humaira gadis cantik berhijab berumur 21 tahun,anak yang di tinggalkan orang tuanya saat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kailah haplah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 sakit part 2
maira sedang berjalan di koridor rumah sakit,dia tidak sendiri Fahmi pergi bersama lea untuk menjenguk dr ibrahim,sebelum sampai ruangan mereka berpapasan dengan gilang.
"hai...maira",sapa gilang.
maira mengangguk tapi melihat wajah fahmi dia seperti heran kenapa pria itu menyapa adiknya.
"kakak mau kemana?",tanya maira.
"aku mau kekantin dulu sebentar".
"kakak mau sarapan?",tanya maira lagi.
"iya...",gilang merasa malu.
"ini maira bawa sarapan buat kakak",maira memberikan sebuah kantong yang berisikan makanan.
"wah...aku jadi ngerepotin kamu ni".
"gak kok".
"oh iya,kak ini kenalin kak fahmi kakak aku",lanjut maira.
fahmi berjabat tangan dengan gilang.
"gilang"ujar nya.
"oh kakaknya dikira suaminya",ucap gilang dalam hati.
"kalian sudah sarapan?",tanya gilang.
"kami sudah kok kak tadi rumah".
"ya sudah kalo gitu kakak mau mencicipi masakan ala chef maira",goda gilang.
fahmi masih terdiam melihat maira dan gilang yang akrab.
"ayo kak kita keruangan kakek",ajak maira kepada fahmi.
"kami duluan ya kak",maira dan fahmi pun berlalu.
sebuah pintu ruangan terbuka maira dan fahmi pun masuk,terlihat kakek yang sedang terbaring lemah.
"assalamualaikum",ucap maira dan fahmi.
kakek masih terjaga dengan tatapannya yang masih kosong,maira dan fahmi mendekati kakek,maira sedih akan kondisi kakek yang semakin menurun.
"kek..",sahut maira mengenggam tangan keriput kakek.
kakek tersenyum melihat maira sudah datang,tak lupa fahmi pun ikut menyapa,"dr ini saya fahmi".
terasa sunyi diruangan itu,tiba-tiba kakek terbatuk terus menerus sampai maira memanggil perawat,saat kakek di periksa oleh dr,tangan kakek tak lepas dari tangan maira seolah-olah kakek ingin tetap maira berada di sampingnya.
setelah pemeriksaan dr berkata kepada maira dan fahmi kalo pak ibrahim punya penyakit sesak nafas dan paru-parunya sudah terganggu,maira dan fahmi terdiam merasa kasihan kepada kakek.
"dik,kakak keluar sebentar",ucap fahmi,maira mengangguk.
fahmi pun keluar ruangan dan sudah berdiri gilang yang sudah menyelesaikan sarapannya,fahmi tersenyum dan menghampiri gilang.
"tadi dr ibrahim menjalani pemeriksaan,dr bilang kalo beliau mempunyai sesak dan paru-paru yang terganggu",jelas fahmi.
"memang sedari dulu kakek mengidap sesak,tapi kali ini sudah parah",ucap gilang.
"kamu cucu pak ibrahim yang keberapa?,setahu saya beliau pernah bilang kalo fariq cucu satu-satunya",ujar fahmi.
"saya teman fariq,saya sudah menganggap kakek seperti kakek saya sendiri,karena saya dan fariq berteman dari kecil".
"fariq,pulang dulu?",tanya fahmi.
gilang tersenyum karena sahabatnya itu tidak bisa di hubungi.
jalanan sangat macet,panas matahari seperti mau membakar kulit,di sebuah mobil taxi fariq sedang duduk di dekat jendela mobil dengan tatapan kosong,fikirannya masih bergelut dengan kejadian semalam,sesekali dia mengepalkan tangan menahan emosinya.
tiba-tiba dia teringat dengan telepon genggamnya dan mengambilnya dari tas selempang,dan menelepon sahabatnya gilang tapi sayang tak diangkat lalu fariq menutup lagi panggilannya.
di kamar pasien maira sedang melantunkan ayat suci Al-Quran,kakek memandang maira dengan lembut sesekali air matanya keluar sampai maira melihatnya dan mengakhiri bacaannya.
"kakek kenapa?",tanya maira pelan sambil mengusap air mata kakek.
kakek menggeleng tapi sepertinya dia ingin berbicara tapi tertahan karena nafasnya.
gilang dan fahmi pun masuk kedalam ruangan,maira menoleh keduanya dengan wajah sedih.
"semalam kondisi kakek ngedrop mai..",ucap gilang.
"kakak sudah menghubungi lagi ka fariq?",tanya maira.
gilang menggeleng,"belum sekarang kakak akan mencoba menghubunginya lagi",dan menggambil hp yang sedang di cas saat membuka kunci hp satu panggilan tak terjawab dari fariq,dia lupa tidak memakai nada dering.
fariq masuk kesebuah rumah milik kakeknya,dia langsung menuju kamar kakeknya karena ingat obrolan gilang kalau kakeknya pucat ketika gilang memberitahu kalo fariq sudah melasungkan tunangan.
ketika pintu kamar dibuka,terlihat kasur yang amat rapi,fariq pun masuk dan melihat sebuah kertas yang dilipat diatas meja,saat fariq hendak mengambilnya,"den...",bibi menyapa.
fariq menoleh kebelakang,"bibi ngagetin aku".
"den fariq baru pulang dari rumah sakit?",tanya bibi.
"saya ambil cuti dulu bi",jawab fariq.
bibi menggaruk kepalanya,"den bapak dilarikan kerumah sakit",ucap bibi.
fariq terkejut,"kakek kenapa bi?",tanya fariq.
"jadi den masih belum melihat bapak".
"kenapa gak ada yang menghubungi aku bi?".
"bibi sudah berkali-kali menghubungi den fariq tapi hp den fariq gak aktip",jelas bibi.
fariq baru teringat no hpnya sudah ganti karena kejadian waktu bertengkar dengan kakeknya.
"sekarang kakek dirawat di rumah sakit mana?".
"di tempat dulu bapak bekerja".
tak banyak kata fariq langsung pergi manuju rumah sakit,saat di perjalanan gilang menelepon.
("hallo")
("alhamdulillah,lo dimana sih gue telepon dirijek,gue coba nelepon lagi hp nya gak aktip")
("sorry lang,gimana keadaan kakek?")
("kakek ngedrop riq,nafasnya makin sempit")
("ok makasih lang lo udah bawa kakek kerumah sakit")
("bukan gue yang bawa tapi maira dan bibi yang bawa kakek ke rumah sakit)
fariq terdiam seperti pernah mendengar nama itu("ok kalo gitu gue kesana,gue lagi di jalan)"
fariq menutup panggilan,melihat panggilan dan tidak ada nama gilang,fariq merasa heran.
bersambung...
Hahhhh
love is Blind
ishhhhhh....
poor, fariq