Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Berusaha tegar
Laila diam saat ibunya, Bu Nurjanah memarahinya. Kejadian dimana dia berontak dan berbicara menuntut Maryam yang sudah membuat suaminya salah paham sampai ke telinga ibunya karena Rizky mengadu. Saat ini Laila sedang berbicara dengan ibunya di telepon. Menggunakan ponsel Rizky, ponsel Rizky yang di simpan di Badrun dia minta untuk kepentingan pribadi. Menelepon ibunya dan Badrun memberikannya, namanya juga di pesantren. Bisa membawa ponsel tapi harus di kumpulkan. Dan hanya bisa di gunakan saat memerlukan keperluan penting. Setelah panggilan selesai Laila memberikan ponsel kepada Rizky.
” Kamu hanya bisa bersabar Laila, melakukan hal lebih dari itu jangan sampai kamu mengulanginya kembali. Dimana adikku Laila yang selalu menjaga amarahnya kepada orang tua?" Rizky sedih.
” Aa tidak akan paham, karena persoalannya juga berbeda. Kenapa aku yang salah a?" Laila menangis karena dia juga di Rizky juga mengomelinya.
” Kamu hanya yang kedua, kamu hanya perlu diam Laila" suara Rizky meninggi.
” Aku juga manusia, Laila hanya manusia a. Ada dimana saatnya Laila juga bisa marah, ini persoalan rumah tangga aa tidak akan paham" Laila bangkit dari duduknya dan hendak pergi tapi Iqbal datang dan mencengkram kuat kerah baju Rizky dan Rizky membalasnya.
” Berani sekali kamu membuat umi Laila menangis” tegas Iqbal dan tatapannya begitu tajam.
” Lepas" kata Laila dan memegang tangan Rizky.
” Laila adikku” kata Rizky yang melihat tatapan bingung Iqbal saat Laila menyentuhnya.
Glek.... Iqbal buru-buru melepaskan cengkraman tangannya, niat membela tapi salah sasaran.
” Ayo" ajak Rizky dan menarik tangan Laila untuk segera meninggalkan belakang bangunan pesantren tersebut dan Iqbal benar-benar merasa malu.
Setelah Laila berbicara dengan ibunya dan Rizky, dia berpisah dengan Rizky dan melangkah menuju rumah Maryam untuk meminta maaf.
” Assalamualaikum" salam Laila seraya mengetuk pintu.
" Waalaikumsalam” suara Maryam terdengar, dan pintu dibuka. Maryam dan Laila bertatapan sejenak.” Ayo masuk” ajak Maryam dan Laila mengangguk. Laila duduk berseberangan dengan Maryam, Laila menolak saat Maryam menawari teh hangat atau yang lainnya karena takut merepotkan. Dia juga sedang berpuasa karena hari ini hari Senin.
” Aku mau berbicara sesuatu sama ibu Maryam” lirih Laila.
” Iya, silahkan” kata Maryam seraya tersenyum ramah.
” Aku meminta maaf atas semua yang aku katakan dan pasti itu membuat ibu Maryam sakit hati. Aku minta maaf" lirih Laila dengan senyuman lebarnya. Maryam tersenyum tipis mendengar ucapan Laila.
” Aku maafkan, dan jangan di ulangi” Maryam berdiri dan mengajak Laila berdiri, keduanya berpelukan hangat dan saling mengusap bahu. Laila tersenyum lega mendengar Maryam memaafkannya.
Sementara di rumah Badrun dan Yanti, Yusuf dan sahabatnya Badrun sedang meminum kopi bersama. Kopi hitam buatan Badrun.
” Kenapa kamu bahagia sekali Yusuf” kata Badrun dan Yusuf tersenyum.
" Aku kenapa? aku diam saja sedari tadi alasan apa yang membuat kamu yakin aku sedang bahagia?" Yusuf berucap lalu meraih gelas dan meminum kopinya perlahan.
” Sorot matamu Yusuf” jawab Badrun dan Yusuf mengerutkan keningnya.
” Mata ku?" bingung.
” Awalnya, aku tidak percaya jika Laila bisa menjadi istrimu. Namun, melihat keberaniannya untuk berbicara kepada Maryam itu sangat bagus, walaupun dia salah tapi aku juga tidak membenarkan apa yang Maryam lakukan" tutur Badrun dan Yusuf tersenyum." Aku kira lama gadis kecil itu akan terus bermain tanpa bisa mengurus suaminya, Laila pernah membawakan makanan kemari. Untuk istriku, aku mencobanya dan aku tidak mengira Laila bisa memasak selezat itu” kata Badrun kembali dan Yusuf hanya tersenyum.
