NovelToon NovelToon
BERBEDA

BERBEDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Komedi / Indigo / Teen School/College / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: DES_Putri:)

"Lo itu kurang kerjaan atau gimana sih, hah?!."

"Lah ini lagi kerja..."

"....Ngerjain Senior maksudnya."

"Berani banget yah lo sama Senior!."

"Ya, lebih baik berani didepan dari pada dibelakang ngomongin...Sorry, Varo nggak serendah itu orangnya."

♡♡♡

"Kita berada di iman yang berbeda. Di amin yang berbeda pula. Sungguh ironis my love story."
-Alvaro Genandra

"Antara tasbih yang kugenggam dan salib yang ada dilehermu. Antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang. Dan, dari sanalah perbedaan antara kita yang tak akan pernah bisa bersatu."
-Zoya Prameswari

"Yang seagama aja berat, apalagi yang beda. Gobloknya temen gue itu masih aja diharapin."
-Reihan Aditama

♡♡♡

#familyship
#brothership
#friendship
#kisahremaja
#bedaagama
#cintaterlarang

Semoga suka🤗 Jangan lupa Like & Komen sebagai pembaca yang budiman😊


Dan untuk my Bestie, tolong kalau tahu cerita ini jangan dibaca. Sekali lagi jangan dibaca, terima kasih🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DES_Putri:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chap 11 (Kisah Yang Pilu)

...Kini aku tahu, bahwa didunia ini tidak ada hidup yang sempurna. Dan darimu, aku belajar arti istimewanya keluarga yang utuh. Meski tak berada diwaktu dan tempat yang sama....

Petir yang menggelegar itu seakan baru saja menyambar sosok yang kini tak lagi berdiri diambang dinding. Sepasang mata itu membola bersama teriakannya yang melebur bersama suara gaduh hujan yang semakin mendebur. Melihat dengan mata kepalanya sendiri, sosok itu terjun kebawah dengan mudahnya. Tanpa peduli ada tangis yang berubah histeris.

"Va-varo," suaranya terdengar gemetar diiringi detak jantungnya yang semakin bertalu talu. Tubuhnya membeku ditempat, meski nalurinya mengajak untuk mendekat.

Detik berikutnya, tubuh itu luruh kebawah. Menatap kosong kedepan sana yang semakin menenggelamkan pandangannya dalam kegelapan. Namun, detik membawanya tersadar ketika suara memanggil namanya yang tersamar derai hujan. Melihat tak percaya apa yang ada dihadapannya sekarang, saat kepala itu muncul dibalik dinding. Ada perasaan lega bercampur kesal menjadi satu.

"Kak Zoya, ngapain disitu?," teriak, Varo yang muncul dibalik dinding. Hanya kepalanya yang bisa dilihat Zoya. Namun detik berikutnya tubuh itu muncul sempurna. Melompat kembali, lalu berjalan mendekati Zoya yang masih terpaku.

"Kak Zoya nangis?," ujar Varo sedikit menaikkan volume suaranya. Zoya yang masih terisak itu hanya bisa memukuli dada Varo yang sudah berjongkok didepannya. Sial, apa yang sebenarnya terjadi?

Tangan itu terus memukuli tubuh Varo, masih dengan tangisan yang semakin pecah.

"Varo gila! Brengsek!."

"Lo mau apa disini malam-malam hah?!."

"Dasar bego! Kalau mau mati nggak usah kasih tahu gue juga brengsek hikkkss!."

Varo mengernyitkan dahi bingung. Tak sempat ia membuka suara, Zoya kembali mengucapkan pertanyaan yang membuat Varo tercengang.

"Lo ngapain disana hah?! Mau bunuh diri, iya?!."

Tanpa peduli dengan teriakan Varo, Zoya tetap beranjak dengan langkahnya tertatih menuju tempat yang membuatnya kalut beberapa menit lalu. Hingga mulutnya terbuka sempurna. Ketika melihat bahwa dibawah sana, tempat Varo terjun masih ada atap yang menyambung dengan atap yang ia pijak. Dan tak jauh disebelah tempatnya berdiri, terdapat tangga. Sial, Zoya kira dinding ini... dinding yang langsung menuju kebawah. Jadi, tadi Varo terjun kebawah untuk apa?

"Kak Zoya-."

