Meski sudah berada di dunia yang berbeda. Sava masih merasa jika suaminya yang telah meninggal itu masih hidup dan ada di sekitarnya.
Cinta sejati itu memang ada.
Selamanya kamu akan terikat dengan seseorang yang kau anggap sebagai belahan jiwa mu.
Bagaimana perjuangan Sava untuk bisa melanjutkan hidupnya tanpa belahan jiwanya.
Apakah ia bisa menemukan pengganti belahan jiwanya yang sudah tiada.
(Novel ini beralur maju mundur, jadi harus cermat agar bisa memahami isi dari novel ini)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watilaras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I need you
Sava POV
Setelah aku melepas Emieer pagi ini. Saat ia berangkat bekerja. Aku merasakan firasat aneh.
Kenapa tiba tiba dada ku terasa sesak dan seluruh tubuh ku gemetaran.
Rasanya ada sesuatu yang berbeda. Tidak seperti hari-hari biasa nya kala aku memperhatikan Emieer pagi ini.
Pagi ini wajah nya nampak cerah bersinar. Aroma tubuh nya lebih wangi dari pada biasanya.
Dan, sesaat tadi aku melepas kepergiannya, dan ketika ia melepaskan tangan ku. Seolah-olah aku tidak rela di lepaskan pegangan tangan ku yang membelit tangannya.
Sampai sampai, aku memastikan Emieer benar benar sudah pergi baru aku kembali ke kamar.
Aku masih ingat bagaimana dia tadi terakhir menatap ku. Tatapan matanya aneh yang tajam.
Manik mata nya nampak menatap ku penuh damba.
Dan senyuman yang ia rekakan tadi seperti senyuman paling indah dan sempurna yang pernah ku liat dari ribuan kali dia pernah tersenyum untuk ku.
Tatapan Emieer tadi seolah menyiratkan sesuatu yang mendalam.
Tatapan tajam menikam hati, jiwa bahkan sampe ke relung hati ku paling dalam.
Emieer, kenapa aku sekarang merindukan mu. Padahal kamu baru saja pamit untuk bekerja.
Cara berpamitan mu pagi ini terasa aneh buat ku.
Kamu memang selalu pamitan kerja dengan cara yang manis padaku. Kau melakukan itu di setiap pagi.
Tapi ada apa dengan hari ini, Kenapa rasanya aku berat melepaskan mu.
Setelah aku diam terduduk di kursi sambil sibuk berprasangka aneh dengan perasaan ku sendiri.
Tiba tiba perut ku terasa mulas. Akupun akhirnya memutuskan untuk ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi. Akhirnya aku keluar kamar dengan keringat yang sudah membanjir tubuh ku.
Entah kenapa perut ku tiba tiba menjadi sangat mulas. Dan setelah aku rasa rasa, kini rasa mulas yang ku rasakan datang dan pergi.
Kemudian aku berjalan ke arah ranjang. Merebahkan diriku di sana.
Ku atur nafasku pelan dan ku selonjoran kedua kaki ku untuk menetralisir rasa mulas yang kini terasa datang dan pergi dengan jeda waktu yang tak kurang dari lima belas an menit sekali.
Kemudian, aku teringat akan sesuatu yang aku baca dalam buku yang Emieer pernah beli kan untuk ku.
Jika salah satu tanda kita hendak melahirkan adalah. Datang nya rasa mulas yang tiba-tiba datang dan juga tiba tiba pergi.
Kemudian aku cek kembali tanggal prediksi melahirkan yang sudah aku tau jauh jauh hari.
Dan Minggu ini memang minggu-minggu prediksi aku akan melahirkan.
"Jika memang kau ingin lahir, lahirlah yang pintar ya sayang." ucap ku pada bayi di dalam perut ku, sambil ku elus perut ku pelan. Dan dari dalam sana aku merasakan tendangannya.
"Papa sedang bekerja. Kalau kamu mau lahiran nanti kita beri tau papa ya." ucap ku lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa jam kemudian
Aku merasakan rasa mulas di perut ku semakin hebat. Kini rasa mulas yang timbul semakin sering.
Karena sudah merasa tidak nyaman lagi, aku berusaha untuk bangkit dari rebahan. Kemudian aku berjalan pelan menuju kamar mandi sambil memegangi pinggang ku yang terasa luar biasa pegal sekarang.
Ketika aku sudah di kamar mandi, dan hendak buang air kecil. Aku dikagetkan dengan adanya berca bercak darah bercampur lendir di ****** ***** ku.
Dari sana aku sudah berkesimpulan bahwa, aku memang saat ini hendak melahirkan.
Akhirnya setelah aku bisa mengontrol diri untuk tetap tenang dan menganti ****** ***** yang baru, aku berniat menghubungi Emieer.
Kini waktu telah menunjukkan pukul satu siang.
Biasa Emieer akan menghubungi ku di jam jam makan siang. Dan tak lama kemudian ponsel ku pun berdering.
