Saya Punya Novel Baru nih guys. Jangan Lupa Buat Mampir baca ya. Ceritanya tentang cowo cool yang jatuh cinta pada seorang cewe disekolahnya.
Sinopsis :
Karena kelelahan bekerja, Nathan meninggal dan tereinkarnasi ke dunia lain. Di Kehidupannya yang baru ini Nathan memutuskan untuk menjalani hidup yang bebas akan tetapi untuk mewujudkan itu Nathan harus menghadapi berbagai halangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thenawa09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertikaian di Balik Barrier
Nathan dan Ely menyaksikan dari balik rimbunnya semak, jantung mereka berdebar kencang. Jonas berdiri tegak menghadapi dua seniornya, Billy dan rekannya yang bernama Dirk. Meski tubuh Jonas lebih kecil dan pengalamannya kalah jauh, tekad di matanya membara.
"Kamu pikir bisa mengalahkan kami, Jonas?" Billy mengangkat tangannya. Buku sihirnya terbang di sampingnya, halamannya terbuka dan memancarkan energi sihir listrik yang berbahaya. "Kami memberimu satu kesempatan. Pergi dari sini dan lupakan semua yang kamu lihat. Kami akan menganggap ini tidak pernah terjadi."
"Tidak mungkin!" seru Jonas. "Aku menjadi ksatria sihir untuk melindungi orang, bukan untuk menutupi kejahatan seperti ini! Apa yang kalian lakukan di balik barrier ini? Mengapa ada monster yang dikeluarkan ke desa?"
Dirk tertawa sinis. "Bodoh sekali. Kadang, untuk mencapai tujuan yang lebih besar, pengorbanan kecil diperlukan. Desa terpencil seperti ini adalah harga yang murah untuk membayarnya."
Mendengar pengakuan itu, Nathan dan Ely saling pandang dengan mata penuh kengerian. Ternyata benar, para ksatria sihir inilah dalang di balik meningkatnya serangan monster.
"Pengorbanan kecil?" Jonas membelalak. "Kalian gila!"
"Kami praktis," bantah Billy. "Sekarang, pilihan terakhir. Pergi, atau mati!"
Jonas tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia melancarkan serangan pertama. "Sihir Bumi: Jebakan Batu!" Tanah di bawah kaki Billy dan Dirk tiba-tiba berubah menjadi lumpur hisap, perlahan menelan mereka.
Billy hanya mendengus. "Trik murahan. Sihir Petir: Geledek Pemecah!" Sebuah bola petir besar menghantam tanah, meledakkan jebakan batu Jonas dan mengeringkan lumpurnya dalam sekejap. Getarannya membuat Jonas terlempar beberapa langkah ke belakang.
Dirk tak mau kalah. "Giliranku! Sihir Angin: Pisau Berputar!" Dia mengayunkan tangannya, dan bilah-bilah angin yang tajam meluncur seperti shuriken ke arah Jonas.
Jonas dengan sigap membentangkan tangannya. "Sihir Bumi: Dinding Granit!" Sebuah dinding batu setinggi tiga meter muncul, menahan serangan Dirk. Namun, dampaknya membuat dinding itu retak.
Nathan tak tahan lagi. "Kita harus menolongnya!" bisiknya pada Ely.
"Tunggu," Ely menahan lengan Nathan. "Kita tidak bisa sembarangan. Mereka terlalu kuat. Kita butuh strategi."
Sementara itu, Jonas sudah kehabisan napas. Bertarung melawan Hats dan Cliff sudah menguras banyak energinya, dan kini dia harus berhadapan dengan dua senior yang jauh lebih kuat. Dia mencoba serangan lain. "Sihir Bumi: Tombak Granit!" Beberapa tombak batu tajam melesat dari tanah.
Billy dengan mudah menghancurkannya dengan cambukan petir dari jarinya. "Sudah cukup, Jonas. Kamu terlalu lemah." Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi, dan awan gelap mulai berkumpul di atas kepala mereka. "Sihir Petir: Hujan Halilintar!"
Puluhan bolt petir kecil menghujani area di sekitar Jonas. Meski berusaha menghindar, satu petir menyambar pundaknya. "Aarrgghh!" Jonas terjatuh, tubuhnya bergetar hebat dan sebagian seragamnya hangus.
"Jonas!" Nathan hampir saja teriak.
Dirk berjalan mendekati Jonas yang terguling kesakitan. "Selamat tinggal, rookie yang menyebalkan."
Nathan tidak bisa lagi diam. Dia melompat keluar dari persembunyiannya. "HEY! Jangan sentuh dia!"
Billy dan Dirk terkejut, menatap arah suara itu. Mereka melihat seorang anak laki-laki berpenampilan aneh dengan mata penuh amarah.
"Siapa lagi kau?" tanya Billy kesal.
"Aku Nathan! Temannya!" jawab Nathan sambil berdiri di depan Jonas yang terluka.
Ely juga keluar, dengan sigap mengambil posisi di samping Nathan. Tangannya sudah bersiap dengan sihir angin.
Billy mengejek. "Dua anak kecil lagi? Hari ini benar-benar hari yang sial."
"Ely, sembuhkan Jonas. Aku akan menahan mereka," kata Nathan dengan suara rendah.