” Laila sangat rajin, dia mengisi waktunya dengan bekerja bahkan dia pernah memotong rumput untuk kudanya” Badrun tersenyum.
” Apa Laila memiliki kuda sendiri?”
” Ada kuda kesayangannya dan dia meminta Imron menjaga kuda yang dia akui sebagai miliknya dan dia memberikan nama yang sama dengan nama kuda Baginda Rasulullah Saw.”
” As-sakb?"
” Iya, karena kamu dengannya selalu menaiki kuda itu dia langsung memberikan kuda kesayangannya nama” Badrun tersenyum lalu tertawa kecil mengingat Laila ketika berbicara dengan kuda kesayangannya, Yusuf tersenyum dan meminum kopinya kembali.
Di tempat lain, Laila sedang menaiki tangga menuju lantai dua bangunan pesantren yang menjadi tempat tinggal para santriwati. Laila menjawab salam para santriwati yang berpapasan dengannya. Laila melangkah ke balkon dia lihat cucian para santriwati yang jatuh dan memungutnya lalu mengembalikannya ke atas jemuran yang terbuat dari tambang. Laila meninggalkan balkon dan melihat sepatu para santriwati berserak padahal rak sepatu yang terbuat dari kayu kosong dan tidak dimanfaatkan.
” Assalamualaikum teh" Laila menyapa sekaligus mengucapkan salam kepada dua orang santriwati.
” Waalaikumsalam umi Laila, ada apa sampai umi Laila datang kemari?"
” Saya mau meminta tolong, apa kalian bisa memanggil pemilik sepatu yang berantakan ini?” pinta Laila dan satu dari antara mereka pergi ke kamar para santriwati yang selalu tidak tertib. Termasuk ada Ainun di dalamnya. Semuanya berkumpul dan Laila tersenyum.
” Ada apa sampai umi Laila datang kemari?" tanya salah satu santriwati.
” Jujur, saya mendapatkan pekerjaan yang begitu sulit. Dan pekerjaan ini ustadz Yusuf yang memberikannya, lihat ini” Laila menunjuk rak sepatu." Ada rak sepatu, kenapa sepatu kalian masih berserak di lantai. Terinjak-injak menjadi rusak dan kotor”
” Umi Laila sebaiknya pulang saja” kata Ainun.
Laila menundukkan wajahnya saat mereka ada yang berbisik mengatakan bahwa dia yang meminta Yusuf menikahinya.
” Mumpung umi Laila kemari apa aku boleh bertanya?”
” Tentu”
” Kenapa umi Laila tega menganggu hubungan aa sama ibu Maryam?”
” Jangan sampai aku harus bersumpah atas nama Allah hanya untuk menjawab pertanyaan tidak berguna dari kalian, tapi aku tegaskan dan hanya bicara sekali. Aku tidak pernah datang ke dalam kehidupan ibu dan ustadz Yusuf, aku sendiri bingung saat ustadz Yusuf mengirimkan berita lewat salah satu santri dan memberi tahu bahwa ustadz Yusuf besoknya akan datang untuk melamar ku. Aku butuh waktu satu Minggu untuk membuat diriku yakin menerima lamarannya, jika kalian tidak tahu apa-apa sebaiknya kalian diam" tegas Laila dan semuanya ketakutan mendengar suara tinggi Laila.
” Apa kamu sudah merasa berkuasa?” Ainun kesal.
” Pesantren bukan hanya tempat belajar ilmu agama, tapi kebersamaan, kekompakan, sangat disayangkan santri dan santriwati yang menyia-nyiakan kesempatan kesempatan selama di pesantren. Jika ada tempatnya yang sudah disediakan, Kenapa masih harus berantakan seperti ini? kebiasaan baik bertahan karena terbiasa.” Imbuh Laila menjawab dengan begitu mudahnya pertanyaan dan sindiran secara langsung para santri.
