NovelToon NovelToon
SanuBari

SanuBari

Status: tamat
Genre:Romantis / Chicklit / Tamat
Popularitas:153.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aris pujiono

Perjalanan hidup memang sangatlah rumit. Sanu, gadis cantik berambut keemasan memikul pundak untuk membahagiakan adik dan ibunya. Bekerja di Ibu Kota dari pintu satu ke pintu yang lain. Dari semangat menjadi letih dan mengeluh. Tapi, Sanu tidak pernah menyerah, demi sebuah impian.

Seorang pria yang mencintai Sanu, dengan diam membantunya. Bari, satu pekerjaan dengan Sanu. Salah satu alasan Sanu bertahan di perusahaan MLM.

Saling membantu, ada persahabatan, ada kekecewaan, pengorbanan dan juga ada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris pujiono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahagia.

Sanu mengangguk menatap Bari.

Bari menghela napas menatap ke depan. "Aku ingin membuktikan kepada orang tuaku, kalau aku bisa hidup tanpa mereka."

"Kak Bari ada masalah dengan keluarga?tanya Sanu lirih.

Bari tersenyum sambil mengacak- acak rambut Sanu. "Yang penting kamu proses di sini serius, gak usah neko-neko."

Sanu terkejut dengan perlakuan Bari, baru kali ini Sanu tidak marah kepada lelaki yang berani memegang rambutnya. Sanu memajukan bibir bawahnya menyembulkan udara ke atas merapikan rambutnya.

"Ayo kita ke bawah, sebentar lagi jam malam di mulai."

Sanu mengikuti langkah Bari menuju lantai tiga. Di sana sudah ada banyak teman-teman Sanu duduk membentuk setengah lingkaran. Hari ini Sanu memang tidak di panggil maju ke depan. Tapi, entah kenapa hari ini Sanu merasa senang. Mungkinkah karena seharian bersama Bari? Tidak. Sanu menggeleng- gelengkan kepala segera menepis pemikirannya itu. Dia harus fokus bagaimana caranya menjadi trainer.

Tanpa diduga Rina di panggil moderator maju ke depan untuk menyampaikan kunci suksesnya hari ini. Sanu menjadi terlecut, besok Sanu tidak boleh kalah dari Rina. Dia berambisi besok bisa maju ke depan.

Di kamar kost, Rina terlihat kelelahan duduk di depan kipas angin kesayangan.

"Hey Rina? Kenapa setiap habis pulang kantor kamu selalu berada di depan kipas angin."

"Entahlah Sanu, aku merasa sejuk saja kalau berada di depan kipas angin. Di kantor membuatku pusing, jadi aku butuh penyejuk biar pikiranku tidak kalut."

Memang setiap pulang kantor wajah Rina terlihat pucat seperti orang yang punya penyakit darah rendah. Mungkin karena tubuhnya kecil dan kurus.

"Kamu sedang membaca apa, Sanu?"

"Aku sedang menghafalkan sistem yang ada di kantor. Jangan ganggu Rina."

"Hey ... aku tidak mengganggumu, aku hanya sedang bertanya."

Sanu memicingkan mata hingga membentuk kerutan di antara alisnya. Sanu hanya tidak ingin kalau Rina menggodanya tentang Bari. Tapi, kenapa Sanu tiba-tiba memikirkan Bari. Sanu tiba tiba tersenyum merapikan rambutnya.

"Hey Sanu, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Rina menyelidik.

Sanu terkaget, "Tidak apa-apa, aku hanya baru tau kalau rambutku berbeda dari orang-orang pada umumnya."

"Rambut kamu memang indah Sanu, lurus berwarna keemasan," ucap Rina.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara pintu terdengar, Rina membuka pintu. Muna dan Bari bertamu hendak memberi buah.

"Ini Kak Muna dan Kak Bari belikan buah mangga untuk tambah imun."

"Terima kasih, kak? Tidak mampir dulu, Kak," ucap Rina basa-basi.

