follow ig : teh_hijaau
Jangan lupa setelah baca tekan LIkE dan KOMEN
Selamat membaca..
Sebuah pernikahan yang terjadi begitu saja. Bukan atas dasar cinta namun kehendak orang tua.
Terlebih saat ini suamiku memiliki wanita lain dalam status pernikahan kami. Aku akan bertahan jika akulah satu satunya wanita dalam hidupnya namun, aku akan mundur jika suamiku memilih wanita itu ( Bianca )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tepat pukul lima sore Bia mengemasi barang peralatannya ke dalam tas.
Begitu juga Nathan yang sudah siap menunggu Bia di meja kerjanya.
'Kamu belum pulang, Nath?" tanya Bia saat melewati meja Nathan.
Nathan segera bangkit. "Belum Bu, saya menunggu anda," tuturnya.
Bia mengernyit. Sejak kapan Nathan merangkap menjadi sopirnya. Toh selama ini ia diantar jemput oleh pak Dadang.
"Kan saya di jemput pak Dadang."
"Saya baru saja mendapat telepon dari Lia, kalau…" Nathan sulit untuk menjelaskan. Semuanya tertahan di kerongkongan.
"Kalau apa, Nath?" Bia semakin penasaran saat melihat wajah Nathan mendadak berubah.
Nathan kebingungan hendak menjawab apa. Mengatakan yang sebenarnya atau menyembunyikannya dari Bia saat ini.
"Nath," ulang Bia.
Nathan menatap Bia dengan memelas.
"Maaf Bu, Tuan…" Lagi lagi Nathan menggantung ucapannya.
Mendengar nama Tuan, Bia semakin penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi terhadap ayahnya.
"Ngomong yang jelas atau saya cari tahu sendiri!" ancam Bia.
Nathan mempersiapkan nafasnya. Menghembuskan nafas berat. "Tuan kritis, Bu," lirih Nathan.
Bia segera melotot. "Kamu kalau bercanda jangan kelewatan ya. Aku paling tidak suka!" geram Nathan.
Bagaimana bisa Nathan mengatakan bahwa ayahnya kritis, sementara tadi pagi masih baik baik saja.
Nathan mengelus pundak Bia. Menenangkan nafas Bia yang nauk turun.
"Tuan terpeleset saat hendak ke kamar mandi. Beliau mengalami pendarahan di hebat kepalanya."
Seketika tubuh Bia melemas. Dengan sigap Nathan menangkap tubuh Bia membawanya dalam pelukannya.
Seolah memberi kekuatan untuk Bia.
"Sabar ya. Kita ke rumah sakit sekarang." Nathan menggiring Bia. Sebenarnya perasaannya juga hancur mendengarkan kabar bahwa Wijaya mengalami kritis.
Di dalam perjalanan, tak henti hentinya Bia menangis. Menyuruh Nathan melaju dengan kencang agar segera sampai di rumah sakit.
Tapi, Nathan tidak bisa memenuhi keinginan Bia sebab, jalanan yang padat karena memang jam pulang kerja.
"Nath, Papa... Nath." Bia sesenggukan.
"Sabar Bi." Nathan menenangkan Bia.
Sudah tidak sabar lagi, saat mobil baru saja menepi di parkiran, Bia segera turun lalu berlari mencari ruang dimana ayahnya berada.
"Mbak Lia…" seru Bia.
Lia segera menangkap Bia dalam pelukannya. Ia pun juga terisak.
Dua wanita saling terisak.
"Gimana Papa, Mbak?" tanya Bia.
"Sabar ya Nona. Tuan pasti bisa melewati semua ini."
Mbak Lia menuntun Bia untuk duduk di kursi tunggu. Begitu juga bik Juminten yang memberi kekuatan untuk Bia.
Tak hentinya Bia menangis hingga sesenggukan mengkhawatirkan satu satunya anggota yang tersisa dalam hidupnya.
"Sudah, Nona." Bik Juminten mengelus pundak Bia.
Saat itu juga hati Nathan juga ikut sakit. Wijaya yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya terbaring lemah dengan beberapa alat bantu untuk menopang hidupnya.
Tak terasa air mata Nathan mengalir. ia hanya bisa menyaksikan dari luar. Sebab, dengan kondisi Wijaya yang masih sepertu itu tentu saja siapa pun belum di ijinkan masuk untuk melihatnya.
Sudah hampir satu jam Bia menunggu di kursi tunggu. Ingin rasanya ia segera masyk ke ruangan ayahnya lalu memeluknya.
Begitu juga Nathan. Lelaki itu gelisah. Mondar mandir tak tenang.
Hingga seorang dokter menghampirinya.
"Anda keluarga pasien Wijaya?" tanya sang dokter.
Nathan melirik ke arah Bia yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Mbak Lia. Sepertinya Bia tidak mendengar.
"Iya Dok. Saya keluarganya," lirih Nathan. Ia tak ingin membuat Bia semakin kacau.
"Kalau begitu, mari kita bicara di ruang saya," ajak sang dokter.
Nathan segera mengangguk. "Baik Dok. Mari."
trm ksh