Bugh

Bugh

Bugh

"Sial, lo udah bikin gue jantungan tahu nggak!."

"LO NGAPAIN MAIN TERJUN KE BAWAH HAH?! MAU MATI, IYA?!."

Teriak Zoya masih memukuli tubuh Varo. Sang empu pasrah ketika hantaman demi hantaman mengenai tubuhnya.

"Varo ambil ini," balasnya mengangkat gawai yang sudah retak itu.

Zoya tercengang. Sekarang, dia menyesal sempat mengkhawatirkan sosok didepannya itu.

"LEWAT TANGGA KAN BISA VARO! NGGAK HARUS TERJUN KAYAK TADI, BEGO!."

Masih dibawah guyuran hujan, keduanya terdiam sejenak. Ada perasaan lega yang sangat luar biasa didada Zoya, ketika melihat anak itu masih utuh. Berdiri tegak didepannya. Sedangkan Varo, diam-diam tersenyum dibalik luruhan air hujan yang mengenai wajahnya.

Hingga menit terbuang sia-sia, sampai akhirnya suara Varo memecah hening yang sempat tercipta. "Kakak pikir, Varo mau bunuh diri dengan cara loncat dari atap gedung ini?."

"Makanya Kak Zoya mau datang kesini," lanjut Varo yang dibalas tinjuan dari Zoya dilengannya.

"LO PIKIR SENDIRI, ANJING!."

Detik berikutnya, Zoya memukuli kepalanya sendiri sembari beristighfar. Gara-gara anak didepannya ini, semua sumpah serapah keluar begitu saja tanpa bisa ia kendalikan.

"Udah Kak," ucap Varo menghentikan tangan Zoya yang memukuli kepalanya.

Suara helaan napas kasar keluar dari mulut Zoya. Setelahnya dia maju satu langkah tepat menatap Varo dengan jelas. "Lo tahu, gue hampir gila cuma gara-gara lo, Varo!."

"Pliss, nggak usah main-main!."

Varo tersenyum. Rasa nyaman itu tiba-tiba merambat didadanya. Kali ini, ia bisa merasakan...bahwa masih ada orang yang mengkhawatirkannya.

"Makasih kak. Udah rela hujan hujanan kesini."

Zoya terkekeh. "Lo pikir, kalau lo jadi gue apa lo cuma diem aja dirumah? Ketika pikiran lo tahu bahwa dia mau bunuh diri, lo hanya diem aja gitu?."

"Tapi Varo nggak mau bunuh-."

"Udah nggak usah dibahas lagi!," potong Zoya tegas.

"Bego banget tahu nggak gue. Bisa- bisanya aarghhh tahu lah..."

"Kak-."

"APA?!."

Varo kembali tersenyum, lalu melepas jaket yang ia kenakan. Setelahnya, jaket itu berpindah di atas kepala Zoya. Varo memakaikan tudung jaketnya tepat menutupi kepala Zoya hingga terpasang sempurna.

"Kak Zoya khawatir banget, ya? Sampai lupa pakai kerudung," ujar Varo setelahnya.

Mata Zoya melotot, spontan menyentuh kepalanya yang sudah berbalut jaket Varo. 

"Astaga," pekiknya sembari merapatkan tudung jaket Varo sampai tak melihatkan rambutnya.

"Menurut lo?!," pekik Zoya yang dibalas tawa ringan Varo.

"Maaf Kak, udah bikin khawatir."

"Nggak usah kepedean deh lo! Siapa juga yang khawatir," balas Zoya memalingkan wajahnya.

"Masak? Kok langsung kesini? Pakai acara nangis segala."

"Masih resek juga ya, lo?!."

Varo kembali tertawa, dan entah kenapa...tawanya kini membuat Zoya semakin lega. Ada getar aneh didalam sana, dan juga rasa senang entah darimana menyelimuti perasaannya.

"Enak ya Kak, hujan-hujan kayak gini," ujar Varo sembari mendongak keatas angkasa yang kelam.

Zoya hanya diam, kembali mengamati Varo yang terlihat bercahaya karena sinar bulan. Dan beralih memandang jaket yang ia kenakan sekarang. Zoya menyadari, meski Varo beragama non muslim...tapi, dia tahu apa yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Dan, Varo menunjukkan itu kepada Zoya. Menghargai mahkota perempuan yang harus dijaga.