” Saya juga berat melakukannya dan meminta maaf kepada para santriwati yang umurnya lebih tua dari saya, bukan maksud memerintah tapi kita semua harus mandiri termasuk saya. Ustadz Yusuf sudah meminta saya untuk menegur para santriwati, itu tugas yang berat. Dan ustadz Yusuf sendiri tidak mungkin menegur kalian semua dan masuk ke tempat tinggal para perempuan yang bukan mahramnya” suara Laila melemah, berusaha menguasai amarahnya. Salamah mendengarkan sedari tadi dan tersenyum lebar.
” Baik umi Laila kami bereskan sekarang" seru salah satu dari mereka dan Ainun juga membereskan sendal dan sepatunya, Laila lebih muda darinya tapi Ainun begitu sulit membuat Laila bisa diam dan tidak bisa menimpali ucapannya.
” Saya permisi, assalamualaikum" Laila berpamitan.
” Waalaikumsalam”
Laila akhirnya pergi dan berpapasan dengan Salamah. Salamah mengacungkan jempolnya dan Laila terlihat kebingungan dengan dahi yang mengerut bingung.
***
Malam hari tiba di rumah Maryam, Maryam dan Yusuf serta Bu Nurjanah tengah makan bersama. Yusuf tersenyum melihat Maryam melayaninya.
” Yusuf" panggil Bu Nurjanah.
" Iya umi?”
” Sesekali ajak Laila makan disini" pinta Bu Nurjanah dan Maryam meliriknya.
” Insya Allah” Yusuf tersenyum.
Setelah makan Yusuf pergi untuk mengantarkan ibundanya ke kamar, Maryam membereskan semuanya dan dia bingung melihat Yusuf akhir-akhir ini makan sangat sedikit, apa ada yang aneh dengan masakannya? Yusuf makan sedikit di rumah Maryam begitu juga di rumah Laila. Sebentar lagi dia akan ke rumah Laila dan sudah pasti Laila mengajaknya makan bersama. Yusuf tidak mau mengecewakan kedua istrinya, apalagi salah satu di antara mereka merasa tidak adil.
Yusuf keluar dari kamar Bu Nurjanah dan Maryam sudah menunggunya.
” Apa Abi bisa tidur dengan ku?" ajak Maryam.
” Ibu berusaha menjerumuskan manusia penuh dosa melakukan kesalahan? Laila berhak atas diriku. Seperti ibu Maryam yang juga berhak atas diriku" kata Yusuf dan Maryam menundukkan kepalanya.
” Aku tidak bermaksud seperti itu abi.”
” Karena hati ibu sudah di penuhi dengan amarah dan rasa cemburu, ibu tidak sadar” kata Yusuf dan Maryam menatapnya.
” Aku hanya manusia biasa, berusaha untuk bersikap adil untuk kedua istriku. Jika kalian menuntut ku ini dan itu saling membicarakan satu sama lain, apa kalian bisa melihat raut wajah kesedihan di wajahku ketika kedua istriku bertengkar?" suara Yusuf begitu berat. Dan Maryam hampir menangis mendengarnya, dia merasa bersalah karena selalu menghalangi Yusuf mendekati Laila padahal Laila tidak pernah menolak saat Yusuf harus menemaninya ketika dia sakit padahal saat itu adalah jatah Laila.
” Laila dan aku sudah berdamai" kata Maryam dan Yusuf terkejut, antara bahagia dan terharu.
” Pasti Abi meminta Laila untuk meminta maaf padaku, aku sudah memaafkannya” kata Maryam dan tersenyum, Yusuf juga tersenyum tapi lalu dia menggeleng kepala.
” Aku hanya mengomelinya, memberitahu apa kesalahannya. Untuk Laila yang memutuskan meminta maaf itu adalah kesadaran dirinya sendiri. Sekuat apapun aku meminta, jika Laila ragu pada dirinya dia tidak akan meminta maaf” Yusuf tersenyum, Bu Jamilah pak Abdul ataupun Yusuf sama sekali tidak meminta dan memaksa Laila untuk meminta maaf kepada Maryam, Laila meminta maaf atas kesadarannya sendiri karena sudah berbicara dengan emosi dan berkata-kata buruk walaupun itu adalah faktanya. Maryam menundukkan wajahnya dalam-dalam dan Yusuf mengusap pucuk kepala nya.
” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Yusuf pergi untuk menemui Laila dan Maryam menutup pintu rapat-rapat. Di rumah Laila, Laila sedang menunggu suaminya dan terus menatap jam dinding, jarum sudah menunjuk jam 9. Laila sudah berbuka puasa, tapi hanya meminum teh hangat. Dia ingin makan bersama suaminya, Laila yang merasa lapar mengambil satu keping biskuit lalu mencelupkannya ke dalam teh hangat dan menikmatinya.
” Apa Abi tidak akan datang? apa ibu Maryam sakit lagi?" lirih Laila dengan raut wajah begitu sedih dan akhirnya dia meraih piring lalu mengisinya dengan nasi. Air mata Laila menetes dan dia bersiap untuk makan sekarang.
” Bismillahirrahmanirrahim” Laila berucap lalu meraih sendok.
” Assalamualaikum” suara Yusuf terdengar dan Laila tidak jadi memakan makanan yang sudah di atas sendok itu, senyuman Laila mengembang dan berdiri untuk segera pergi menyambut kedatangan suaminya.
Laila membuka pintu dan bersembunyi di balik pintu. Yusuf benar-benar ingin tertawa menyadari keisengan Laila dan dia masuk, Laila bersembunyi sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Laila yang mendengar suara pintu berdenyit mengintip dari balik jemarinya dan melihat Yusuf sudah berada di hadapannya sambil mendorong pintu, Yusuf membuka peci nya dan tersenyum dengan bibir di tutup oleh pecinya itu.
” Abi kenapa masuk, belum juga umi kagetin" protes Laila.
” Terus kenapa tidak menjawab salam Abi?"
” Eh iya, waalaikumsalam" Laila tersenyum.
” Umi nangis?"
” Enggak” Laila menggeleng kepala dan mengusap matanya.” Kapereumpeunan”
(Kelilipan)
” Masa kelilipan begini” Yusuf mencubit pipi Laila dan Laila tersenyum.” Kenapa? karena Abi telat ya datangnya? ada obrolan penting di masjid. Maaf ya”
Laila mengangguk dan tersenyum.” Abi mau makan sama Laila?”
” Ayo, abi sangat lapar” kata Yusuf dan membuat Laila senang lalu Laila menarik lengan suaminya untuk segera makan bersamanya. Laila melayani suaminya tapi Yusuf kembali melakukan hal yang sama, yaitu menyuapi Laila dengan tangannya. Laila mengunyah makanannya lembut dan menatap suaminya, begitu juga dengan Yusuf yang mengunyah makanannya seraya menatap Laila dan sesekali mengusap sudut bibir Laila yang kotor karena bumbu makanan.
” Abi sebenarnya Laila mau meminta izin" kata Laila.
” Mau kemana? ngapain?" bertanya seraya spontan, tidak akan gugup seperti itu jika Laila tidak berniat untuk pergi keluar dari pesantren.
” Aku mau menjenguk sahabat ku Abi, dia baru pulang dari rumah sakit.” Laila takut tidak mendapatkan izin dari suaminya.
” Dari mana Laila tahu kalau dia sudah pulang dari rumah sakit?"
” Tadi ibu menelepon ke hp nya a Rizky, ibu mengatakan sahabat ku Suci baru pulang” Laila semakin takut.
” Besok, masak apa saja. Abi antar umi besok sekaligus kita bertemu orang tua umi, bawa juga makanan untuk sahabat umi itu” kata Yusuf dan menarik uang yang dia selipkan di peci hitam itu, Laila menerima uang dari suaminya Sedaya tersenyum.
” Hatur nuhun Abi" Laila benar-benar bahagia dan Yusuf mengangguk.
(Hatur nuhun/ terima kasih)
Setelah makan malam bersama selesai, Laila mencuci piring dan Yusuf menunggunya di kamar seraya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Laila terus tersenyum mendengar suara merdu suaminya yang membuatnya candu. Setelah selesai Laila membersihkan wajah dan menggosok gigi untuk bersiap tidur. Laila ragu untuk masuk ke kamar karena masih mendengar suaminya mengaji, dia memilih menunggu di ruang tamu sambil memeriksa luka di wajahnya yang sudah benar-benar kering tapi mungkin Laila masih tetap harus hati-hati. Laila membuang nafas frustasi dan menutupi wajahnya kembali, dia tidak secantik Maryam mana bisa menjadi prioritas utama bagi Yusuf, dia harus terbiasa dengan Yusuf yang lebih mencintaimu Maryam ketimbang dirinya yang baru datang dan tidak pantas meminta lebih.
