NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : GARIS BATAS YANG DI TOLAK

​Deretan pohon cemara yang berjejer rapi menyambut kedatangan mobil Angga begitu memasuki kawasan The Royal Palms Golf & Country Club.

Anga melajukan kendaraannya menyusuri jalanan beraspal mulus menuju pelataran restoran eksklusif yang berdiri megah di tengah hamparan padang rumput hijau yang membentang luas.

Angin segar dan suasana tenang tempat ini seharusnya mampu menjernihkan pikiran siapa pun sayangnya, bayangan sosok wanita di trotoar tadi masih menyisakan riak gelisah di dada Angga.

Setelah merapikan jasnya, Angga melangkah masuk menembus pintu kaca tinggi yang dibukakan oleh petugas pintu. Ia berjalan menyusuri lorong berlantai marmer mengilap menuju Private VIP Room yang telah dipesan khusus oleh Pak Arya.

Dari balik dinding kaca besar ruangan tersebut, pemandangan padang golf yang asri terlihat begitu memanjakan mata, memberikan kesan kemewahan yang tenang dan privat.

Namun, begitu langkah kaki Angga menjejak di dalam ruangan, seluruh ketenangan itu runtuh seketika, rahangnya mengeras. Di ujung meja kayu panjang, Pak Arya tampak sedang berbincang hangat dengan seorang wanita yang mengenakan blazer formal berwarna pastel. Wanita itu berbalik dan senyum merekah yang begitu puas langsung menyapa pandangan Angga.

"Indah"

​"Nah, Angga, akhirnya kamu sampai juga," sapa Pak Arya dengan suara berwibawa yang memecah keheningan.

"Mulai hari ini, Indah resmi bergabung di tim kamu untuk memegang proyek investor asing dua bulan ke depan. Saya rasa pengalaman dan koneksinya akan sangat membantu kamu."

Kata-kata Pak Arya menghantam Angga tepat di dada. Tanpa persetujuan, tanpa diskusi bahkan tanpa pemberitahuan sedikit pun sebelumnya, Pak Arya memasukkan Indah wanita yang paling dihindarinya langsung ke dalam tim intinya.

Gemuruh kekesalan membakar benak Angga. Jemari di samping paha mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa frustrasi karena dikejar waktu, guncangan bayangan masa lalu di jalan raya dan kini keputusan sepihak dari bosnya menumpuk menjadi satu gejolak amarah yang amat sangat.

Namun, profesionalisme dan rasa hormatnya pada Pak Arya memaksa Angga menarik napas dalam-dalam. Ia mengontrol ekspresi wajahnya habis-habisan lalu mengunci rapat raut kejengkelannya di balik topeng dingin dan tenang yang sempurna.

"Baik, Pak. Terima kasih.." Respon Angga dengan suara rendah yang amat datar tanpa sedikit pun bergetar.

Angga menarik kursi dan duduk tepat di samping Indah satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Selama rapat berlangsung, Angga secara sadar menolak untuk menoleh atau menatap ke arah wanita di sebelahnya itu. Ia meletakkan fokusnya sepenuhnya pada dokumen di meja dan mengabaikan keberadaan Indah seolah wanita itu hanya bayangan semata.

Di sisi lain, Indah duduk dengan tegak dan penuh percaya diri. Tatapannya melirik sinis namun penuh kemenangan ke arah profil samping Angga yang kaku. Di balik senyum manis nan merekah yang ia tunjukkan pada Pak Arya dan para manajer lain, hati Indah bersorak puas. Rencananya berhasil mulus kali ini, Angga tak akan pernah bisa lari lagi darinya.

Di dalam ruangan berlantai karpet dengan dinding kaca besar berlatar padang golf. Meja kayu panjang tertata rapi. Pak Arya duduk di ujung meja sebagai pimpinan rapat, Mario berdiri di sampingnya siap mengoperasikan presentasi sementara Angga dan Indah duduk berdampingan di sisi kanan meja.

"Terima kasih sudah hadir tepat waktu. Saya sengaja membawa kalian ke sini agar pikiran kalian lebih segar. Dua bulan lagi,konsorsium investor dari Amerika akan datang. Ini bukan sekadar proyek ekspansi biasa ini penentu posisi perusahaan kita di tingkat regional" Ucap Pak Arya sembari mengetuk pulpennya di meja dan tatapannya tegas mengabsen satu per satu manajer tersebut.

Sedangkan Mario sibuk Menyambungkan layar proyektor kemudian menampilkan draf alokasi dana dan alur kerja mereka.

