Irene, seorang gadis cantik dan mandiri. Harus kehilangan ayah, satu-satunya harta yang ia miliki.
Mendekati usia dua puluh tiga tahun ia harus kehilangan kesuciannya yang secara tidak sadar direnggut oleh mantan kekasihnya.
Membuatnya harus tertatih berjuang untuk mendapatkan cinta yang tulus.
Hingga suatu ketika ia bertemu Tian, seorang presdir muda yang menduda diusia yang cukup muda.
Ketika cinta mereka mulai bersemi, Tian meragukannya.
Apakah cinta Irene dan Tian bisa bersatu?
Note : Karya pertama yang aku buat berdasarkan imajinasi dan beberapa penggalan pengalaman temen aku yang aku samarkan. Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms. Riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 12
Pukul 8 pagi Adit terbangun,
"Sepertinya aku sudah terlambat," gumam Adit gusar sambil melihat jam di ponselnya.
Setelah olahraga panasnya yang kedua bersama istrinya subuh tadi ia begitu kelelahan dan tertidur lagi.
"Siska, katakan kepada kepala divisi yang menemani saya meeting hari ini di PT TMI bahwa saya berhalangan hadir," perintah Adit ke sekretarisnya.
"Bilang saya ada urusan lain yang lebih penting," imbuhnya lagi.
"Baik pak," jawab Siska singkat.
"Jangan lupa suruh ia melaporkan kepada saya hasil meetingnya," sambungnya kemudian memutuskan sambungan telpon sepihak.
Bagaimanapun ia harus tau perkembangan proyek barunya itu.
Rencananya hari ini ia ingin menyelesaikan urusannya dengan Christian Abimanyu.
"Jika Desi tidak bisa meninggalkan Tian maka Tian yang harus dibuat meninggalkan Desi," gumamnya menyusun rencana.
Ia tau seberapa kayanya seorang Christian Abimanyu. Seorang presdir muda dengan beberapa cabang perusahaan.
"Jangan sampai papa tau perselingkuhan Desi," batinnya.
"Masalah ini harus aku selesaikan secepatnya," batinnya lagi sambil mengirimkan pesan teks.
Beberapa menit kemudian,
"Sial, pesanku diabaikan, sombong sekali kau Christian Abimanyu," umpatnya kasar.
Pesannya tidak juga dibalas. Dibaca saja tidak.
Ia mengulang mengirim beberapa pesan. Namun tetap diabaikan.
"Aku telpon saja, kesabaranku sudah habis," ujarnya.
"Sial, tidak juga diangkat," umpatnya lagi.
"Lihat saja nanti, akan ku buat hubungan kalian benar-benar berakhir," lanjutnya bermonolog dengan dirinya sendiri.
Senyum sinis penuh dendam mengembang dibibir Adit.
Malamnya Adit mengirimi Tian fotonya bersama Desi tadi.
Hingga membawa Tian ke unit apartemen Desi.
Flashback off.
Tian melihat dengan jelas banyaknya bekas tanda kepemilikan di area dada hingga leher Desi.
Terlihat jelas aura kemarahan terpancar dari kedua matanya.
Ia menatap jijik pada gadis itu.
Pandangan Tian beralih ke sofa dimana duduk seorang pria yang hanya memakai boxer saja.
"Aditya Ramadani?" tanya Tian berusaha mengingat wajah itu.
Mendapati kekasihnya hmmm mantan kekasih tepatnya sedang berada didalam kamar dengan rekan bisnisnya membuatnya berang.
"Tian aku bisa jelaskan," tangan Desi berusaha meraih lengan Tian.
Wanita itu begitu frustasi. Semuanya sudah terlambat. Ia baru merasakan penyesalan setelah kehilangan Tian dan jatuh dalam neraka milik Adit.
Dulu ia hanya mempermainkan Tian yang begitu baik dan lembut padanya.
"Singkirkan tanganmu," hardik Adit melihat tangan Desi akan menyentuh kulit lengan Tian.
"Aku tidak ingin istriku menyentuh laki-laki lain," ucap Adit penuh penekanan dan sejelas mungkin.
"Istri? Istri kamu bilang?" Tian mengerutkan keningnya.
"Jelaskan apa hubungan kalian!" ucap Tian tegas memandang Desi meminta penjelasan.
Adit maju mendekati Desi. Merangkul pundak istrinya yang terbuka karena saat ini ia masih tetap memakai handuk saja.
"Gadis ini adalah istriku yang sah yang sudah kunikahi dua minggu yang lalu," ucapnya dengan senyum sinisnya mengusap kulit lengan istrinya.
"Oh .. bukan gadis lagi karena dia sudah tidak gadis lagi," sahut Adit lagi diikuti tawa iblisnya.
"Ternyata dia masih suci, tapi maaf sudah aku renggut, aku sangat beruntung" Adit berusaha memancing emosi Tian.
"Satu lagi, mungkin sebentar lagi benihku akan tumbuh dirahimnya. Dari semalam kami melakukannya berkali-kali," ucapnya sambil membelai perut rata Desi yang tertutup handuk.
