdebat dengan dirinya sendiri.
"Kakak melamun..." Retno mengibaskan sebelah tangannya kewajah Keanu untuk menyadarkannya.
"Kakak...." Retno mengulang gerakan tangannya sambil menahan senyumnya.
"Maaf...aku sedang berpikir..." Keanu tergagap.
"Tentang...?" Retno menaikan sebelah alisnya.
"Nanti kuberi tahu, saat usiamu 23 tahun" Keanu tersenyum penuh misteri.
"Masih lima tahun lagi Kakak, lama sekali. Sekarang saja" Retno terlihat tak sabar.
"Ternyata kamu gak sabaran ya...?" Keanu tergelak melihat alis Retno yang naik sebelah.
Retno grogi, tanpa sadar meraih gelas diatas meja dan meminum airnya sampai habis.
"Retno itu tadi gelas aku dan kamu meminum air digelas itu sampai habis" Keanu tergelak.
"Apa...?" muka Retno memerah karena malu.
"Tidak apa-apa, aku senang kok berarti...bibir kita bertemu dalam gelas itu..." Keanu tergelak lagi sampai bahunya terguncang.
"Kakak....jangan nakal ya.." Retno bertambah malu, ia sudah minum dari gelas bekas bibir Keanu yang menempel disana.
Jika ada dokter yang sanggup mencuci otaknya Retno ingin datang segera, agar bisa membersihkan dan memformat kembali otaknya ke awal sebelum bertemu dengan Keanu!
...
Zurich airport, Retno dan Aldi menikmati roti perancis di cafe bandara sebelum check-in. Keanu berbicara serius lewat ponselnya, dalam jarak dekat Retno memperhatikan Keanu lebih cermat. Dari caranya berpakaian, berjalan dan tersenyum menunjukkan dia bukan laki-laki biasa. Apalagi jika sedang menatap, Retno seperti terhipnotis oleh medan magnet yang siap menenggelamkannya. Kakak cerdas dan mampu mengendalikan orang sekitarnya. Berkuasa tampa kehilangan wibawa dan sisi ramahnya. Jika mengikuti perasaannya Retno pasti sudah menerima tawaran Keanu untuk kuliah di Swiss enam bulan lagi tapi laki-laki dan perempuan bahaya tinggal satu rumah dalam waktu yang lama meski disana juga ada Aldi. Retno masih waras untuk mengerti bahwa ia harus tetap menjaga diri dan kehormatannya.
"Jaga dirimu dan Aldi" ketiganya berjalan menuju pintu masuk, sebelum memasuki areal pembatas Keanu memegang tangan Retno dan mencium pucuk kepalanya.
"Ya Kakak, terima kasih sudah mengajak liburan di Swiss" Retno terharu sementara Aldi tak mau melepaskan pelukannya pada Keanu.
"Hai jagoan, nanti kita ketemu lagi" Keanu membungkukkan badannya, mengesat air mata Aldi dengan sapu tangannya. Retno terpana, laki-laki yang begitu gagah dan berwibawa tapi hatinya begitu lembut terhadap anak kecil.
Ketika mau memasuki pintu detektor Retno berbalik dan melambai pada Keanu begitupun Aldi. Keanu menatap tersenyum dan sepasang mata coklatnya mengantarkannya hingga hilang ditelan barisan orang yang check-in.
Zurich adalah kota yang sangat nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Kendaraan umumnya nyaman dan aman, warga kota yang ramah, air minum gratis tersedia di banyak tempat bagi mereka yang kehausan, toilet umum yang bersih dan gratis pun gampang ditemukan. Benar-benar kota yang nyaman bagi semua orang. Kini Retno tahu, Swiss indah bukan karena ada sungai rheinnya atau danau Zurich yang membiru, bukan pula karena pegunungan Alpen yang diselimuti salju tapi karena ada dia disini, laki-laki yang perduli dan sangat melindunginya. Saat tertentu Retno menginginkan lebih dari sekedar tatapan dari Keanu tapi itu sungguh tidak pantas. Retno seorang muslimah, romantisme hanya dikenal saat pernikahan.
....
Assalamualaikum
Vote & Comment agar ceria terbangun sempurna
Terima kasih atensinya
Salam
Semoga bisa diterima 🤭