"Selamat siang, Bapak dan Ibu Manajer. Seperti yang ditampilkan di layar, Pak Arya menginginkan pembagian flow Work yang presisi. Khusus untuk operasional dan kesiapan logistik, alokasi anggaran akan difokuskan pada penguatan armada dan integrasi sistem" Ucap Mario.

Pak Jahir selaku manager Operasional mengangkat tangannya sedikit.

"Izin bertanya, Pak Arya....Mengingat batas waktunya hanya dua bulan, pembenahan sistem logistik kita butuh koordinasi yang sangat ketat. Siapa yang akan memegang kendali penuh sebagai penanggung jawab utama?"

"Angga yang akan memimpin tim utama. Kinerjanya di divisi logistik sejauh ini sangat stabil" Ucap Pak Arya menatap Angga.

​Mendengar hal tersebut, Angga Mengangguk tegas dan suaranya tenang tanpa ekspresi berlebih.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Arya. Draf strategi awal sudah saya siapkan bersama tim dan minggu depan kami fokus pada audit kesiapan armada" Ucap Angga.

Mendengar hal itu, Indah Tersenyum manis lalu memotong pembicaraan dengan nada percaya diri yang tinggi.

"Mohon izin menyela, Pak Arya... Pak Angga. Berdasarkan analisis saya, audit armada saja tidak cukup untuk memuaskan investor Amerika. Mereka sangat sensitif dengan efisiensi jalur dan koneksi vendor. Karena itu, mulai hari ini saya diposisikan oleh Pak Arya untuk mendampingi Pak Angga di tim inti"

Beberapa manager lain saling berbisik heran, sementara Angga tetap menatap lurus ke depan. Ia menahan segala rasa jengkel dan kekesan pada Indah. Nampak jemarinya di bawah meja mengepal erat namun raut wajahnya tetap sedingin es.

"Maaf, Bu Indah....Bukankah proyek investor asing ini membutuhkan penanganan teknis yang sangat spesifik dari tim Pak Angga? Apakah perombakan struktur di tim inti tidak akan memakan waktu untuk adaptasi lagi?" Ucap Ibu Putri selaku manager keuangan menatap Indah dengan agak ragu.

Mendengar hal tersebut, Pak Arya buru - buru mengangkat tangan lalu memotong keraguan para manajernya itu.

"Keputusan ini sudah final, Liya...Indah punya koneksi kuat dengan beberapa mitra pendukung dan pengalaman negosiasi yang kita butuhkan. Saya mau Angga dan Indah menyatukan kekuatan dan tidak ada waktu untuk berdebat" Ucapnya.

"Tentu, Pak Arya... Saya sangat bersyukur atas kepercayaan ini. Saya yakin, kolaborasi saya dan Pak Angga akan membuat proyek ini sempurna. Benar kan, Pak Angga?" Ucap Indah melirik Angga dengan tatapan penuh kemenangan di balik senyum tipisnya.

​Angga sama sekali tidak menoleh ke arah Indah, pandangannya tetap tertuju pada dokumen di hadapannya. Dengan suaranya yang begitu datar dan sangat profesional.

"Selama semua anggota tim bekerja sesuai porsi dan standar perusahaan tanpa ada kepentingan pribadi, proyek ini akan berjalan lancar sesuai target Pak Arya" Ucap Angga dengan tenang.

​Seketika Atmosfer di meja rapat mendadak terasa dingin dan kaku. Mario yang menyadari ketegangan itu langsung mengambil alih pembicaraan.

​"Ekhem... " Mario berdehem pelan

"Baik, untuk detail pembagian tugas divisi operasional dan divisi Bu Indah, drafnya sudah saya masukkan ke folder masing-masing....Pak Angga, silakan dilanjutkan untuk pemaparan poin teknisnya" Ucap Mario kembali.

​Mendengar arahan dari Mario, Angga dengan segera Membuka lembar dokumennya lalu suaranya kembali lugas.

"Baik,,Kita mulai dari poin pertama pemetaan jalur distribusi primer..." Ucapnya.

​Rapat hari itu berlanjut dengan fokus penuh pada angka dan strategi, diiringi gejolak dingin antara Angga yang membentengi diri dan Indah yang merasa di atas angin.

Angga menutup lembaran dokumen teknisnya lalu mengalihkan pandangannya dengan tenang dan penuh hormat langsung ke arah Pak Arya.

"Pak Arya, sebelum kita masuk ke sesi tanya jawab ada satu hal penting terkait efisiensi eksekusi di lapangan yang ingin saya ajukan" Ucap Angga.

​Mendengar hal itu, Pak Arya seketika Menegakkan posisi duduknya dan tertarik.

"Katakan Angga.... Apa itu?" Ucap Pimpinanya tersebut.