"Gak usah, aku dan Bari mau makan dulu, sudah lapar," ucap Muna.

Sanu melihat tidak suka melihat kedekatan Muna dan Bari.

"Mereka mau kemana, Rina?" tanya Sanu.

"Mau makan ..." Rina melihat wajah Sanu yang tampak cemberut. "Kenapa wajah kamu cemberut, Sanu."

"Tidak apa-apa," ucap Sanu.

"Kamu cemburu ya, melihat mereka jalan berdua?" tebak Rina.

"Tidak Rina, aku hanya kurang enak badan." Sanu langsung merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut membelakangi Rina.

"Tapi sikapmu itu terlihat sekali, kalau kamu cemburu dengan kak Muna."

Sanu menutup telinganya, tidak mau mendengarkan Rina berceloteh.

"Ya sudahlah kalau begitu. Aku mau mandi dulu, sebelum tidur alangkah baiknya mandi, Sanu. Kamu belum mandi, baju kantormu saja belum kamu ganti?!" teriak Rina dari dalam kamar mandi.

Sanu pun salah tingkah sendiri, dia lupa kalau belum mengganti bajunya. Sanu mengangkat tubuh dan melepas selimutnya menunggu giliran Rina mandi. Sanu mendengus kesal.

...***...

Pagi ini, Sanu begitu semangat berangkat ke kantor. Hari ini dia bertekad maju kedepan. Sanu sudah melakukan persiapan tadi malam. Seperti apa kata pak Nazar, Sanu harus fokus dan memakai sistem saat di lapangan.

"Pagi, sanu ...." Pak Nazar menyapa Sanu di depan pintu kantor.

"Pagi Pak Nazar." Sanu melakukan tos tangan sebagai tanda semangat.

Pak Nazar terkekeh melihat Sanu yang begitu bersemangat pagi ini.

Hari ini Sanu berangkat ke lapangan dengan Bari lagi.

"Hari ini sistem apa yang akan kamu lakukan, Sanu?" tanya Bari.

"Tenang dan kerja keras, Kak." Salah satu sistem yang ada di kantor

"Jika hari ini kamu bisa membuktikan sistem, nanti malam aku akan traktir kamu makan di warung Budhe."

Sanu menyunggingkan senyum.

"Nanti sore kumpul di sini lagi, ya."

Seperti biasa Sanu dan Bari mengetuk pintu rumah menawarkan terapi gratis hingga sore hari.

Sepuluh orang yang Sanu terapi belum membuahkan hasil. Hingga orang ke dua belas tepat waktu Ashar, Sanu baru bisa membuktikan hukum rata-rata. Sanu begitu puas dengan pencapaian hari ini. Sanu Tidak sabar menceritakannya kepada pak Nazar.

Bari sudah menunggu Sanu di Mushola. Sanu berjalan dengan riang menenteng tasnya.

Bari tersenyum melihat Sanu. "Kamu hebat, Sanu."

Sanu mengangguk lalu tersenyum. "Orang ke dua belas baru bisa, Kak."

Ayo kita pulang, nanti kita sambil evaluasi di kantor.

Sesampai di kantor, pak Nazar mengumpulkan timnya untuk evaluasi. Tim pak Nazar cuma ada empat orang, Sanu, Rina, Bari dan Muna. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran di lantai tiga.

"Hari ini di syukuri saja yang penting kita masih diberikan keselamatan. Di lapangan kita anggap saja sebagai batu loncatan. Di lapangan, anggap saja sedang membentuk mental kita, dengan tolakan, bentakan dari castamer itu membuat mental kita terbentuk. Di lapangan anggap saja kita sedang belajar melatih komunikasi kita. Sanu, Rina semangat jadi trainer."

"Siap Pak Nazar!" ucap Sanu dan Rina bersamaan.

"Rencana jadi trainer kapan?" tanya pak Nazar.

"Satu bulan Pak Nazar," jawab Sanu.

"Kalau kamu, Rina?"

"Rina mah ngalir aja Pak Nazar."

