#2 My Daddy
Damian Xe Axelle Defron, bangsawan tampan yang mengalami kecelakaan hebat yang membuat matanya buta sebelah kanannya. sebenarnya ia bisa membuat matanya melihat kembali tapi ia harus melakukan sesuatu sebelum membuat matanya kembali normal.
Kelly De Savillion, gadis cinta pertamanya. Kini ia menemukan gadisnya di waktu yang tepat namun dengan matanya yang cacat.
"Gadis kecil, kita bertemu lagi. apa kau merindukan ku?" ujar Damian.
"Dami?"
"Yes, i am,"
Namun kali ini pertemuan mereka menghadapi situasi yang sangat sulit. seorang pria yang terobsesi dengan Kelly salah satu musuh Damian dan juga merupakan bangsawan ternama Calvin Molive Defron, memiliki marga yang sama dengan Damian karena mereka masih memiliki hubungan darah. sangat terobsesi gila dengan Kelly, gadis manis milik keluarga Xander dan Xavellion.
"Oh Damn! You touched something you shouldn't, you bastard!" Damian murka
Calvin menyeringai. "Why not? I'm crazy about that woman."
"She's mine dammit!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sofy adisty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.
Damian berkutat dengan dokumen di hadapannya sambil menghela nafas kesal. Ia pun melemparkan dokumen tersebut begitu saja di atas meja.
"Sampai kapan aku harus berurusan dengan dokumen sialan ini?!" umpat Damian kesal.
Tok'
Tok'
Damian menoleh kearah pintu. "Aku sedang tidak mau di ganggu!" ucapnya penuh peringatan.
"Ada tamu tuan," ucap seseorang dari luar pintu.
"Aku sedang tidak mau menerima tamu. Usir saja!" balas Damian dengan ketus.
Cklek'
"Jadi kau tidak butuh aku?" ucap seorang pria yang masuk dengan wajah kesalnya.
Damian menoleh. "Dylan," gumamnya. "Kenapa kau tidak menghubungi ku lebih dulu?" tanyanya.
Dylan mendengus kesal. "Tidak menghubungimu? Kau buka ponsel mu idiot! Sudah sepuluh kali aku menelfon mu tapi kau tidak mengangkatnya sama sekali!" ucapnya marah.
Damian mengambil ponselnya, pantas saja ponselnya dari tadi hanya diam saja teryata ia tidak sengaja mengaktifkan mode silent.
"Ada apa?" tanya Damian setelah ia meletakkan kembali ponselnya.
"Ini tentang matamu," ucap Dylan.
Damian menatap heran sambil menyentuh mata kanannya yang buta. "Kenapa dengan mataku?" tanyanya bingung.
"Saat aku sedang menyelidiki Calvin seperti yang kau perintahkan padaku. Aku menemukan fakta mengejutkan," ucap Dylan, ia pun mengeluarkan sebuah amplop bewarna coklat dan memberikannya pada Damian.
Damian mengambil amplop tersebut. "Apa ini?" tanya nya.
Dylan berdeham. "Buka saja. Kau bisa membacanya," ucapnya.
Damian pun mulai membuka amplop tersebut, teryata berisi surat perjanjian dan tanda tangan sebuah materai. Ia pun membacanya dengan seksama.
Kening Damian mengkerut, ia pun menatap Dylan dengan wajah terkejut. "Kau menemukan ini dimana?" tanyanya sambil menatap tajam.
Dylan menghela nafas. "Aku tidak sengaja menemukan sebuah rumah tua. Tidak terlalu besar tapi isi dalamnya tampak sangat usang. Seperti sudah tidak di tinggali selama beberapa tahun," ucapnya. "Aku menemukannya disana dan dengan sidik jari Calvin di atas amplop itu," sambungnya.
Damian meremukan isi surat tersebut dengan tangan terkepal kuat, darahnya mendidih. Suratnya berisikan perbuatan ilegal yang di lakukan Calvin selama ini.
Dylan menatap Damian dengan ragu. "Dengan kata lain, orang yang menyebabkan trauma Kelly dulu adalah Calvin. Itu yang tertera di surat kecil itu," ucapnya.
"Dan juga Calvin adalah pelaku utama dari kecelakaan yang membuat mata sebelah kananmu buta permanen,"
...◇◇◇...
Xander yang sibuk dengan pekerjaannya di kejutkan oleh kedatangan Damian yang tiba tiba masuk ke dalam ruangannya. Xander menatap tajam kearah Damian.
"Apa kau tidak punya sopan satun masuk ke ruangan ku?" tanya Xander kesal.
Damian mengangkat bahunya. "Aku tidak ada waktu untuk bicara tentang sopan santun," balasnya membuat Xander mendengus kesal.
"Kenapa kau datang kesini?" tanya Xander, lalu ia menunjuk ke arah pintu keluar. "Aku tidak menerima tamu. Aku sibuk!" sambungnya dengan ketus.
"Ada yang mau aku bicarakan padamu tuan Xander," ucap Damian yang mengabaikan perkataan Xander.