Setelah memancing perang antara Tian dan Desi ia berjalan meninggalkan mereka menuju ruang santai yang ada di depan kamar.
Desi hanya terpaku ditempatnya.
Tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.
"Ini balasan yang kamu berikan setelah aku berusaha memperjuangkanmu? Haaahhh??" bentak Tian sambil mengayunkan tangannya hendak menampar Desi.
Ia tidak percaya wanita yang tiga tahun bersamanya tega mengkhianatinya bahkan sampai menikah diam-diam.
Desi mulai sesenggukan. Awalnya ia berencana meminta bantuan Tian membawanya pergi dari Adit tapi ia tidak punya nyali.
"Mungkin saat ini bukan saat yang tepat aku meminta bantuan Tian," batin Desi.
Tian terlihat begitu membencinya.
"Aku begitu bodoh mempercayai wanita ular sepertimu," ujarnya sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah Desi.
"Jadi ini alasan kamu menghilang dua minggu yang lalu?" tuduh Tian dengan raut wajah tidak percaya.
"Tian, maafkan aku. Aku terpaksa," kilahnya berusaha menahan tangan Tian ketika pria itu hendak pergi.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu," serunya dengan tatapan jijik.
"Mulai detik ini, jangan pernah muncul lagi dihadapanku," ucapnya penuh penekanan.
Kemudian menarik paksa kalung dilehernya yang pernah diberikan Desi saat anniversary mereka yang kedua dan melemparnya mengenai wajah Desi.
Kemudian melangkah keluar dari ruangan yang membuatnya muak.
Desi menatap kepergian Tian dengan berurai air mata.
Selama tiga tahun menjalin hubungan, ini pertama kalinya Tian berkata kasar padanya.
Adit memasuki kamar ketika melihat Tian sudah menghilang dibalik pintu.
Melihat kehancuran Desi membuatnya tersenyum puas.
Kemudian menarik paksa istrinya yang menangisi mantan kekasihnya dan membantingnya ke ranjang.
"Layani aku malam ini istriku," bisiknya ditelinga Desi.
Desi hanya pasrah.
Menikahi Adit ternyata sama saja masuk dalam neraka.
Dan olahraga panaspun terjadi lagi.
...----------...
Waktu menunjukkan pukul 10 malam,
Tian memacu mobil mewahnya menuju hotel tempat Irene menginap.
Rencananya kali ini ia harus menjelaskan semuanya pada Irene dan mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
Tekadnya semakin bulat.
"Halo Ren..." sapanya ketika panggilannya sudah terhubung.
"Halo Mas Tian," sahutnya dengan suara serak.
Terdengar jelas gadis itu habis menangis.
"Bisa kita bertemu sekarang? Ada yang ingin aku jelaskan," serunya lagi.
Ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang mungkin tidak akan ia dapatkan lagi.
"Mas Tian dimana?" tanya Irene.
"Aku dilobby," jawab Tian.
"Tunggu sebentar ya mas," kemudian menutup panggilan Tian.
Irene meminta tolong petugas resepsionis mengantar Tian ke kamarnya.
"Ren, aku minta maaf untuk hari ini. Aku mengacaukan makan malam kita," Tian langsung memeluk Irene ketika Irene mempersilahkannya masuk.
Irene melepaskan pelukan Tian. "Tidak perlu minta maaf mas, kamu tidak salah," ujarnya sambil menatap Tian.
"Dan juga aku sadar posisi aku mas," lanjutnya dengan nada bergetar.
Kemudian berjalan melewati Tian menuju kursi yang berada disamping ranjang.
"Tidak Ren, kamu penting bagiku sekarang," potong Tian mengikuti Irene duduk dikursi satunya.
Irene menatap Tian dengan tatapan tidak mengerti.
"Bagaimana dengan gadis yang diceritakan mas James," Irene tidak melanjutkan kata-katanya. Ia malu untuk bertanya lebih jauh.
"Dia sudah menjadi masa lalu aku. Hubungan kami sudah berakhir," jelas Tian sambil merapatkan kursinya pada Irene kemudian menggenggam tangan gadis itu.
"Dan inisial D diliontin kamu?" pertanyaannya meluncur begitu saja.
Tian menghela nafasnya sebentar kemudian menjelaskan.
"Namanya Desi. Kalung dan liontinnya sudah aku kembalikan tadi. Alasanku pergi begitu saja tadi untuk mengakhiri hubungan kami," jelas Tian singkat.
"Jadi?" tanya Irene malu-malu. Ia ingin memastikan lagi. Takut salah paham lagi.
"Jadi mau kan kamu menjadi kekasihku sekarang?" tanya Tian langsung pada intinya.
"Jawab Ren! Jangan diam saja," cecar Tian tidak sabar sambil berlutut dihadapan gadis itu. Menatapnya lekat.
dukung karya ku juga y cucu manja oma
*Suamiku ceo ganas
"Sarlince(cinta sepihak)