Kisah perjuangan Hesti untuk mendapatkan kasih sayang dari orang orang yang dia sayangi. Terutama mamanya.
Hesti terlahir tanpa ayah. Hesti adalah anak yang dilahirkan dari hasil pemerkosaan. Karena itulah mamanya sangat membencinya.
"Kenapa mama sangat membenciku, ma?" Tanya Hesti pada Riana.
"Kamu mau tahu? Nih dengar baik baik, buka telinga kamu lebar lebar.."
Riana menjewer telinga Hesti sangat kuat, lalu dia mendekatkan mulutnya kelubang telinga Hesti.
"Kamu itu anak dari pria yang menghancurkan masa depanku! Aku membencinya, dan aku juga sangat membenci kamu..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
FLASHBACK ON
Sore harinya, Aldo Riana dan Airin pulang dari liburan mereka menghabiskan waktu bersama di tempat camping. Awalnya Aldo sempat kembali ke taman hiburan untuk mencari Hesti, saat Airin dan Riana sedang mandi pagi itu. Tapi Aldo tidak menemukan Hesti sama sekali.
Dia terus mencari menyusuri jalan pulang tapi tidak juga menemukan keberadaan Hesti Dan karena Riana menelpon menanyakan keberadaannya akhirnya dia kembali ke tempat camping. Meski hantinya mengkhawatirkan Hesti, dia tetap tidak meneruskan mencari Hesti karena Riana dan Airin jauh lebih penting untuknya.
Saat mereka tiba di rumah, lagi lagi Aldo tidak menemukan Hesti dan dia mulai makin bertambah khawatir.
"Sayang kita cari Hesti ya. Kasihan dia sendirian diluar sana." Ujar Aldo pada akhirnya memberitahu Riana tentang kekhawatirannya pada Hesti.
"Mas kenapa sih, mengkhawatirkan anak sialan itu. Biarkan saja dia. Kalau perlu dia tidak pernah lagi kembali ke rumah ini selamanya." Sahut Riana.
Aldo hanya bisa menghela napas mendengar kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu.
"Kenapa Riana sangat membenci Hesti sampai sedalam ini. Padahalkan Hesti tidak tahu apa apa. Kasihan kamu Hesti. Maafkan papa nak, papa juga tidak bisa mengorbankan sesuatu untuk bisa membawa kamu kembali. Tapi, papa akan mendoakan semoga kamu ditemukan oleh orang yang baik hati dan bisa memberi kamu kasih sayang yang tidak kamu dapatkan dari kami." Ucap Aldo dalam hatinya.
Sejak saat itu Aldo pun perlahan melupakan Hesti karena jadwal dan juga karena kebahagiaanya bersama istri dan anaknya yang terasa lebih indah tanpa Hesti. Tentu saja begitu, karena Riana sudah tidak lagi emosian dan juga Riana menjadi lebih ceria semenjak Hesti menghilang.
kini Aldo dan Riana sudah siap untuk makan malam di resto berbintang sebagai perayaan hari pernikahan mereka yang ke-empat belas tahun. Mereka sudah berdandan yang cantik dan rapi. Tinggal menunggu Airin yang masih bersiap.
"Mama, nanti aku mau beli baju." Rengek Airin saat dia menuruni anak tangga.
"Iya, nanti kita ajak papa ke mall. Mama juga mau beli baju, soalnya minggu minggu ini banyak yang nikahan, mama mau kondangan memakai gaun yang cantik dan elegan. Bolehkan pa?" Sahut Riana sambil menatap penuh cinta mata suaminya itu.
"Iya sayang, nanti setelah makan malam kita ke mall, kalian boleh belanja apa saja sepuasnya." Ucap Aldo.
"Ye asiiikkk." Airin sangat bahagia.
Malam itu mereka sangat bersenang senang. Kepergian Hesti selama seminggu ini benar benar membuat Riana merasa sangat bahagia seakan semua penderitaan yang menyiksanya telah terangkat pergi dengan menghilangnya Hesti dari kehidupannya.
"Pa, kapan kapan makan pasta sama pizza di restoran itu lagi ya." ucap Airin saat mereka baru saja pulang dari makan malam.
"Iya sayang. Tapi harus nunggu dua minggu lagi ya. Soalnya papa ada jadwal penerbangan mulai besok." Jawab Aldo.
"Huh, lama. Tapi nggak apa apa deh, yang penting papa harus tepati janji." Airin mengulurkan jari kelingkingnya pada papanya.
"Janji." Aldo menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Airin.
Riana selalu bahagia melihat interaksi suami dan putrinya. Dia merasa keluarganya sudah sangat lengkap saat ini. Terlebih setelah Hesti benar benar menghilang dari kehidupannya.
