"Menurut lah maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang kamu mau." Bisik Marco di telingan Ruby.
"Mengapa aku harus percaya dengan perkataan mu? Bahkan aku belum mengenal mu!" Sahut Ruby dengan sarkas.
"Bukankah kita pernah berciuman? Bagaimana bisa kamu melupakan itu dan mengatakan bahwa kamu tak mengenal diriku?"
Ruby jadi mengingat dimana Marco menciumnya secara sepihak, dan itu membuat dirinya kesal.
"Aku akan menuruti semua perkataan mu jika kamu mau bertanding denganku malam ini.!" Sahut Ruby dengan senyum smirknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keyna elsyavira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Perkataan Marco kali ini mampu membuat wajah Ruby merah merona seketika saat itu juga, dengan tangan Ruby yang masih memegang dasi Marco. Entah mengapa keinginan di dalam hatinya semakin begejolak ingin menyentuh bibir yang tipis tapi terlihat sangat sexi dalam pandangan Ruby.
"Enyahlah." Lain di bibir lain di hati, lihatlah Ruby yang mendorong tubuh Marco agar menjauh, tapi dorongan yang di lakukan oleh tangan kecil itu bahkan tak mampu menggeser tubuh Marco sama sekali.
"I want to kiss you." Bisik Marco lalu menarik tengkuk leher Ruby dan mendaratkan bibirnya di bibir Ruby.
Ruby tercengang karena ini kedua kalinya Marco berani menciumnya, tapi lambat laun karena sentuhan Marco yang memberikan hisapan yang lembut dan menyapu bibir Ruby dengan perlahan Ruby pun mulai menikmati.
Ia singkirkan egonya jauh-jauh dan menikmati setiap keinginan hatinya yang bergejolak sejak tadi.
Terukir jelas senyum Marco di bibirnya karena saat ini Ruby bahkan melingkarkan kedua tanganya di leher Marco. Tak di pungkiri lagi memang Ruby saat ini sangat menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh pria yang bahkan sering membuatnya kesal.
Marco melepaskan pertautan mereka ketika di rasa mereka berdua butuh asupan oksigen untuk bernafas.
Dengan hidung masih saling menempel, seketika Ruby tersadar dengan apa yang perbuat kepada pria di hadapannya ini, masih dengan nafas yang naik turun Ruby memundurkan tubuhnya perlahan.
Walau posisi Ruby saat ini masih dalam kukungan Marco. Setidaknya Ruby sudah membuat jarak di antara mereka berdua.
Marco merasa heran mengapa gadisnya kini malah menjauh darinya, bukankah baru saja Ruby membalas ciumanya? Mengapa sekarang ia seolah menyesali perbuatannya baru saja?
Dan ini pertama kalinya Ruby tak berani menatap mata Marco. Membuat Marco semakin bingung. Melihat tingkah gadisnya tersebut.
"Jangan bertanya dan cepat pergi.!" Ruby kembali kesetelan awal dengan suara dan nada ketusnya kepada Marco.
Senyum smirk terukir di bibir Marco, ia merasa dirinya saat ini benar-benar tengah di permainankan oleh gadis kecil di hadapannya ini.
Marco mengambil jas nya laku melangkah keluar kamar dengan menutup pintu kamar dengan sangat kencang karena merasa sangat kesal.
Brakk.
Suara dentuman pintu yang di banting oleh Marco membut tubuh Ruby terlonjak karena kaget.
"Apa pak tua itu sudah gila? Mengapa menutup pintu sampai harus sekencang itu?" Monolog Ruby kala Marco sudah meninggalkan dirinya seorang diri.
"Aku akan mandi terlebih dulu lalu pergi mencari sarapan, sepertinya perutku sudah mulai lapar." Dumelnya lalu turun dari meja.
Sampainya di perusahaan. Marco mengendorkan dasinya yang terasa mencekik lehernya dan sesak, ia masih saja merasa kesal kepada Ruby.
Stive yang melihat itu pun segera masuk ke dalam ruangan Marco. Ia memberikan berkas dan dokumen yang harus ia tanda tangani, melihat wajah Marco yang tak bersahabat kali ini membuat Stive menjadi penasaran, apa yang telah membuat seorang Marco murka.
"Sepertinya kau benar-benar sedang kasmaran." Ucap Stive yang membuat sang empu meliriknya dengan sorotan mata yang tajam.
"Jangan menjadi seseorang yang sok tau.!" Itulah Marco dan Ruby adalah dua orang yang sama-sama bermulut tajam dan sarkas.
"Kau hanya belum menyadarinya saja." Sahut Stive dengan entengnya lalu duduk di sofa.
Marco mencerna perkataan yang di ucapkan oleh Stive. "Apakah benar aku benar-benar tertarik dengan gadis itu? Lalu mengapa aku bisa sekesal ini hanya dengan sikap gadis kecil itu berubah?" Dalam hati Marco semakin berkecamuk tak karuan.
