" Kamu darimana saja Alena, jam pulang kamu sudah lewat 10 menit?"
"Kakak dengar kamu gak masuk kerja hari ini, pergi kemana tadi?"
"Kenapa lama banget di kamarnya? kamu sakit?"
" Pacar kamu gak jelas Alena, putusin aja ya?"
Sean Luther, Dia kakak iparku sejak 2 tahun yang lalu. Perhatiannya kepadaku terlampau berlebihan, awalnya kukira itu memang caranya mengungkapkan perhatian pada adik iparnya.
Sampai puncaknya, aku mengerti segala maksud tersembunyi dibalik perhatiannya.
"Nikah sama saya Alena atau kamu saya buat hamil sekarang juga."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banana Mango, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanda
Alena memegang erat bathrobe-nya, takut Sean merobek paksa.
Posisi mereka yang memojok di dinding menguntungkan Sean untuk beraksi. Tangannya mulai terulur menyentuh pinggang Alena.
"Besok! Besok kan kita udah ke Belanda, besok aja ya? Yaya?" Alena mengerahkan kemampuan bernegosiasinya.
Sean menyeringai kecil mendengarnya, "Hari ini iya, besok juga iya. Adil kan?"
Alena membelalakkan matanya, bukan itu maksudnya. Ini sama saja senjata makan tuan.
...****************...
Pukul 05:00 dini hari, Alena sudah bangun dari tidurnya. Bersiap-siap terlebih dahulu.
Alena mulai dengan membersihkan diri dan menata rambutnya. Setelahnya ia bergegas membangunkan Sean.
"Jam berapa ini?" Tanya Sean, matanya masih memicing khas orang bangun tidur, suaranya serak.
"Setengah tujuh. Ayo cepet bangun nanti ketinggalan pesawat!" Alena mengusir Sean dari kasur.
Sean terpaksa melaksanakan perintah istrinya, ia berjalan dengan lesu ke arah kamar mandi.
Alena yang baru menyadari bahwa tubuh suaminya tidak terlapisi kain akibat semalam, langsung memalingkan mukanya dan memilih diam.
Takut Sean sadar dan mulai berulah kembali.
"Huftt... untung belum ada nyawanya itu laki." Alena berseru lega ketika Sean menutup pintu kamar mandi.
Alena kemudian turun ke bawah, pergi menuju dapur. Di Sana ia melihat bibi sudah menyiapkan ayam goreng mentega dan Sapo tahu sebagai menu sarapan mereka.
Alena kemudian membantu menghilangkan sayur di atas meja makan. Sampai Sean memanggilnya dari dalam kamar tidur mereka.
" Bibi bisa sendiri non, bantuin aja itu den Sean-nya. " ucap bibi yang sadar bahwa Alena merasa tak enak hati meninggalkan pekerjaan di tengah jalan.
"Maaf bi, aku ke atas dulu ya bentar." Ujar Alena.
Masuk ke kamar tidurnya, ia disambut dengan Sean yang sudah duduk di kursi meja riasnya dengan muka cemberut.
Gilanya lagi, laki-laki itu hanya menggunakan sebuah bathrobe.
"Kamu lama banget sih." Badannya semakin menunduk, menciut mengecil seiring keluhannya keluar. Bak anak kecil yang merajuk.
"Tadi lagi bantuin bibi. Ada apa? Kenapa belum pakai baju?" Alena bertanya bingung sekaligus was-was.
Ditanya seperti itu, wajah murung Sean berubah menjadi cerah kembali. Senyumnya merekah.
Tangan Alena digenggam dan dituntun masuk ke dalam ruang wardrobe.
" Tolong pilih baju buat aku." Pintanya saat berdiri di depan lemari baju khusus Sean.
Alena menatap Sean diam, "Tiba-tiba?"
Sean mengerutkan keningnya " Apanya tiba-tiba?"
"Biasa juga milih baju sendiri kan? Kenapa tiba-tiba minta pilih-in? " Alena bertanya, tak menangkap maksud Sean.
"Sebelumnya kamu belum jadi istri aku, makanya baru sekarang sayang." Sean mencubit pelan kedua sisi pipi Alena.
"Oooo, okeii!" Alena berpose hormat. Ia selanjutnya membuka lemari pakaian milik Sean dan memilah-milah baju yang sekiranya nyaman Sean gunakan untuk belasan jam ke depan.
Sedangkan Sean, lelaki itu diam menikmati suasana yang ia impikan.
Alena Arthur, ah tidak Alena Luther, istrinya sedang berada di depannya, memilih baju untuk ia pakai.
"Ini gimana?" Alena berbalik arah ke Sean, mengangkat setelan pakaian yang ia pilih.
"Kan perjalanannya bisa belasan jam lebih, jadi aku pilih yang nyaman dipakai." Lanjut Alena
"Hm, bagus." Sean tersenyum merekah. Benar-benar seperti remaja yang sedang jatuh cinta, cinta monyet.
"Yang bener?" Alena melihat tanggapan Sean yang terus menerus tersenyum, merasa janggal.
Ia takut Sean merasa terpaksa menerima pilihan Alena.
" Yang lain aja deh!" Tubuhnya berbalik ingin mengembalikan kembali setelan yang ia ambil pada tempatnya.
Namun tangannya ditahan oleh Sean.
Wajahnya sudah kembali serius.
" Aku bilang bagus, kenapa dibalikin lagi?" Sean bertanya lembut. Keningnya mengerut tidak suka mendapati Alena membatalkan pilihannya.
" Beneran bagus...?" Alena bertanya tak yakin.
"Iya, Alena sayang."
Alena membuang muka, malu.
"Kalau tadi kamu pilih baju tidur, juga bakalan aku pakai."
" Dasar gembel!" Omel Alena, Sean tertawa.
"Sini bajunya, mau aku pakai." Sean meminta untuk dioperkan bajunya.
Alena kemudian keluar ruangan, meninggalkan Sean di dalam mengganti bajunya.
Selagi Sean mengganti bajunya, Alena memoles sedikit riasan di wajahnya agar tidak terlalu pucat.
Mereka selesai di saat yang bersamaan. Kemudian turun bersama untuk menyantap sarapan.
Sarapan selesai, Sean dan Alena kembali disibukkan dengan mengecek kembali barang-barang bawaan mereka.
"Passport, handphone, kartu identitas udah semua?" Tanya Sean
"Udah kok." Jawab Alena seadanya. Ia sibuk mengikat tali sepatu kets nya.
"Good!" Sean berdiri di depan Alena, menunggu gadis itu selesai dengan kegiatannya.
Alena dibuat terkejut ketika Sean tiba-tiba menunduk, membantu Alena mengikat tali sepatu sebelahnya.
"Eh! Jangan, aku bisa sendiri." Alena menghentikan Sean.
" Bantu istri gak bikin aku botak, sayang." Jawab Sean, masih kekeh membantu mengikat tali sepatu Alena.
"Udah, ayo!" Sean memberikan tangannya untuk digandeng Alena.
Pukul 09:00 pagi, mereka akhirnya masuk ke dalam mobil, berangkat menuju bandara.
Sesampainya di sana, Mereka segera diarahkan untuk masuk ke dalam landasan terbang menggunakan mobil.
Turun langsung di depan tangga naik menuju jet pribadi milik Sean. LUTHER