"Sayang, kamu ke kamar duluan gih. Mama mau ngobrol dulu sama papa." Riana meminta Airin untuk ke kamarnya lebih dulu.
"Good night, papa. Good night mama." Ucapnya sambil memberikan ciuman di pipi mama dan papanya.
"Good night sayang." Ucap mereka berbarengan.
Keduanya menatap langkah kecil Airin menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
"Mau ngomong apa sih sayang?" Aldo memeluk Riana dari belakang.
"Hanya ingin berduaan saja. Kan besok subuh mas sudah berangkat lagi. Malam ini aku sangat sangat merindukan suamiku." Riana mendusel manja di ceruk leher Aldo.
"Kita bisa berduaan di kamar kan? Kenapa harus disini?"
"Aku maunya di sini." Riana langsung mencium suaminya sampai suaminya terduduk di sofa ruang tengah.
"Sayang, nanti gimana kalau Airin tiba tiba turun lagi dan melihat kita?" Ucap Aldo melepas ciuman mereka.
"Sayang, kita pindah ke kamar yok." Ajak Aldo saat merasa Riana sudah meraba ke segala arah.
"Gendong!!" Rengeknya manja.
Aldo pun dengan segera menggendong istrinya menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka.
FLASHBACK OFF
*
*
Hesti masih duduk melamun diatas kasur luas nan empuk itu. Sementara wanita separuh baya tadi sudah keluar dari kamar, katanya untuk mengambilkan sarapan untuk Hesti.
CEKLEK
Pintu kamar itu kembali terbuka, wanita tadi kembali dengan membawa piring makanan dan segelas air putih di tangannya.
Pemandagan ini mengingatkan Hesti pada kejadian waktu itu, dimana mbak Widia membawakannya semangkok bubur. Namun, beberapa saat kemudian, mangkok bubur itu tumpah jatuh berserakan di lantai dan pelakunya adalah mamanya.
"Mama!" Seru Hesti dalam hatinya.
"Non, ini sarapannya. Silahkan dimakan dulu, setelah itu nona akan dibawa pergi untuk menemui bapak Herman di rumah sakit." Tutur Wanita itu menjelaskan.
Hesti tidak menjawab, dia hanya tersenyum mengambil alih piring dan gelas dari tangan wanita separuh baya itu.
"Maaf, bu. Tapi untuk apa aku dibawa ke rumah sakit?" Tanya Hesti tampak takut.
"Tidak ada apa apa, non. Bapak sendiri yang ingin ngobrol empat mata bersma non di rumah sakit katanya."
"Mmm."
"Oh iya non. Jangan panggil saya ibu, tapi panggil saja saya bibik Ida."
"Mmh, tidak bolehkah aku memanggil ibu saja. Aku tidak punya siapapun yang mau aku pangil dengan sebutan ibu selain ibu guru di sekolah." Tuturnya.
Sebentar Ida tampak berpikir. "Maaf non, tapi apakah ibu non sudah meninggal?" Tanya Ida hati hati takut salah bicara.
"Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati." Sahut Hesti sambil menunduk mengaduk aduk makanan dalam piring yang ada di hadapannya.
"Mengapa begitu, non?" Tanya Ida bingung mendengar jawaban dari Hesti.
"Raganya masih hidup, tapi mungkin hatinya sudah mati bahkan saat aku masih dalam kandungannya." Jawabnya asal, lalu kembali menyantap sarapannya.
Ida pun berakhir dengan diam saja setelah mendengar pengakuan Hesti tentang sosok mama dalam hidupnya.
"Sepertinya anak ini korban dari keluarga yang broken home. Kasihan sekali jika itu benar. Tapi, beruntungnya dia bertemu dengan bapak Herman dan di saat yang tepat pula. Tapi..." Ida bicara dalam pikirannya.
"Maaf non, bolehkah bibik tahu umur non berapa sekarang?" Tanya Ida. Tentu pertanyaan ini penting untuk segera dipertanyakan agar tidak salah langkah kedepannya.
"Delapan belas tahun, bibik."
"Harusnya sih sudah cukup umur."
"Maksud bibik cukup umur, apa ya?"
"Bukan apa apa, non. Bibik hanya sekedar berucap saja." Sahutnya sambil tersenyum menatap pada Hesti yang begitu lahap menyantap sarapan paginya.
untungnya Hesti sdh pergi. Biarkan Hesti bahagia thor dengan ayahnya meskipun hidup sederhana...
Biarkan Riana mendapatkan balasan atas kekejaman nya selama ini terhadap Hesti. Hidup itu hukum tabur tuai. siapa yg menanam maka dia yg akan menuai hasilnya. .. ☺
sebegitunya bencinya Gilang pada, Gala. Semoga Hesti bisa mbantu memperbaiki hub mereka..