Adam pemuda tampan dan kaya, menjadi incaran banyak wanita dari masa sekolah sampai kuliah. namun tak satupun dari mereka yang ditanggapi Adam.
Hana gadis desa yang bekerja dirumah makan milik Adam, juga menaruh hati kepada Adam, Hana sadar diri dan memilih mengabaikan perasaannya.
Adam menyukai Hana, ia meminta Hana memanggilnya kakak agar lebih dekat dan membuat Hana nyaman dalam bekerja.
Sanggupkah Hana menahan perasaannya dan selalu bersama Adam tanpa ungkapan cinta dari Adam??
ayo simak kisah mereka,.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RATNA YULITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyusul Hana
Setelah Hana pergi, Adam pulang kerumahnya. baru tadi malam rumah Adam terasa ramai karna kehadiran Hana. malam ini rumah itu kembali sepi. Adam teringat bagaimana ia menggoda Hana tadi pagi, mengingat hal itu membuat Adam tersenyum sendiri. dunia Adam begitu berwarna saat bersama Hana, ia merasa hatinya dipenuhi kebahagian dan kehangatan, Adam merasa semakin dewasa dengan kehadiran Hana dihatinya.
Adam menyesal tidak mengantar Hana pulang ke kampungnya, ia juga tidak menyimpan nomor hp Hana, Hana yang beberapa hari ini selalu dalam pantauannya membuat Adam lengah dan tidak ingat untuk menyimpan kontak nya. tidak pernah terpikir oleh Adam jika Hana akan dijemput keluarganya.
Sudah jam 22.00 Adam semakin gelisah, karena tidak bisa mengetahui dan mendapatkan kabar dari Hana.
Adam memutuskan untuk kembali kekantor mencari biodata Hana.
Adam sampai dikantor dan membuka file tempat menyimpan surat lamaran kerja karyawannya. ia menemukan biodata Hana, ia tersenyum dan menyalin nomor itu di ponselnya.
Nomor yang diketik Adam menampilkan nama kontak yang sudah tersimpan di ponselnya, Adam kembali mengecek nomor yang tertera disurat lamaran Hana, nomor yang sama dengan kontak yang bernama Rani.
"Kenapa bisa nomor Rani? Apa mereka memiliki hubungan atau Rani sudah tidak memakai nomor ini?" tanya Adam yang hanya bisa dijawab oleh dirinya sendiri
Adam mengenal Rani dari kecil, Rani merupakan anak dari buk Indah sahabat dari Umi Adam. mereka bersahabat semasa SMA, ketika lulus keduanya terpisah dan baru bertemu kembali setelah keduanya sama-sama memiliki anak, mereka bertemu Dirumah makan yang dikelola Umi dan Abi Adam, Kala itu Umi dan Abi sedang memantau kondisi usaha mereka dan buk Indah sedang makan bersama keluarga kecilnya. Disanalah awal mula pertemuan Adam dan Rani.
Setelah pertemuan itu Buk Indah sering datang kerumah Adam, dengan alasan membawa Rani bermain karena bosan dirumah. Rani anak manja dan juga aktif, sering mengambil barang yang sedang dimainkan Adam. Adam yang tidak suka barangnya diambil begitu saja merebut kembali mainan yang diambil Rani. Jika sudah begitu Rani akan menangis dan mengadu. Umi selalu menyuruh Adam mengalah karena Rani lebih muda darinya.
Setelah masuk sekolah Rani sering datang kerumah Umi. Rani sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Umi, jika Rani meminta sesuatu maka Adam yang akan melayaninya.
Saat mereka duduk dibangku SMP Rani semakin gencar mendekati Adam, Adam tidak lagi memiliki ruang privasi karena Rani mendapat izin dari Umi untuk masuk kekamar Adam, Hal itu membuat Adam muak dan tidak lagi bersimpatik terhadapnya. Kala itu Adam baru selesai mandi tiba-tiba Rani datang ke kamarnya tanpa mengetok pintu. Hal itu membuat Adam sangat marah hingga membuat Rani menangis. Semenjak kejadian itu Rani mulai jarang datang kerumah Umi.
Saat mereka duduk di bangku SMA, mereka kembali bersekolah ditempat yang sama dengan kelas terpisah, Adam aktif di organisasi OSIS, banyak kegiatan yang diselenggarakan OSIS pada waktu itu, membuat Adam dikenal siapa pun. ketampanan Adam juga semakin terpancar dengan prestasi yang ia ukir, ia menjadi idola pada masa itu. Rani semakin di abaikan, Adam benar-benar menikmati masa sekolahnya sebagai pemuda yang punya prestasi dan mengabaikan perasaan para pengagumnya.
Saat kelulusan tiba Rani memberanikan diri mengirim pesan kepada Adam. Pesan yang berisi permintaan maaf dan Rani ingin menjadi teman, adik atau apa saja yang bisa membuat mereka dekat kembali.
Pesan itu dibaca Adam, namun tidak dibalas. bagi Adam Rani hanya anak dari sahabat Umi nya, yang tidak perlu didekati.
Semenjak itu Adam dan Rani tidak lagi saling bertemu dan berkomunikasi.
\=\=\=\=\=
Adam memutuskan menyusul Hana dengan alamat yang tertera disurat lamaran, Bermodalkan petunjuk arah dari Google maps Adam menempuh perjalanan jauh yang belum pernah dilaluinya.
