Naura Aurora, (18thn). Gadis SMA yang memiliki nasib menyedihkan, karena selalu diremehkan oleh ketiga kakaknya bahkan dia nyaris dijual untuk membayar hutang sang kakak.
Arnold William Maxime (35thn). Seorang pengusaha besar, tampan dan gagah yang memiliki hobi membawa racun serangga kemanapun dirinya pergi, memiliki tangan ajaib, takut ketinggian, dan hal-hal aneh yang belum pernah dia lihat.
Kira-kira, bagaimana jadinya jika mereka disatukan secara tidak sengaja dalam satu rumah? Ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, Naura tampak memeluk batu nisan milik mendiang ibunya. Di atas pusara wanita yang selalu ia rindukan kehadirannya, gadis itu menangis meluapkan semua kesedihannya pada sang ibu.
"Ma, Naura kangen sama Mama. Naura kangen di peluk Mama, Naura rindu kehadiran Mama di samping Naura," ucapnya tersedu.
"Maafkan Naura, Ma. Karena hari ini, Naura datang dalam keadaan kacau dan menangis. Maafkan Naura, karena aku mengingkari janji pada mama untuk tidak cengeng lagi." Naura mengusap bulir bening yang jatuh ke pipinya.
"Ma, bisakah mama jemput aku sekarang? Naura capek ma, Naura tidak sanggup lagi dengan semua masalah yang menimpa Naura. Naura—," gadis itu tak kuasa untuk mengungkapkan perasaannya lagi, ia kini menangis tersedu-sedu di atas pusara sang ibunda.
Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kebahagiaan apapun. Hidupnya selalu saja dirundung kesedihan dan masalah yang bertubi-tubi.
Hidup tanpa orang tua, tumbuh besar bersama ketiga kakaknya bagaikan terombang-ambing di lautan yang luas.
Tekanan demi tekanan, yang selalu di berikan oleh ketiga kakaknya membuat Naura harus berusaha untuk tetap tegar dan menahan semua siksaan fisik maupun verbal yang diberikan oleh ketiga kakaknya.
🌸🌸🌸
"Ikut gue." Farel menarik tangan Angel dan membawanya ke ruangan OSIS.
"Aw, Farel sakit tahu," ringis Angel, gadis yang selalu jadi sorotan para penghuni sekolah itu berjalan dengan cepat untuk mengimbangi langkah kaki Farel yang menyeretnya.
Farel mendorong Angel, ke sebuah bangku dan mengunci pintu ruangan tersebut.
Angel tersenyum, otaknya yang minus berpikir jika Farel akan melakukan hal-hal yang manis seperti yang ada di film-film.
Pipi Angel tiba-tiba memerah, saat pria yang ia sukai mendekati dirinya.
"Farel, kamu tidak bisa melakukannya disini," ucap Angel malu-malu tapi mau.
Farel mengeraskan rahangnya, dan begitu muak pada sikap Angel yang berlebihan.
"Apa yang lo lakuin sama, Naura?" tanya Farel datar.
Angel mengangkat wajahnya dan menatap Farel dengan tatapan polos.
"Maksud kamu?"
"Nggak usah pura-pura deh lo, gue tahu lo kan yang udah negbully dia."
Sial, gue kira dia bawa gue ketempat sepi buat nyatain perasaannya, eh malah ngomongin si Naura. Dengus angel sebal.
"Jawab gue Angel!" sentak Farel membuat gadis dengan style serba pinknya itu terhenyak.
"Apa sih, Rel? Lo bawa gue ke ruangan ini cuman buat nanyain hal ini ke gue, nggak penting banget sih," ketus Angel memalingkan wajahnya dari Farel.
"Mungkin menurut lo nggak penting, tapi apapun yang berhubungan dengan Naura itu penting bagi gue."
"Cih, emang apa istimewanya sih cewek kayak dia? Dan sejak kapan juga lo jadi perhatian sama dia … bukannya dari dulu lo juga ngebully dia, terus kenapa sekarang gue ngebully dia Lo marah sama gue," sahut Angel tersenyum kecut.
Farel merapatkan tubuhnya pada Angel, dan meremas bahunya kuat. Sorot mata Farel terlihat begitu berapi-api.
