Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung Sang Nenek, Kanaya rela menjadi ibu pengganti bagi pasangan suami istri Yuga Tjandra dan Zielin.
Tak mau melahirkan diluar ikatan pernikahan, Kanaya meminta suami dari Zielin itu menikahinya secara siri dan sepakat untuk bercerai begitu anak yang dikandungnya telah lahir.
Bagaimanakah kisah rumah tangga mereka selanjutnya, jika Yuga akhirnya juga mencintai Kanaya? Relakah Zielin membagi suaminya dengan ibu pengganti untuk anak mereka?
Jangan lupa rate ⭐lima dan follow akun medsos author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RK - Chapter 12
Sejak pagi tadi senyum terus terukir di bibir Yuga dan itu membuat para karyawannya merasa aneh. Apalagi mereka tahu jika istri dari penerus perusahaan Tjandra Grup itu sedang liburan di Bali. Biasanya, setiap istrinya itu sedang pergi berlibur, Yuga akan selalu uring-uringan. Dia bahkan tidak akan mentolerir sekecil apapun kesalahan yang diperbuat oleh karyawannya tersebut.
"Saya perhatikan sudah 3 hari ini Bapak kelihatan sangat happy, apa ada sesuatu yang tidak saya ketahui yang membuat Pak Yuga terlihat ceria?" tanya Reza asisten pribadi dari Yuga itu.
"Benarkah?" Yuga balik tanya.
"Memang Anda tidak merasakannya, Pak? Tiga hari ini Bapak sering senyum-senyum tidak jelas. Persis kayak orang yang baru nikah."
Mendengar jawaban dari Reza membuat, Yuga terbatuk.
"Air!" pinta Yuga.
"Ini, Pak." Reza memberikan segelas air putih kepada bosnya tersebut. "Apa saya salah bicara, Pak?"
"Tidak," jawab Yuga. "Kamu sudah siapkan agenda meeting saya hari ini kan?"
"Sudah, Pak. Semua sudah lengkap," jawab Reza. "Apa ada hal lain yang harus saya kerjakan, Pak?"
"Tidak ada. Nanti kamu ingatkab aku lagi menjelang meeting!"
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Reza keluar dari ruangan bosnya.
"Apa benar yang dikatakan si Reza tadi ya kalau aku terlihat berbeda? Perasaan sama saja." Yuga membatin. Yuga kembali tersenyum ketika mengingat wajah malu-malu Kanaya malam tadi.
****
Satu minggu sudah berlalu, Zielin akhirnya kembali dari liburannya. Dia dan kekasih gelapnya berpamitan untuk berpisah.
"Sayang, ingat ya kabari aku kalau sudah sampai di rumah," ujar kekasih gelap Zielin itu.
"Iya, Sayang. Ya sudah kita berpisah di sini ya. Takutnya Mas Yuga sudah menungguku di luar," jawab Zielin. Setelah memberikan pelukan keduanya pun benar-banar berpisah.
"Zi, sedang apa kamu?" tanya Yuga yang baru saja datang. Zielin yang saat itu sedang melambaikan tangan untuk Sang Kekasih langsung terkejut.
"Mas Yuga, kapan datang?" tanya Zielin kaku. Dia berharap suaminya tersebut tidak sempat melihatnya berpelukan dengan sang kekesih.
"Baru saja," jawab Yuga. "Barusan kamu melambaikan tangan dengan siapa?"
"E... itu Mas teman-temanku," jawab Zielin berdusta. "Ya udah lah, Mas. Yuk, kita pulang! Aku sudah kangen dengan rumah kita!"
Zielin memeluk lengan Yuga dan membawanya keluar meninggalkan area bandara. Keduanya langsung menuju ke tempat mobil Yuga diparkirkan.
"Ohya Mas, gimana kamu sudah menyelesaikan tugasmu dengan wanita itu kan?" tanya Zielin ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Hm."
"Baguslah, seenggaknya pengorbananku buat pergi tidak sia-sia," ucap Zielin. "Ya udah jalan yuk, Mas. Aku sudah pingin istirahat di rumah!"
Yuga segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan area parkir bandara.
Yuga memperlambat laju mobilnya ketika memasuki car port yang ada samping rumah. Dia turun terlebih dulu untuk membukakan pintu bagi istri tercintanya, Zielin.
Keduanya kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
"Mas dimana wanita itu? Kelihatannya dia tidak ada di rumah?" tanya Zielin ketika tidak melihat keberadaan Kanaya.
"Dia sedang menjenguk neneknya di rumah sakit, sebentar lagi juga pulang," jawab Yuga
"Mas yang ngasih izin?"
"Iya, kenapa?" jawab Yuga sembari bertanya.
"Jangan dibiasain ngasih dia izin keluar rumah, Mas. Nanti bisa-bisa dia ngelunjak lagi."
"Zi, Naya hanya menjenguk neneknya di rumah sakit. Kenapa harus kita larang?"
"Dia itukan kerja sama kita, jadi jangan seenaknya gitu lah, Mas," jawab Zielin. "Tunggu! Naya? Mas manggil cewek itu Naya?" Zielin menatap suaminya penuh tanya.
"Zi, kan nama dia memang Naya. Memang aku harus manggil dia apa?" jawab Yuga.
"Iya sih, tapi cara kamu menyebut nama wanita itu tidak sama seperti sebelumnya," jawab Zielin.
"Sudah, jangan berpikiran macam-macam! Kamu kan baru saja pulang, lebih baik istirahatlah!"
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Zielin ketika melihat Yuga hendak keluar dari rumah.
"Aku ada meeting, jadi harus kembali ke kantor," jawab Yuga.
"Memang kamu nggak merindukan aku, Mas?" tanya Zielin dengan nada manja. Dia kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Yuga.
"Tentu saja aku merindukanmu, Zi," jawab Yuga sambil memeluk pinggang Zielin. Dia pun kemudian memagut bibir istrinya tersebut. Namun, Zielin melepaskan pagutan itu ketika ada panggilan masuk di ponselnya. Dia yakin itu dari kekasih gelapnya karena dia sengaja memasang nada dering yang berbeda untuk kekasihnya tersebut.
"E... Mas, aku jawab ini dulu ya," pamit Zielin.
"Memang itu telepon dari siapa, Zi? Kelihatannya penting banget?" tanya Yuga penasaran.
"E... itu... itu... dari.... "
Belum selesai Zielin menjawab, Yuga sudah mengambil ponsel itu dari tangan Sang Istri.
"Mas, kembalikan ponselku! Ingat ya Mas kita sudah sepakat, jika kita tidak boleh memeriksa ponsel masing-masing karena itu privacy." Zielin mengingatkan kesepakatannya dengan Yuga.
Yuga masih diam. Satu sisi dia penasaran dengan telepon masuk itu, tetapi di sisi lain dia juga tidak mau melanggar kesepakatan yang sudah ia sepakati dengan istrinya tersebut sebelumnya.