Gara-gara bola basket nyasar, Matahari Senja harus berurusan dengan si badboynya SMA Air langga, pentolan geng Atlantis yang terkenal hobi tawuran, playboy dan balap motor. Batara Matahari namanya
Matahari, nama mereka sama. Takdir keduanya pun hampir sama untuk dituntut sempurna. Tapi takdir tak semudah itu untuk membuat mereka bersatu. Matahari Senja dan Batara Matahari dengan luka mereka masing-masing, bisakah menyembuhkan satu sama lain?
.
Jangan lupa like, komen dan vote...🙏❤️
Follow ig author : @mukarromatul28
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukarromah Isn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rachel
Berkali-kali memperhatikan objek yang sama, Senja jadi tak ragu sama sekali tentang penglihatannya. Di tempat duduk kafe paling pojok, ada perempuan yang berstatus pacar kakaknya. Berkali-kali Senja mengucek matanya untuk melihat lebih jelas dan benar ini memang perempuan itu. Ia yakin perempuan itu tak punya kembaran
Rachel namanya, terlihat mengobrol dengan laki-laki yang seperti lebih tua dari kakaknya. Perbincangan mereka nampak akrab sekali, bukan hanya itu tapi sentuhan mereka juga terbilang intim untuk disebut saudara
"Senja anterin pesanan ke nomor 09" Senja segera mengambil nampan itu. Kebetulan nomor sembilan adalah meja disebelah mereka. Sambil menyajikan pesanan diatas meja, Senja samar-samar mendengar sedikit pembicaraan mereka
"Kok aku sering liat kamu pulang sama mantan kamu? Kamu masih ada hubungan ya sama dia?"
"Sebatas teman aja sih. Dia laki-laki bodoh, mudah banget dikibulin. Sayang kalau laki-laki tajir dilepas gitu aja" balas Rachel dengan santainya. Senja sampai mencengkram nampan itu dengan eratnya
"Iya, tapi aku cemburu liat kamu dekat-dekat sama dia"
"Aku nggak ada hubungan apa-apa. Dia juga kebetulan cuma temen sekelas, dia nawarin ya aku terima daripada nolak rezeki" terdengar tawa bahagia dari keduanya yang membuat hati Senja panas. Inginnya ia memukul nampan itu dikepala Rachel, tapi untungnya ia berpikir panjang karena tau akibat kedepannya seperti apa
.
"Non Senja sekarang jadi sering pulang malam banget ya?" Senja tersenyum saat Pak Niro, satpam rumahnya bertanya. Ia memang tak memberitau siapapun keluarganya kalau ia bekerja
"Iya pak, kebetulan juga lagi banyak tugas" jawab Senja seadanya
"Jaga kesehatan juga, sekarang cuacanya lagi nggak nentu, tiba-tiba hujan tiba-tiba panas"
"Terima kasih perhatiannya Pak Niro, Senja masuk dulu"
Satpam rumah itu tersenyum dan kembali menutup pintu. Senja yang memarkirkan motornya di garasi, ia mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia selalu terharu dengan kebaikan seseorang peduli padanya
Dengan mengendap pelan, Senja membuka pintu rumahnya. Ia berjalan menaiki tangga sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara
"Habis dari mana lo?!" Sebuah suara dibelakangnya mengejutkan gadis itu. Untungnya ia bisa menyeimbangkan langkahnya
"Kak Nathan!" Refleknya, kebetulan ia bertemu dengan Nathan disini. Ia akan memberitau langsung tentang Rachel. Ia tak ingin kakaknya terus dibodohi perempuan itu
Nathan berlalu, ia masuk kedapur dan mulai menuang susu dalam gelas. Senja tebak kakaknya itu tak bisa tidur
"Kak Nathan, aku ketemu sama pacar kakak tadi di kafe" gerakan Nathan sempat terhenti tapi kemudian dilanjutkan seolah tak peduli
"Tapi dia bersama laki-laki lain" Kali ini gerakan Nathan benar-benar terhenti dan menatap adiknya tajam
"Jangan asal ngomong lo! Jangan fitnah orang sembarangan!" Dari nadanya jelas menandakan ketidak sukaan dengan ucapan Senja
"Beneran, dia bareng laki-laki yang aku perkirakan lebih tua dari kakak" balas Senja
"Bisa aja itu saudara dia" jawab Nathan acuh. Setelah meneguk gelas susunya ia hendak naik keatas namun lagi-lagi ucapan Senja membuatnya berhenti
"Tapi dia ngomongin kakak!" balasnya keras kepala
"Dia bilang kakak bodoh dan mudah diperalat! Dia perempuan yang nggak baik buat kakak!" Senja menaikkan nada bicaranya satu oktaf
"DIAM!" Nathan menatap tajam adiknya
"Jaga bacotan lo itu" lanjutnya sarkas
"Tapi bener dia kayak gitu, aku bilang kayak gini buat kebaikan..."
