Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.
Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
"Apa Abi menyuruh ustadz Fatih datang kemari?,". Tanyaku kepada Abi yang sedang duduk diruang tamu dengan telepon genggam ditangannya.
"Iya kak, Abi suruh nak Fatih datang kerumah. Karena Abi rasa akan lebih enak jika disampaikan langsung. Tadi Abi suruh nak Fatih datang setelah shalat ashar. Paling sebentar lagi datang,".
"Kak Aisyah tidak perlu ikut menemui nak Fatih. Kakak di kamar saja. Nanti biar Abi dan Umi saja yang bertemu dengan nak Fatih,".
Nampaknya Abi menangkap gelagat aneh dari wajahku. Gelagat apalagi kalau tidak mengenai bertemu dengan ustadz Fatih. Abi sepertinya mengerti bahwa anak gadisnya masih malu bertemu dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya.
"Apa tidak apa-apa Bi?,". Tanyaku meyakinkan Abi.
"Iya kak, tidak apa. Itu sepertinya mobil nak Fatih sudah datang. Tolong panggilkan Umi kemari ya kak. Dan kak aisyah kekamar saja,".
Pinta Abi padaku seraya menuju ke teras depan. Aku melihat mobil hitam dengan plat nomor yang sama datang memasuki halaman rumah. Aku bergegas pergi dari ruang tamu dan mencari keberadaan Umi.
"Mi... Umi... Umi...,". Panggilku sambil melangkah mencari keberadaan Umi. Belum selesai langkah kakiku menghampiri, Umi sudah lebih dulu menjawab panggilan dariku.
"Iya kak, Umi sedang menyiapkan minuman dan makanan untuk nak Fatih. Nanti Umi kedepan. Kak Aisyah dikamar saja,".
Aku lantas menghentikan langkahku dan membalikkan badan menuju kamar.
"Baik Umi,". Jawabku seraya berlalu menuju kamar.
Aku membuka kamarku, dan duduk dengan memeluk kedua lutut kakiku, menghadap ke jendela kamar. Jendela kamarku menyuguhkan pemandangan kebun belakang yang sangat asri dan menyejukkan. Aku menerawang jauh tentang kehidupan yang akan aku jalani setelah menyandang setatus menjadi seorang istri.
#
Aku berjalan menuju keberadaan Abi dik Aisyah berdiri sembari mengucapkan salam dan menjabat tangannya.
"Assalamualaikum Abi,".
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, sini masuk kedalam nak Fatih,". Aku membuntuti Abi dari belakang masuk menuju ruang tamu.
"Silahkan duduk nak,". Sambung Abi lagi sembari mempersilakan aku untuk duduk.
Aku mengikuti perintah Abi dan duduk didepan beliau.
Jujur, detak jantungku semakin berdebar kencang. Bahkan tanganku mulai keluar keringat dingin. Aku gugup segugup-gugupnya. Aku berusaha menenangkan diri dan hatiku, rasanya memalukan jika Abi dari calon istriku memergoki calon menantunya segugup itu. Apa?, calon istri?, calon menantu?. Nampaknya aku sudah terlalu jauh berharap lebih. Bagaimana mungkin aku dengan pedenya menyebut dik Aisyah calon istriku dan Abinya dik Aisyah calon mertuaku?. Bahkan nasibku saja masih belum jelas, diterima atau bahkan malah ditolak oleh seorang Aisyah. Astaghfirullah...
"Sudah lama nak?,". Tanya seorang wanita berjilbab panjang berwarna hitam kepadaku. Ternyata Umi dari dik Aisyah yang datang dengan membawa 3 gelas air, lengkap dengan beberapa kaleng makanan ditangan.
"Oh tidak Umi, Fatih baru saja sampai. Mohon maaf ya Mi Bi, Fatih jadi merepotkan gini,". Ucapku sambil membantu menaruh gelas dan kaleng makanan dimeja.
"Oh tidak nak, sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula sudah menjadi adab seorang muslim untuk menjamu dan memuliakan tamunya. Bukankah Rasulullah menyuruh kan hal itu kepada kita?. Bahkan dalam sabdanya Nabi berkata bahwa “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, (HR. Bukhari),".
Umi menjelaskan hal ini padaku sembari menuangkan air teh kedalam tiga gelas yang masih kosong dimeja. Bahkan sebenarnya aku sendiripun sudah sangat tahu tentang hadist itu. Aku hanya saja merasa tidak enak, karena sudah membuat Umi dik Aisyah repot membawa gelas dan kaleng-kaleng makanan.
"Iya Umi, jazakillahkhoyr,". Jawabku sambil tersenyum.
"Bismillah, jadi langsung saja ya nak. Begini nak Fatih sebelumnya dari kami minta maaf jika ada tutur kata atau sikap kami kepada nak Fatih yang tidak berkenan dihati nak Fatih. Dan mengenai keputusan putri kami Aisyah, kak Aisyah sudah menyampaikan keputusannya kepada kami saat ba'da shalat subuh tadi pagi. Dan kak Aisyah meminta tolong kepada kami untuk menyampaikan keputusannya kepada nak Fatih,". Ucap Abi dik Asiyah kepadaku.
Aku merasa takut mendengar kata-kata yang akan aku dengar dari Abi setelah ini. Ya Allah, aku sangat risau. Tapi aku serahkan segalanya kepada-Mu ya Rabb, apapun keputusan yang akan ku terima hari ini, itu pastilah keputusan yang terbaik menurut Engkau. Ucapku dalam hati.