"Makasih."

Alis Varo mengerut. Menatap Zoya yang juga menatapnya penuh isyarat. "Makasih untuk apa, Kak?."

Belum sempat Zoya membalas, suara dari perut Varo mengalihkan atensi keduanya. Detik berikutnya, tawa kedua remaja itu kembali menguar bersama hujan yang mulai mereda.

"Maklum Kak, belum makan dari tadi siang," ujar Varo diakhiri tawa jenakanya.

...)(...

"Masuk aja! Dirumah cuma ada Nenek gue."

"Serius ngak apa-apa nih kak?."

Zoya mendelik, kesal sendiri dengan sosok yang kini berdiri diambang pintu dengan tubuh basah kuyup.

"Ya ampun kenapa hujan-hujan kayak gini? Kamu habis dari mana?."

Zoya tersenyum kecut, sedangkan Varo tersenyum sembari sedikit membungkukkan badannya. "Panjang Nek ceritanya. Ini kenalin Varo, teman Zoya."

Varo segera mengambil tangan Nenek untuk dicium.

"Kok pada basah semua. Nanti kalian masuk angin loh!."

"Iya Nek nanti Zoya kasih pinjam Varo baju olahraga biar nggak sakit."

Zoya mendekat, membisikkan sesuatu ketelinga Neneknya. Dia tahu, Varo sepertinya kurang nyaman. "Masuk ke kamar aja ya Nek. Zoya masih ada urusan sama dia. Dia orangnya nggak enakan."

Nenek Zoya mengangguk. Kembali membuka suara yang kemudian dibalas ucapan terima kasih dan senyum hangat Varo. "Yaudah kamu ganti baju dulu ya Nak. Di ajak makan Zoya temennya, sama bikinin teh hangat."

"Disini aja dulu sampai hujanya reda. Anggap aja rumah sendiri," lanjut Nenek lalu beranjak ke kamar setelah ucapan terima kasih Varo menguar.

...)(...

Keduanya kini duduk santai diruang tamu setelah Zoya dengan banyak ocehannya memaksa Varo agar mau makan. Setelah selesai mencuci piring, Zoya dan Varo kembali duduk didepan tv yang menyalakan film kartun upin dan ipin.

Hening cukup lama menyelimuti kedunya. Sampai suara Varo kembali memecah ruang kosong diantara keduanya.

"Kak," panggilnya menoleh menghadap Zoya yang berada tepat disampingnya.

"Hm?."

"Kalau, tadi Varo benar-benar jatuh dari atas-."

"Stop! Gue nggak suka bahas itu lagi."

Cukup lama mereka kembali diam. Meski pandangan keduanya tertuju pada benda persegi itu, tapi...pikiran keduanya tak ada disana. Hingga suara helaan napas berat keluar. Dengan nada tinggi, Zoya kembali menatap Varo penuh selidik.

"Sebenarnya lo tuh ngapain malam-malam disana?! Masih pakai seragam sekolah lagi! Emang orang tua lo nggak ada yang nyariin apa?!."

Cukup lama sampai Zoya menyadari, ucapannya salah besar. Dia, membawa hal yang seharusnya tidak ia keluarkan.

"So-sorry gue-."

"Nggak apa Kak, Varo ngerti kok," potong Varo sembari tersenyum kearah Zoya yang masih terpaku. Kali ini, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana retak didalam sepasang bola mata itu mengatakan bahwa dia tidak baik-baik saja.

Zoya masih enggan mengalihkan pandangannya dari sosok yang sedang menyeruput teh hangat itu. Dan, entah kenapa...tangan Zoya sudah berada diatas pundak Varo, sembari mengutarakan hal yang sejak tadi ingin ia sampaikan.

"Gue siap jadi pendengar baik buat lo, Var."

Varo menoleh. Tatapannya lurus kedalam netra coklat Zoya. Berusaha menemukan ketulusan didalamnya. Namun, detik berikutnya perasaan hangat kembali ia rasakan.

"Kalau lo butuh teman berbagi, gue siap jadi pundak lo..."

"...Asal lo tahu, gue juga nggak sebaik yang lo lihat. Dan gue, bisa lihat lo nggak baik-baik aja kan?!."

