Linia adalah seorang pegawai biasa di sebuah perusahaan pangan harus bertemu dan bekerja bersama seorang manajer baru yang tampan bernama Jhonathan. seorang pria yang gila kerja dan hampir merampas pekerjaan yang harus dilakukan Linia. namun, dibalik sifatnya yang pekerja keras itu, Linia juga harus terlibat dengan trauma masa lalu Jhonathan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeojawriting, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
“anak baru itu benar-benar menjijikan dengan sifat sok pedulinya.”
“haa… ia bahkan dimarahi sekretaris pak Imal karena seenaknya membereskan meja pak Imal.”
“kau tidak lihat betapa muaknya diriku bersebelahan meja dengannya…”
Linia yang baru beberapa minggu bekerja di kantor IN Food itu harus mampu menahan diri karena senior yang membicarakannya di belakang. Wanita muda itu menutup mulutnya dibalik bilik kamar mandi agar ia tidak mengeluarkan isakkan tangisan nya saat ini.
Ia merasa sudah melakukan hal-hal baik di lingkungan kerjanya. Linia tidak tahu jika perbuatannya ada saja yang tidak suka.
Tak lama setelah para seniornya pergi barulah Linia keluar dari toilet dengan perasaan campur aduk. Ini merupakan resiko dalam pekerjaan.
Pertanyaannya, sanggupkah Linia menjalani hari-hari walau ribuan jarum siap menusuk perasaannya kapan saja??
“haaahhh!!!!”
Linia langsung membuka kedua matanya dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Bahkan napasnya terengah-engah seakan sehabis berlari.
Lagi-lagi ia mimpi buruk… tidak sepenuhnya Linia dapat mengingat apa yang ia mimpikan, hanya saja perasaannya menjadi tidak nyaman.
Perlahan ia bangkit dari kasur single size nya itu dan melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air.
Linia mengingat jelas… jika hari ini merupakan tepat 3 tahun ia bekerja di In Food Corp yang mana banyak memberinya pelajaran dan membentuknya hingga seperti ini.
“haaa~~ tidak ada gunanya membenci mereka…” gerutu Linia lalu dengan cepat menghabiskan air putih nya dan bersiap ke kantor.
*
*
*
Cuaca begitu cerah saat Linia keluar dari gedung apartemennya. Oh Tuhan! Linia bukanlah penikmat cuaca cerah, justru wanita ini membencinya. Ia tidak suka berkontak dengan cahaya matahari. Jikalau hujan pun, Linia juga kurang menyukainya jika disertai petir. Untungnya halte MRT tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Jadi, Linia tidak perlu berlama-lama berjalan.
Sesampai dikantor, wanita yang sering mengenakan flat shoes itu pun melakukan pekerjaannya. Hanya saja, terasa berbeda karena Jhonathan tidak ada di kantor.
Lantas kemanakah atasan yang kadang merepotkan Linia itu??
Jhonathan pergi melakukan camp pelatihan selama seminggu di Bali sehari setelah ia sakit. Karena itu, Linia lah yang mengerjakan pekerjaan Jhonathan di kantor selama beberapa hari. Walaupun awalnya sangat sulit membujuk Jhonathan untuk tidak terlalu khawatir dengan pekerjaan. Selama 6 hari ini, Linia harus sering menghubungi pria itu untuk melaporkan hasil kerja Linia. Masalahnya ada di waktu kapan Linia harus menghubungi Jhonathan.
Terkadang hampir tengah malam… karena camp pelatihan selesai larut malam.
Linia bersyukur, hari ini adalah hari terakhirnya melakukan semua pekerjaan Jhonathan. Itu melegakan…
*
*
*
Bandar Udara
Jhonathan melangkah keluar bandara dan langsung menghampiri sebuah sedan yang terparkir.
“nampaknya lu girang amat??” tanya Dheo yang melihat wajah datar Jhonathan yang baru masuk kedalam mobilnya.
Jhonathan yang sedari tadi hanya memasang wajah datarnya lantas bingung.
“mata lu buta. Udah jalan… kerjaan gua banyak.”
Dheo mengiyakan saja dan langsung menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankan mobil untuk langsung pergi ke kantor.
“Linia hari ini pak Jhonathan kembali dari camp pelatihannya kan?? Waahh… apa dia akan bawa oleh-oleh?? Ngga sabar nungguin beliau datang.”
Oke baiklah… Linia sudah berpuluh-puluh kali mendengar celotehan Fitri tentang Jhonathan yang hari ini kembali dari Pulau Bali dan tentang oleh-oleh yang dibawakan oleh Jhonathan. Linia tidak berharap hal-hal yg muluk-muluk, karena biasanya jika dulu pak Imal pergi pelatihan keluar kota, beliau pasti membawakan makanan khas dan membagikannya pada karyawannya. Namun, jika bentuk manusianya seperti Jhonathan…
Linia cepat-cepat menggeleng… itu tidak mungkin, kepala pria itu pasti memikirkan pekerjaan disini sepanjang harinya disana.
“selamat datang pak Jho!!” seru Fitri saat melihat Jhonathan dan Dheo masuk kedalam ruangan. Seluruh orang berdiri menyambut kedatangan Jhonathan yang sudah seminggu ini tidak menampakkan wajahnya di divisi penjualan. Tentu bagi sebagian karyawati yang mengaguminya adalah waktu yang lama dan membuat rindu. Bagi Linia, seminggu cukup membuatnya repot mengerjakan pekerjaan Jhonathan. Mau tidak mau, harus dikerjakan.
“terima kasih atas sambutannya… senang bisa bekerja disini kembali. Kalian bisa kembali bekerja…” tanpa berlama-lama Jhonathan langsung melangkah menuju ruangan tercintanya.
“ahh iya.. Dheo, tolong bagikan apa yang saya bawa. Terima kasih.”
Berkat ucapan Jhonathan, sepupunya itu langsung diserbu oleh rasa penasaran para karyawan Jhonathan, kecuali Linia yang langsung masuk mengikuti Jhonathan keruangan pria itu.
“oh! Kamu membuat saya kaget.” Ujar Jhonathan saat ingin duduk dikursi nya dan melihat Linia sudah berdiri sembari memeluk beberapa dokumen yang harus diurus oleh Jhonathan.
Linia harus menahan senyumnya saat melihat ekspresi kaget Jhonathan yang lucu itu.
“saya minta maaf pak, ini… beberapa dokumen yang harus bapak tanda tangani… kalau begitu saya kembali.” Ujar Linia sembari meletakkan dokumen yang ia bawa keatas meja Jhonathan.
“tunggu dulu Linia…”
“ada apa pak??” tanya Linia.
Jhonathan merogoh tas ranselnya yang ia bawa sedari tadi dan meraih sebuah gantungan kunci berbentuk kotak dengan ornament bintang laut didalamnya.
“saya tidak sempat berkeliling… jadi saya hanya membeli beberapa gantungan untuk oleh-oleh. Padahal kamu sudah bekerja keras selama seminggu ini.”
Linia menerima gantungan itu dengan senang hati.
“terima kasih banyak pak. Padahal anda tidak perlu repot-repot…” ujar Linia sembari tersenyum kecil.
Jhonathan tersenyum canggung dan Linia pun langsung pamit pergi.
*
*
*
“ma, waktu istirahat Jho tidak banyak. Apa yang ingin mama katakan?”
Kini Jhonathan dan ibunya sedang berada di sebuah café di seberang gedung kantor tempat keduanya bekerja.
“hari minggu ini Jho ngga kemana-mana kan? Ikut mama ke Bogor ya.. ketemu teman lama mama.” Ajak sang ibu bersemangat.
“yakin hanya ketemu teman lama mama? Perasaan mama ngga pernah ngajak Jho ke acara mama sama teman mama… mencurigakan.”
“hahah! Apa yang kamu bicarakan. Kamu kan tahu kalau Bogor itu jauh, mama ngga mungkin nyetir sendiri kesana… ya.. ya.. mau yaaa…” bujuk sang ibu.
Jhonathan menghela napas hingga disela-sela kegelisahan antara mengiyakan dengan menolak permintaan ibunya, Jhonathan melihat Linia yang juga masuk kedalam café.
“Linia!! Kamu kemana aja. Saya cariin kamu dari tadi!!!”
Akibat sapaan Jhonathan, selain menjadi pusat perhatian seisi café, Linia pun tidak bisa memesan sesuatu dan malah terseret ke meja Jhonathan dan ibunya yang tengah berselisih.
“Jhonathan baru mau bilang ke mama kalau hari minggu Linia dan Jho ingin survey lapangan dulu… jadi nampaknya tidak bisa.” Jelas Jhonathan.
Sedangkan Linia disamping pria itu menatap tajam dan bingung dengan yang Jhonathan katakan. Survey lapangan?? Sejak kapan kegiatan itu ada???
“sebentar….”
“Linia kamu jangan bilang lupa. Lihat kembali memo kamu tentang jadwal saya…” ujar Jhonathan sembari menatap Linia dengan tatapan mengancam untuk jangan membuka mulut.
“Linia..”
Teguran dari ibu Jhonathan membuat keduanya was-was. Lagi-lagi Linia terseret dalam konflik antar ibu dan anak ini.
“iya tante…”
“benar yang dikatakan Jho??”
Linia menatap Jhonathan sekali lagi dan lihatlah mata pria itu memohon pada Linia.
“ahhh, benar tante… saya baru ingat setelah pak Jho katakan barusan. Kami memang ada survey lapangan di hari minggu nanti dan tidak bisa ditunda.”
Jhonathan benar-benar bersyukur Linia datang diwaktu yang tepat dan menyelamatkannya.
“kenapa bapak malah berbohong? Divisi kita tidak pernah melakukan survey lapangan… terlebih itu hari minggu…” tanya Linia sembari menghabiskan eskrim yang ditraktir oleh Jhonathan karena sudah menyelamatkan pria itu dari ajakan ibunya.
“haa… itu… saya tidak yakin dengan ajakannya yang sekedar bertemu teman lama.” Jelas Jhonathan sembari menyeruput kopinya yang sudah ia pesan dua kali itu.
“anak dan ibu sama saja…” ujar Linia geli sembari menatap keluar café yang ramai dilalui orang-orang.
Jhonathan mengernyitkan dahinya bingung.
“maksudnya??”
“kalian sama-sama tidak mau menyerah dan keras kepala… saya rasa tidak akan berakhir mudah jika seperti ini.” Linia menatap Jhonathan kembali.
“saya juga lelah diperlakukan seperti ini terus menerus….”
Linia membenarkan ucapan Jhonathan. Hal seperti itu tidak akan ada habisnya sampai salah satu nya yang menyerah.
“kenapa bapak tidak mengalah??”
“apa kamu mau seluruh hidupmu dengan seseorang yang tidak kamu kenal?” tanya Jhonathan pada Linia.
Tanpa berpikir Linia menjawab.
“saya menjalaninya seperti biasa, asal tidak merugikan saya…”
“kamu wanita yang cukup berani.”
“hahah. Justru saya tidak merasa berani… saya hanya pasrah.” Jawab Linia.
Lagi-lagi, Jhonathan dibuat bingung.
“saya tidak yakin kamu selemah itu.” ujar Jhonathan.
“saya tidak ingin repot…” Linia tersenyum.
“saya malas mencari… saya hanya ingin ditemukan tanpa membuat saya lelah dan harus mengeluarkan banyak tenaga untuk hal itu. saya tidak mau… kalaupun suatu saat nanti, ibu ataupun ayah saya memperkenalkan seseorang pada saya… mungkin saja saya mengiyakan tanpa berpikir panjang.” Jelas Linia santai.
Jhonathan tenggelam diantara pernyataan Linia. Pria itu dapat mengerti dengan jelas makna dari ucapan Linia. Wanita itu nyatanya lebih hampa, luarnya Linia terlihat begitu hangat dan peduli pada orang-orang. Namun, setelah mendengar perkataan Linia barusan tentu Jhonathan dapat menyimpulkan betapa kosongnya Linia.
Apa itu hanya perasaan Jhonathan saja?
“haruskah kita kembali pak? Jam istirahat sudah selesai.”
Jhonathan tersadar dari lamunannya. Ia dan Linia pun langsung kembali ke kantor dan bekerja.
Entah kenapa, Jhonathan nyatanya masih memikirkan perkataan Linia saat istirahat makan siang tadi. Sadar tidak sadar, Linia juga seperti dirinya…
Mungkin ia secara terbuka terlihat tidak memercayai sekelilingnya… namun, disisi Linia… wanita itu seolah-olah menyimpan sesuatu yang membuatnya mirip dengan Jhonathan. Tidak masuk akal memang untuk Jhonathan memikirkan hal seperti ini. tidak biasanya ia memikirkan konteks diluar pekerjaan, terlebih itu adalah Linia.
Tuk
“ayo kita makan.”
Linia menatap Jhonathan heran.
Tiba-tiba saja pria itu menghampirinya yang ingin pulang dan mengajak makan. Apa kepala pria itu telah terbentur sesuatu sehingga muncul mengajaknya makan dan meninggalkan pekerjaannya secepat ini.
“bapak sakit??” tanya Linia spontan.
“apa?? Maksudnya?? Ahh… saya hanya lapar dan kebetulan kamu belum pulang.”
“iya… lalu??”
Jhonathan menatap Linia dalam diamnya dan heran kenapa wanita ini banyak bertanya.
“baiklah… kita makan dimana pak?” tanya Linia saat menyadari suasana hati Jhonathan yang cepat berubah itu.
Oh, baiklah… Linia memang usil.
Linia merasa senang jika ada yang berbaik hati membayarkan nya makan malam, hanya saja… jika bersama Jhonathan mungkin Linia harus sabar. Lagi-lagi ditempat yang sama dan menu makanan yang sama. Pria dihadapannya ini tidak pernah singgah di tempat makan lain selain restoran tempat mereka pertama kali makan bersama. Secerewet itu kah Jhonathan dalam memilih…
“anda pasti mengenal baik chef restoran ini pak.” Ujar Linia saat mereka selesai makan.
Sungguh, pasti Jhonathan bersahabat baik. Linia meyakini karena Jhonathan selalu mengajak makan di tempat ini, bahkan Linia sampai ingat wajah-wajah yang selalu melayani mereka. Karena orang itu-itu saja… Linia tidak heran, hanya saja lumayan bosan.
“tidak… hanya saja restoran ini adalah langganan saya dari kecil. Akan sulit bagi saya mencari yang lain.”
Benar-benar jawaban khas dari seorang Jhonathan.
*
*
*
“ah, iya soal hari minggu nanti saya mau mengajak kamu pergi ke suatu tempat.” Ujar Jhonathan disela kegiatan menyetirnya.
Linia menatap Jhonathan tak menyangka.
“jadi, anda benar-benar ingin merealisasikannya dihari minggu ini??” tanya Linia.
“bukan merealisasikan. Lebih tepatnya mengganti alasan… mungkin saya bisa saja berdiam di apartemen. Namun apa kamu lupa, ibu saya menyimpan kontak mu… setidaknya, tidak nampak jika saya berbohong.” Jelas Jhonathan.
Benar-benar pria yang pandai membuat alasan… pikir Linia.
Masa bodoh dengan alasan Jhonathan, Linia memilih diam sembari melihat pemandangan diluar jendela mobil.
Tuk! Tuk!
Linia memastikan sepatu kets yang ia kenakan akan nyaman untuk seharian ini, walaupun ia tidak tahu akan dibawa kemana. Dengan menggunakan kaos polo berwarna kalem dan jeans biru cukup membuat dirinya aman.
Dddrrtttt….
“halo??”
“baik pak, saya segera turun…”
Jhonathan langsung melambai kecil pada Linia saat melihat wanita itu dan Linia hanya tersenyum kecil lalu masuk kedalam mobil Jhonathan.
“jadi, kita akan kemana pak??” tanya Linia.
“hari ini, tolong jangan panggil pak… kita masih seumuran…” ujar Jhonathan sembari menyalakan mesin mobilnya.
Linia mengernyit heran. Ia tidak biasa jika harus seperti itu dan tiba-tiba saja Jhonathan memintanya untuk mengubah panggilan pada hari ini.
“saya akan memikirkannya.” Ujar Linia pada akhirnya.
Jhonathan menatap Linia tidak percaya. Apakah begitu sulit untuk memanggil namanya untuk hari ini saja?? Wanita disampingnya ini nyatanya lebih formal dibanding yang Jhonathan kira mengingat Linia tak jarang berani bercanda dengan Jhonathan.
“yaa… sudah… kamu bebas memilihnya… saya juga tidak memaksa.”
Linia hanya tersenyum dan menyibukkan dirinya dalam diam.
To Be Continue…
linia adl salah satu yg rumit itu.. 🤭
Jujur, baru kali ini aku nulis genre romance. Ceritanya ga jauh-jauh dari kuliner. Buat kamu yang suka kulineran sekaligus ngayal punya pasangan romantis, wajib banget baca novelku.🤪😎
*Butuh pencerahan dan masukan dari kakak-kakak sekalian.😎😎🎉🎉
Aku akan mampir lagi klo kakak mampir di karyaku "THE COLD CEO"
Aku tunggu feedback nya
Terimakasih kak!
kuy ah kak langsung intip ! 💨
gabung yuk sama readers lain, udah pada melting loh disana.. buruaaannnn 😍 tinggal klik profil ini kak gampang bgt hihi.. big thanks! 🥰
#izinpromoyathor.tq
ditunggu juga feedbacknya di novel aku yah 🥰
salam dari Sasha sama Mas Herdi, RASANYA MENIKAH 🎬⚘
kaka2 readers lain intip juga yuk... kop khun ma na ka.. 💕