"Mengingat cakupan proyek investor asing ini sangat besar dan rentang waktunya hanya dua bulan, beban kerja di divisi operasional akan sangat tinggi. Demi menjaga presisi data dan mengantisipasi human error dalam koordinasi antar-divisi, saya meminta izin untuk memasukkan Vika dan dua staf lainnya dari divisi saya ke dalam task force ini" Ucap Angga dengan penuh keyakinan.

​Indah yang mendengar hal tersebut langsung menoleh tajam ke arah Angga, senyum puasnya sedikit menyusut. Ia merasa Angga sedang mencoba membatasi ruang geraknya.

​Indah pun Memotong cepat dengan nada keberatan yang disamarkan.

"Maaf, Pak Angga... bukankah struktur tim inti yang baru kita bahas tadi sudah sangat cukup? Penambahan tiga orang lagi justru berisiko membuat alur komunikasi jadi lambat dan terkesan overlapping dengan peran saya" Ucap Indah dengan wajah sedikit kesal.

​Angga yang sama sekali tidak menatap Indah, suaranya tetap tenang namun penuh intimidasi dalam ketegasannya.

"Ini bukan soal menumpuk orang, Indah... tapi soal mitigasi risiko. Vika sudah memegang basis data vendor selama tiga tahun terakhir dan dua staf lainnya sangat paham alur teknis di lapangan. Jika ada kelalaian sekecil apa pun atau kecerobohan dalam draf kerja sama nanti, tim ini yang akan menjadi garda terdepan untuk menyelesaikannya secara instan tanpa perlu mengganggu fokus utama Pak Arya" Ucap Angga kembali.

​Mendengar penyampaian dari manager andalannya itu, Pak Arya hanya manggut-manggut menyimak kalimat Angga. Di matanya alasan Angga sangat masuk akal, visioner dan mencerminkan kehati-hatian seorang pemimpin yang tidak ingin ada celah kesalahan sedikit pun.

"Alasan yang sangat bagus, Angga. Saya suka cara berpikir kamu yang selalu punya rencana cadangan. Dalam proyek sebesar ini, kita tidak boleh membiarkan ada celah kecerobohan sekecil apa pun" Ucap Pak Arya sembari Ketok pulpen ke meja. Pak Arya lalu mengalihkan pandangannya ke Mario selaku sekretaris pribadinya.

"Mario, catat....Masukkan Vika dan dua staf pilihan Angga ke dalam Surat Keputusan tim inti...Keputusan ini sah" Ucapnya

"Baik, Pak Arya....Segera saya proses SK-nya" Ucap Mario segera mencatat arahan dari bos nya tersebut.

​Indah yang mendengar hal itu hanya Mengepalkan jemarinya di bawah meja dan berusaha keras mempertahankan senyum formalnya meski hatinya panas.

"Baik... kalau memang itu keputusan Pak Arya demi kebaikan proyek" Ucap Indah hatinya tak terima.

Sedangkan disisi Lain Angga Hanya mengangguk tipis ke arah Pak Arya.

"Terima kasih, Pak Arya. Saya pastikan tim ini bekerja sesuai standar tertinggi" Ucap Angga dengan penuh percaya diri.

Setelah berkutat dengan banyaknya pemabahasan dan juga ide - ide yang disampaikan di rapat itu, rapat tersebut akhirnya telah usai setelah ratusan masukan dari beberapa manager di setiap divisi menyampaikan pendapatnya sehingga Pak Arya pun sulit untuk mengambil keputusan dan masih harus mengevaluasi perihal beberapa ide dan masukan dari beberapa managernya itu.

Pak Arya pun memantapkan untuk bersama - sama mengakhiri rapat tersebut dan akan dilanjutkan kembali di hari berikutnya. Suara geseran kursi kayu tebal dan desah napas lega para manajer menandai berakhirnya rapat krusial siang itu. Pak Arya berdiri pertama kali, merapikan jasnya dengan gestur berwibawa khas seorang pimpinan puncak.

​"Kerja bagus semuanya... Saya tunggu progres minggu depan" ucap Pak Arya singkat sebelum melangkah keluar dari Private VIP Room.

​Angga segera mengemas dokumen-dokumennya dengan gerakan yang amat tenang, presisi, dan teratur. Tanpa membuang waktu atau memberi jeda sedikit pun untuk berinteraksi dengan orang di sebelahnya.

Angga langsung berdiri dengan langkah kaki mantap dan gestur tubuh yang sangat profesional, ia berjalan tepat di belakang Pak Arya dan beberapa manajer senior lainnya ikut mengantar sang pimpinan menuju lorong utama restoran.