Xander menyipitkan matanya. "Tidak ada yang perlu di bicarakan. Terutama jika topik tentang putriku!" ucapnya sambil menatap tajam.
Damian menganggukkan kepalanya. "Ini memang tentang Kelly---"
"Keluar!" sentak Xander. "Aku tidak peduli kau dari keluarga elit sekalipun. Keluar!" sambungnya.
"Walaupun ini tentang trauma Kelly?" tanya Damian dengan tegas.
Xander mendengus. "Kel--- tunggu, apa maksudmu?" tanyanya bingung. "Kau dapat info darimana tentang putriku?"
Damian berjalan mendekati Xander. "Aku ingin memberitahukan tentang informasi yang mungkin kau butuhkan," ucapnya.
Xander terdiam sejenak, ia pun mendengus. "Duduk! Kalau hanya informasi kabar burung kau akan kehilangan matamu lagi!" ancamnya.
Damian tersenyum tipis. "Tidak. Ini adalah informasi penting," ucapnya.
Xander hanya berdecih. "Jadi apa? Darimana kau tau tentang trauma putriku?!" tanyanya heran.
Damian mengeluarkan amplop coklat yang sudah ia baca kemarin lalu memberikannya pada Xander. "Buka saja," ucapnya.
Xander menerima amplop tersebut dengan kening yang berkerut. Ia pun membukanya dan membacanya dengan diam. Terlihat surat yang ia baca seperti kertas yang sudah remuk.
Tidak berapa lama Xander langsung merobek surat tersebut dan menarik kerah baju yang di kenakan Damian. "Dimana Calvin sialan itu? Berikan alamat iblis itu padaku! Aku harus membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri!" ucapnya dengan mata yang menatap Damian dengan penuh amarah.
"Brengsek! Mati kau Calvin!"
...◇◇◇...
Kelly berjalan menyusuri taman mansionnya dengan dua pelayan wanita yang mengikutinya dari belakang dan berjarak lumayan jauh dari dirinya.
Kelly pun duduk di salah satu ayunan yang di buatkan Xavellion, ayahnya. Sambil mendorong tubuhnya agar ayunan tersebut bergerak dengan perlahan, ia pun memejamkan matanya.
"Putriku," panggil Xavellion.
Kelly membuka matanya dan menoleh. "Ayah," ucapnya dengan senang.
"Teryata kau disini sayang," ucap Xavellion, ia pun berjalan mendekati Kelly dan berhenti tepat di belakang tubuh Kelly. "Biar ayah yang mendorongnya," sambungnya.
"Iya ayah," balas Kelly.
"Apa kau rutin konsultasi dengan dokter honey?" tanya Xavellion.
Kelly menganggukkan kepalanya. "Kenapa ayah?" tanyanya bingung.
Xavellion menunduk sambil tersenyum tipis. "Ayah terkadang melihatmu berjalan sendirian di taman. Apa kau masih tidak bisa tidur dengan nyenyak?" tanyanya membuat Kelly terdiam.
"Aku ketahuan nya," lirih Kelly membuat Xavellion terkekeh pelan.
"Apa kau fikir ayahmu ini tidur awal sayang?" ucap Xavellion sambil menepuk rambut Kelly dengan pelan.
Kelly hanya tertawa kecil. "Maaf ayah," ucapnya membuat Xavellion langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan salahmu. Ini salah bajingan itu. Sampai ayah menemukannya, ayah akan menghabisinya saat itu juga," ucao Xavellion dengan tatapan marahnya.
Kelly menepuk tangan Xavellion dengan lembut. Xavellion menghela nafas pelan lalu mengecup kening Kelly. "Tidak akan ada masalah sayang," ucap Xavellion.
Kelly tersenyum manis begitu pula dengan Xavellion sampai Xavellion menoleh dengan cepat saat mendengar suara yang familliar di telinganya.
Xavellion menarik pundak Kelly dan menunduk. Ia pun memeluk tubuh Kelly dengan erat lalu bergerak dengan cepat menutupi tubuh Kelly dengan menjadikan tubuhnya sebagai perisai.
Suara tembakan terdengar sebanyak tiga kali, Xavellion meringis memegangi pundaknya yang terkena tembakan. Ia pun menunduk menatap Kelly yang memeluknya dengan ketakutan. "Ayah, a-ayah terluka," ucap Kelly dengan gemetaran.
"Stt... it's okay baby. Don't be afraid. Daddy is here," bisik Xavellion di telinga Kelly dengan pelan.
Xavellion mengabaikan rasa sakit di pundaknya lalu menggendong tubuh Kelly dengan perlahan. "Brengsek! Dimana pengawal? Sialan! Kalian cari orang brengsek yang berani menembak di tempatku sampai dapat. Kalau tidak, aku akan melubangi kepala kalian satu persatu!" teriaknya.
"Tuan Xavellion beberapa pengawal mati tertembak di bagian kepala dan Alex sedang mengejarnya," ucap salah satu pengawal yang datang dengan luka luka.
"Fuck! Aku akan menghabisinya!"
...◇◇◇...
...TBC...
masa Damian hanya tau bucin doank
qu pikir bakal langsung perang saudara gitu