Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Nicole Sakit
Gabriel tertawa mendengar ucapan wanita yang ada dihadapannya saat ini. Dia memandangi wajah Berliana dengan sinis.
"Apa aku harus percaya omongan ratu drama seperti kamu?" tanya Gabriel dengan suara tinggi.
Berliana tidak menyalahkan Gabriel jika pria itu tidak percaya dengan ucapannya. Jika dia berada di posisi pria itu, mungkin juga sulit percaya pada omongan orang yang pernah menyakiti kita.
"Apa gunanya aku berbohong? Apa kamu lupa jika malam itu aku melakukan hubungan pertama kalinya denganmu? Aku tidak pernah berhubungan dengan orang lain kecuali kamu? Tapi jika kamu masih tidak percaya, kamu bisa melakukan tes DNA," ucap Berliana dengan penuh penekanan.
Bagaimana pun caranya, Berliana bertekad harus bisa meyakinkan pria itu jika dia memiliki anak. Jika di minta bersimpuh di kaki pria itu, dia akan melakukan demi sang buah hati.
Mendengar ucapan Berliana, pikiran Gabriel langsung tertuju pada Nicole, gadis cilik yang memiliki wajah mirip dengannya. Kemungkinan itu anaknya memang ada karena dia ingat jika bocah itu adalah putrinya.
Gabriel juga langsung teringat malam panas mereka. Berliana saat itu memang masih perawan. Dia sempat ingin mengurungkan niat untuk berhubungan badan saat itu.
"Jika memang itu putriku, kenapa kamu tidak pernah mencariku selama ini?" tanya Gabriel.
Dia tidak akan bisa terima jika Berliana selama ini sengaja menyembunyikan keberadaan putrinya. Sebagai ayah biologisnya, bukankah dia juga berhak mengetahui keberadaan putrinya itu.
Berliana menarik napas dalam. Berusaha menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Gabriel.
"Aku menyembunyikan keberadaannya darimu karena aku tidak mungkin membawa dia ke rumah tahanan. Lagi pula aku takut kehadirannya tidak bisa kamu terima," ucap Berliana pelan.
Kembali Gabriel tertawa mendengar ucapan wanita yang ada dihadapannya. Dia tidak tahu apa tujuan Berliana akhirnya mengatakan kebenaran ini.
"Jadi kamu malu mengatakan pada anak itu jika ayahnya seorang buronan yang dipenjarakan ibunya karena perbuatan yang tidak pernah dia lakukan!" ucap Gabriel dengan emosi.
"Aku tidak ada hak untuk menyelidiki. Ketika aku diperintahkan untuk menangkap kamu, tentu aku hanya melaksanakan perintah!" ucap Berliana.
Gabriel berdiri dari duduknya dan mendekati Berliana. Berdiri tepat di hadapan wanita itu. Menatapnya nanar.
"Katakan maksud kamu mengatakan semua ini? Jika kamu memang ingin sembunyikan identitas anakmu, kenapa akhirnya kau mengatakan padaku saat ini?" tanya Gabriel dengan lantang.
Berliana ikut berdiri dan menatap tajam ke arah pria itu. Ini saatnya dia mengatakan semuanya.
"Nicole menderita penyakit kanker darah dan ayah biologislah yang bisa menyembuhkan dia dengan cara pencangkokan sum-sum tulang belakangnya. Hanya kamu yang bisa menyembuhkannya. Aku mohon, lakukan demi Nicole ...." Kembali Berliana berlutut di depan Gabriel memohon untuk kesembuhan putrinya itu.
Tanpa peduli Berliana yang berlutut, Gabriel lalu berjalan meninggalkan wanita itu. Saat dia akan membuka pintu ruangan itu, Berliana segera berdiri dan berlari. Dia memegang tangan Gabriel, menahannya untuk tidak pergi.
"Aku mohon, Bang. Tolong putriku. Dia itu juga putrimu. Apa kau tega melihat darah dagingmu menderita penyakit. Kau boleh menghukumku, tapi jangan putriku. Nicole tidak bersalah. Walau dia hadir karena kesalahan kita," ucap Berliana dengan suara memohon.
Gabriel tidak menjawab apa pun dari ucapan Berliana. Dia menyentakan tangan wanita itu agar terlepas dari tangannya. Setelah itu berlalu dari situ dengan berjalan cepat.
Berliana tidak tinggal diam, dia mengikuti langkah Gabriel. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Tessa yang langsung memeluk pria itu.
"Kamu kemana saja? Lama banget," ucap Tessa dengan manja.
Wanita itu memeluk erat lengan Gabriel. Sepertinya dia ingin mengatakan pada seluruh orang jika pria itu adalah miliknya.