​Indah yang menyadari gerakan cepat Angga langsung tersentak. Rencana indahnya untuk berbasa-basi dan menikmati "kemenangannya" setelah rapat hampir saja buyar.

​Dengan sedikit terburu-buru, Indah menyambar tas tangannya, mengabaikan sapaan kecil dari Manajer Keuangan lalu melangkah lebar-lebar mengejar sosok Angga.

Tumit sepatu high heelsnya berketuk nyaring dan cepat di atas marmer mengilap koridor golf club, memecah ketenangan suasana restoran yang mewah tersebut.

​"Pak Angga! Tunggu sebentar!" Seru Indah dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis dan sehalus mungkin, berusaha mencegat langkah Angga sebelum pria itu benar-benar sampai di area lobi atau pelataran parkir bersama Pak Arya.

​Indah mempercepat langkahnya hingga berhasil memotong sedikit posisi Angga dari samping, memasang senyum merekah yang penuh percaya diri seolah-olah mencegat atasan di tengah koridor adalah hal yang paling wajar di dunia.

​"Soal pembagian tugas tim inti nanti... sepertinya kita perlu bicara sebentar, kan? Boleh saya minta waktunya minum kopi sebentar di lounge bawah?" Bisik Indah lembut, menatap tepat ke manik mata Angga dengan binar penuh kepuasan.

Langkah kaki Angga terhenti tepat satu jengkal sebelum Indah menghalangi jalurnya. Raut wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan, cemas atau ketertarikan. Hanya ada tatapan dingin yang tajam dan lurus seperti papan pengumuman yang melarang siapa pun melintas.

​"Tidak perlu" potong Angga dengan suara rendah, tenang, namun amat tegas hingga membuat senyum manis di wajah Indah membeku di udara.

​Angga lalu melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya sekilas lalu kembali menatap Indah tanpa beban.

​"Semua pembagian tugas dan arahan sudah dicatat oleh Mario dan dipaparkan di rapat tadi. Lagipula, pekerjaan di kantor masih menumpuk dan Vika sudah menyiapkan berkas yang harus saya tinjau siang ini. Jika ada hal teknis yang perlu didiskusikan, silakan sampaikan lewat surel atau rapat resmi tim berikutnya " Ucap kembali Angga, tanpa menunggu balasan dari Indah dan tanpa memberi jeda bagi wanita itu untuk menyela Angga mengangguk formal sekilas lalu melangkah lebar melewati sisi kanan Indah.

​Gerakannya begitu mulus dan acuh tak acuh, membuat Indah berdiri mematung di tengah koridor dengan tumit tingginya. Angga berjalan menyusul Pak Arya dan para manajer lain yang sudah hampir sampai di pelataran parkir sama sekali tidak menoleh ke belakang.

​Bagi Angga, Indah hanyalah gangguan kecil di antara tumpukan tanggung jawab besarnya. Masih ada proyek investor yang harus ia jaga, Vika yang harus ia beri instruksi dan bayangan-bayangan gelisah yang menunggunya di luar sana. Ia tidak punya waktu sedetik pun untuk urusan basa-basi yang tidak berguna dengan rekannya tersebut.

​Sementara itu, senyum manis yang terpasang di wajah Indah luntur seketika begitu punggung Angga menghilang di balik pintu kaca lobi.

Jemarinya yang melingkari tali tas bermereknya mencengkeram erat hingga kuku-kukunya memutih.

​"Acuh tak acuh, dingin dan selalu merasa paling benar" Batin Indah.

​Penolakan mentah-mentah dari Angga di tengah koridor tadi membakar harga dirinya. Selama ini, tidak pernah ada pria yang menatapnya seolah ia hanyalah angin lalu terutama di depan umum. Tapi alih-alih menyerah, kekesalan yang membakar dadanya justru berubah menjadi ambisi yang makin berbahaya.

​"Kamu pikir kamu bisa terus lari dari aku, Ngga..?" gumam Indah lirih menatap nanar ke arah pelataran parkir.

​Sambil melangkah angkuh menuju mobilnya, isi kepala Indah mulai berputar cepat menyusun berbagai skenario untuk mengepung Angga saat peninjauan lapangan (field survey) nanti.

Di kantor, Angga memang dibentengi oleh aturan, Vika dan pandangan mata pegawai lain. Namun di lapangan? Situasinya akan jauh berbeda.

Indah menyunggingkan senyum tipis di balik kaca mobilnya yang gelap. Ia memoles ulang lipstik merahnya di spion tengah.

​"Nikmati benteng tinggi yang kamu bangun sekarang, Angga... Karena begitu kita turun ke lapangan, aku yang akan pegang kendalinya"

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!