"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Demi Kebaikanmu
Malam harinya, Zahra terlihat begitu lelah karena gaunnya yang tidaklah ringan, di tambah seharian harus tersenyum dan menyambut tamu-tamu yang hadir di pernikahan mereka. Zahra merebahkan tubuhnya yang masih terbalut gaun pengantin di atas kasur menunggu Rafif yang masih membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
Rafif baru saja selesai mandi dan sudah memakai pakaian tidurnya dengan lengkap di dalam kamar mandi tadi, ia segera keluar dan mendapati Zahra sudah tertidur dengan lelapnya di atas tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. Terlihat jelas bahwa gadis itu sangat kelelahan membuat Rafif tidak tega membangunkannya, tetapi mau tidak mau tetap ia tetap harus membangunkan gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu untuk membersihkan dirinya dan mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih nyaman
"Zahra.. Zahra bangunlah dan ganti dulu pakaianmu" Rafif menggoyangkan pelan bahu Zahra agar terbangun dan tentu saja bisa membuat istrinya itu bangun
Zahra mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu kamarnya, ia di buat terkejut saat melihat Rafif ada di dalam kamarnya karena melupakan fakta bahwa ia baru saja resmi menjadi istri dari Rafif
"Hey..apa-apaan ini. Kenapa kau ada di kamarku kak?" tanyanya dengan suara yang di tinggikan, hampir seperti teriakan membuat Rafif hampir tertawa melihat wajahnya yang terkejut
"Kau ini bagaimana. Lihatlah apa yang kau kenakan saat tidur tadi" ucap Rafif tersenyum, Zahra kemudian mengamati gaun pengantin yang masih melekat dengan sempurna di badannya lalu kemudian beralih menatap Rafif yang masih melihatnya
"Kita baru saja melaksakan pernikahan pagi tadi, jadi kalau tidak disini aku harus berada dimana?" tanya Rafif meledek Zahra merasa gemas dengan tingkahnya
"Ohiya, aku lupa" ucap Zahra menggaruk kecil kepalanya yang masih terbalut hijab, sedikit malu dengan tingkahnya tadi
"Mandi dan gantilah pakaianmu lalu kembali tidur" perintah Rafif yang membuatnya kembali tersadarkan akan sesuatu
"Kau akan tidur disini?" tanyanya sedikit terkejut menyadari fakta bahwa setelah menikah ia harus berbagi kamar dengan suaminya
"Lalu aku harus tidur dimana?" ucap Rafif bertanya balik pada Zahra
Zahra pun kebingungan menjawab pertanyaan Rafif, menyuruhnya tidur di kamar tamu sebelah kamarnya hanya akan mengundang kecurigaan pada kedua orangtuanya. Bukannya menjawab pertanyaan Rafif, Zahra malah segera beranjak dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi
***
Setelah cukup lama berada di kamar mandi, Zahra lalu keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang sama seperti pakaian tidur yang di kenakan oleh Rafif. Tidak lupa, Zahra juga menutup kepalanya yang masih basah dengan hijab instan yang di ambilnya di lemari tadi sebelum masuk ke dalam kamar mandi
"Sudah selesai?" tanya Rafif yang sedang berselonjor di atas tempat tidur Zahra sembari memainkan ponselnya, "Kau mau kemana?" tanyanya lagi setelah melihat Zahra yang masih mengenakan hijabnya
"Aku mau tidur, Kenapa kau ada di atas tempat tidurku?" jawab Zahra merasa gugup melihat Rafif tidur di kasurnya
"Lalu aku harus tidur dimana Zahra? dan lagi kenapa kau memakai hijab jika ingin tidur?"
