Sebelumnya ia berpamitan untuk pergi ke toko membeli keperluan kedua putra kembar kami. Tetapi ia tidak kunjung kembali dan aku sangat khawatir.
Berbagai cara aku lakukan untuk mencarinya baik lewat jalur udara maupun laut. Hingga bertahun tahun lamanya.
Aku berpikir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sampai aku melihatnya dengan pria lain di Instagram. Seketika hatiku hancur, kaki ku terasa lumpuh. Istriku tega mengkhianatiku dan meninggalkan kedua putra kembar kami.
Aku menyimpan rahasia ini sendirian tanpa memberitahu kedua putra kembar ku, dan memutuskan untuk merawat dan membesarkannya.
Sampai suatu hari, aku terpaksa menikahi seorang gadis salah satu pasien rumah sakit jiwa.
Hay kakak semua, ada novel baru nih yuk kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Gerhana mengendap endap menuju dapur, di rasa aman. Ia mulai menyiapkan makan malam untuk Tianyfa dan dirinya. Setelah selesai, ia kembali berjalan mengendap endap menuju kamar pribadinya di lantai dua rumahnya.
"Pyarrr!!"
Tiba tiba lampu ruang tengah menyala, mengagetkan Gerhana yang tengah membawa nampan yang berisi makanan.
Gerhana menengok kiri dan kanan. Berdiri ketakutan melihat Ken menghampiri dengan tatapan marah. Di ikuti Bagaskoro, Aldara dan Galaksi.
"Ayah sudah curiga sejak tadi sore, rupanya kau yang membawa Tianifa kabur dari rumah sakit jiwa." Ucap Ken.
"Ayah, aku bisa jelaskan." Gerhana meletakkan nampan di atas meja, lalu berjalan lebih dekat dengan Ken.
"Hukum saja anak ini, masih kecil sudah membuat malu nama baik keluarga." Timpal Aldara. "Mana perempuan gila itu?!" tanya Aldara, matanya mendelik ke arah Gerhana lalu ia balil badan, melangkahkan kakinya menuju lantai dua untuk mencari Tianyfa.
"Katakan padaku, kenapa kau lakukan itu?" tanya Ken, membuat Gerhana semakin ketakutan.
"Ayah, jangan marah. Aku bisa jelaskan, ibu tidak gila. Aku -?" ucapan Gerhana terpotong saat melihat Aldara menyeret paksa Tianyfa lalu di hempaskan ke lantai.
"Ibu!" pekik Gerhana lalu jongkok, merangkul bahu Tianyfa.
"Kau lihat! memperistri wanita gila sama saja bohong!" tunjuk Aldara ke arah Tianyfa yang meringkuk ketakutan.
"Ken, sebaiknya kau antarkan gadis itu ke rumah sakit. Atau kita akan menanggung malu karena menyembunyikan gadis ini. Nama baik keluarga kita akan hancur!" Timpal Bagaskoro.
"Kalau kau tidak mau, biar aku saja!" Aldara maju mendekati Tianyfa, lalu menarik paksa tangannya untuk berdiri.
"Jangan sakiti ibuku!" pekik Gerhana mencoba melindungi Tianyfa.
"Gerhana!" teriak Bagaskoro. "Apa kau sudah gila? dia bukan ibumu!"
Gerhana menggelengkan kepalanya, tengadahkan wajah menatap Ken dengan mata berkaca kaca.
"Ayah, aku mohon. Jangan antarkan ibu ke rumah sakit itu lagi. Ibu tidak gila, ayah..di sana ibu di aniaya, percaya padaku. Ayah." Ungkap Gerhana panjang lebar, menceritakan apa yang ia dengar sewaktu di rumah sakit.
"Kau terlalu berhalusinasi, memangnya gadis ini anak pejabat? anak seorang jutawan? sampai sampai ada yang mau mencelakainya? jelas jelas perempuan ini gila!" pungkas Aldara bersikeras.
"Ayah...percaya padaku.." ucap Gerhana terisak, air matanya jatuh membasahi pipinya seraya memeluk tubuh Tianyfa.
Ken diam terpaku menatap kedua bola mata Gerhana. Sebelumnya ia tidak pernah banyak bicara, sebelumnya ia tidak perduli apapun selain mengikuti apa maunya Ken. Tapi kini, Ken melihat kesungguhan di kedua bola mata Gerhana.
"Minggir kau, Gerhana!" pekik Aldara lalu menarik tangan Gerhana supaya menjauh dari Tianyfa.
"Tidak, Ma!" cegah Ken.
Aldara melirik ke arah Ken. "Apa maksudmu?"
"Tianyfa masih istri sahku, aku akan mengobatinya dengan caraku kalau memang dia gila." Ujar Ken.
"Ken!" bentak Bagaskoro. "Jangan jangan kau ketularan gila, wanita ini tidak pantas jadi menantu di rumah ini. Bagaimana jadinya punya menantu gila!"
"Cukup pa!" Ken menatap tajam Bagaskoro. "Maaf, kalau aku membangkang lagi. Tapi, Tianyfa masih istriku, aku harus melindungi dan mengobatinya. Apaoun resikonya akan aku tanggung."
"Terima kasih Ayah, aku janji. Akan mengikuti semua keinginan ayah. Aku janji, mau menjadi Dokter. Aku janji ayah." Gerhana tersenyum samar, mengusap air mata di pipinya dengan ujung pakaian.
"Pergi ke kamarmu, dan jangan lupa kau makan dulu." Perintah Ken. "Ibumu, biar ayah yang urus."
Gerhana mengangguk, lalu berdiri. Mengambil nampan di atas meja, lalu bergegas pergi ke kamar pribadinya di ikuti Galaksi yang sedaru tadu diam tanpa mau ikut campur.
Aldara dan Bagaskoro beranjak pergi dengan hati dongkol, kembali ke kamar pribadinya. Sementara Ken, membantu Tuanyfa berdiri, memeluknya erat. Memberikan ketenangan, supaya Tianyfa tidak ketakutan lagi.
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu." Kata Ken. "Ayo, kembali ke kamarmu."
Tianyfa menggelengkan kepalanya, 'Aku tidak mau tidur sendirian, aku takut."
Ken menghela napas panjang, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Baiklah, kau tidur di kamarku." Kemudian Ken membawa Tianyfa ke kamar pribadinya.
Sesampainya di kamar, Ken membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur.
"Kau lapar?" tanya Ken.
Tianyfa menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Kalau begitu, tidurlah. Hari sudah larut malam." Ken menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Kemudian berdiri tegap, hendak meninggalkan kamar. Namun Tianyfa menarik tangan Ken.
"Temani aku, sampai tertidur." Pinta gadis itu.
"Baiklah, jangan takut. Aku akan menemanimu sampai kau tidur." Ken naik ke atas tempat tidur, berbaring di samping Tianyfa.
lope lope bwat mereka semua....peluk onlen bwat othornya...Makasiiih untuk ceritanya.
jgn lupa kasih extra part ya😘😘😘😘
Salam dri " Reinkarnasi untuk Balas dendam "
Hhhhh
lanjut makk,mngatt