"Gue nggak maksa kok buat lo cerita masalah lo. Tapi, seberat apa pun masalah yang lagi lo hadapin...jangan pernah ada pikiran untuk akhiri semuanya dengan cara yang bikin lo nyesel nantinya. Lo tahu kan maksud gue?."

Bibir Varo tertarik kesamping. Menerbitkan senyum yang mendadak membuat detak jantung Zoya kembali tak beraturan. "Ngerti Kak. Makasih udah mau jadi teman curhat Varo."

Zoya hanya berdehem, lalu mengalihkan wajahnya yang seperti terbakar itu.

Detik berlalu kembali menguarkan suara Varo yang membuat Zoya melipatkan keningnya dalam. "Varo, mau pindah."

"Pi-pindah? Maksudnya?."

"Hmm, nggak tahu deh," ujarnya enteng sembari mengangkat bahunya.

"Ck, gimana sih? Yang jelas dong!."

"Varo mau dikirim keluar negeri."

"Sama siapa?."

"Om sama Tante Varo."

Zoya diam, menatap Varo penuh penuntutan agar menjelaskan lebih detail. Varo yang mengerti tatapan Zoya kembali melanjutkan cerita yang tak pernah ia bagi kepada siapapun.

"Mau Varo ceritain kisah yang panjang, Kak?."

"Cerita aja asal itu buat lo lega," balas Zoya diakhiri senyum tulusnya.

"Dulu, ada anak kembar yang selalu merasa paling bahagia. Meski apapun yang ia dapat harus saling berbagi satu sama lain, ya..karena itu resikonya menjadi anak kembar," ujar Varo diakhir kekehan. Lalu, detik selanjutnya suara Varo kembali terdengar diantara backsound tv yang mencari perhatian.

"Keluarga kecil yang terlihat bahagia itu nyatanya tak berselang lama. Saat kejadian tragis yang menimpa orang tua sikembar mengalami kecelakaan maut."

Ada jeda sejenak sebelum ia kembali membuka luka lama yang masih berserakan didalam sana. "Sampai, nasib kedua anak kembar itu berputar 180 derajat. Dulu yang merasa sangat bahagia, merasakan hangatnya keluarga...namun, sejak kejadian tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, dia harus rela ketika Tuhan merenggut bahagia yang kini menjadi luka."

"Pemderitaan itu, hadir saat hak asuh jatuh ditangan Om dan Tantenya. Sayang, Om dan tantenya juga merasakan pedihnya kehilangan seorang anak. Dan dari sanalah, sifat mereka berdua berubah drastis. Tante dan Om yang kedua anak kembar itu kenali, dulunya mempunyai sifat lembut dan penyayang. Namun, ketika kejadian itu merenggut anaknya, sifatnya berubah drastis."

Hening. Varo menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. Zoya tahu, tidak mudah bagi anak itu kembali mengungkit luka yang selama ini ia pendam.

"Sifat sayang yang berubah menjadi otoriter, kini...melekat dikeduanya."

"Anak kembar itu, tak punya pilihan selain menuruti semua perkataan mereka. Tapi, apa salah jika mereka melawan keputusan yang tidak pernah mereka inginkan? Apa mereka salah jika semua yang kedua orang tua itu inginkan patut dibantah? Apa mereka akan selalu menjadi boneka yang bisa mereka kendalikan semaunya? Apa hidup anak kembar itu sekarang tak lagi berarti? Kenapa suara mereka tidak pernah didengar? Kenapa kak? Kenapa Tuhan merenggut kebahagiaan yang dulu pernah ada? Kenapa?."

Napasnya naik turun bersama genang air yang berusaha ia tahan mati matian. Zoya menggeleng pelan, sembari mengelus punggung Varo yang perlahan begetar.

"Anak kembar itu, berhak bahagia atas pilihannya sendiri. Berhak bahagia atas haknya sendiri, Varo."

"Jangan salahkan Tuhan, masih ada hikmah dibalik semua itu."

"Asal lo tahu, anak kembar itu masih beruntung. Beruntung pernah hidup dan merasakan hangatnya keluarga dalam satu atap..."

"....Sedangkan gue, nggak pernah ngerasain hangatnya keluarga. Hidup satu atap bersama kedua orang tua. Nggak pernah Varo!."