"Yang penting harus punya perencanaan dan tujuan yang jelas," ucap Pak Nazar.

"Siap!" Serentak.

"Sudah mau magrib, yang mau sholat silahkan, habis itu ikut jam malam." Pak Nazar menutup evaluasinya.

Jam malam di mulai, Sanu dipanggil ke depan untuk mengucapkan kunci sukses. Wajah Sanu terlihat berseri karena bisa membuktikan hukum rata-rata di jam akhir.

seusai program malam, Bari mengajak Sanu makan malam di warung Budhe.

"Kak Bari tidak mengikuti pengarahan dari manager?"

"Tidak, aku sudah izin dengan pak Nazar mengajak makan malam kamu."

"Mamang boleh, ya?"

"Sanu, tunggu!" panggil Rina menuruni anak tangga. "Mau makan ya, bareng."

"Boleh," ucap Bari.

"Makan dimana, Kak?" tanya Rina.

"Biasalah, warung kebanggaan kita, Warung Budhe."

Rina terkekeh.

"Hari minggu kita jalan lagi, yuk?" usul Bari.

"Boleh, mau jalan kemana?" tanya Rina.

Bari memegang dagunya tampak berpikir sejenak.

"Kita ke kota tua saja, yuk. nanti sekalian foto-foto."

"Sanu, kenapa kamu diam saja, kamu tidak mau jalan hari minggu," ucap Rina.

"Bukan begitu, aku terserah kamu saja, Rina?" Wajah Sanu bersemu merah.

1
norihan ab razab
Best..menarik🤗
Yuni Triana
mampir lagi ke ceritaku ya Pulang Malu Tak Pulang Rindu
Doraemon
klepon nya Kaka🗿
Penggemar
hihhh...sedih amat sih
Aris Pujiono: hihihi ...😁😁
total 1 replies
Muslimah Haja
kqsian jg sanu..semua bajunya dia tinggalkan
Aris Pujiono: iya kak ...
total 1 replies
Muslimah Haja
semoga saja laki" yg menilong sanu benar"" baik
Muslimah Haja
bahaya ni bos laki" nya sanu..nakal
Muslimah Haja
semoga saja sanu dpt pekerjaan yg layak
Muslimah Haja
semoga temannya benar nawa sanu kerja dgn pekerjaan yg baik
Veronica Maria
akhirnya happy ending. good luck utk karyamu yg slnjutnya tor
Aris Pujiono: terima kasih kak
total 1 replies
Veronica Maria
ada y dokter kyk gitu. urusan pribadi dicampurkan dgn pengobatan. dimana kode etik kedokterannya cba. bsa2 dicabut ijinnya kalau gitu
Veronica Maria
seharusnya tetap krja di tmpt skrg krn mereka jg menerima sanu meski sdh cacat. tpi mgkn sanu tdk mau merepotkan org lain
Veronica Maria
dasar org tua brian kurang ajar jg. mlh ninggalin sanu yg sdh keadaan gitu. heran
Veronica Maria
sanu kakinya diamputasi, brian lupa ingatan .. sampe sgtu parahnya ceritamu tor. glenca kabur .. duh enaknya. knp mereka gak bahagia ? mlh jdi melow gini
Veronica Maria
tdk sengaja aku memencet tanda klik. pdhl aku tdk suka tpi tdk bs kubatalkan
Veronica Maria
papanya nyesel tpi sdh gak guna. hempaskan aja glenca. ajak cek ke RS jg apa bner bunting
Veronica Maria
terlalu banyak ttg cerita ruang lingkup krj. dah nyampai brp bab ceritanya itu mulu
Veronica Maria
patah tumbuh hilang brganti. pergi muna, dtg dara. kyk cewe murahan aja dan spt tdk ada cowo lain aja. duh dunia
Veronica Maria
benar2 munafik kan ? mknya namanya muna
Veronica Maria
muna mah seneng sama bari tpi bari gak suka. ya namanya jg muna mk slmanya akan tetap muna he he
Aris Pujiono: hehehe .... iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!