"Sayang, kau sedang apa." sapa Emieer pada ku dengan suara nya yang merdu di sebrang sana.
"Emieer, sepertinya aku mau melahirkan. Aku mendapati bercak merah di ****** ***** ku. Dan perut ku sering mulas." Aku menceritakan tentang kondisi ku pada Emieer lewat sambungan telepon.
"Apa! Kauy mau melahirkan!" seru Emieer dari sebrang telepon.
Dan aku bisa mendengar nada suara nya ada secercah kekawatiran dan rasa panic.
"Kalau begitu kamu tunggu aku di rumah ya sayang. Aku akan minta izin sekarang juga. Aku akan pulang." jawab Emieer dengan nada suara panic.
"Emieer sayang. Jangan panic, aku tunggu kau di rumah. Hati hati di jalan ya." ucap ku memperingatkan nya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Emieer POV.
Begitu aku mendapat telepon dari Sava jika dia sudah mulai ada tanda tanda mau melahirkan. Aku segera bergegas untuk meminta izin pulang lebih cepat.
Aku tidak bisa membayangkan jika saat ini Sava sedang merintih kesakitan di rumah sendirian.
Pantas saja dari pagi aku sudah mulai tak tenang memikirkan Sava.
Dan semalam juga aku bersyukur. Aku sudah menyiapkan perlengkapan tas bersalin untuk nya..
Jadi sampe tempat kost nanti aku bisa langsung segera membawakan Sava bidan untuk melahirkan.
Aku tak bisa membayangkan, betapa senangnya hati ku. Karena sebentar lagi aku akan bisa menimang putra ku.
Sejak aku mengetahui jika jenis kelamin anak ku laki laki aku sangat bahagia.
Dengan cepat, kini aku membereskan semua barang-barang ku.
Setelah mendapat izin untuk pulang cepat. Aku tak ingin membuang-buang waktu.
"Emieer, semoga persalinan Istri mu lancar ya," ucap Devan. Satu satu nya sahabat baik ku di tempat kerja.
"Terimakasih Devan. Aku sudah tak sabar untuk pulang. Dan menemani Sava melahirkan." Kata ku pada Devan yang kala itu menghampiri ku.
Sesampainya di tempat parkir. Aku langsung mengenakan helm milikku.
Setelah mesin motor ku nyalakan, segera ku kendarai motor ku untuk meningalkan halaman parkir tempat ku kerja.
Aku tak sanggup membiarkan Sava merasakan kesakitan sendirian di kamar kost.
Dari dulu aku tak pernah tega melihat nya menangis atau pun melihatnya kesakitan.
Tunggu aku Sava sayang. Aku akan segera datang. Dan aku akan membawa mu ke tempat bersalin. Akan ku dampingi diri mu untuk melahirkan anak kita, buah cinta kita, darah daging kita.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sava POV
Sudah sejak dua jam yang lalu aku menghubungi Emieer. Kenapa dia belum juga datang.
Rasa nya aku sudah tak tahan lagi menahan rasa nyeri dan mulas yang sudah mulai makin tak tertahankan rasa nya.
Aku kini bahkan tak kuat lagi untuk berjalan.
Mulas yang ku alami semakin lama semakin kuat.
Dan kini, aku merasakan kembali ****** ***** ku basah.
Dengan berjalan tertatih menuju meja, ku raih ponsel ku kembali dan ku hubungi Emieer.
"Emieer, tolong cepat angkat. Aku sangat membutuhkan mu sekarang!" ucap ku sambil meringis menahan sakit di bagian perut.
Setelah sekian detik aku menunggu dia mengangkat pangilan ku. Akhirnya aku mendengar suara.
"Halo sayang. Sabar ya, aku sebentar lagi sampai," ucap nya. Mendengar dia bilang seperti itu entah kenapa aku mengalihkan pangilan dari pangilan suara ke pangilan video call.
"Menepilah Emieer, aku ingin video call." ucap ku.
"Sebentar." jawab nya singkat. Dan tak lama pangilan video call kami pun tersambung.
"Bagaimana Sava, kau masih kuat kan. Jangan vidio call dulu, jangan menelpon ku lagi, biar aku cepat sampe dan membawa mu ke tempat bersalin." ucap Emieer dengan wajah yang aku bisa liat, ia nampak kawatir.
"Ia sayang, cepatlah pulang. Aku rasa nya sudah tak tahan lagi. Sakit Emieer." ucap ku sambil meringis dan merintih menahan sakit yang luar biasa. Sakit yang tak pernah ku alami sebelumnya. Apakah seperti ini sakit nya akan melahirkan.
"Sava, tunggu aku. Aku akan datang, percayalah pada ku. Kau akan baik baik saja, kau dengar aku Sava, tunggu aku. Aku akan datang !" ucap nya. Kemudian aku sudah tidak mendengar lagi suara nya.