"Karena kau ada di sini, mana mungkin aku memperlihatkan rambutku padamu" serunya dengan kesal karena tidak bisa menahan degupan jantungnya
"Kita ini sudah sah menjadi suami istri, tidak ada masalah jika aku melihat auratmu" ucap Rafif dengan santainya
"Aku tidak mau, aku tidak terbiasa. Turunlah dari tempat tidurku, aku ingin tidur" serunya makin kesal
"Buka saja hijabmu, rambut mu masih basah Zahra. Nanti kepalamu pusing" perintah Rafif merasa khawatir pada gadis yang baru saja menjadi istrinya itu
"Aku tidak mau kak Rafif, sekarang turunlah dari tempat tidurku" Zahra lalu menghampiri Rafif dan menarik tangannya agar segera turun dari tempat tidurnya
"Aku tidur dimana kalau begitu?" tanya Rafif merasa sedikit kesal dengan Zahra
"Tidurlah di sofa itu" jawab Zahra menunjuk sofa panjang yang ada di dalam kamarnya
"Dasar kau ini" dengus Rafif dan beranjak turun dari tempat tidur "Baiklah, aku akan tidur di sofa tapi kau buka saja hijabmu. Nanti kepala mu sakit jika tidur dengan kepala basah dan terbungkus hijab seperti itu"
"Aku tidak mau" tegas Zahra tetap pada pendiriannya
"Ya sudah, tidurlah di kasur bersamaku atau kau bisa tidur di sofa itu" ancam Rafif yang kembali duduk di tepi tempat tidur membuat Zahra bertambah gugup mendengar ancamannya itu
"Ya sudah, biar ku buka hijabku" mau tidak mau Zahra segera melepas hijabnya dan memperlihatkan rambutnya yang panjang pada Rafif, orang pertama yang melihat rambutnya itu setelah kedua orangtuanya dan mukhrim Zahra yang lainnya
"Puas?" seru Zahra ketika ia membuka hijabnya, mata Rafif tidak berkedip menatap Zahra saat ini. Baru pertama kali ia melihat Zahra dari jarak yang sedekat ini dan tanpa hijab yang menutupi kepalanya
"Itu semua demi kebaikanmu, tidurlah" ucapnya memegang pelan kepala Zahra setelah sekian lama terdiam, lalu beranjak menuju ke sofa yang di tunjuk Zahra tadi
"Dia begitu cantik malam ini, tahanlah Rafif" batinnya berusaha menahan gejolak di dalam dirinya, bagaimanapun Rafif tetaplah seorang pria yang memiliki hasrat pada lawan jenisnya
Dengan segala perdebatan yang cukup lama terjadi di antara Rafif dan Zahra, akhirnya sepasang suami istri itu kini terlelap di tempatnya masing-masing. Dengan susah payah Rafif mencari posisi terbaik untuk tidur di sofa yang sama sekali tidak sepanjang ukuran badannya, tapi karena rasa lelahnya ia tetap terlelap walau dalam posisi yang tidak nyaman
***
Saat menjelang subuh, Rafif bangun terlebih dahulu saat mendengar adzan subuh di kumandangkan di masjid dekat rumah Zahra. Ia melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku karena kelelahan di tambah dengan tempat tidurnya yang sama sekali tidak nyaman untuknya. Rafif segera menghampiri Zahra yang masih tertidur dengan lelapnya di tempat tidur
"Zahra, bangunlah. Sudah waktunya sholat subuh" panggilnya berusaha membangunkan istrinya itu untuk sholat subuh bersama. Zahra mula mengerjapkan matanya dan berusaha menghilangkan rasa terkejutnya melihat Rafif lagi seperti semalam setelah menyadari mereka sudah menikah kemarin
"Iya.. iya, Zahra bangun" jawabnya dengan suara parau khas seseorang yang baru saja bangun tidur
"Tidak terkejut lagi?" ledek Rafif yang di hadiahi cebikan bibir oleh Zahra
"Mau sholat subuh di masjid?" tanyanya tidak menghiraukan pertanyaan Rafif
"Tidak, kita sholat subuh di sini saja berdua" jawab Rafif ketika Zahra sudah merubah posisinya dan duduk di atas tempat tidur dengan rambut yang berantakan, ia menganggukan kepalanya mengiyakan Rafif
Setelah mengambil air wudhu dan mengenakan pakaian sholat masing-masing, mereka pun melaksanakan sholat subuh bersama. Ini pertama kalinya Zahra sholat subuh bersama lelaki lain selain Abinya
"Bacaan sholat mu sangat bagus kak" puji Zahra saat mereka berdua telah selesai melaksanakan Sholat subuh, Zahra kemudian meraih tangan Rafif dan menyalaminya kemudian mencium tangannya
"Akan ku usahakan selalu sholat subuh, maghrib dan isya bersamamu" ucap Rafif yang di iyakan dengan anggukan kepala juga senyum dari Zahra