” Umi Laila” suara Yusuf memanggilnya karena Laila tak kunjung datang. Yusuf meletakkan Al-Qur'an ke atas meja dan turun bangkit dari sajadah nya untuk melihat apa yang terjadi sampai Laila tak kunjung datang. Laila masuk dan Yusuf mundur saat akan keluar dari kamar.
” Aya naon bi?"
(Ada apa?)
” Teu aya nanaon, kenapa umi lami?"
(Gak ada apa-apa, kenapa umi lama?)
” Abi kan lagi ngaji, gak enak kalau Laila nyelonong masuk” Laila menundukkan wajahnya dan Yusuf tersenyum.
Keduanya bersiap untuk tidur, dengan bantal yang setia menjadi penghalang untuk keduanya. Laila menoleh dan menatap suaminya.
” Abi apa Laila boleh bicara sekarang?" ucap Laila dan Yusuf menoleh padanya.
” Iya sok nyarios, bade nyarios naon umi teh?"
( Iya silahkan bicara, umi mau bicara apa?).
Laila memiringkan tubuhnya untuk berbicara.
” Apa Abi mau menikah lagi? mencari perempuan lain setelah Laila. Jujur, Laila tidak mau. Cukup ibu Maryam cemburu sama Laila, begitu juga Laila yang tidak sanggup kalau harus cemburu sama istri Abi selain ibu Maryam" lirih Laila sedih dan Yusuf terlihat berpikir keras.
” Dari mana umi bisa bicara seperti ini?"
” Laila tidak mau ada perempuan lain yang di anggap merebut Abi Yusuf dari ibu Maryam di tambah dari Laila" kata Laila begitu sedih.
” Apa umi Laila tahu kenapa Abi menikahi umi?” tanya Yusuf dan Laila menggeleng kepala.
” Karena umi pilihan Abi, itu alasannya”
Laila kebingungan dengan jawaban Yusuf.
” Apa maksudnya? jelasin bi"
” Lebih baik umi memikirkan sendiri penjelasannya"
” Ah Abi mah" Laila cemberut.
” Terus kenapa Abi selalu memarahi Laila dan tidak pernah memarahi ibu Maryam?" tanggung bertanya mending sekalian, pikir Laila.
” Apa umi Laila ketika Abi marahi mau ibu Maryam melihatnya?" Yusuf menatap Laila yang semakin bingung lalu Laila menggeleng kepala.” Begitu juga dengan ibu Maryam”
” Jadi?" Laila tersenyum karena paham dengan maksud Yusuf atas jawaban dari pertanyaan keduanya.
” Jadi..?" Yusuf malah menirukan ucapan Laila sambil tersenyum.
Laila bergeser dan memindahkan bantal, Yusuf panik saat Laila mendekat dan memeluknya. Jawaban dari Yusuf, bukan hanya Laila yang sering dia marahi tapi Maryam juga ketika keduanya salah, Yusuf tidak membeda-bedakan salah satu dari keduanya, Laila menuduh Yusuf tidak pernah memarahi Maryam padahal Maryam juga menuduh hal yang sama bahwa Yusuf tidak pernah memarahi Laila. Karena keduanya tidak melihat posisi masing-masing ketika salah dan di marahi Yusuf.
” Umi jangan begini, umi tidur ya disana”
” Kenapa?" Laila mendongak menatap suaminya yang gelisah dan tidak tenang karena dia memeluknya, Laila bahkan sengaja menindih pinggang Yusuf dengan psatu kakinya.
” Umi Laila sebaiknya cepat tidur"
” Iya ini mau bobo sambil peluk Abi"
Yusuf terus beristighfar dengan suara pelan dan Laila malah menenggelamkan wajahnya di dada besar suaminya itu, tubuh suaminya yang harum membuat Laila nyaman dan menutup matanya.
” Umi pindah ya” kata Yusuf dan Laila menggeleng kepala.
” Laila gak lupa kok sama pesan ibu, kalau mau tidur jangan lupa minum pil KB”
Alangkah terkejutnya Yusuf mendengar ucapan Laila yang polos dan dengan suara manja dan tidak mau melepaskan pelukannya. Yusuf menggigit bibir bawahnya kelu dan menunggu sampai Laila tidur untuk segera memindahkan Laila.
***
”Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa. Seperti cintaku yang pertama tumbuh hanya untuk suamiku" - Laila
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