Aku menanti ucapan Abi selanjutnya yang akan Abi sampaikan kepadaku dengan jantung yang sangat berdebar-debar.
"Dan keputusan dari putri kami setelah 3 hari sejak prosesi ta'aruf dan khitbah empat hari yang lalu, dan dengan melalui beberapa kali shalat istikharah dan memohon petunjuk dari Allah, Putri kami Aisyah Fatimatul Salwa menerima nak Fatih untuk melanjutkan ke proses khitbah (lamaran),".
Saat itu, detik itu, aku seperti sedang bermimpi. Bahkan ketika Abi menyatakan bahwa putrinya menerima untuk melanjutkan proses khitbah aku masih dalam kondisi yang melongo tanpa respon apapun. Aku tidak bisa membayangkan ekspresi apa dan bagaimana aku mengutarakan rasa bahagiaku yang membara.
Aku lalu bertanya kembali kepada Abi.
"Abi?, bias Abi ulang apa yang barusan Abi sampaikan kepada saya?,". Ucapku masih dalam eskpresi melongo tak percaya.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum, lantas Abi dik Aisyah melirik ke arah Umi, dan Umi hanya tersenyum dan menganggukkan kepala serasa menyetujui permintaanku untuk mengulang apa yang baru saja Abi sampaikan kepadaku.
"Bismillah, nak Fatih. Abi ulang untuk yang kedua kalinya dan yang terakhir kalinya. Bahwa putri kami Aisyah Fatimatul Salwa menerima nak Fatih untuk melanjutkan ke proses khitbah,". Ulang Abi dengan sedikit agak kencang. Mungkin agar aku tak meminta untuk mengulanginya untuk yang ketiga kalinya.
"Alhamdulillah ya Allah ya Rabb, Engkau kabulkan doaku. MasyaAlloh tabarakallah, Jazakumullah'khoyr Abi Umi,". Aku kemudian bangkit dari tempat dudukku dan melakukan sujud syukur kepada Allah Rabb segalanya. Tak terasa air mataku menetes deras. Saat itu aku tidak memikirkan lagi, apa yang ada di benak kedua orang tua dik Aisyah. Yang jelas saat itu, aku benar-benar teramat sangat bahagia.
Ada tangan yang mengangkat kedua bahuku.
"Nak, bangunlah,". Pinta Abi kepadaku.
Aku lantas mengangkat tubuhku dari posisi duduk sambil mengusap bekas air mataku seraya memeluk erat tubuh laki-laki yang akan menjadi Abi kedua dalam hidupku. Aku menangis dipelukan Abi dik Aisyah.
Aku juga melihat Umi ikut menitikan air matanya. Sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepadaku. Aku membalas senyumnya.
Aku kemudian duduk ditempat semula. Umi menyuruh diriku untuk meminum teh manis hangat milikku.
"Nak Fatih, minumlah teh nya. Agar sedikit lebih lega,". Pinta Umi padaku. Aku kemudian mengangkat gelas teh milikku dan meneguk teh manis hangat itu sedikit demi sedikit.
Aku mengedarkan pandanganku kebeberapa titik. Aku tidak mendapati sosok Aisyah hari ini. Mungkin saat ini, dia sedang ada tugas kelompok pikirku.
"Apa tadi terkena macet nak?,". Tanya Abi memecah lamunanku.
"Alhamdulillah Abi, tadi jalanan tidak terlalu ramai. Bahkan dibilang lumayan sepi. Apa Fatih datang terlambat Bi?,". Aku bertanya takut aku sudah membuat calon mertuaku menunggu terlalu lama. Ciee... Alhamdulillah aku bisa memanggil mereka calon mertua akhirnya, batinku. Aku tersenyum.
"Oh iya Alhamdulillah kalo tidak macat. Tidak nak Fatih, kamu sama sekali tidak terlambat,". Jawab Abi lagi.
Pertemuan itu kami habiskan dengan berbincang-bincang ringan. Tentang banyak hal. Termasuk tentang kapan proses lamaran akan segera di laksanakan.
"Untuk proses lamaran nya, nanti kita bicarakan lain waktu saja ya nak. Nanti kami diskusikan dengan kak Aisyah dulu, dan nak Fatih silahkan juga diskusikan dengan kedua orang tua nak Fatih dulu,". Ucap Abi kepadaku.
"Baik Abi Umi, kalau begitu Fatih pamit pulang dulu, kebetulan ada tugas dari dekan kampus yang harus Fatih selesaikan,". Pamitku kepada Abi dan Umi.
"Baik nak, silahkan. Hati-hati dijalan nak. Mohon maaf jika kami ada khilaf yang tidak di sengaja,". Ucap Umi.
"Baik Umi Abi, jazakumullah'khoyr atas segala kebaikan Umi dan Abi kepada Fatih. Fatih juga sebaliknya minta maaf jika ada khilaf yang tidak Fatih sengaja kepada Umi dan Abi,".
"Baik Bi Mi, Fatih pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,". Ucapku sambil berdiri dan berjalan keluar menuju mobil.
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,". Ucap Umi dan Abi membalas salamku seraya berjalan beriringan memgantarku hingga didepan teras rumah.
Aku menaiki mobil, dan melambaikan tanganku kepada mereka. Mereka juga membalas dengan melambaikan tangan kepadaku. Mobilku melaju meninggalkan halaman rumah dik Asiyah dan berlalu menuju rumahku.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca