Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Balas Dendam Di Meja Makan
Jam makan malam akhirnya tiba. Ara masih berdiri di sudut ruang kerja Dante ketika kepala pelayan datang memberitahu mereka, makan malam telah disiapkan.
Kaki Ara terasa pegal. Seharian ia mondar-mandir antara dapur dan ruang kerja hanya demi secangkir kopi. Belum lagi ia dihukum berdiri di sudut ruangan. Pria itu benar-benar tidak memiliki belas kasihan pada istrinya. Ia mendengus kesal tapi ia juga tidak bisa melampiaskannya. Setidaknya ia tetap bisa makan.
Ara berjalan menuju ruang makan. Dante sudah mendahului di depan. Ia telah menyiapkan kejutan tak terduga untuk Ara.
Ketika Ara memasuki ruang makan malam itu, langkahnya langsung terhenti.
Ia bahkan belum sampai ke kursinya, tetapi aroma yang memenuhi ruangan sudah membuat perutnya bergejolak.
Di atas meja tersaji begitu banyak hidangan makanan laut. Namun hampir semuanya adalah makanan yang Ara benci sejak kecil. Ia menutup hidung secara refleks.
Dan di atas meja, ada semangkuk sup bibir ikan laut yang aromanya saja sudah cukup membuat Ara ingin berbalik dan kembali ke kamar.
Ara menatap meja dengan wajah pucat. Tatapannya perlahan teralihkan kepada Dante.
Pria itu sudah duduk di ujung meja dengan tenang.
"Dante"--teriaknya dalam hati. Ia ingin memaki kasar pria di hadapannya ini.
Ara menunjuk meja. "Kau sengaja menyiapkan makan malam yang ku benci ini?"
Dante mengangkat mata. "Ya."
"Aku tidak dapat memakannya!" protes Ara geram.
Dante mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan. Ia mengangkat mata dan menatap Ara dengan dingin. "Kau akan memakannya."
Ara tidak bergerak. Ia lebih tidak percaya dengan apa yang Dante barusan katakan. Ia masih menatap meja makan dengan wajah pucat.
"Kemari!" perintah Dante tidak mau dibantah.
Ara mendengus. Ia mendekati meja dengan langkah enggan. Namun aroma kerang dan ikan semakin kuat. Perutnya langsung terasa tidak nyaman. Ia semakin mual.
Dante menunjuk kursi di sampingnya. "Duduk."
Ara terpaksa duduk. Tetapi ia tidak menyentuh makanan.
Dante memperhatikan reaksi Ara. Tentu saja ia tahu. Ia tahu makanan apa yang Ara benci. Ia tahu sejak kecil Ara tidak tahan dengan aroma makanan laut yang amis. Ia tahu beberapa makanan bahkan bisa membuatnya kehilangan selera hanya dengan mencium baunya. Dan malam ini, seluruh meja dipenuhi makanan itu.
Dante mengambil sendok. "Makan."
Ara menatap piringnya. "Aku tidak suka makanan laut."
"Aku tahu." Jawab Dante dingin lebih dingin dari es yang ada di dalam kulkas.
Ara menatapnya tidak percaya. "Kalau kau tahu semuanya, kenapa kau masih menyuruhku makan?"
Dante meletakkan sendoknya. "Justru karena aku tahu maka aku menyiapkan kejutan makan malam ini."
Ara terdiam. Pria ini benar-benar tidak punya belas kasihan. Pria ini sangat pendendam.
Dante mengambil sedikit kerang dan meletakkan di piring Ara. "Makan."
Ara tidak bergerak. "Dante, aku tidak bisa makan ini. Aku mohon. Aku bisa ke dapur dan membuat mie instan."
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Karena makanan lain bukan bagian dari hukuman."
Ara mengerutkan kening. "Hukuman?"
Dante menatapnya. "Bukankah kau menganggap memasukkan garam ke dalam kopi itu lucu."
"Tidak," sangkal Ara, bahkan jika ada belati di ujung lehernya, ia akan tetap menyangkalnya. "Aku sudah menjelaskan padamu, aku tidak sengaja." Ara benar-benar dibuat tak berdaya. Tidakkah Dante menyisakan jalan keluar untuknya.
"Aku hanya memberimu sedikit pelajaran, kau harusnya berterimakasih padaku."
Ara menarik napas. Ia mengambil garpu. Dengan sangat hati-hati, ia mengambil sedikit kerang di piringnya. Namun baru mendekatkannya ke mulut, wajahnya langsung berubah. "Aku benar-benar tidak bisa."
Dante menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Ia memperhatikan Ara dengan tidak sabar. "Kalau begitu aku suapi."
Ara langsung menatapnya. "Apa?"
"Aku bilang, kalau kau tidak mau makan, aku sendiri yang akan menyuapimu."
"Tidak perlu," sahut Ara menimpali.
"Kalau tidak mau ku suapi, makanlah sendiri."
Ara menggigit bibir.
Dante menunjuk piring Ara. "Mulai."
Ara mengambil sedikit kerang. Ia memasukkannya ke mulut. Wajahnya langsung mengernyit. Perutnya bergejolak. Ia mual dan ingin memuntahkannya. Ia menepuk-nepuk dada dan menelannya dengan paksa.
"Ini baru permulaan." Dante mengambil mangkok dan mengisi penuh dengan sup bibir ikan. "Habiskan!"
Ara melirik tajam ke arah Dante. Ia mengambil mangkuk itu dari tangan Dante. Ia menahan nafas dan meneguk isi mangkuk sampai habis. Perutnya langsung bergejolak. Ia benar-benar ingin muntah.
"Cukup. Aku sudah kenyang," beritahu Ara menolak ketika Dante hendak mengambilkan makanan laut lain di atas meja.
"Kau hanya makan sedikit. Bagaimana jika nanti malam kau kelaparan?"
"Aku sudah tidak bisa makan lagi Dante. Please," ujar Ara memelas. Ia benar-benar memohon dengan sangat.
"Dua tiga kali suapan lagi baru kau boleh pergi," tutur Dante mengabaikan wajah memelas istrinya.
Ara menggeleng kuat.
"Tawaranku untuk menyuapimu masih berlaku," ujar Dante datar. Itu bukan ancaman. Dante sungguh-sungguh bersedia menyuapinya.
Ara menghela nafas lebih berat. Ia mengambil lagi beberapa jenis ikan laut ke atas piringnya.
Setiap kali Ara mencoba memperlambat gerakan tangannya, Dante hanya memandanginya. Tatapan dingin itu cukup membuat Ara kembali mengambil makanan.
Sampai akhirnya Ara meletakkan garpunya.
"Ini sudah cukup."
Dante menatap piring Ara. "Kau yakin?"
"Yakin." Ara mengangguk.
Dante mengambil sendok. Ara langsung waspada.
"Kalau kau tidak mau makan, aku bisa membantumu makan..." Dante mengangkat sendok itu sedikit.
Ara langsung meraih sendok garpunya kembali. "Aku makan sendiri." Ia menggerutu pelan. "Pemaksaan."
Dante mendengarnya. Ia menahan diri untuk tersenyum. Seharusnya tikus kecil nya yang berani telah belajar menurut.
Ara menatap pria itu beberapa detik. Ia memasukkan beberapa suapan ke mulut. Baru beberapa detik mengunyah, wajahnya langsung berubah. Ara buru-buru menutup mulut. Ia menahan rasa mual.
Dante memperhatikannya tanpa berkedip. Ara berhasil menelan. Ia meletakkan sendok.
"Kau boleh pergi," ujar Dante mengibaskan tangan. Ia tidak memaksa Ara menghabiskan seluruh makanan di meja. Ia hanya memastikan Ara memakan jumlah yang menurutnya cukup sebagai hukuman.
Ara menatapnya tidak percaya. "Sungguhkah?" tanyanya memastikan. Ia meletakkan sendok. Ia mengambil air dan meminumnya beberapa kali.
Dante mengangguk kecil.
Begitu diijinkan pergi, Ara langsung berlari ke kamar. Ia masuk kamar mandi dan berkumur beberapa kali. Ia berusaha menghilangkan bau mulutnya.
Dante kemudian memberi isyarat kepada pelayan untuk membereskan meja. Ia juga tidak suka melihat beberapa menu yang ada di meja.
Tak lama Luca datang membawakan steak dari restoran favoritnya. Ia meminta Luca pergi ke atas. Pertama, meletakkan salah satu steak itu di ruang kerja. Ia akan menyelesaikan memeriksa beberapa laporan sambil makan. Kedua, mengantarkan permen dan steak lain ke nyonya. Bagaimanapun Ara sudah menjalani hukumannya. Ia tidak ingin membuat istrinya benar-benar kelaparan dan memakan mie instan seperti yang dikatakan.
***