"Jangan terlalu di fikirkan, nanti kau akan tau jawabanya sendiri." Ucap Stive lagi lalu berniat keluar dari ruangan Marco.
"Bagaimana dengan barang akan di kirim?" Tanya Marco membuat langkah Stive terhenti.
"Semuanya berjalan dengan lancar, kau tak perlu khawatir." Lalu Stive benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
***
"Aahh.. mengapa bosan sekali berada di rumah besar ini, apa tidak ada mainan agar aku tidak merasa bosan?"
Ribu terus mengitari rumah Marco yang luasnya bak lapangan golf. Netra Ruby menangkap satu ruangan dengan pintu kayu berukiran unik, kaki Ruby mulai melangkah mendekati ruangan tersebut.
"Terkunci." Gerutunya karena snagat susah untuk membuka pintu tersebut.
Dan dimana akhirnya Ruby dapat menbuka ruangan tersebut, tapi langkah Ruby terhenti karena salah satu pelayan di rumah Marco melihatnya dan memangil nya.
"Nona." Panggil pelayan itu dan Ruby pun menoleh.
"Iya. Ada apa?" Tanya Ruby cuek.
"Ruangan ini tidak boleh di masuki oleh siapapun non. Ini sudah perintah telak dari tuan Marco. Bisa bahaya kalau nanti tuan Marco sampai tahu jika ruangan ini terbuka oleh non Ruby." Kata pelayan tersebut dengan sangat sopan.
"Kamu cukup tutup mulut kak, biar aku yang menanggung semuanya, kakak tidak perlu khawatir. Kakak pura-pura tidak tahu saja jika aku masuk ke dalam ruangan ini." Ruby memanggil pelayan itu dengan panggilan kakak, karena wajahnya yang terlihat masih sangat muda.
Tapi walau begitu pelayan itu masih harap-harap cemas karena takut jika tuan Marco akan mengetahui dan marah besar.
"Tapi non." Ingin berprotes pun Ruby sudah lebih dulu menghalangi bibir pelayan tersebut dengan satu jarinya.
Ruby mengangguk lalu menitah pelayan yang ia belum tahu namanya itu untuk segera pergi.
Dengan langkah penuh hati-hati, Ruby mulai masuk ke dalam ruangan tersebut yang sudah ia buka pintunya.
"Waahhh... " Ruby terkagum melihat arsitektur yang sangat unik pada ruangan yang ia lihat saat ini. Semua barang masih tertata rapi walau beberapa ada yang sudah sedikit berdebu, mungkin karena ruangan ini jarang singgahi.
Netra Ruby tertuju pada sebuah foto yang menampilkan dua orang yang masih berumur remaja dengan senyum yang merekah.
Ruby tahu satu orang dalam foto tersebut adalah Marco karena wajahnya yang bahkan hampir tak berubah, tapi satu orang lagi dalam foto tersebut Ruby tak mengenalinya, wanita yang cantik dengan senyum yang anggun. Ya, Ruby mengakui itu karena memang sosok di samping Marco dalam foto tersebut memang sangat cantik.
"Tapi bukankah aku lebih cantik?" Gumamnya dan langsung tersadar, sejak kapan dirinya senarsin ini? Bahkan hanya melihat foto wanita lain yang ia rasa cantik.
"Ohh.. aku rasa aku benar-benar sudah gila sat ini." Ocehnya yang tak menyadari bahwa Marco sudah berdiri tegap di belakang tubuhnya.
"Ya! Kau gila dan sangat lancang!!" Suara bariton khas Marco terdengar sangat menakutkan kali ini.
Ruby menoleh ke arah suara tersebut, dan benar saja, Marco sudah berdiri disana dengan tatapannya yang tajam.
"Tidak perlu meninggikan suara mu karena aku tidak tuli." Sarkas Ruby yang tak mau kalah.
"Mengapa kamu sangat lancang gadis kecil?" Marco melangkahkan kakinya dan semakin mendekati Ruby.
Membuat gadis itu memundurkan langkahnya hingga kakinya terbentur kaki meja yang berada disana.
"Aaw... Shit!!" Pekiknya karena Marco kembali menghimpit tubuhnya.
"Katakan apa mau mu? Kamu ingin mencium ku lagi? Sepertinya aku akan terbiasa merasakan bibir mu setiap saat untuk waktu kedepanya," sarkas Ruby dengan mendongakkan kepalanya.
"Kamu benar-benar harus di beri hukuman, agar tak semakin lancang.!!" Marco menarik lengan Ruby lalu mengikatnya dan menariknya ke atas.
" What the fuck!! Are you crazy? Hah!!? What do you want to do?" Ruby mencoba berontak, tapi sia-sia karena tanganya yang terikat oleh tali.
"I want to teach you a little lesson, baby."
Oh no. Apa yang akan terjadi selanjutnya gaes?? Pura-pura enggak liat aja kali ya.
tp jangan lama lama up nya. biar gak lupa alurnya