"DIAM GUE BILANG!" Bentak Nathan. Nada bicara mereka bergema dirumah yang mulai sunyi itu
"Lo nggak pantas buat nilai orang yang jauh lebih baik dari lo!" tekan Nathan pada kata-katanya
"Dari segi manapun Rachel jauh lebih unggul dari lo! Dia nggak pantes dibandingin sama lo! Namanya terlalu indah buat disebut oleh mulut kotor lo itu! Jangan berani-berani nya lo nyebarin fitnah tentang dia" Senja mengepalkan tangannya. Andai ia merekam semuanya dan memberikan pada Nathan sebagai bukti
"Dia cuma mau manfaatin kakak doang"
PLAKKK
Sebuah tamparan keras menggema di rumah itu. Dengan keadaan yang mulai temaram, Senja menahan air matanya yang mengalir. Demi tuhan, hatinya lebih sakit dari tamparan itu
"Gue curiga jangan-jangan yang lo bilang itu kelakuan lo sendiri"
"Habis dari mana lo sampai pulang jam segini? Main sama laki-laki kan lo?" Senja menunduk. Ia ingin menutup telinganya dan berlari sejauh-jauhnya
"Nuduh orang lain buat kesalahan yang lo buat sendiri. Nggak punya malu lo?"
"Nathan, ada apa ini?" Lampu ruang tamu dinyalakan hingga suasana kembali terang. Dapat dilihat pula dengan jelas kondisi Senja yang masih terduduk dengan rambut yang menutup wajahnya
"Bilangin sama putri ayah biar nggak suka nuduh-nuduh orang!. Suruh dia perbaiki diri sendiri dulu sebelum fitnah orang lain"
"Tanya juga kenapa dia pulang jam segini. Nathan takut dia cuma bisa malu-maluin nama keluarga" ucap Nathan sebelum akhirnya naik kedalam kamarnya meninggalkan Senja berdua dengan sang ayah
"Dari mana kamu baru pulang jam segini? Tidak ada jadwal tugas apapun dari guru kamu" Senja masih tak menjawab. Gadis itu masih menunduk, berusaha mengendalikan perasaannya yang sudah hancur berkali-kali
"Kamu masih punya telinga kan? Jangan sampai tindakanmu diluar sana membuat ayah malu SENJA!" Bentakan namanya di akhir cukup membuat Senja mendongak menatap ayahnya
"Ayah udah lama nggak nyebut nama Senja. Tapi kenapa harus kasar kayak gitu?" Tanya Senja terkekeh. Ia berdiri dengan tegak, menyugar rambutnya kebelakang dan menatap ayahnya
"Jangan mengalihkan pembicaraan, darimana kamu?" Pak Darmantio seperti tak peduli dengan pipi putrinya yang memerah
"Kalau aku bilang, apa ayah bakal percaya sama aku?"
"Jangan berbelit-belit!"
"Senja baru pulang kerja ayah" jawab Senja lirih, menatap ayahnya dengan senyumannya
"Kerja apa kamu baru pulang jam segini? Kamu jangan..."
"Aku kerja di kafe, jadi waitres. Nggak ada yang tau siapa orang tuaku. Tenang aja, nama baik keluarga ini dan ayah nggak bakal tercemar. Aku bilang sama mereka, aku nggak punya orang tua. Aku cuma anak yatim piatu" jawab Senja kemudian berlalu membiarkan ayahnya yang masih diam disana
Masuk kedalam kamarnya, Senja langsung menutup pintu. Gadis itu memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia mencari sesuatu diatas mejanya yang tak kunjung ia temukan. Ia membuka laci di antara rak buku, mengambil sebotol obat dan menuang beberapa pil dalam tangannya. Gadis itu langsung menelan dengan bantuan sedikit air digelas atas nakas. Tak lama setelahnya rasa kantuk menyerang membuat gadis itu tersenyum dan perlahan terlelap. Selain menyakiti fisiknya, Senja Matahari juga tak bisa lepas dari obat penenang dan obat tidur yang bisa membuatnya menutup mata setidaknya untuk tubuhnya bisa istirahat