"Tapi—"
"Percayalah padaku."
Ely mengangguk, lalu berlutut di samping Jonas dan mulai mengobati luka bakarnya dengan sihir cahaya lemah yang dia kuasai.
Nathan menatap kedua ksatria itu. Dia menutup matanya, berusaha merasakan aliran energi sihir kegelapan dalam dirinya. Dia ingat perasaan saat melawan ular, dan saat berlatih di hutan. Dia harus bisa mengendalikannya.
"Bersiaplah," bisiknya pada dirinya sendiri.
Dirk tertawa. "Kau pikir bisa melawan kami sendirian, bocah?"
Nathan tidak menjawab. Dia membuka mata, dan bola mata seketika berubah menjadi hitam pekat. "Sihir Kegelapan: Kabut Buta!"
Whoosh! Sebuah gelombang asap hitam yang jauh lebih besar dan lebih pekat dari yang pernah dia ciptakan sebelumnya memancar dari seluruh tubuhnya, dengan cepat menyelimuti area seluas lima puluh meter. Dunia seketika menjadi sunyi dan gelap gulita.
Di dalam kabut, Billy dan Dirk benar-benar kehilangan arah. Indra mereka lumpuh total.
"Apa-apaan ini? Aku tidak bisa melihat apa-apa!" teriak Dirk.
"Tetaplah tenang! Ini hanya ilusi!" balas Billy, meski suaranya gemetar.
Nathan, bagaimanapun, bisa merasakan keberadaan mereka dengan jelas. Seolah-olah dia memiliki peta di dalam kepalanya. Inilah kekuatan sebenarnya dari sihir kegelapannya—dia adalah penguasa di wilayah ini.
Dia bergerak gesit di antara pepohonan, mendekati Dirk yang sedang panik. Dengan menggunakan sihir kegelapan yang dipadatkan di tangannya, dia membentuk sebuah palu kecil dan menghantam perut Dirk.
"Oof!" Dirk terhuyung, terkejut oleh serangan tak terlihat itu.
Sementara itu, Ely berhasil memulihkan Jonas cukup untuk bisa duduk. "Nathan... dia hebat," gumam Jonas takjub.
"Kita harus membantunya," kata Ely. "Aku punya ide. Jonas, bisakah kau membuat getaran di tanah untuk mengganggu keseimbangan mereka?"
Jonas mengangguk lemah. "Aku bisa mencoba."
Di luar kabut, Paman Jorgi dan seorang pria bertubuh tegap dengan jubah ksatria sihir tiba di lokasi. Mereka melihat kubah hitam raksasa itu.
"Energi sihir kegelapan yang kuat," gumam pria itu. "Dan ada pertarungan di dalamnya."
"Itu pasti Nathan," ucap Paman Jorgi, khawatir. "Ayo, Roy. Kita harus masuk."
Di dalam kabut, Billy mulai hilang kesabaran. "Cukup! Sihir Petir: Ledakan Spektrum!" Dia melepaskan gelombang energi listrik ke segala arah, berharap bisa membersihkan kabut.
Rencananya berhasil sebagian. Kabut sedikit tersibak di sekelilingnya, tetapi Nathan sudah mengantisipasinya. Saat Billy melihat Nathan berdiri beberapa meter darinya, senyum sombong terukir di bibir Billy.
"Ketahuan kau, bocah!"
Nathan tidak panik. Dia mengulurkan kedua tangannya. "Sihir Kegelapan: Belenggu Bayangan!" Dari bayangan Billy sendiri, tali-tali hitam membelit kaki dan tangannya, mengikatnya erat.
Billy terkejut dan berusaha melepaskan diri, tapi tali itu terbuat dari energi kegelapan murni dan sangat kuat.
Pada saat yang sama, Jonas, dengan sisa tenaganya, membanting tangannya ke tanah. "Sihir Bumi: Goyangan Bumi!" Tanah di bawah kaki Billy dan Dirk bergoyang keras, membuat mereka terjengkang.
Melihat kesempatan itu, Ely mengumpulkan semua kekuatannya. "Sihir Angin dan Cahaya: Orb Penenang!" Dia melemparkan sebuah bola energi yang memancarkan cahaya terang dan angin kencang. Bola itu menghantam Billy dan Dirk tepat di dada. Bukan serangan yang mematikan, tetapi cukup untuk membuat mereka pingsan akibat kejutan energi dan kelelahan.
Kabut kegelapan Nathan perlahan menghilang, mengungkapkan kekacauan di area pertempuran. Billy dan Dirk tak bergerak, tergeletak di tanah. Jonas dan Ely berdiri dengan napas tersengal, sementara Nathan, tubuhnya lemas, hampir terjatuh sebelum ditangkap oleh Paman Jorgi yang tiba-tiba muncul.
"Kalian berempat... gila sekali," ucap Paman Jorgi, suaranya campur aduk antara khawatir dan bangga.
Roy, pria yang menyertainya, memeriksa dua ksatria sihir yang pingsan. "Mereka dari Divisi 6. Aku akan menangani mereka." Lalu dia menatap Nathan. "Dan kau... sihir kegelapan yang sangat mengesankan untuk seorang pemula."
Nathan hanya bisa tersenyum lemas. "Aku... hanya melindungi temanku."
Semangat terus kak 💪