"Lo nanya, apa istimewanya dia? Dia sangat istimewa bagi gue, cuman gue yang boleh ngebully dia, cuman gue yang boleh nyakitin dia dan lo harus inget siapapun yang berani menyentuh dan nyakitin Naura dia bakal berhadapan sama gue, termasuk elo … paham!" Farel mendorong tubuh Angel dan meninggalkankan gadis itu di ruangan OSIS sendiri.
Angel mengeratkan kedua tangannya, menatap punggung Farel yang perlahan menghilang dari pandangannya dengan tatapan marah.
Ia baru tahu ternyata Farel menyimpan rasa pada Naura sudah sejak lama, Angel yang cemburu pun tak dapat menerima kenyataan semua ini. Dia harus bisa mendapatkan Farel bagaimana pun caranya.
🌸🌸🌸
Jam istirahat telah usai, semua murid masuk kedalam kelasnya masing-masing. Suasana di luar sekolah terdengar sunyi, hanya ada suara samar-samar dari para guru yang sedang menjelaskan tentang materi terhadap murid-muridnya.
Farel duduk di bangkunya, menatap bangku kosong yang ada di hadapannya. Hatinya terasa begitu hampa, karena tidak ada gadis-gadis yang biasa ia ejek.
Gadis-gadis yang selalu membuat ruangan kelasnya ricuh, gadis-gadis yang selalu beradu mulut dengannya. Farel menghela napasnya dalam dan menyandarkan punggungnya pada kursi.
Srek …
Satu cup cappucino, Angel sodorkan pada Farel.
Farel, menatap cairan berwarna coklat itu sekilas.
"Farel, please maafin gue. Gue janji deh nggak bakal ngelakuin kayak gitu lagi," ujar Angel dengan mimik muka memelas.
Farel hanya memutar bola matanya malas.
"Farel." Angel duduk disampingnya dan menyentuh tangan Farel yang sejak tadi tak bergeming.
"Ih, Farel! Farel !!"
"Apa sih lo! Kalau lo mau minta maaf, minta maaf sama Naura bukan sama gue! Berisik banget," sentak Farel membuat teman sekelasnya menatap ke arah mereka berdua.
Farel pergi meninggalkan kan kelasnya sembari membawa tasnya. Sementara Angel terlihat cemberut karena sikap Farel yang begitu jahat padanya.
"Awas aja lo, Naura. Gue bakal buat perhitungan yang lebih dari ini," gumam Angel dalam hati.
🌸🌸🌸🌸
Dalam keadaan lengket dan pakaian yang kotor, Naura pulang ke rumahnya. Niat hati ingin menenangkan diri di dalam kamar namun, Tuhan masih ingin menguji kesabaran gadis cantik itu.
Begitu masuk ke dalam rumah, Naura sudah disuguhi pemandangan rumah yang seperti kapal pecah. Suara teriakan dari dua orang yang berasal dari arah kamar, membuat Naura menarik napasnya dalam.
Ia menoleh ke arah sudut sofa, di lihatnya Sandi sang keponakan sedang menangis sembari menutup kedua telinganya.
Naura langsung menghampiri keponakannya, memeluknya dan membawanya ke dalam kamar.
"Tante, sandi takut," ucap bocah laki-laki berusia 7 tahun.
"Sandi tenang ya, ada Tante disini." Naura ingin memeluk sandi lagi tapi ia sadar dirinya masih dalam keadaan kotor, sehingga ia mengurungkan untuk memeluknya.
"Sandi tunggu disini sebentar ya, Tante bersih-bersih dulu."
Bocah laki-laki itu mengangguk dan meringkukan tubuhnya diatas kasur Naura.
Setelah beberapa saat kemudian, Naura yang sudah terlihat rapi dan bersih kembali ke kamarnya dan menghampiri keponakannya.
"Sandi, apa yang terjadi? Kenapa mama dan Papa kamu bertengkar?"
"Tadi mama bawa Om ke kamar, terus Papa datang dan marah-marah. Mama sama om di pukul sama papa, sandi takut Tante." Sandi memeluk Naura erat, tubuhnya yang bergetar masih begitu terasa oleh Naura.
Naura mengusap punggung Sandi untuk menenangkannya, ia jadi kasihan pada keponakannya. Gara-gara keegoisan Laila yang selalu bermain dengan pria lain disaat suaminya tidak ada di rumah, Sandi jadi harus menyaksikan pertengkaran di antara kedua orang tuanya.
Bersambung.