Tiga jam berkendara sendiri tidak membuat Adam gentar, ia terus mengikuti jalan yang kadang ramai kadang sepi.
Jam 01.30 Adam sampai di alamat yang tertulis di biodata Hana. Desa yang lumayan ramai rumah penduduknya Namum begitu sunyi karena orang-orang sedang tertidur pulas.
"Aku harap kamu mencantumkan alamat yang benar Hana dan semoga aku menemukan mu disini." ucap Adam yang saat ini parkir didepan mushola SPBU. Adam merasa lelah dan memilih tidur didalam mobilnya.
Ketika Azan subuh dikumandangkan Adam terbangun dan keluar dari mobil, ia bersiap untuk sholat subuh bersama jamaah lainnya.
Selesai sholat subuh Adam melanjutkan perjalanannya, Adam berhenti disebuah masjid yang masih terdapat jamaahnya. Adam bercengkrama bersama jamaah masjid yang menyapanya.
Salah seorang dari mereka mengajak Adam kerumahnya, dia adalah pak Yahya yang merupakan imam tetap masjid tempat Adam singgah pagi ini. Adam membawa mobilnya kerumah pak Yahya yang tidak jauh dari Masjid.
Jalanan masih sepi, belum tampak aktifitas penduduk didesa itu. rumah pak Yahya memiliki halaman yang luas dengan rumput hijau terawat di semua pekarangan depannya.
Pak Yahya mengajak Adam untuk makan pagi yang sudah disiapkan istrinya, sudah kebiasaan pak Yahya makan pagi sebelum jam Enam pagi. Adam merasa beruntung disuguhkan makan pagi yang masih hangat. Perutnya yang keroncongan dari tadi malam terasa hangat dengan masuknya makan pagi ini. Adam sangat menikmati makan paginya. Bahkan ia tidak malu untuk nambah nasi yang tinggal sedikit di piringnya begitu juga dengan pak Yahya yang makin lahap makan karena ditemani Adam.
Selesai makan mereka kembali bercengkrama, duduk diruang tamu sambil menikmati waktu yang terus berputar. Hari semakin siang anak-anak berseragam sekolah mulai nampak berlalu lalang dijalan yang tadinya sepi.
Adam teringat jika Hana masih berstatus sebagai pelajar SMA. Adam yakin Hana tidak kesekolah karena merawat Bibinya yang sakit.
"Apa bapak mengenal gadis ini?" tanya Adam memperlihatkan surat lamaran Hana yang ada foto nya.
Pak Yahya mengambil kertas yang diperlihatkan Adam.
"ini Hana, aku mengenalnya, dia tinggal bersama Pak cik nya, rumahnya disebelah kanan ini. Kenapa kamu mencarinya?" tanya pak Yahya dan memberikan surat lamaran Hana kepada Adam.
"Apa? Rumah mereka disebelah ini?" ucap Adam kaget, sambil menunjuk kearah Kanan.
Pak Yahya tersenyum,melihat ekspresi Adam.
Adam merasa terharu dengan perjalanannya yang tidak sia-sia dan Hana menulis alamat sebenarnya.
"Bolehkah saya menumpang tinggal dirumah bapak? Maaf, saya hanya ingin memantau Hana untuk beberapa hari." ucap Adam jujur
Pak Yahya tertawa.
"Alhamdulillah jika kamu mau tinggal disini. dengan senang hati saya mengizinkannya." jawab Pak Yahya ternyata menyukai kehadirannya.
Pak Yahya percaya jika Adam bukan orang sembarangan, melihat kendaraan mewah dan pakaian yang di pakai Adam, pak Yahya percaya jika Adam anak orang kaya yang sedang jatuh cinta.
"Jadi Hana melamar pekerjaan ditempat mu?" tanya pak Yahya ingin tahu setelah membaca surat lamaran Hana yang diberikan Adam tadi.
"Iya, Hana baru bekerja dua hari, kemaren pamannya datang kekantor untuk membawa Hana pulang karena Bibinya sedang sakit."
"Iya, Lili memang lagi sakit. sepertinya dia kelelahan mengurus pesanan dan rumahnya, biasanya Hana yang bantu pekerjaan rumahnya. Anak gadisnya yang bernama Vera itu hanya bisa minta duit." jawab istri pak Yahya yang muncul dari ruang belakang dan ternyata mendengar percakapan suaminya dan Adam.
Adam tersenyum mendengar ucapan istri pak Yahya.
"Syukurlah aku tidak salah menilai Hana, ternyata dia gadis yang baik." ucap Adam didalam hatinya.
"Buk, Adam akan tinggal dirumah kita. ibuk siapkan dulu kamar untuk nya." ucap pak Yahya memberi tahu istrinya.
"Kamar nya sudah ibu siapkan pak, tadi ibu dengar pembicaraan bapak dan Adam." jawab istri pak Yahya membuat Adam dan pak Yahya tertawa
"Kalau mau apa-apa jangan sungkan untuk kasih tau ibuk dan bapak ya Dam." ucap istri pak Yahya mengingatkan Adam dengan menyingkat nama Adam.
Adam kembali tertawa merasa lucu dengan panggilan barunya.