Berliana hanya bisa menatap dengan nanar semua pemandangan yang ada di depan. Wanita itu berpikir jika Tessa adalah istrinya Gabriel.
"Kamu sudah makan?" tanya Gabriel dengan suara datar. Matanya sempat melirik keberadaan Berliana yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sudah. Perutku lapar, aku makan duluan. Aku temani kamu makan." Tessa mengajak Gabriel untuk kembali ke meja makan.
Gabriel hanya tersenyum menanggapi ucapan wanitanya. Dia sudah kehilangan selera makannya.
"Kita pulang saja. Perutku masih kenyang," jawab Gabriel.
Tessa memandangi kekasihnya dengan dahi berkerut. Dia heran mendengar jawaban pria itu. Tadi saat akan ke restoran, Gabriel sangat antusias ingin makan karena perutnya yang lapar. Namun, mengapa tiba-tiba mengatakan kenyang.
"Kamu sudah makan dengan siapa? Di mana?" tanya Tessa curiga. Tanpa sengaja matanya menatap ke arah Berliana yang berdiri dengan pandangan terus tertuju pada Gabriel. Tessa tidak suka jika ada wanita yang menatap prianya.
"Aku tidak makan dengan siapapun. Tadi aku di ruang kerja, banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Apakah kamu bisa pulang duluan? Aku panggilkan taksi. Kamu bisa pergi ke mal sendiri. Aku transfer uangnya," ucap Gabriel.
"Kalau begitu, biar aku temani kamu saja," jawab Tessa.
Gabriel tidak mungkin membiarkan Tessa tetap di sini. Dia ingin bicara sekali lagi dengan Nicole. Wanita itu bisa curiga nanti. Apa lagi jika dia tahu keberadaan Berliana.
"Kamu akan bosan. Lagi pula aku tidak tega melihat kamu berdiam diri. Nanti jika aku bisa selesaikan dengan cepat, aku akan menyusul kamu."
Tessa tidak begitu peduli dengan ucapan Gabriel. Matanya lekat menatap ke arah Berliana. Menyadari pandangan Tessa tertuju padanya, wanita itu berbalik dan berjalan menuju dapur.
"Siapa wanita tadi? Aku baru melihatnya. Dia berpakaian karyawan restoran ini. Kenapa aku tidak mengenalnya?" tanya Tessa curiga.
Gabriel memegang tangan Tessa, megajaknya keluar dari restoran. Pria itu tidak mau terjadi keributan. Dia tahu betul jika kekasihnya ini pencemburu.
"Aku telah mentransfer dua puluh juta. Kamu bisa beli apa yang kamu inginkan. Aku panggilan taksi dulu," ucap Gabriel mengalihkan pembicaraan.
Tessa yang mendengar nominal yang telah ditransfer pria itu menjadi bahagia. Dia hanya menganggukan kepala tanda setuju.
Tidak berapa lama, taksi yang di pesan datang. Gabriel membukakan pintu untuk wanitanya. Mengecup pipi wanita itu.
"Jangan pulang larut. Jika aku bisa selesaikan lebih cepat, aku akan menyusul. Kabari jika telah sampai di mal. Ingat, jangan sampai terlena hingga lupa waktu," pesan Gabriel dengan penuh perhatian.
Tessa membalas mengecup pipi pria itu. Tersenyum dengan manis karena dia merasa beruntung dicintai pria sebaik Gabriel.
"Kamu juga harus ingat waktu. Jangan lupa makan. Katanya kamu belum makan," ucap Tessa mengingatkan. Gabriel hanya menganggukkan kepalanya senti jawaban.
Taksi mulai berjalan meninggalkan halaman restoran. Pria itu menatap hingga taksi hilang dari pandangan matanya. Ketika dia berbalik, ingin masuk ke restoran lagi, dia melihat Nicole yang temenung di bawah pohon.
Gabriel melangkah mendekati bocah cilik itu. Pria itu kaget saat melihat darah keluar dari hidung Nicole.
"Hidungmu berdarah ...," ucap Gabriel kuatir.
Nicole tersenyum pada pria itu. Dia menghapus darah yang keluar dari hidung dengan tangan mungilnya.
"Om jangan kaget begitu, aku sudah sering mengalami ini. Ibu juga selalu kuatir dan menangis jika melihat aku begini. Padahal tidak apa-apa. Aku anak kuat, aku bisa menahannya," ucap Nicole pelan.
Mendengar ucapan bocah itu, Gabriel langsung menggendong Nicole. "Ini bukan hal sepele, kamu harus diperiksa dokter," ucap pria itu.
Gabriel menggendong Nicole menuju mobilnya. Bertepatan saat itu Berliana keluar dan melihatnya. Dia pikir Gabriel akan membawa kabur putrinya. Wanita itu berlari mengejar Gabriel.
...----------------...