Lolos sudah pertahanan Zoya yang ia jaga. Buliran bening itu mengalir tanpa ia suruh. Disana ada getar menyakitkan, membuat dadanya terasa sesak. Sekarang, dia tahu...tidak semuanya memiliki hak seorang anak yang harus diberi kasih sayang dari hangatnya keluarga.

Ada hening yang mereka biarkan untuk kembali menata serpihan-serpihan kaca itu.

"Seharusnya kita saling mensyukuri jalannya takdir. Anak kembar itu masih bisa merasakan hangatnya keluarga dalam satu atap meski kini sudah berubah. Lihatlah dari sisi lain, seorang anak yang dari kecil tidak pernah merasakan kebahagiaan yang anak kembar itu rasakan, namun dia juga harusnya bersyukur...masih mempunyai keluarga yang lengkap meski tak berada ditempat dan waktu yang sama."

Zoya menghapus air matanya. Lalu tersenyum manis, memadang Varo yang juga menatapnya.

"Makasih. Udah buka cara pandang gue tentang hidup, yang emang nggak ada yang sempurna. Dan gue, bukan satu satunya orang yang kesepian. Kita...harus bersyukur, Varo."

Ternyata, keduanya hampir sama. Mempunyai luka yang hadir dalam dekapan rumah. Dekapan kelam dalam sebuah keluarga.

...♡♡♡...

...HOLAP HOLAAPP👋...

...Maaf kemarin nggak Update, Capek banget seharian skolah🤧...

...Ada yang naruh bawang kah disini? Nggak kuat nulis part ini😔...

...JANGAN LUPA LIKE...

...KOMEN...

...VOTE...

...SEE YOU NEXT CHAP...

...LOVE YOU ALL FRIENDS😘...

^^^Tertanda^^^

^^^Naoki Miki^^^

1
Fadiylah19
andai aja cerita ini d lanjut😟😟😟
Dheana Rabbani Alghozy
kapan update lg author?
leeshuho
woahh ak mmpir thor slm dari North pole couple ❤️,btw bucin nya ank SMA klau di fiksi rumit batt ya😆,
leeshuho
so sad klau bda nya kek gini🤧
Ganis Khanne
kok lama sih up nya
Aprilia Desi
next Thor, jangan lupa mampir diceritaku ya kk 🤗
Echa zaaaa
Hai, yg masih setia nunggu klnjutan cerita ini, maaf ya, ini akun ku kedua, lupa sandi jadi nggk bisa masuk akun ku yg desputri

sekali lagi maaf ya nggk bisa lanjut
cry:(
mociiii
next thor 🤗
Umaymay Sifa
lama nya update🙄
Umaymay Sifa: iya ditunggu2 gak muncul2
total 2 replies
Echa zaaaa
Ini nggk lanjut? Beneran nggk mau ditamatin thor?
Umaymay Sifa
ihhh kok gak update lagi kk
Naoki Miki: Tunggu sbentar lagi ya, Kak
ini masih updte cerita sebelah 'Awan sang Biru'
total 1 replies
Fadiylah19
bentar bentar aq msih loading inih pas d akhir gmna sih mksudnya 🙄🙄aaaaahhh dripda bingung mnding lanjut lagi lah thor,,yo semangat yo✊✊✊🥰🥰🥰
Ika Sartika
ada ada aja
oom komalasari
yuch double yuch .🤩🤩 jgn lama lama Kaya nunggu di Lamar Sama ayang nya orang🥲
sya-sha
sabar y varo
Umaymay Sifa
iihhhh..... pura pura lupa ingatan... tapi lucu juga sih gk ingat sama vero dan mama miranti, tapi ingat zoya eh malah tunangan.. dasar varo modus😂😂kasihan ya varo masih belum d akui sama keluarga ny.. klo dia pindah keyakinan. semangat varo💪
Dheana Rabbani Alghozy
diih...pura² lupa😂😂

modus ke zoya itu😝

tp...varo ngelakuin itu karena denger ucapan mama miranti itu
Intan Lpg
nah kannn betull,, feeling ku varo g'bner" amnesia Dy hnya pura" ehhh beneran..🤣🤣
lagiii Thor
haa
semangat thorrr
Echa zaaaa
Sakitnya smpe sini:(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!